Health & Lifestyle

LATAR BELAKANG CHINA MENGUBAH KEBIJAKAN ORIENTASI ENERGI

Description
LATAR BELAKANG CHINA MENGUBAH KEBIJAKAN ORIENTASI ENERGI
Published
of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  LATAR BELAKANG CHINA MENGUBAH KEBIJAKAN ORIENTASI ENERGI Dinamika dalam hubungan internasional semakin sulit diprediksi. Menurut Stanley Hoffman, our world become more and more complex . 1  Situasi internasional kontemporer tidak lagi terfokus pada high politics  melainkan pada low politics . Isu low politics  yang mendapat perhatian besar adalah ekonomi. Hal ini ditandai dengan perlombaan setiap negara dalam industrialisasi. Setiap negara mengejar kemajuan ekonomi demi tercapainya tujuan dasar negara yaitu kesejahteraan rakyat. Selain itu, ekonomi menjadi aspek pertama dalam human security concept   oleh UNDP tahun 1994. Dalam mencapai tujuan isu low politics ,  soft power   menjadi sarana yang cukup tinggi intensitas  penggunaannya oleh beberapa negara .  China merupakan contoh negara yang mengembangkan  soft power   untuk mengejar aspek ekonomi yang semakin positif dari tahun ke tahun. China terkenal penuh teka-teki sejak ribuan tahun lalu, karena potensinya yang tidak dapat diukur oleh pihak asing.  Namun, China mampu menyesuaikan diri terhadap kecenderungan global sehingga  berhasil menjadi NICs (  New Industrial Countries ) dengan pertumbuhan ekonomi 9-10%  per tahun. 2  Dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 10% per tahun, China menjadi negara dengan  pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia dan konsumen 50% minyak, gas, dan sumber daya alam global. 3  Bahkan, 12% pertumbuhan ekonomi dunia berasal dari pertumbuhan ekonomi China. Sehingga China diprediksi menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia  pada tahun 2020-2050. Hal ini didukung dengan posisi China sebagai negara berjumlah 1 Hoffman, Stanley,  A World of Complexity , (dalam Douglas J., Murray, dan P. Viotti, The Defense Policies of  Nations:A Comparative Study , [Lexington:Lexington Books,1998], h. 25.) 2 Marbun, B.N.,  Kamus Politik,  (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan,2007), h. 81.   3 Shwe Gas Movement, Corridor of Power:China’s Trans -Burma Oil and Gas Pipelines , (Thailand:The Shwe Gas Movement,2009), h. 8.   penduduk terbesar di dunia yaitu lebih dari satu milyar jiwa, jumlah angkatan bersenjata terbesar di dunia yaitu 2,5 juta personil, memiliki senjata nuklir, dan belanja militer diatas 10% setiap tahun dalam 17 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi China ini  berbanding lurus dengan pertumbuhan konsumsi energinya. Hal tersebut dilatarbelakangi kebijakan Deng Xiao Ping, pemimpin reformis China tahun 1978 yang melakukan modernisasi China dengan membuka seluas-luasnya China sebagai aktor ekonomi internasional. Dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang melimpah maka China menjadi tujuan investasi industri negara  besar seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, dan Jepang. 4  Namun, China kini bersaing dengan negara-negara tersebut dalam mengejar akses sumber energi dunia karena seluruh strategi modernisasi China berlandaskan akses energi dalam jumlah besar dengan 80% kebutuhan minyak China diimpor. Bahkan, China akhirnya menjadi negara importir bersih minyak sejak tahun 1993. 5  Pertumbuhan konsumsi energi China yang cepat secara garis besar dikarenakan oleh: (1) pertumbuhan ekonomi yang cepat, (2) industrialisasi yang cepat, (3) urbanisasi yang cepat, (4) pertumbuhan ekspor yang cepat, dengan dikenalnya China sebagai “pabrik dunia”. 6  China menyadari energi khususnya minyak merupakan faktor utama penggerak  perekonomiannya terutama sektor industri dan transportasi maka China pun melakukan  berbagai kebijakan untuk memenuhi kebutuhan energinya. China pun menyadari bahwa minyak menjadi sumber daya alam yang terbatas sehingga China mencari sumber daya energi ini melalui ekspansi global. Maka, dapat diketahui bahwa kepentingan energi China yaitu memastikan kebutuhan minyak tidak menahan pertumbuhan ekonomi dan terjaminnya akses energi dalam menghindari gejolak sosial dan mencapai kesejahteraan masyarakat China. 4 Opcit., h. 81. 5 Salameh, G., China, Oil and The Risk of Regional Conflict  ,   Survival  , 37, no.4 (Winter 95/96), h. 141.   6 Michael Wesley,  Energy Security in Asia , (Oxon: Routledge Asia-Pasific Series, 2007), h. 47.  China sebagai penghasil batu bara terbesar di dunia saat ini, namun dengan efisiensi  penggunaan rendah, keuntungan ekonomi rendah, dan kompetitif produknya pun rendah maka China dalam upaya menggantinya. Maka permintaan minyak dan gas lebih besar dibanding batu bara. Semenjak menjadi net importer minyak 1993, ketergantungan minyak China selalu mengalami trends  kenaikan mulai dari 6,3% pada 1993 menjadi 30% pada 2000, dan 46% pada 2004. 7  Menurut, IEA konsumsi energi China diprediksi mencapai 14 mbpd  , lebih besar 11% dari Amerika Serikat. 8  Minyak telah menjadi komoditas energi strategis dalam pertumbuhan ekonomi dan menjadi faktor ketidakseimbangan politik global karena kelangkaan dan diperebutkan oleh berbagai negara. Harga minyak yang fluktuatif bahkan pada tahun 2008 mencapai 120$ per barrel terjadi karena kenaikan permintaan 9 , khususnya di negara-negara  berkembang Asia, contohnya China yang diprediksi mengalami peningkatan konsumsi energi 156% di tahun 2025. Selain itu, dipicu juga oleh ketidakstabilan politik dan keamanan negara penyuplai. Ini merupakan hal yang sulit dihindari karena tidak ada yang dapat menjamin stabilitas suatu negara-bangsa. Namun, akses energi dan keamanan distribusi harus mendapat jaminan karena pasokan energi menentukan kelangsungan hidup negara didalam memenuhi kebutuhannya. Negara sangat memerlukan energi untuk menjalankan roda perekonomiannya terutama bidang industri yang mengalami trends  kenaikan hampir di setiap negara. Oleh karena itu, lahirlah konsep keamanan energi. Pada bulan November 2003, Dewan Negara China mengeluarkan garis-garis besar tentang kebijakan energi hingga tahun 2020, yang menyandang istilah “strategi lompatan  besar di padang energi”. Termasuk dalam tujuannya adalah mengamankan lebih banyak  pemasok di luar negeri. 10  Jadi apa pun rintangan geopolitis yang menghadang di jalan, 7  Ibid. , h. 48. 8 Luft, G., et al.,  Energy Security Challenges for The 21st Century , (California:ABC-CLIO,LLC, 2009), h. 1.   9 Kutipan wawancara dengan Sandy Nur Ikfal Raharjo, S.Sos., Peneliti Politik LIPI 10 Engardio, Pete, Chindia , (Jakarta:PT Buana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, 2008), h. 382.  diplomasi energi akan bergerak terus melewatinya. 11  Dalam pemenuhan kebutuhan energinya China melakukan kebijakan luar negeri yang disesuaikan dengan politik luar negeri. Politik luar negeri China yang sangat mengedepankan  soft power menyebabkan kebijakan energi China di luar negeri dipenuhi dengan berbagai kebijakan yang menyertainya, dengan faktor yang mempengaruhi yaitu tujuan dan orientasi internasional. Kerjasama ekonomi, kerjasama infrastruktur, dan berbagai kerjasama lainnya merupakan contoh kebijakan yang menyertai kebijakan energi China. Kebijakan energi China di luar negeri dilakukan dengan kerjasama oleh berbagai negara lainnya. Kerjasama dengan berbagai negara tersebut dilakukan dalam sektor eksploitasi dan distribusi energi. Adapun tiga kawasan sumber energi strategis China yaitu Asia Tengah dan Rusia, Timur Tengah dan Afrika Utara, dan Amerika Selatan. 12  Namun, karena kondisi politik yang cenderung tidak stabil dan rute perjalanan impor yang panjang maka China pun semakin memperhatikan Asia Tenggara. Seperti mempelopori ASEAN+3 dan ASEAN Petroleum Agreement (APSA).  Negara-negara yang menjadi mitra strategis China dalam pemenuhan kebutuhan energinya adalah negara-negara berkembang di berbagai kawasan. Negara-negara tersebut melakukan kerjasama dengan China diiringi dengan berbagai kebijakan lainnya terutama kerjasama di bidang ekonomi. Pendekatan ekonomi menjadi salah satu pilihan efektif untuk mendapat jaminan akses energi. Pada umumnya negara tersebut menyambut baik berbagai kerjasama ekonomi dengan China karena negara-negara tersebut ingin mengikuti jejak China dalam mencapai kesuksesan di bidang ekonomi. Maka, memudahkan China dalam melakukan ekspansi minyak secara global. 11  Ibid. , h. 390.   12 Michael Wesley,  Energy Security in Asia , (Oxon: Routledge Asia-Pasific Series, 2007), h. 56.    Kebutuhan energi China terutama minyak yang merupakan kebutuhan utama dalam menjamin kelangsungan perekonomian China, berada dalam kelangkaan bahkan krisis karena berbagai ancaman keamanan energi. Contohnya: krisis minyak di tahun 1973-1974 saat negara penyuplai minyak di kawasan Timur Tengah mengembargo minyak sehingga harga minyak melonjak tinggi, kemudian maraknya pembajakan tanker minyak China dalam pelayaran internasional yang menghambat pasokan minyak, serta perebutan sumber daya minyak antara China, Amerika Serikat, Eropa, dan negara Asia lainnya. Dengan demikian berbagai kawasan di seluruh dunia mendapat perhatian China sebagai sumber daya energinya. Kawasan tersebut tidak hanya tiga kawasan sumber energi strategis China tetapi juga memunculkan pemain baru dalam bidang energi seperti kawasan Asia Tenggara. Kawasan ini dianggap memiliki sumber daya energi yang cukup  besar, selain sebagai rute jalur impor energi China. Apalagi berdasarkan letak kawasan ini, China memiliki jaminan sumber daya energi dari kawasan terdekat dengan biaya transportasi energi terjangkau. Dengan demikian, energi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi China terjamin persediaannya.

Http

Apr 21, 2018
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks