History

Bahan 1 PDF

Description
Bahan 1 PDF
Categories
Published
of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  Vol. 2 No. 1 Nopember 2014 JURN L ILMI H PPKn IKIP VETER N SEM R NG   54   PENGARUH GURU PKn TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA Siti Hardiyana  (10110063)  Mahasiswa PPKn IKIP Veteran Semarang Abstrak  Latar belakang adalah : Kondisi lapangan menunjukkan bahwa banyak anak masih menempuh  pendidikan melakukan pelanggaran terhadap etika, norma dan aturan yang berlaku dimasyarakat. Oleh karena itu guru PKn sebagai salah satu guru yang memiliki tugas dan kewenangan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma yang baik kepada anak salah satunya melalui pendidikan karakter. Dengan pendidikan karakter yang dipahami dan dimilki oleh anak diharapkan anak memilki kepribadian yang tangguh tanpa mudah tergoncang oleh terpaan dan godaan yang bersifat negatif dari luar. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui : (1) untuk mengetahui pengaruh  guru PKn terhadap pembentukan karakter siswa, (2) untuk memperoleh informasi tentang karakter  yang dimilki oleh siswa, (3) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh guru PKn terhadap  pembentukan karakter siswa SMK Muhammadiyah 01 Pati. Sebagai subjek penelitian, populasi ini dikenakan pada siswa kelas XII-AK1, XII- AK 2, XII- AP 1, XII- AP 2, XII- PN 1, XII  –   PN 2 yang berjumlah 220 anak, namun karena jumlah tersebut terlalu besar, maka penelitian dilakukan secara  sampel sebesar 40 %, sehingga didapat 90 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan ada dua,  yakni : dokumentasi dan angket. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang : jumlah  siswa setiap kelas, nama-nama siwa,nomor induk siswa, sejarah berdirinya sekolah, prestasi yang dicapai, kegiatan ekstrakulikuler, dan kegiatan lan sebagai bahan pendukung pelaksanaan penelitian. Sedangkan angket digunakan untuk mengetahui tanggapan anak terhadap pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan pengaruh guru PKn dan pendidikan karakter anak itu sendiri. Teknik analisis data  yang digunakan ada dua, yaitu model analisis deskriptif persetase dan model regresi. Dari  penggunaan kedua analisis tersebut diperoleh kesimpulan : (1) pengaruh guru PKn SMK  Muhammadiyah 01 Pati berada criteria sangat tinggi, hal in didukung oleh skor sebesar 70,80% dalam arti penanaman karakter pada anak bisa dimilki dengan sangat baik salah satunya berkat  proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru PKn, (2) karakter yang dimilki oleh siswa SMK  Muhammadiyah 01 Pati termasuk cukup tinggi, hal ini didukung dengan hasil hitung sebesar 65,70%  yang berarti anak memilki karakter dengan cukup baik, salah satunya disebabkan materi pelajaran  yang disampaikan oleh guru PKn, dan (3) hasil hitung ( F hitung) diperoleh = 11,228, angka tersebut lebih besar dari angka dalam table F = 2,617, karena 11,228 > 2,617, maka hipotesis kerja (Ha)  yang berbunyi : “Ada pengaruh positif guru PKn terhadap pembentukan karakter bagi siswaa SMK  Muhammadiyah 01 Pati” diterima.  Sarannya adalah : (1) bagi sekolah, mengingat yang dimilki oleh anak sebagian merupakan sumbangandari hasil proses pembelajaran mata pelajaran PKn, maka  sebaikny sekolah melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti gambar-gambar  pahlawan yang patut dijadikan keteladanan dari kegigihan dan cir sebagi pembenrukan karakter anak, (2) bagi orang tua, sebaiknya orang tua tetap memberikan control dan kendali kepada anak, agar mereka tidak memiliki perilaku menyimpang berupa pelanggaran terhadap etika dan norma  pergaulan dalam masyarakat, itu semua merupakan hasil pembentukan dari sebuah karkter dan kepribadian yang dimilki olehh anak, dan (3) bagi siswa, sebaiknya anak tetap memperhatika etika dan sopan santun dalam bergaaul, sebab itu semua menunjukkan karakter diri sebagi hasil dari olah  proses pembelajaran dan arahan serta bimbingan, baik dari guru di sekolah maupun orang tua dirumah. Kata Kunci :    Pengaruh Guru, Pembentukan Karakter. PENDAHULUAN Pada hakikatnya, manusia memiliki kemampuan untuk meningkatkan kehidupannya, baik untuk meningkatkan pengetahuan, maupun untuk mengembangkan kepribadian dan keterampilannya.  Vol. 2 No. 1 Nopember 2014 JURN L ILMI H PPKn IKIP VETER N SEM R NG   55   Untuk meningkatkan kehidupannya itu, manusia akan selalu berusaha mendapatkan pengalaman- pengalaman baru. Usaha itu disebut dengan pendidikan. Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai  pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Pelaksanan pendidikan di Indonesia didasarkan pada Undang  –   Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan Nasional berfungsi untuk berkembangnya  potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Seperti halnya di SMK Muhammadiyah 01 Pati saat ini dipercaya sebagai wahana utama untuk pengembangan SDM yang dilakukan secara sistematis,  pragmatis dan berjenjang, sehingga pendidikan akan semakin menuntut peran seorang guru yang  berkualitas termasuk didalam guru PKn. Guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, untuk itu mutu pendidikan di suatu sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan tugasnya. Guru merupakan orangtua siswa dalam lingkungan sekolah. Maka peran guru begitu berarti dalam membentuk kepribadian para siswa diluar dari pengaruh lingkungan para siswa tersebut. Realita di sekolah  –   sekolah masih banyak guru yang mengajar hanya sebagai kewajiban  belaka, sehingga sering didengar pendapat yang mengatakan bahwa guru lebih sering memberi  pelajaran kepada anak sekedar memberi materi pelajaran. Seorang pendidik atau guru diharapkan tidak sekedar transfer ilmu kepada peserta didik, melainkan menanamkan kepribadian baik kepada peserta didik. Guru belum bisa dikatakan sukses mendidik, jika peserta didik hanya memiliki kecerdasan intelektual saja. Guru dikatakan sukses, jika  peserta didiknya memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Oleh sebab itu, pendidikan sekolah juga diharapkan memiliki program yang bisa dijadikan sebagai sarana pembentukan karakter  peserta didik. Pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan  budipekerti, pedidikan moral, pendidikan watak, atau pendidikan akhlak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memberi apa yang baik dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari  –   hari dengan sepenuh hati. Karena itu, muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behavior. (Depdiknas. 2011:5) Pada akhir  –   akhir ini pendidikan karakter marak dibicarakan oleh pakar pendidikan, tokoh masyarakat, politikan, rokhaniawan, hingga sampai para selebritis (Yahya Khan, 2010:9). Hal ini karena kejadian  –   kejadian di Negara kita yang semakin lama menunjukkan kehilangan jati diri  Vol. 2 No. 1 Nopember 2014 JURN L ILMI H PPKn IKIP VETER N SEM R NG   56   sebagai bangsa Timur yang penuh dengan adat dan budaya. Bahkan ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa ketika pada Orde Baru ada penanaman karakter melalui p4 (Pedoman Penghayatan dan Penanaman Pancasila) dengan segenap butir  –   butirnya, namun pada era Reformasi ini seakan  –   akan menyimpang dari norma dan etika serta budaya dalam masyarakat, sehingga kerinduan terhadap era Orde Baru itu memberikan semangat tersendiri (Patmonedewo, 2003:42).  Namun pada dasarnya kenyataan yang ada pada pendidikan hanya memberikan aspek intelektual tanpa memperhatikan aspek emosional dan spiritual, serta hanya untuk mengejar target angka, sehingga banyak terjadi kenakalan  –   kenakalan dikalangan remaja. Misalnya saja tawuran, bentrok,  pergaulan bebas, kecurangan dalam UAN dan sebagainya, hal tersebut dilandasi oleh pendidikan tanpa karakter. Seharusnya sekolah tidak hanya mengajarkan bagaimana membaca, berhitung dan menulis melainkan sekolah harus membantu setiap manusia untuk menentukan tujuan hidup melalui  pendidikan karakter yang memang berjalan sesuai aturan  –   aturan dalam pendidikan karakter. Hasil pengamatan sementara yang dilakukan di SMK Muhammadiyah 01 Pati mengindikasikan  bahwa masih banyak siswa SMK belum menampilkan atau melakukan tindakan perilaku dan etika serta norma sesuai dengan karakter dan kerpibadian bangsa Indonesia. Hal inilah mendorong peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengkaji masalah pengaruh guru PKn tersebut dan juga  pembentukan karakter anak. Guru PKn merupakan salah satu guru yang memiliki tugas dan kewajiban menanamkan etika norma dan perilaku yang berlaku di masyarakat, termasuk didalamnya penanaman pendidikan karakter bagi anak. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini ditetapkan sebuah ju dul “Pengaruh Guru PKn terhadap Pembentukan Karakter Siswa SMK Muhammadiyah 01 Pati”.   KAJIAN PUSTAKA Pengertian Guru PKn Menurut Sadirman (2001:123) Guru adalah salah satu komonen manusiawi dalam proses  belajar mengajar, yang ikut berperan serta dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang  potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu guru merupakan salah satu unsure dibidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga  professional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Secara bahasa, istilah ”Civic Education” oleh sebagian pakar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Pendidikan Kewargaan dan Pendidikan Kewarganegaraan. Istilah “Pendidikan Kewargaan” diwakili oleh Azra dan Tim IC CE (Indonesia Center for Civic Education) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, sebagai pengembangan Civic Education pertama di Perguruan tinggi. Penggunaan istilah “Pendidikan Kewarganegaraan” diwakili oleh Winatapura dkk dari Tim CICED (Center Indonesia for Civic Education), Tim ICCE (2005:6)  Vol. 2 No. 1 Nopember 2014 JURN L ILMI H PPKn IKIP VETER N SEM R NG   57   Pengertian Pembentukan Pembentukan adalah usaha yang telah terwujud sebagai hasil suatu tindakan Pengertian Karakter Pengertian karakter banyak diungkapkan oleh para ahli. Menurut para ahli seperti Hidayatullah (2010:12) mengemukakan karakter adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Megawangi (2007:5) mengemukakan bahwa karakter terbenuk karena latihan setiap hari, hal tersebut sesuai dengan arti karakter secara bahasa yaitu “mengukir”, dalam kegiatan mengukir dibutuhkan proses, keahlian serta ketelitian dari pengukir sehingga menghasilkan ukiran yang kokoh  begitupun dengan proses pembentukan karakter individu yang harus dilakukan sejak dini sehingga karakter tersebut melekat kuat dalam diri individu. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah meode kuantitaif. Penelitian dengan  pendekatan kuantatif merupakan penelitian yang dimaksud untuk mengumpulkan informasi mengenai status, gejala yang ada yaitu keadaan gejala apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Pendekatan korelasional adalah pendekatan dengan melihat hubungan antar variabel (Arikunto,2007:34). Populasi dan Sampel 1.   Populasi Arikuntoro (2007:68) mendefinisikan populasi adalah keseluruhan obyek penelitian, yaitu elemen-elemen yang ada dalam wilayah penelitian.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa XI SMK Muhammadiyah 01 Pati Kabupaten Pati tahun pelajaran 2013-2014,sebanyak 220 siswa 2.   Sampel dan Teknik Sampling Menurut Sutrisno Hadi (2006:224) mengemukakan sampel adalah sekelompok individu yang jumlahnya kurang dari populasi. Dari jumlah populasi sebanyak 220 siswa dan jumlah itu lebih dari 100. (Suharsimi Arikuntoro 2007:102) maka populasi yang diselidiki bisa diambil 40% (sesuai kebutuhan) yaitu 90 anak. Berdasarkan penetapan pengambilan 90 anak , karena setiap pecahan dari hasil perhitungan setiap kelas, peneliti naikkan angka diatasnya. Pertimbangannya adalah karena sampel tersebut adalah manusia, sehingga untuk menghilangkan pecahan tidak mungkin. Maka peneliti cenderung menaikkan keatas. 3.   Teknik Sampling Pengambilan sampel agar benar-benar mencerminkan karakteristik populasi yang ada, maka  perlu ditentukan teknik pengambilan sampel yang disebut teknik sampling, yaitu cara atau teknik yang dipergunakan untuk mengambil sampel (Sutrisno Hadi, 2006 : 116). Sedangkan menurut Suharsimi Arikuntoro (2007 : 102); “…untuk sekedar ancer  -ancer apabila subyek kurang dari 100,  Vol. 2 No. 1 Nopember 2014 JURN L ILMI H PPKn IKIP VETER N SEM R NG   58   lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15%, atau 20- 25% atau lebih”. Hal tersebut didukung Sujana (2006 : 85) yang menyatakan bahwa sampel minimal 30 subyek. Hal ini berdasarkan  perhitungan atau syarat pengujian yang lazim digunakan dalam statiska. Untuk prpulasi di bawah 100 sebaiknya diambil seluruhnya, sedang bila jumlah populasi lebih dari 100 bisa diambil 10-15%, 20-25% atau tegantung kebutuhan.   Variabel dan Indikator Pengertian Variabel adalah gejala yang bervariasi yang yang menjadi obyek penelitian (Suharsimi Arikuntoro, 2007:109). Adapun menurut Sutrisno Hadi (2006:224), variabel adalah gejala yang menunjukkan variasi baik dalam jenis maupun tingkatannya. Dalam penelitian ini variabel ada dua, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. 1.   Variabel bebas (X) Hadari Nawawi (2006:56) mengemukakan variabel bebas adalah unsur yang mempengaruhi munculnya unsur yang lain. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah pengaruh guru PKn yang diberi symbol X 2.   Variabel Terikat (Y) Hadari Nawawi (2006:56) mengemukakan variabel terikat adalah unsur yang munculnya dipengaruhi adanya unsur yang lain. Adapun yang menjadi variabel terikat adalah penanaman  pembentukan karakter pada siswa yang diberi simbol Y. Metode Pengumpulan Data Jenis sumber data ada 2 yaitu : 1.   Sumber data primer yaitu pengmambilan data yang dihimpun langsung dari peneliti. 2.   Sumber data sekunder yaitu pengambilan data melalui pengumpulan data. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu dokumen dan angket. a.   Dokumen  b.   Angket Teknik Analisis Data  Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu analisis deskriptif dan analisis regresi. 1.   Teknik Analisis Deskriptif (DP) 2.   Analisis Regresi HASIL PENELITIAN Telah disinggung pada bab III bahwa dalaam analisis data ini dilakukan dua cara, yaitu analisis deskriptif presentase dan regresi, seperti dikemukakan berikut ini.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x