Short Stories

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM SEYYED HOSSEIN NASR (12)

Description
Pendahuluan Permasalahan yang dihadapi umat Islam saat ini salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan Islam belum mampu untuk melahirkan ulama dan intelek secara bersamaan. Mayoritas pendidikan hanya membidik satu sisi antara agama atau ilmu
Categories
Published
of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  Pemikiran Pendidikan Islam Seyyed Hossein Nasr (12) Oleh : Priyo Sudibyo Pendahuluan Permasalahan yang dihadapi umat Islam saat ini salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan Islam belum mampu untuk melahirkan ulama dan intelek secara bersamaan. Mayoritas pendidikan hanya membidik satu sisi antara agama atau ilmu pengeahuan. Padahal apabila kembali melihat sejarah Islam beberapa abad silam pendidikan tradisional klasik telah mampu melahirkan sosok yang memiliki kematangan kemampuan agama yang ditunjang oleh kematangan intelek. Dengan demikian akan muncul keseimbangan pikir, dzikir dan serta membawa perubahan positif dalam sejarah peradaban Islam. Indonesia adalah salah satu negara yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Pendidikan Islam di indonesia sudah ada sejak beberapa abad silam dimulai dari  pembelajaran agama Islam secara tradisional yang dilakukan di surau-surau hingga kini menjadi lebih maju dan berkembang. Islam tidak hanya diajarkan di surau-surau namun kini telah diajarkan di madrasah-madrasah hingga perguruan tinggi. Melihat perkembangan serta  perubahan yang pesat terhadap pendidikan Islam di Indonesia namun tetap saja karakter (pendidikan akhlak) masih menjadi tujuan pendidikan saat ini. Bahkan dalam merumuskan  pendidikan karakter di Indonesia yang banyak digunakan pemerhati pendidikan adalah konsep dan paradigma tokoh barat, padahal tokoh tokoh dunia Islam tidak sedikit yang membahas konsep pendidikan karakter. Makalah ini mencoba untuk menelaah kembali dan menghidupkan konsep konsep  pendidikan Islam perspektif tokoh muslim yaitu Seyyed Hossein Nasr. Dengan melakukan kajian terhadap tokoh muslim dan tokoh barat dapat dikombinasikan antara konsep pendidikan  barat dan timur untuk menyusun dan memeperbaiaki model pendidikan Islam ke depan. Biografi Seyyed Hossein Nasr Seyyed Hossein Nasr lahir pada tanggal 7 April 1933 di kota Teheran Iran. Ia lahir dari keluarga ulama dan fisikawan tradisional. Ayahnya adalah Seyyed Waliullah Nasr, seorang ulama terkenal pada masanya dan seorang dokter yang berpengalaman baik dalam ilmu  pengobatan tradisionan dan ilmu pengobatan modern.  Nama “  Nasr  ” yang berarti “kejayaan”  1 adalah nama yang diambl dari gelar “  Nasr  Al Thibb” (kejayaan para dokter) yang merupakan gelar yang diberikan oleh raja persia kepada kakeknya”. 1  Selain itu ayahnya merupakan tokoh  pendidikan dam diangkat setingkat menteri (masa sekarang) pada masa pemerintahan Reza Shah. 2  Pendidikan dasarnya ia peroleh dari keluarga dan lembaga pendidika tradisional di teheran. Pada lembaga tersebut ia mendapatkan pelajaran menghafal Al Qur’ an, syair-syair serta budaya Persia. Dalam usia yang muda ia berdiskusi dengan ayahnya terkait filsafat dan keagamaan dengan ayahnya. Hal ini mempengaruhi pemikiran dan perkembangan intelektualnya. Hingga kemuadian ayahnya mengirim Hossein Nasr untuk belajar kepada sejumlah ulama besar di Qum Iran, termasuk Thabathaba’i penulis tafsir al Mizan  untuk mendalami filsafat, ilmu kalam dan tasawuf. 3   Nasr belajar di luar negeri sejak usia 12 tahun, tepatnya pada tahun 1945 setelah Perang Dunia ke-II. Ia mengawali pendidikannya di Peddie Schooldi Highstown, New Jersey pada tahun 1946. Di sekolah ini ia mempelajari sastra Inggris, sains, sejarah Amerika, kebudayaan Barat dan agama Kristen.Nasr adalah murid yang cerdas sehingga pada tahun kelulusannya ia mewakili kelasnya memberikan sambuutan dan mendapat penghargaan Wyclifte Award  penghargaan yang diberikan sekolah untuk murid dengan prestasi tertinggi. 4  Hossein Nasr melanjutkan pendidikan tingginya di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat dan meraih gelar B.Sc. (Bachelor of Science)  dalam  bidang fisika dan matematika teoritis. Pada tahun 1954, Ia meraih gelar M.Sc. dalam bidang geologi dan geofisika dari Harvard. Pada program doktoral Nasr merubah haluan dan lebih tertari untuk menekuni filasafat dibanding ilmu sains. Ia menekuni sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat dengan desertasi berjudul  An Introduction to Islamic Cos-mological Doctrine  di  bawah promotor HAR dan meraih Ph.D. (Doctor of Philosophy)  dari Harvard pada tahun 1958. Selama menempuh pendidikan di Harvard, Nasr banyak mengenal tokoh pemikiran filsafat 1   Rafi ’ah Ghazali, “Manusia Menurut Seyyed Hossein Nasr ,” Laporan Penelitian (Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat, 2013), 13. 2  Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 81  – 82. 3  Ibid., 341. 4  Ghaz ali, “Manusia Menurut Seyyed Hossein Nasr ,” 13.    2 seperti: Gibb, Massignon, Henry Corbin, Titus Burchardt dan Schoun yang secara tidak langsung banyak mempengaruhi pemikiran dan pandangannya dalam berfilsafat. 5  Pada tahun 1958, Nasr kembali ke negaranya dan mendalami filsafat Timur dan filsafat tradisional dengan banyak diskusi bersama tokoh-tokoh agama terkemuka di Iran. Dalam  bidang akademik Ia mengajar di Universitas Teheran dan menjadi dekan fakultas sastra pada tahun 1968-1972. Hossein Nasr diangkat menjadi direktur Imperial Iranian Academy of Philosophy pada tahun 1975-1979, sebuah lembaga yang didirikan dinasti Syah Pahlevi untuk memajukan pendidikan dan kajian filsafat. Kredibilitas Nasr sebagai intelektual dan akademisi telah diakui, tidak hanya oleh negaranya sendiri namun juga masyarakat dunia. Ia sering diundang dalam forum-forum kajian keilmuan, seminar dan memberi perkuliahaan di luar negeri antara lain di Harvard (1962-1965), American University of Beirut (1964-1965), Universitas Chicago (1966), Edinburg University (1989) dan beberapa perguruan tinggi lain. Bahkan ia juga pernah hadir di Indonesia atas undangan Yayasan Wakaf Paramadina pada tahun 1993. Ia berbicara tentang : (1) tentang 'Seni Islam' yang sekaligus peluncuran buku Spiritualitas dan Seni Islam (Bandung, Mizan, 1993); (2) tentang 'Spiritualitas, Krisis Dunia Modern dan Agama Masa Depan'; dan (3) tentang Filsafat Perenial'. 6   Nasr bersama Ayatullah Murtadho Muthahari (1919-1979) dan Ali Syariati (1933-1977) dan beberapa tokoh lain pada akhir 1965 mendirikan sebuah lembaga yng bertujuan untuk mengembangkan ideologi Islam untuk generasi muda berdasarkan perspektif syiah dan menjadi pusat pemeuda militan revolusioner. Kegiatan di dalamnya meliputi; riset, pendidikan,  propaganda dan unit organisasi logistik. Namun sebelum ditutupnya lembaga ini pada tahun 1973, Nasr dan Muthohari keluar dari lembaga tersebut karena Syariati sering melancarkan kritik keras terhadap ulama tradisional, membawa faham liberation theologi  dari Marxisme dan Barat ke dalam Islam, dan berupaya menyajikan Islam sebagai kekuatan revolusioner dengan mengorbankan dimensi kerohanian Islam. Perbuatan Syariati mendapat dukungan Ayatollah Ruhollah Khomeini (dari kalangan ulama) yang menentang rezim Dinasti Reza Pahlevi dan menjadi awal dari revolusi Iran. 7  Hal inilah yang ditentang Nasr terhadap Syariati 5   Siti Binti AZ, “Spiritualitas Dan Seni Islam Menurut Sayyed Hossein Nasr (Spirituality and Islamic Art according to Sayyed Hossein Nasr ),” Harmonia: Journal of Arts Research and Education  6, no. 3 (2005), doi:10.15294/harmonia.v6i3.809. 6  Ibid. 7   Ghazali, “Manusia Menurut Seyyed Hossein Nasr ,” 17.    3 yang menghilangkan aspek aspek spiritual dalam Islam dan menggunakan lembaga tersebut untuk kepentingan politik individu. Pada saat terjadi revolusi Iran tahun 1979, situasi politik memaksa Nasr untuk kembali ke Amerika. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mempengaruhi kredibilitasnya dalam  bidang keilmuan. sekembalinya ke Amerika, ia ditunjuk sebagai Professor Islamic Studies di Temple University, Philadelphia dan bekerja sampai tahun 1984. Kemudian dari tahun 1984 hingga sekarang, ia ditunjuk menjadi guru besar di The George Washington University dalam  bidang Islamic Studies. Selain itu aktivitas Nasr di Wasington adalah mengelola yayasan Foundation for Traditional Studies  yang didirikannya sejak tahun 1984. 8   Pandangan Keagamaan Seyyed Hossein Nasr (12) Seyyed Husein Nasr adalah sosok muslim yang kritis dalam menanggapi berbagai  permasalahan yang terjadi dewasa ini. Kritik terhadap berbagai permasalahan tersebut tidak anya disampaiakan secara lisan, nmaun ia juga menyapaikan gagasan gagasan tersebut melalui tulisan sehingga banyak buku yang ditulis berkenaan dengan sains, politik, filsafat, seni dan lain-lain. Secara keyakinana ia menganut Syiah Itsna Asyariyah (Syiah 12). Syiah berasal dari bahasa arab yaitu Syiah Ali   yang bermakna “penyokong Ali” yang merupakan khalifah ke-empat dari khulafaur rasyidin. Kelompok ini berawal dari sebagaian klompok yang sebenarnya menghendaki Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti Rosul memimpin umat Islam bukan Abu Bakar. Pendukung Ali menjadi khalifah pengganti rosul akhirnya bergabung dan setelah kematian Ali di tangan Khawarij kelompok ini semakin  berkembang menjadi suatu gerakan politik keagamaan yang terorganisir di Irak bahkan saat ini 13% umat Islam di seluruh dunia menganut ajaran syiah. 9   Dalam “The Heart of Islam ”,  Nasr mengungkapkan bahwa kini syiah terbagi menjadi tiga kelompok yaitu: 1.   Syiah Itsna Asyariyah.  Golongan syiah memiliki pengikut yang paling banyak dibanding dengan golongan golongan yang lain. Mereka meyakini 12 imam yaitu; 8  Ibid., 18. 9  Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam   : Pesan Pesan Universal Islam Unutk Kemanusiaan , trans. Nurasiah Fakih Sutan Harahap (Bandung: Mizan Media Utama, 2003), 78.  4 Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, Husain bin Ali, Ali bin Husain, Muhammad al Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Musa al-Kadzim, Ali ar-Ridha, Muhammad al-Jawad, Ali al-Hadi, Hasan al-Asykari dan Mahdi. Mahdi yang merupakan imam ke-12 diyakini memiliki hidup yang panjang hingga akhir dunia tetapi berada di alam gaib. Kelak ketika ketidakadilan serta penindasan telah merajalela ia kembali untuk memperbaiki kondisi umat dan mempersiapkan kedatangan isa dari surga. 2.   Syiah Ismailliyah . Golongan ini memisahkan diri dari mayoritas syiah karena  perdebatan identitas imam ke-tujuh. Hal tersebut dikarenakan imam syiah ke-enam memiliki putra bernama ismail dan ia menunjukkan sebagai imam ke-tujuh. Namun  pada realitanya ismail meninggal ketika ayahnya Ja’far Ash -Shodiq masih hidup hingga golongan syiah menjadikan putra imam ke 6 yang bernama Musa al khadim sebagai imam ke tujuh. 3.   Syiah Zaidiyah . Cabang ketiga ini memilih zaid putra imam ke-empat sebagai  pemimpin mereka. Imam yang diyakini syiah bukan setingkat nabi, lebih pada seorang mujjaddid (pembaharu) dalam agama. Hal ini berbeda dengan apa yang sebagian orang tuduhkan atas syiah. Bahkan di kalangan mereka sendiri yang menyamakan imam setara dengan nabi dianggap melakukan  bid’ah. Gagasan Pendidikan Islam Hossein Nasr Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa pendidikan Islam bukan hanya pengajaran (ta’lim) , namun lebih dari itu. Pendidikan Islam sudah seharusnya mampu melatih seluruh  potensi pada diri siswa (tarbiyah) . Selanjutnya Nasr  juga menyatakan bahawa “guru” tidak cukup didefinisikan dengan muallim  (penyampai pengetahuan) namun lebih tepat dengan murabbi (pelatih jiwa dan kepribadian). Dengan demikian, pendidikan Islam melatih pikiran,  jiwa dan keseluruhannya. Ia tidak pernah memandang pengehuan (transfer of knowledge)  tanpa dibarengi dengan kematangan moral dan spiritual. 10  Dalam konteks pendidikan saat ini model  pendidikan Nasr dapat ditarik pada pendidikan kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga aspek diajarkan secara seimbang dan tidak didominasi oleh sebagaian saja. Dengan pendidian 10  Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam , 353.
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks