Philosophy

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH Pendahuluan

Description
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH Pendahuluan
Categories
Published
of 27
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  1 PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM   MUHAMMAD ABDUH   A.   Pendahuluan Muhammad Abduh adalah seorang reformis, ia lahir di lingkungan keluarga petani yanghidup sederhana, taat dan cinta ilmu pengetahuan. Ayahnya bernama Muhammad „Abduh ibn Hasan Khairullah, ia bukan seorang bangsawan yang kaya tetapi cukup berwibawa danterhormat. Ibunya keturunan Arab yang silsilah sampai kepada Umar ibn Khathab.Guru pertamanya adalah sang ayah, yang mengajarinya membaca, menulis, danmenghafal Al-Quran. Hanya dalam jangka waktu 2 tahun diumur 12 tahun. Ia telah menghafalseluruh ayat Al- qur‟an.Sejarah mencatat perjalanan panjang pendidikannya, saat ia menemukan kekurangan dan merasakan putus asa, ia bertemu dengan orang yang tepat yaituSyekh Darwiys Khadr, sebelum ia berangkat ke Kairo, dan bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani, setelah ia belajar di al-Azhar.Muhammad Abduh dalam sejarah pendidikan, termasuk salah satu pembaharu yangharum namanya dan memiliki pengaruh besar di dunia Islam karena reformasi pendidikanyang dilakukannya. Bukan saja melahirkan ide-ide cemerlang dalam dunia pendidikan,Muhammad Abduh juga dikenal pembaharu agama yang menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Al Quran dan As- Sunnah, dan pembaharu pergerakan, bersama Jamaludin al-Afgani menerbitkan maja lah al‟Urwatul Wutsqa di Paris yang makalah -makalahnyamenghembuskan semangat nasionalisme pada rakyat Mesir dan dunia Islam pada umumnya.Rintangan dan hambatan bukanlah halangan baginya untuk menghantarkan pembaharuan pemikiran dalam pendidikan Islam pada tempat yang layak, dan pada makalahini akan diuraikan tentang perjalanan hidup seorang Muhammad Abduh dari seorang biasadalam belajar sampai mendapat gelar Mufti di Mesir, dengan segala kesulitan yang iatemukan dan sampai keberhasilan yang diperolehnya.  2 B.   Sejarah Hidup Muhammad Abduh dan Pemikirannya  Muhammad Abduh lahir pada tahun 1848 M/ 1265 H disebuah desa di PropinsiGharbiyyah Mesir  Hilir. Ayahnya bernama Muhammad „Abduh ibn Hasan Khairullah. Abduh lahir dillingkungan keluarga petani yang hidup sederhana, taat dan cinta ilmu pengetahuan. Orang tuanya berasal dari kota Mahallaj Nashr. 1   Ayahnya bukan seorang bangsawan yang kaya tetapi cukup berwibawa dan terhormat. Ibunya keturunan Arab yangsilsilah sampai kepada Umar ibn Khathab. Kakek Muhammad Abduh diketahui turutmenentang pemerintahan Muhammad Ali. Kenyataan itu dituduhkan pula kepada AbdulKhairullah, ayah Muhammad Abduh. Karena tuduhan itu ayahnya sempat dipenjara untuk  beberapa lama, sebelum ia menetap di al-Gharibiah dan mengikat tali perkawinan dengan ibuMuhammad Abduh. 2  Abduh mengawali pendidikannya dengan berguru pada ayahnya di rumah. Pelajaran pertama yang diperolehnya adalah membaca, menulis, dan menghafal Al-Quran. Hanya dalam jangka waktu 2 tahun. Ia telah menghafal seluruh ayat Al- qur‟an. Kemudian, pada usia 14 tahun ia dikirim ayah ke Tanta untuk belajar di mesjid al-Ahmadi fikih.   Di tempat ini ia mengikuti pelajaran yang diberikan dengan rasa tidak puas, bahkanmembawanya pada rasa putus asa untuk mendapatkan ilmu. Ia tidak puas dengan metode pengajaran yang diterapkan yang mementingkan hafalan tanpa pengertian bahkan ia berpikir lebih baik tidak belajar dari pada menghabiskan waktu menghafal istilah-istilah nahu danfikih yang tidak dipahaminya, sehingga ia kembali ke Mahallat nashr ( kampungnya ) danhidup sebagai petani serta melangsungkan pernikahan dalam usia 16 tahun. 3   Keputusan Muhammad Abduh untuk meninggalkan dunia pendidikan tidak disetujuioleh orangtuanya. Maka dengan terpaksa ia kembali ke Thanta. Namun, dalam di tengah perjalanannya ia merubah arah tujuannya. Ia bukannya ke Thanta, melainkan ke sebuah desayang bernama Kanisah Urin, di sana tinggal pamannya yang bernama Syekh Darwisy Khadr. 1 . Samsul  Nizar, Sejarah Pendidikan Islam:Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia   , (Jakarta, Kencana, 2009) h .240   2 . Asnil Aida Ritonga , Pendidikan Islam Dalam Buaian Arus Sejarah  , (Bandung, Citapustaka Media Perintis,2008) h. 124   3   . Lihat Samsul Nizar, h. 240    3 Syekh Darwiys Khadr adalah seorang alim yang banyak melakukan perjalanan ke luar Mesir, belajar berbagai macam ilmu agama, dan sangat perhatian dengan bidang tafsir Al- Qur‟an.  Darwisy Khadr berhasil memotivasi Muhammad Abduh kembali membaca buku. Ia berusaha membantu Muhammad Abduh memahami apa-apa yang dibaacanya. Atas bantuan pamannya itu, ia akhirnya mengerti apa yang dibaca. Sejak saat itulah minat bacanya mulaitumbuh dan ia berusaha membaca buku-buku secara mendiri. Istilah-istilah yang tidak dipahaminya ia tanyakan kepada Darwisy Khadr. Dengan demikian dapatlah ditegaskan bahwa sebab utama ia meninggalkan pelajaran pada waktu sebelumnya adalah karenarendahnya minat untuk belajar. 4  Setelah ia mengalami banyak perubahan dan kemajuan dalam pemahaman, di sampingitu Muhammad Abduh menjadi tempat bertanya bagi teman-temannya. Ia tertarik untuk mengadakan perjalanan dalam rangka meningkatkan keilmuannya, dengan cara meninggalkanThanta dan menuju Kairo pada tahun 1866.Akan tetapi kondisi al-Azhar pada saat itu, terbelakang dan jumud. Karena segalasesuatu yang berlawanan dengan kebiasaan al-Azhar adalah perbuatan kafir, seperti membaca buku geografi, filsafat, dan jenis-jenis buku umum hukumnya haram, bahkan memakai sepatu merupakan bid‟ah. Kemudian ia juga menemukan metode yang sama dengan Thanta, yang membuat Muhammad Abduh kembali kecewa.Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila Muhammad Abduh mempelajari ilmufilsafat, ilmu ukur, soal-soal dunia dan politik dari seorang intelektual bernama Hasan Tawil.Tetapi pelajaran yang diberikan Hasan Tawil pun kurang memuaskan diriya. Pelajaran yangditerimanya di al-Azhar juga kurang menarik perhatiannya. Ia lebih suka membaca buku di perpustakaan al-Azhar. Kepuasan Muhammad Abduh mempelajari matematika, etika, politik,filsafat, ia peroleh dari Jamaluddin al-Afghani. Pada tahun 1877 ia menempuh ujian untuk mencapai gelar al-Alim. Ia lulus dengan predikat baik. Setelah lulus ia mengajar di al-Azhar,di Dar al-Ulum dan rumahnya sendiri. 4 .   Asnil Aida Ritonga , Pendidikan Islam Dalam Buaian Arus Sejarah  , h. 1 25  4 Ketika pada 1296 H/1879 M, Jamaluddin Al-Afghani dideportasi dari Mesir,Muhammad Abduh dipecat dari jabatannya sebagai guru. Abduh pun memutuskan untuk kembali ke desanya. Hingga akhirnya Riyadh Pasha mengeluarkan surat yang berisi tentangkebersihan Muhammad Abduh. Setelah itu Muhammad Abduh menjadi pemimpin redaksisurat kabar   Al-Waqai Al-Mishriyyah . Di dalam surat kabar itulah Muhammad Abduhmenyebarkan pemikiran-pemikirannya. 5  Muhammad Abduh, atas pengaruh gurunya Jamaluddin Al-Afghani juga terlibat dalam kegiatan politik paktis. Ia pernah terlibat dalam peristiwa “Urabi tahun 1881”. Peristiwa itu mengakibatkan ia tertangkap pada tahun 1882 ia dibuang ke Syiria. Di masa pengasingan itu,Afghani mengundang Abduh untuk datang ke Paris dan di sinilah Afghani dan Abduhmenyusun gerakan al-Urwat al-Wutsqa , yakni gerakan kesadaran umat Islam sedunia. Tujuangerakan ini adalah untuk membangkitkan semangat perjuangan seluruh umat Islam dalammenentang ekspansi Eropa ke dunia Islam. 6 Karena dianggap berbahaya, majalah ini hanyasampai 18 nomor penerbitan saja dan untuk berikutnya majalah ini dilarang terbit olehPemerintah Prancis.Setelah majalah al- „Urwah al  -Wutsqa tidak terbit lagi, Muhammad Abduh mulai bosandengan gerakan politik. Dia pun mulai memiliki keinginan untuk melakukan perubahanmelalui pendidikan dan pembaruan pemikiran umat Islam. Abduh pun meninggalkan Al-Afghani dan kembali ke Beirut sebagai guru Madrasah Sulthaniyyah. Dia pun menjadi penafsir Al- Qur‟a n di Masjid Umari, penulis, dan editor ( muhaqqiq ), dan buku-buku Turats.Di sinilah titik awal perubahan Muhammad Abduh, ia memilih memusatkan perhatiannya pada pembaharuan melalui pemikiran dan pendidikan, sedangkan gurunyaJamaluddin al-Afghani tetap fokus pada pembaharuan melalui pergerakan politik. 5 .   Arif Munandar Riswanto, Buku Pintar Islam   , (Bandung, Mizan Media Utama, 2010) h .335   6 .   Lihat Asnil Aida Ritonga, Pendidikan Islam Dalam Buaian Arus Sejarah  , h. 126  5 Pada tahun 1306 H/1889 M, Muhammad Abduh kembali lagi ke Mesir dan sibuk di pengadilan. Pada tahun 1891, Muhamad Abduh bekerja sebagai konsultan ( mustasyar  ) di pengadilan banding ( m ahkamah isti‟naf  ). Kemudian, dia menduduki jabatan mufti Mesir pada1317 H.1899 M. Lalu pada 1318 H/1900 M. dia mendirikan  Jam‟iyyah Ihya‟ Al  -Kutub Al- „Arabiyyah . 7  Pembaharuan yang kedua yang dilakukannya sebagai mufti di tahun 1899 menggantikanSyekh Hasanuddin al-Nadawi. Usaha yang pertama yang dilakukannya di sini adalahmemperbaiki pandangan masyarakat bahkan pandangan mufti sendiri tentang kedudukanmereka sebagai hakim. Mufti-mufti sebelumnya berpandangan, sebagai mufti bertugassebagai penasehat hukum bagi kepentingan Negara. Di luar itu seakan melepaskan diri dariorang yang mencari kepastian hukum. Mufti baginya bukan hanya berkhidmat kepada Negara,tetap juga pada masyarakat luas. Dengan demikian, kehadiran Muhammad Abduh tidak hanyadibutuhkan oleh Negara tetapi juga oleh masyarakat luas.Pembaharuan yang ketiga yang dilakukannya ialah dibuktikan dengan dididirikannyaorganisasi sosial yang bernama al-  Jami‟at al  -Khairiyyah al-Islamiyyah pada tahun 1892.Organisasi ini bertujuan untuk menyantuni fakir miskin dan anak yang tidak mampu dibiayaioleh orangtuanya. Wakaf merupakan salah satu institusi yang tidak luput dari perhatiannya,sehingga ia membentuk majelis administrasi wakaf sehingga ia berhasil memperbaiki perangkat masjid.Para pemerhati sejarah menyatakan ada beberapa corak pemikiran Muhammad Abduhyang menjadi dasar baginya dalam melakukan pembaharuan, terkhusus di bidang pendidikan   Modernisasi. 8  Dalam pembahasan sebelumnya telah dinyatakan bahwa perubahan yang terjadi padaAbduh tidak lain adalah karena pengaruh besar dari seorang al-Afghani, ia berusaha untuk menarik benang merah penyesuaian antara ajaran Islam dengan tuntutan zaman, seperti penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Gagasan penyesuaian 7 . Lihat Munandar Riswanto, Buku Pintar Islam   , h .336   8 .    Nurcholis Madjid , Islam Kemodernan dan Keindonesiaan  , (Bandung, Mizan, 1989) h. 172  

Telecom Jos

Apr 4, 2018
Search
Similar documents
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks