Poems

Penerapan Konsep Epistemologi Pendidikan Islam dalam Pandangan Al Ghazali

Description
Perpaduan berpikir rasional dan empiris menjadi sebuah keniscayaan bagi para ilmuwan. Epistemologi sebagai penentu cara berpikir manusia baik deduktif maupun induktif. Demikian juga dalam dunia Islam yang menjadikan epistemologi sebagai acuan
Categories
Published
of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  1 Penerapan Konsep Epistemologi Pendidikan Islam Dalam Pandangan Al-Ghazali Sulaiman Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan Email: sule_mn@yahoo.com  Abstrak: Perpaduan berpikir rasional dan empiris menjadi sebuah keniscayaan bagi para ilmuwan. Epistemologi sebagai penentu cara berpikir manusia baik deduktif maupun induktif. Demikian juga dalam dunia Islam yang menjadikan epistemologi sebagai acuan berpikir yang tidak hanya memfokuskan diri pada nilai-nilai agama saja melainkan juga profesional dalam hal keilmuan. Al-Ghazali merupakan salah satu potret pemikir Islam yang menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari fiqih, filsafat, tasawuf dan sebagainya sehingga menjapat julukan  Hujjah al-Islam (pemikir besar muslim). Oleh karenanya, tidak heran apabila dalam pemikirannya menempatkan pendidikan Islam sebagai hal utama dan terpenting dalam merubah, membentuk, mengembangkan dan memajukan perubahan pada diri manusia sesuai ajaran Islam dan kebudayaannya.   Kata Kunci: Konsep, Epistemologi, Pendidikan Islam,Al-Ghazali   Pendahuluan   Pendidikan Islam di Indonesia dari sudut pandang epistemologi membahas rancangan, rumusan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan sehingga pelaksanaan pendidikan benar-benar relevan dengan konsep pendidikan Islam dengan tepat dan ilmiah. Pendidikan tidak cukup dilaksanakan berdasarkan pengalaman semata, melainkan disertai kajian tentang sistem pendidikan Islam modern secara mendalam dan menyeluruh. Desain sebuah pendidikan merupakan proses yang sangat bermakna dalam mencerdaskan anak bangsa, pedoman dan mekanisme pendidikan bagi para pelaksana menjadi ujung tombak keberhasilan pelaksanaan pendidikan Islam di Indonesia.   Besarnya peranan pendidikan Islam dalam membentuk kepribadian manusia dari sudut pandang pemikiran al-Ghazali menjadi acuan dalam pembahasan ini. Abdul Hamid al-Ghazali merupakan ulama potensial yang hidup di akhir abad keemasan pada masa khilafah Abbasiyah di Baghdad dan mujaddid abad ke 5 Hijriyah. 1  Beliau seorang filosof muslim sekaligus tokoh konvergensi berbagai aliran yang mengintegrasikan antara teologi, fiqih, tasawwuf, agama dan 1   Abdul Qadīr al - „Aidarus Ba‟alawi, Ta’rif al  -  Ahya’ bi Fadail al-  Ihyā’, Hāmisy Ihyā’ ’Ulūm al  -  Dīn  (Semarang: Thaha Putra, t.t), 39.  2 filsafat antara nilai dan sains. 2  Sebagai tokoh pemikir Islam banyak pemikirannya diilhami oleh tasawwuf termasuk dibidang pendidikan Islam. Sebagai ulama yang ahli dibidang agama konsep pendidikan yang ditawarkan dalam pemikiran al-Ghazali sangat lengkap yang tidak hanya menitikberatkan pada nilai-nilai agama yang bertujuan membentuk manusia seutuhnya sebagai penebar rahmat bagi seluruh alam tetapi juga profesional dalam bidang keilmuannya. Sebagai seorang pemikir besar dan praktisi pendidikan al-Ghazali sangat menguasai peranan pendidikan dalam Islam berdasarkan pengalamannya menjadi seorang pengajar, pendidik bahkan rektor di Universitas Nidzamiyah di Baghdad. Dalam pandangannya, al-Ghazali menempatkan pendidikan sebagai kepentingan manusia yang paling utama. Seseorang tidak akan bisa menghargai pemikiran al-Ghazali khususnya tentang pendidikan, ilmu pengetahuan dan belajar sebelum ia memahami gagasannya. 3   Epistemologi dalam Pendidikan Islam Pemikiran-pemikiran al-Ghazali banyak menjadi rujukan dan mengilhami para ilmuan muslim yang berupaya mereformasi sistem pendidikan Islam modern khususnya dalam hal yangberkaitan dengan epistemologi Islam, namun kajian di bidang tersebut kurang mendapat perhatian penuh bila dibandingkan dengan kajian-kajian dibidang tasawuf, falsafah dan teologi. 4  Sistem pendidikan Islam saat ini meliputi sistem tradisional (Islam) dan sistem pendidikan modern (sekuler). Hal ini dipandang perlu untuk mengintegrasikan kedua sistem pendidikan secara menyeluruh. Pengintegrasian sistem pendidikan tradisional dan modern ini adalah dilakukan secara radikal dan sistematis. Apabila penyesuaian kedua sistem pendidikan ini dapat direalisasikan maka generasi muslim akan lebih aktif dan kreatif dalam dunia modern. Memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan Islam diatas menjadi harapan baru bagi kemajuan dunia pendidikan Islam yang berorientasi bukan hanya pada hal-hal materi saja melainkan terintegrasi pula dengan kehidupan akhirat dan pendidikan akan lebih bermakna. Hegemoni sosial, ekonomi dan kebudayaan Barat mendapat perhatian serius dari para pemikir muslim mengenai pentingnya pendidikan sebagai upaya menyadarkan umat dari kejumudan dan kemunduran umat Islam. Pengetahuan agama Islam butuh reinterpretasi sebagai sebuah upaya mengakomodasikan perkembangan-perkembangan dunia Barat. Kebangkitan kembali umat Islam tidak cukup hanya dengan memahami dan menyediakan sarana pendidikan saja tetapi perlu melakukan perubahan dan pembenahan-pembenahan konsepsi pengetahuan yang sesuai dengan ajaran Islam. Ajaran agama Islam tidak membatasi diri hanya pada pencapaian tujuan-tujuan sosial, ekonomi dan politik saja melainkan juga berperan untuk mencapai 2  Saefaul Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazali: Dimensi Ontologi dan Aksiologi  (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 15. 3  Shafque Ali Khan, Filsafat Pendidikan al-Ghazali: Gagasan Konsep dan Filsafatal-Ghazali  Mengenai Pendidikan, Pengetahuan dan Belajar   (Bandung: Pustaka Setia, 2005), . 4  Hasan Asari,  Nukilan Pemikiran Klasik Gagasan Pendidikan al-Ghazali (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999), 3.  3 tujuan spiritualitas manusia menuju kebahagiaan abadi. Oleh karenanya, penerapan konsep pendidikan Islam menjadi sangat urgen dan prinsipil. Salah satu konsep pendidikan dalam Islam adalah integral ( kully)  bukan parsial (  juz’iy ). Islam menolak spesialisasi sempit yang dapat membutakan para ilmuwan dari khazanah keilmuan dibidang ilmu-ilmu lainnya. 5   Definisi Epistemologi Epistemologi merupakan salah satu tiang penyangga dari filsafat atau disebut juga sub sistem dari filsafat. Epistemologi pendidikan sangat menentukan arah pemikiran manusia dalam memberikan kebijakan terhadap pelaksanaan pendidikan Islam.Secara etimologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu teori ilmu pengetahuan. 6  Epistemologi terdiri dari dua kata yaitu episteme dan logos. Episteme  berarti pengetahuan dan logos  berarti teori, uraian atau ulasan. 7  Epistemologi membicarakan tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan dan metode mendapatkan ilmu pengetahuan ”. 8  Epistemologi disebut juga teori ilmu pengetahuan. Azyumardi Azra mendefinisikan epistemologi sebagai ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode danvaliditas ilmu pengetahuan. 9  Sedangkan D.W. Hamlyn mendefnisikan epistemologi sebagai cabang filsafat mengenai hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaiannya serta dijadikan penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. 10  Dengan demikian, epitemologi adalah teori pengetahuan mengenai cara memperoleh pengetahuan dari objek yang sedang dipikirkan mengenai hakikat pengetahuan dan sarana yang digunakan dalam usaha mendapatkan pengetahuan tersebut. Dari pentingnya kedudukan ilmu pengetahuan al-Ghazali pernah berkata: “Kerusakan rakyat terjadi karena kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa terjadi karena kerusakan ulama. Andai hakim dan ulama tidak rusak, maka kerusakan penguasa dapat diminimalisir disebabkan ketakutan mereka pada hakim dan ula ma”. 11  Dalam filsafat terdapat tiga objek kajian yang saling berkaitan yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dengan kata lain ada sesuatu yang dipikirkan, kemudian berusaha mencari cara untuk mendapatkan pengetahuan selanjutnya timbul pemikiran untuk memberikan manfaat bagi kemaslahatan manusia dan alam semesta. 12  Secara epistemologi, pendidikan Islam perlu 5  Adian Husaini, et. al., Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Timur (Jakarta: Gema Insani, 2014), 33. 6 Ibid., 27. 7 Abdul Aziz, Filsafat Pendidikan Islam: Sebuah Gagasan Membangun Pendidikan Islam (Surabaya: Elkaf, 2006), 71. 8 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 8. 9 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 114.  10 Mujammil Qomar,  Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik   (Jakarta: Erlangga, 2005), 3 11  Adian Husaini, et. al., Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Timur  , 32. 12 Mujammil Qomar,  Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik, ix.    4 dikembangkan baik secara tekstual maupun kontekstual yang meliputi sistem, teori maupun teknologi pembelajarannya sebagai filter pengaruh kemajuan dunia Barat terhadap pendidikan Islam. Secara operasional, pengembangan epistemologi Islam dikembangkan dan diperkenalkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas melalui perumusan konsep wordview  Islam dalam bentuk rumusan-rumusan epistemologis. Lembaga pendidikan Islam saat ini terjadi confusion  yaitu kekacauan dalam ilmu agama yang oleh Syamsuddin Arif disebut sebagai kanker epistemologis yang melumpuhkan kemampuan ( crictical power  ) dan mengakibatkan kegagalan akal ( intelektual failure ) yang dapat menggerogoti keyakinan dan keimanan sehingga mengarahkan pelakunya pada kekufuran. Arti Pendidikan Islam   Zakiyah Darajat menyatakan pendidikan Islam merupakan suatu sikap yang bertujuan untuk membentuk perubahan sikap dan tingkah laku seseorang sesuai petunjuk agama Islam. 13  Sementara Abdul Mujib mendefinisikan pendidikan Islam sebagai proses transinternalisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada siswa melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan dan pengembangan potensinya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. 14   Pendekatan Epistemologi Pendidikan Islam Epostemologi Barat berbeda dengan epistemologi Islam. Epistemologi Barat melahirkan imperialisme ke seluruh dunia dengan meniadakan aspek teologi. Dalam tradisi filsafat Barat seluruhnya didasarkan pada logosentrisme atau „metafisika kehadiran‟ (metaphysics of presence). 15   Sama halnya dengan pembahasan ini penulis menggunakan pendekatan epistemologi Barat sebagai upaya mengenal lebih jelas macam-macam metode epistemologi Barat diantaranya pendekatan skeptis, rasional-empirik, dikotomik, positivis-objektivis dan antimetafisika. Metode Skeptis Istilah  s keptis diperkenalkan dan digunakan pertama kali oleh Rene Descartes sebagai Bapak Filsafat Modern dengan statement  nya “ Corgito Ergo Sum  (saya berpikir, maka saya ada). 16  Aliran skeptis ini beranggapan bahwa didalam dunia ilmiah tidak ada sesuatu yang pasti segalanya perlu diragukan sehingga filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbaharui. Seseorang yang memiliki keragu-raguan terhadap sesuatu berarti ia ada dan dalam keberadaannya itu ia sedang berpikir. Ini corak berpikir Descartes dan epitemologinya. Walaupun 13 Zakiyah Darajat,  Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), 25.  14 Jusuf Mudzakkir& Abdul Mujib,  Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: KencanaPrenada Media, 2006), 27-28  15 Eko Ariwidodo, “Logosentrisme Jacquis Derrida dalam Filsafat Bahasa ”, Karsa, Vol. 21 No. 2 (Desember, 2013), 340. http://dx.doi.org/10.19105/karsa.v21i2.38.  16 Ahmad Syadali & Mudzakir, Filsafat Umum (Jakarta: Pustaka Setia, 2002),102.   5 demikian metode skeptis tidak meninggalkan fungsi rasional yang dapat dijadikan pengesahan bagi pengetahuan ilmiah. Metode Rasional-Empirik Metode berpikir skeptis perlu melibatkan rasional untuk memberikan kriteria pengesahan terhadap suatu ilmu pengetahuan dan mekanisme epistemologi Barat mutlak menggunakan rasio. Ada empat langkah berpikir rasionalistis yaitu:  pertama,  berhati-hati dalam memerima sesuatu hal yang belum pasti atau belum diyakini kebenarannya. Kedua, menganalisi dan mengklasifikasikan persoalan-persoalan melalui pengujian sedetail mungkin. Ketiga , menganalisis saran-saran sederhana dan mudah diungkap.  Empat  , setiap point persoalan disertakan uraian sempurna dan mereview secara umum. Berbeda dengan metode empiris yang lebih mengedepankan hasil tangkapan pancaindera. Ilmu pengetahuan berdasarkan metode empiris ini mengarahkan pada materialisme. Metode Dikotomik Metode dikotomik ini berpendapat bahwa pengetahuan tentang humanitas harus dipisahkan dengan ilmu pengetahuan sosial disebabkan perbedaan metodologi. Salah satu karakteristik epistemologi Barat adalah dikotomi antara nilai dan fakta, realitas objektif, nilai-nilai subjektif, pengamat dan dunia luar serta semua ilmu harus objektf terbebas dari distorsi tradisi, ideologi, agama dan golongan. Metode Positivis-Objektivis Sebagian lain corak karakteristik epistemologi Barat adalah positivisme yang dicetuskan oleh August Comte. Disinilah letak perbedaan epistemologi Barat dan Islam, dimana karakteristik Barat telah memberi warna pemikiran pada dunia serba empiris, material, kausal, kuantitatif, dualistik,reduksionis, proporsional, verifikatif dan bebas nilai dalam arti epistemologi Barat miskin moral dan nilai. Berbeda dengan epistemologi Islam yang lebih mengedepankan moral dan nilai. Sedangkan metode objektivis adalah metode yang lebih mengedepankan kejujuran intelektual dan keterbukaan sehingga lebih banyak memberikan manfaat daripada mafsadat (kerusakan). Objektivis adalah pengetahuan manusia sebagai suatu sistem pernyataan atauteori yang dihadapkan pada diskusi kritis, ujian intersubjektif atau kritik dan timbal balik. Metode ini bersifat kontinuitas dan digunakan para ilmuwan untuk menyatakan suatu fakta apa adanya tanpa paksaan atau tekanan apapun. Ilmu pengetahuan yang mampu bertahan dari kritikan berarti ilmu itu benar, tetapi bilamana ilmu pengetahuan tersebut tidak mampu bertahan dari kritikan maka jelaslah bahwa ilmu pengetahuan itu akan pudar.  Metode Antimetafisika  Dari beberapa metode diatas tampak jelas bahwa kajian mengenai epistemologi lebih mendapat ruang daripada aksiologi dan ontologi bahkan positivisme menolak metafisika yang pada prinsipnya kalangan positivisme
Search
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x