Art

KELEMAHAN STRATEGI GULF COOPERATION COUNCIL (GCC) + 4 DAN KESALAHAN IRAK DALAM MELAWAN ISLAMIC STATE OF IRAQ AND AL-SHAM (ISIS)

Description
Analisis dengan teori Center of Gravity oleh Jesica D Lewis, Menengok strategi GCC, dan menemukan kelemahan regional, domestik dan membuka peluang aktor lain.
Categories
Published
of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  1 KELEMAHAN STRATEGI GULF COOPERATION COUNCIL  (GCC) + 4 DAN KESALAHAN IRAK DALAM MELAWAN  ISLAMIC STATE OF IRAQ AND AL-SHAM   (ISIS) Kurnia Islami (Mahasiswa Hubungan Internasional) Kekuatan ISIS dan Perlunya Upaya Regional Munculnya  Islamic State of Iraq and Al-Sham  (ISIS) di Irak dan Suriah hingga saat ini menjadi sebuah ancaman besar baik bagi Irak maupun masa depan geopolitik Timur Tengah. ISIS tidak lagi sekadar bergerak sebagai organisasi terorisme, lebih dari itu ISIS  juga telah memiliki badan militer dan politik yang terstruktur untuk menjadi sebuah negara (Lewis, 2014). Secara militer, kekuatan ISIS bertumpu pada kemampuan strategi operasi militer dan rekrutmen pasukan. Dalam konteks strategi operasi militer, ISIS memiliki ratusan ribu pasukan bersenjata yang memiliki kemampuan sangat baik dalam military campaign design  khususnya strategi distribusi sumber daya material saat melakukan operasi militer hingga mengatasi kelemahan dan membaliknya menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan politis (Lewis, 2014). Kemampuan ini didukung pula dengan adanya berbagai peralatan milite r baru dan berteknologi tinggi termasuk tank Abrams М1А1 buatan Amerika Serikat melalui penguasaan berbagai wilayah di Irak dan Suriah. Sementara itu dalam konteks rekrutmen pasukan, ISIS memanfaatkan distribusi propaganda melalui media sosial dan sebuah majalah berbahasa Inggris  Dabiq  yang disebarkan secara global. Kekuatan ISIS secara politis tampak dengan dibentuknya otoritas ibukota di provinsi Raqqa dan Allepo yang bertugas memfasilitasi pembangunan sekolah dan rumah sakit, melakukan program rekonstruksi, mendistribusikan makanan menegakkan hukum dan membentuk pasukan polisi. Pada umumnya, wilayah yang berhasil dikuasai ISIS khususnya pada kota-kota besar, menjadi basis rekrutmen ISIS termasuk para  jihadist   imigran. Kombinasi kekuatan militer dan politis inilah yang semakin memperkuat eksistensi ISIS untuk memproklamirkan diri sebagai sebuah negara yang kemudian menjadi ancaman tidak hanya bagi Irak, namun bagi negara tetangga Timur Tengah lainnya. Apabila ISIS dibiarkan menyebar dan menguasai wilayah lainnya maka kedaulatan  2 negara-negara Timur Tengah terancam musnah dan bukan tidak mungkin ini akan mengubah tatanan geografis dan geopolitik negara Timur Tengah. Oleh sebab itu, strategi melawan ISIS menjadi perhatian tidak hanya negara Irak (di mana ISIS mulanya berkembang) melainkan juga negara tetangga dalam kawasan yang kemudian sejak 11 September 2014 tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) +4 (Mesir, Jordania, Libanon, Irak). Pada dasarnya, upaya regional sendiri merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan dalam melawan ISIS. Pernyataan ini banyak disampaikan oleh pengamat strategi militer dan analis hubungan internasional melihat fakta bahwa militer Irak tidak memiliki kemampuan militer cukup kuat dibandingkan ISIS, sedangkan aktor eksternal yang biasanya sangat dominan yakni AS, tidak cukup serius menangani kasus ini (Shinkman, 2015) bahkan belum menyiapkan strategi yang matang (RT Op-Edge, 2015). Upaya GCC +4 Melawan ISIS  Komitmen awal GCC +4 untuk melawan ISIS sejak pertemuan 11 September 2014 di Jeddah ditandai dengan sebuah kesepakatan yang berisi antara lain: menuntut pemerintahan Irak baru, membantu orotitas Irak melawan ISIS, menghentikan masuknya pasukan  jihad   ISIS dari luar Irak melalui negara tetangga, membendung gerakan ekstrimis lainnya di Timur Tengah, melakukan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap korban ISIS, serta melakukan berbagai upaya militer untuk menyerang ISIS. (Karasik, 2014) Implementasi kesepakatan tersebut diantaranya adalah (Karasik, 2014): 1.   Bantuan pelatihan militer yang diberikan Arab Saudi kepada kelompok Sunni moderat di Irak. 2.   Membentuk GCC-POL, sebuah integrasi polisi negara-negara GCC yang bertugas memerangi semua organisasi terorisme termasuk yang berafiliasi dengan ISIS. 3.   Pembendungan melalui media sosial dan media massa juga dilakukan untuk mencegah persebaran propaganda ISIS yang sejauh ini telah berhasil menjaring banyak kader bergabung dengan ISIS. Negara-negara GCC +4 melakukan koordinasi dengan berbagai media serta meminta para ulama dan tokoh publik mengarahkan opini publik pada anti-terorisme termasuk anti-ISIS untuk membendung kampanye media sosial yang dilakukan ISIS.  3 4.   Rehabilitasi dan rekonstruksi korban ISIS sebagai salah satu tindakan kemanusiaan yang diharapkan mampu memperkuat legitimasi Irak dan Suriah dan mencegah destruksi yang dilakukan ISIS. 5.   Pengiriman pasukan militer dalam upaya serangan militer terhadap ISIS bersama koalisi Amerika Serikat. Meskipun demikian, setelah hampir setahun upaya-upaya koalisi GCC +4 telah dilakukan, hingga saat ini ISIS masih eksis dan semakin menguat dengan menguasai daerah utara Irak dan sebagian Suriah yang kaya sumber daya alam dan energi. Berbekal analisis Center of Gravity Clausewitz dan strategi Jesica Lewis, belum berhasilnya upaya GCC +4 melawan ISIS dapat dijelaskan sebab adanya kelemahan strategi GCC +4 sendiri serta kesalahan dalam otoritas Irak. Penerapan Analisis Center of Gravity ISIS Analisis Center of Gravity diperkenalkan oleh Carl von Clausewitz untuk mendapatkan gambaran sumber kekuatan lawan. Metode analisis ini kemudian dikembangkan dalam militer Amerika Serikat menjadi 3 bagian yang lebih detil yakni : Critical Capabilities  (cara utama lawan)  , Critical Requirements (kebutuhan primer lawan untuk bertindak)  , dan Critical Vulnerabilities  (kelemahan lawan). Penerapan analisis Center of Gravity terhadap ISIS salah satunya dilakukan oleh Jesica D Lewis. Elemen analisis diawali analisis tujuan ISIS lebih dulu, kemudian analisis Critical Capabilities,    Requirements , Vulnerabilities  selanjutnya menarik garis besar ketiganya menjadi Center of Gravity. Tujuan ISIS dalam majalah  Dabiq adalah meruntuhkan batas teritori utamanya di Irak dan Suriah serta mendirikan kekhalifahan Islam secara global. Berikutnya, analisis elemen Center of Gravity ISIS dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1 Hasil Analisis Elemen Center of Gravity ISIS sumber : Institute for the Study of War dengan olahan penulis CRITICAL CAPABILITIES  A means that is considered a crucial enabler for a center of gravity to function and is essential to the accomplishment of the specified or assumed 1.   Penyusunan strategi operasi militer 2.   Rekrutmen pasukan militer (pembebasan tawanan, rekrutmen lokal, dan propaganda) 3.   Kampanye politik (propaganda melalui media atas kesuksesan militer ISIS, dakwah) 4.   Penguasaan dan pengembangan kota-kota  4 objective(s).   besar (membangun sekolah, rumah sakit, distribusi makanan) CRITICAL REQUIREMENTS  An essential condition, resource, or means for a critical capability to be fully operational  1.   Kemenangan militer yang berkelanjutan 2.   Pasukan dan material penunjang militer 3.   Otoritas keagamaan (untuk mempertahankan nilai kekhalifahan Islam) CRITICAL VULNERABILITIES  An aspect of a critical requirement which is deficient or vulnerable to direct or indirect attack that will create decisive or significant effects.   1.   Wilayah yang luas (sulit untuk menjaga komunikasi dengan baik) 2.   Beragam pemimpin dengan beragam karakter yang berbeda 3.   Berkurangnya aliansi (dari etnis atau kelompok agama) 4.   Perbedaan pendapat dalam agama 5.   Kekuatan militer regional CENTERS OF GRAVITY The source of power that provides [an enemy with] moral or physical strength, freedom of action, or will to act.   1.   Kemampuan militer (ketepatan strategi dan kemenangan operasi militer) 2.   Kemampuan politik (praktik penerapan kekhalifahan Islam pada daerah yang dikuasai) Setelah mengetahui sumber kekuatan ISIS, maka strategi yang dibutuhkan untuk melawan ISIS adalah menjatuhkan kemampuan militer dan politik ISIS. Perlu menjadi perhatian sebelumnya bahwa menjatuhkan kemampuan militer ISIS semata tidak menjamin musnahnya organisasi ini secara keseluruhan sebab masih ada sumber kekuatan lainnya yakni kekuatan politik (Lewis, 2014). Oleh sebab itu diperlukan upaya komprehensif untuk menjatuhkan kekuatan militer dan politik ISIS. Upaya menjatuhkan kekuatan militer dan politik ISIS diantaranya dapat dilakukan melalui : 1.   Melawan propaganda kemenangan militer ISIS, menunjukkan kekalahan dan kelemahan militer ISIS melalui media. ( Target ISIS critical capabilities)    5 2.   Merusak penunjang militer ISIS, salah satunya melalui jaringan komunikasi ISIS secara internal maupun eksternal ( Target ISIS critical requirements and vulnerabilities)  3.   Memecah fokus militer ISIS melalui penyerangan bersamaan pada beberapa titik berbeda.  (Target ISIS critical vulnerabilities)  4.   Merusak institusi dan birokrasi yang telah dibentuk ISIS tanpa melanggar hukum humaniter (Target ISIS political capabilities)   Kelemahan Strategi GCC +4 dan Kesalahan Otoritas Irak dalam Melawan ISIS Setelah melihat penerapan analisis Center of Gravity Clausewitz pada ISIS serta strategi yang dibutuhkan untuk menimbulkan efek signifikan terhadap ISIS, dapat dilihat adanya kelemahan strategi GCC +4 pada beberapa hal. Pertama, inefektivitas tindakan yang dipilih GCC +4 di mana meskipun ada banyak upaya yang telah terlaksana namun tidak semuanya ditargetkan untuk menjatuhkan sumber kekuatan ISIS. Salah satu contohnya adalah rehabilitasi dan rekonsiliasi korban ISIS. Tindakan ini seharusnya menjadi perhatian domestik negara yang bersangkutan, khususnya Irak dan Suriah, sebab kapabilitas regional yang lebih besar daripada negara seharusnya dimanfaatkan pula untuk melakukan tindakan besar yang berdampak terhadap ISIS. Apabila ini dilakukan oleh GCC +4 akan mengurangi fokus terhadap persiapan melawan kekuatan militer dan politik ISIS. Apabila memang dirasa perlu menjadi perhatian regional, sebaiknya dilakukan setelah tidak ada konflik dengan ISIS, sebab rehabilitasi akan sia-sia jika dirusak kembali oleh ISIS. Kedua, sikap pasrah terhadap Amerika Serikat dan tidak adanya semangat dan komitmen tinggi memerangi ISIS dari GCC +4, khususnya dari Irak. Ini tampak diantaranya melalui GCC Summit dan berbagai pertemuan negara GCC dan Amerika Serikat yang tidak menampakkan adanya hasil strategi detail dari negara GCC. Hal terpenting bagi negara-negara GCC yakni AS tetap memberi bantuan operasi militer (Shinkman, 2015). Padahal, AS sendiri belum menyiapkan strategi yang matang melawan ISIS sebagaimana dinyatakan Obama “We don’t yet have a complete strategy because it requires commitments on the part of the Iraqis,”  (Thompson, 2015) bahkan tampaknya tidak memiliki semangat tinggi menyelesaikan masalah ini. Berbagai serangan memang telah dilakukan oleh koalis AS, bahkan setiap harinya tidak kurang dari USD 9juta
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x