Abstract

GLOBALIZATION AND SPORT SOVEREIGNTY HEGEMONI FIFA SEBAGAI ORGANISASI INTERNASIONAL TERHADAP INDONESIA 1

Description
One cannot say that FIFA is merely a body related to soccer: their work necessarily entangles them with international relations and human rights. ABSTRACT In some respects critics have grounds to grouch that recent years have seen too much literature
Categories
Published
of 29
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  1 GLOBALIZATION AND SPORT SOVEREIGNTY   HEGEMONI FIFA SEBAGAI ORGANISASI INTERNASIONAL TERHADAP INDONESIA 1   One cannot say that FIFA is merely a body related to soccer: their work necessarily entangles them with international relations and human rights. (Sugden, John Peter., and Alan Tomlinson. 1998) ABSTRACT   In some respects critics have grounds to grouch that recent years have seen too much literature about globalization, yet this paper attempt to capture the far side of globalization in the context of global private governance that currently received an increase attention by the international milieu. This paper focus on the unrelenting dissension of Football Association of Indonesia (PSSI) and Ministry of Youth and Sports of the Republic of Indonesia (KEMENPORA) that leads into FIFA’s decision to impose a sanction for Indonesia to participate in the world football agenda is the representation of injustice decision and ignorance behavior by international organization. More than just the act of arrogance but it is the presumption of FIFA ’s domin ation as a global governance over Nation-State in the context of football. Moreover this paper provide rigorous analysis through the case that FIFA as football’s global regulator has been able to force national gover  nments and regulators to forsake interfe rence in football’s matters even in case of flagrant failures of private governance. The exploration supports the claim that FIFA is providing irreplaceable governance contributions embody an institutional equilibrium able to resist challenges. Moreover, private governance by FIFA provisions that organize through regional institutions underneath FIFA’s authority can shape their political environment and legitimate their sport sovereignty over nations . By the case of KEMENPORA versus PSSI this paper reveals that FIFA’s victories to maintain the autonomy of its governance body are highly problematic since they discourage national governments to fight misconduct in sport while it can be doubted that private governance alone can deal with the regulatory problems at stake. Keywords: Global Governance, Nation-State, Private Governance, Football, KEMENPORA, PSSI, FIFA.   1  Tulisan ini dibuat oleh Indra Kusumawardhana;  mahasiswa program doktoral Universitas Padjajaran untuk Tugas Akhir Semester mata kuliah Politik Dunia dan Globalisasi.  2 Introduction 30 Mei 2015, Fédération Internationale de Football Association  (FIFA) resmi memberikan sanksi kepada Indonesia yakni larangan bertanding di turnamen Internasional dan juga larangan mendapatkan bantuan dari FIFA dan dari Konfederasi Sepak Bola ASIA (AFC) dalam bentuk dana bantuan program, atau kursus, hingga syarat-syarat yang diberikan oleh FIFA dipenuhi oleh PSSI dan Indonesia sendiri sebagai sebuah negara. 2  Sebuah momentum puncak dari kisruh yang melibatkan Kementerian Pemuda dan Olah Raga (KEMENPORA) dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang tak kunjung menemukan titik temu yang konkret. Dimana kisruh ini dilegitimasi dengan munculnya Surat Keputusan (SK) Nomor 0137 Tahun 2015 oleh KEMENPORA yang berujung pembekuan PSSI dengan alasan mengabaikan dan tidak mematuhi kebijakan pemerintah. 3   The decision means Indonesian sides will no longer be able to take part in world football, and comes less than two weeks before the country was due to begin qualifying matches for the 2018 World Cup. The national team will, however, still be able to participate in the football tournament at the Southeast Asian Games, which is just getting under way. FIFA's decision "resulted from the effective 'take over' of the activities of PSSI (the Indonesian  football association) by the Indonesian authorities," a spokesman for the world governing body said. "All Indonesian national teams (national or club) are prohibited from having international sporting contact which includes  participating in FIFA and AFC competitions . 4  Disisi lain rakyat Indonesia yang telah menganggap Sepak Bola sebagai sebuah Fiesta  rakyat lantas terusik akan kenyataan pahit ini. Sudah bertahun  –   tahun bangsa ini tidak pernah dapat melihat tim kebanggaannya untuk berprestasi. Terombang  –   ambing dengan ketidak  jelasan dari PSSI sebagai organisasi independen yang terkesan acuh terhadap masalah  –   masalah krusial di dalam internalnya. Sekarang publik harus menghadapi kenyataan Tim Nasional Indonesia tidak akan bergeliat di panggung internasional serta Organisasi yang 2  Berita mengenai ini membuat geger seluruh masyarakat Indonesia yang melabeli dirinya sebagai massa yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap nasib sepak bola Indonesia saat ini dan di masa depan. Berbagai media meliput dan memberitakan dari berbagai sudut pandang yang ber-variasi serta menghadirkan berbagai pakar untuk memberikan pendapat kritisnya mengenai ini. Bahkan penulis sendiri secara tidak terlangsung terlibat dalam debat kusir di sosial media dengan beberapa orang yang merasa dirugikan dengan keputusan pemerintah Indonesia membekukan PSSI. 3  http://www.republika.co.id/berita/sepakbola/liga-indonesia/15/06/29/nqpo76k-kemenpora-pssi-dibekukan-karena-tak-patuh , Diakses pada tanggal 20 Desember 2015 pukul 22.00 WIB 4  Sumber media online http://www.channelnewsasia.com/news/sport/football-fifa-suspends/1882540.html  diakses pada tanggal 26 Desember 2015 pukul 00.00 WIB  3 menaungi seluruh organisme sepak bola di bumi pertiwi akan terancam mati-suri hingga waktu yang belum pasti berakhirnya. Hal ini memunculkan amarah publik yang menuduh KEMENPORA melakukan intervensi terhadap PSSI yang menurut Statuta FIFA seharusnya berwenang penuh serta bebas intervensi dari negara dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota FIFA. Lebih jauh lagi publik menjustifikasi seluruh drama KEMENPORA versus  PSSI ini merupakan sebuah drama politik kekuasaan yang sedang dilancarkan oleh rezim yang berkuasa. Seluruh hasrat publik untuk mengekspresikan amarahnya semakin menguatkan pengurus PSSI yang dibekukan oleh KEMENPORA untuk berlindung dibalik ancaman FIFA yang akan memberikan sanksi terhadap Indonesia. Sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/items/album/2015/11/07/sddefault- 563d66415a7b610b048b4568.jpg?t=o&v=760 Sumber: https://aws-dist.brta.in/brtgr-2015-07/srcinal_700/aksi-suporter-psm-makassar-22431.png   Sumber: http://www.maungtempur.com/wp-content/uploads/2015/06/Aksi-Damai-Bobotoh1.jpg    4 Seluruh prosesnya semakin di dramatisasi dan menjadi sebuah santapan publik yang hanya bisa menerka  –   nerka kausalitas dari carut  –   marut yang terjadi. Fenomena yang terjadi terhadap Indonesia sebagai negara dunia ketiga yang sedang berjuang mengatasi rendahnya prestasi olah raga terutama dalam bidang sepak bola ini menjadi permasalahan yang menarik untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan yang dikaitkan dengan studi hubungan internasional karena modalitas terpendam dari kasus ini yang bersifat lintas batas dan melibatkan sebuah entitas yang mempunyai karakter supra-state organization  yakni FIFA. Who rules the people’s game?   ‘  Football is not only a social phenomenon, but an expanding industry that is heavily controlled by the sport’s governing body, the Fédération In ternational de Football  Association (FIFA) ’ –   Henk Erik Meier & Borja Garcia Sepak Bola telah menjadi cabang olah raga yang paling populer di dunia, setidaknya realitas ini terjadi sejak akhir abad ke- sembilan belas dimana sepak bola digaungkan dalam tataran internasional oleh Inggris. Sepak Bola menjadi permainan yang mendunia yang berkembang secara kultural diberbagai komunitas sosial seluruh kontinen dunia. (Giuliannoti, Richard. 2004) an estimated 250 million people are direct participants, around 1.4 billion have an interest,1 and football’s flagship tournament, the World Cup finals, attracts a cumulative global television audience of 33.4 billion.2 Only relatively recently has the game’s unparalleled cross -cultural appeal been realized financially. In 1998,  football’s world governing body, FIFA,3 controlled contracts worth some £4 billion; by 2001, world football’s turnover was estimated at around £250 billi on, equivalent to the Netherlands’ GDP   (Walvin 2001). Ilustrasi angka diatas dapat menjadi gambaran betapa masif dan mengguritanya olah raga ini seperti layaknya mengalir deras didalam pusaran urat nadi peradaban manusia; bahkan jika diperbolehkan untuk menarik kesimpulan meminjam tipologi Durkheim mengenai bentuk  –   bentuk kultur kontemporer dapat dikatakan Sepak Bola merupakan sebuah urusan yang serius ( Football is a serious life )  5 Kenyataannya dalam dunia sepak bola hanya mengenal satu organisasi internasional yang mempunyai wewenang untuk mengatur hal  –   hal yang berkaitan dengan sepak bola yakni FIFA baik dalam tataran global, regional bahkan nasional; mengacu pada realitas ini FIFA dapat dikatakan sebagai representasi dari Global Governance dalam sepak bola, harus diketahui, kesan yang dibangun oleh FIFA sebagai organisasi internasional yang mengatur olah raga membuat seluruh bentuk intervensi terhadap organisasi ini dianggap sebagai upaya untuk menodai kesucian Sepak Bola sebagai olah raga yang diklaim sebagai olah raga rakyat yang dapat menyatukan dunia. Sehingga dapat dimaklumi problematika yang muncul dalam kaitannya masalah KEMENPORA versus PSSI ini menjadi sebuah permasalahan yang sangat diinternalisasi secara personal bagi publik di Indonesia. Negara  –   Bangsa kembali harus dihadapkan pada kenyataan bahwa Globalisasi (dalam hal ini Globalisasi Olah Raga) menjadi sebuah  juggernaut yang menggilas kedaulatan Negara  –   Bangsa dan melemahkan kapasitas negara dalam mengatur pranata dalam negerinya. Pandangan ini selaras dengan apa yang dikatakan Chaudry mengenai definisi Globalisasi; The processes throw which sovereign Nation-States crisis are crossed under mind by transnational actors with varying prospects of power, orientations, identities, networks”   (Chaudhary 2005, 147). Jika boleh berkelakar, sebuah jebakan terhadap negara yang telah berlangsung sangat lama, lebih parah lagi Negara  –   Negara yang menjadi anggota tidak menyadari realitas ini karena sekali lagi ini masalah Sepak Bola.! Kajian yang disajikan dalam tulisan ini akan memberikan bukti bahwa bahkan  private governance yang hanya
Search
Similar documents
View more...
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x