Crafts

B. indo xi-s3

Description
B. indo xi-s3
Categories
Published
of 15
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  PEMANFAATAN LAMTORO SEBAGAI BAHAN PANGAN   A.   LATAR BELAKANG Semakin mahalnya bahan makanan pada saat ini harus diakali dengan bahan makanan lain yang dianggap memiliki nilai gizi yang hampir sama. Maka dari itu inovasi dalam bidang pangan sekarang ini semakin di kembangkan agar dapat memenuhi bahkan menggantikan bahan pangan yang sudah tidak dapat terjangkau di kalangan masyarakat kalangan menengah ke bawah. Petai cina sebagai tanaman yang biasanya di hanya dimakan mentah ternyata dapat diolah sehingga menambah nilai gizi dari patai cina itu sendiri dan dapat meningkatkan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Petai cina, lamtoro,petai selong, atau kemlandhingan adalah tanaman perdu jenis Leguminosae yang berasal dari Amerika yang menyebar, dan sudah ratusan tahun menyebar ke pulau Jawa dan telah dimanfaatkan sejak zaman dahulu sebagai tanaman peneduh dan pakan ternak. Petai cina kadang hanya digunakan sebagai pakan ternak atau sebagai peneduh tumbuhan kopi tapi setelah di olah lebih lanjut ternyata dapat memberi nilai gizi bahkan nilai  jual yang sangat menguntungkan. Petai cina yang kadang di sepelekan ternyata setelah di  olah sebagai tempe dari peta cina ternyata memiliki gizi yang sangat tinggi dan bias menggantikan tempe kedelai. B.   RUMUSAN MASALAH 1.   Bagaimana cara membuat tempe dari lamtoro? 2.   Bagaimana kandungan gizi yang terdapat dalam lamtoro? 3.   Bagaimana harga jual tempe lamtoro dibandingkan dengan tempe kedelai? C.   TUJUAN 1.   Untuk mengetahui cara membuat tempe dari lamtoro 2.   untuk mengetahui kandungan gizi yang terdapat dalam lamtoro 3.   untuk mengetahui harga jual tempe lamtoro dibandingkan dengan tempe kedelai D.   MANFAAT 1.   Para pembaca dapat mengetahui manfaat dan nilai gizi dari lamtoro 2.   Masyarakat dapat mengembangkan tanaman lamtoro sehingga memproduksi tempe lamtoro dan dapat meningkatkan perekonomian BAB II LANDASAN TEORI  A.   SEJARAH TANAMAN LAMTORO Leucaena leucocephala (Lamtoro) sepanjang sejarahnya mempunyai beberapa nama  botani, yaitu Leucaena glauca dan Leucaena latisiliqua. Spesies ini tersebar secara luas di Mexico dan Amerika Tengah pada tahun 1520 saat datangnya orang Spanyol ke negara tersebut. Baru pada akhir abad ke 20 lebih menyebar luas sampai ke Filipina, dari sini penggunaan sebagai peneduh tanaman perkebunan, kayu bakar dan hijauan pakan ternak makin meluas. Sebelum tahun 1950-an hanya satu varietas yang dikenal yaitu varietas “common” dari subspecies leucocephala. Kemudian muncul nama-nama untuk tanaman ini seperti varietas Hawaii (tipe shrubby) yang sebetulnya tidak berasal dari Hawaii, Peru (tipe low branching) tidak berasal dari Peru, Salvador (tipe arboreal) yang juga tidak berasal dari Salvador. Varietas Cunningham yang telah  banyak dikenal dibudidayakan di Indonesia berasal dari Australia, hasil persilangan antara tipe varietas Salvador dengan tipe varietas Peru. Taksonomi Leucaena yang ada sebelumnya sangat membingungkan dan menyesatkan sehingga menghambat dalam  pemanfaatannya, perbaikan genetik, dan konservasinya Di Indonesia tidak banyak spesies Leucaena yang di budidayakan secara luas, yang paling umum adalah L. leucocephala dan varietasnya seperti L. leucocephala var. K28 atau yang dikenal dengan Lamtoro Gung, jenis ini tidak tahan terhadap kutu loncat, kemudian L. diversifolia mulai dibudidayakan, adalah jenis yang relatif lebih tahan terhadap kutu loncat, dapat tumbuh lebih baik dibanding L. leucocephala pada kelerengan yang makin terjal. Sehingga pada tahun 80-an telah dicoba dilakukan okulasi antara L. leucocephala x L. diversifolia kedua jenis Leucaena tersebut di Ciawi, tujuannya untuk mendapatkan tanaman yang tahan kutu loncat. Walaupun keberhasilan okulasi tersebut sangat tinggi, etapi tanaman hasil okulasi yang tahan kutu lont relatif rendah mungkin masih ada pengaruh dari batang bawah. Hibrid Leucaena yang telah dikenal lainnya adalah KX2 hasil persilangan L. leucocephala x L. pallida, KX3 dari hasil persilangan antara L. leucocephala dengan L. diversifolia Kelebihan dari hibrid ini antara lain adalah tahan kutu loncat, produksi lebih tinggi dibanding L. leucocephala. Tetapi kebanyakan Leucaena hibrid produksi bijinya kurang/sedikit. Leucaena KX2 hibrid, generasi berikutnya akan mengalami segregasi  bila ditanam menggunakan biji, sehingga disarankan menggunakan bahan vegetatif untuk perbanyakannya. B.   Klasifikasi lamtoro ( Leucaena leucocephala ) adalah sebagai berikut ( Rukmana, 1997 ) : Kindom : Plantae Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Class : Dicotyledoneae Family : Leguminoseae Subfamily : Papilionaceae  Genus : Leucaena Spesies : Leucanena leucocephala C.   Deskripsi Leucaena Leucocephala Petai cina (Leucaena leucocephala) adalah tumbuhan yang memiliki batang pohon keras dan berukuran tidak besar. Daunnya majemuk terurai dalam tangkai berbilah ganda. Bunganya yang berjambul warna putih sering disebut cengkaruk. Buahnya mirip dengan buah petai (Parkia speciosa) tetapi ukurannya jauh lebih kecil dan berpenampang lebih tipis. Buah petai cina termasuk buah polong, berisi biji-bibji kecil yang jumlahnya cukup banyak. Petai cina oleh para petani di pedesaan sering ditanam sebagai tanaman pagar, pupuk hijau dan segalanya. Petai cina cocok hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. Petai cina di Indonesia hampir musnah setelah terserang hama wereng. Pengembangbiakannya selain dengan penyebaran biji yang sudah tua juga dapat dilakukan dengan cara stek batang. Tanah asli lamtoro adalah Meksiko dan Amerika Tengah, di mana tanaman ini tumbuh menyebar luas. Penjajah Spanyol membawa biji-bijinya dari sana ke Filipinadi akhir abad XVI. dan dari tempat ini mulailah lamtoro menyebar luas ke pelbagai bagian dunia; ditanam sebagai peneduh tanaman kopi, penghasil kayu bakar, serta sumber pakan ternak yang lekas tumbuh. Lamtoro mudah beradaptasi, dan segera saja tanaman ini menjadi liar di berbagai daerah tropis di Asia dan Afrika; termasuk pula di Indonesia. Tanaman semak atau pohon tingggi sampai 18 m, bercabang banyak dan kuat, dengan kulit batang abu-abu dan lenticel yang jelas. Daun bersirip dua dengan 4-9 pasangan sirip, bervariasi dalam panjang sampai 35 cm, dengan glandula besar (sampai 5 mm) pada dasar petiole, helai daun 11-22 pasang/sirip, 8-16 mm x 1-2 mm, akut. Bunga sangat banyak dengan diameter kepala 2-5 cm,stamen (10 per bunga) dan pistil sepanjang 10 mm. Buah polong 14-26 cm x 1,5-2 cm, pendant, coklat pada saat tua. Jumlah biji 18-22 per buah polong, berwarna coklat. Petai cina (Leucaena glauca, Benth) merupakan salah satu tanaman yang sudah dikenal masyarakat sebagai obat bengkak. Pemanfaatannya dengan cara dikunyah kunyah atau diremas-remas, kemudian ditempelkan pada bagian yang bengkak. Selain itu, masyarakat  juga menggunakan petai cina sebagai bahan makanan, lauk-pauk atau makanan ternak. Biji dari buah petai cina yang sudah tua setiap 100 g mempunyai nilai kandungan kimia berupa zat kalori sebesar 148 kalori, protein 10,6 g, lemak 0,5 g, hidrat arang 26,2 g, kalsium 155 mg, besi 2,2 mg, vitamin A, Vitamin BI 0,23 mg. Daun petai cina mengandung zat aktif alkaloid, saponin, flavonoid dan tanin. Dalam petai cina, mengandung zat aktif yang berupa alkaloid, saponin, flavonoid, mimosin, leukanin, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A dan vitamin B. Berbagai kandungan yang terdapat dalam tanaman petai cina yang diperkirakan sebagai antiinflamasi adalah flavonoid. Flavonoid dalam bentuk aikon bersifat nonpolar, sedangkan dalam bentuk glikosida bersifat polar. Berdasarkan sifat flavonoid tersebut, maka untuk ekstraksi dapat digunakan etanol 70% sebagai bahan penyarinya, karena etanol 70% bersifat semi polar yang dapat melarutkan senyawa yang bersifat polar maupun non-polar. Selain itu, etanol 70% tidak menyebabkan pembengkakan membran sel dan memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks