Study Guides, Notes, & Quizzes

Akuntansi Biaya

Description
Akuntansi biaya (cost accounting) termasuk aspek penting dalam dunia akuntansi. Salah satu aktivitas yang paling fundamental dalam akuntansi biaya adalah penentuan biaya (costing)—yang dijadikan sebagai acuandasar dalam menentukan harga jual
Published
of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
   Page 1  of 11   Akuntansi Biaya: Ragam Metode Costing (Keunggulan dan Kelemahannya) oleh Mr. JAK 19 Komentar Ditulis oleh Mr. JAK   Akuntansi biaya (  cost accounting ) termasuk aspek penting dalam dunia akuntansi. Salah satu aktivitas yang paling fundamental dalam akuntansi biaya adalah penentuan biaya (  costing )  —  yang dijadikan sebagai acuandasar dalam menentukan harga jual produk/jasa. Esensi dari penentuan biaya (  costing ), tiada lain, merupakan aktivitas memilih dan menjalankan metode costing yang paling sesuai bagi perusahaan  —  mulai dari pengumpulan data, pengolahan data, hingga penyajian laporan cost bagi pihak management . Fungsi akuntansi biaya yang terkelola dengan baik, dapat memberikan informasi penting bagi manajemen sehubungan dengan: pengaruh dari penentuan harga jual suatu produk, kecenderunga cost, kinerja per departemen dan perusahaan secara keseluruhan, kapasitas  pegawai dan produksi, bahkan berkontribusi besar terhadap penentuan strategi bisnis  perusahaan hingga pada derajat tertentu. Setengah dari alur akuntansi, di dalam perusahaan, ada di wilayah costing. Sehingga, bagi akuntan yang bekerja di dalam perusahaan (terutama manufaktur), kurangnya penguasaan akuntansi biaya adalah masalah serius, lubang kelemahan yang harus segara diatasi jika ingin menjadi akuntan yang handal di luar urusan jurnal-menjurnal dan penyusunan laporan keuangan.  Apakah cost accounting hanya urusan para cost accountant  —   sehingga mereka yang  sudah ada di management/executive level dikecualikan? Justru chief accountant, controller   Page 2  of 11   dan CFO-lah yang paling berkepentingan terhadap pemilihan dan penerapan akuntansi biaya di dalam perusahaan yang mereka kelola. Merekalah yang harus menilai, menentukan, mengawasi, mengevaluasi dan mengubah metode costing yang diterapkan  —   jika dirasa perlu, agar tujuan perusahaan bisa dicapai dengan lebih efektif.  Bagaimana dengan akuntan publik dan para auditor?  Merekapun wajib menguasai akuntansi biaya  —  kecuali bisa menghindar setiap kali diberi tugas memeriksa perusahaan manufaktur. Salah satu proses penting dalam auditing adalah melakukan cross-check terhadap arus uang, arus dokumen dan arus barang. Tanpa penguasaan akuntansi biaya yang mumpuni, mungkin mereka masih bisa memberikan pendapat, tetapi saya yakin judgement yang digunakan untuk mendukung pendapat itu akan sangat lemah. Cakupan dari akuntansi biaya lumayan luas, tetapi intinya selalu berada di wilayah costing. Dan, seperti sudah saya sampaikan di awal tulisan, esensi dari penentuan biaya (costing) adalah: memilih dan menerapkan metode costing yang paling sesuai bagi karakter opersional  perusahaan. “Sesuai” yang saya maksudkan dalam hal ini adalah: bisa menghasilkan data yang paling akurat dan berdayaguna tinggi bagi proses pengambilan keputusan sehubungan dengan cost. Ada beragam metode penentuan biaya (costing method) yang bisa diterapkan untuk mengumpulkan dan mengolah data-data cost: mulai dari job costing, process costing, standard costing, target costing, direct costing, dan lain sebagainya. Sehingga, seseorang yang ingin mumpuni dalam akuntansi biaya kudu mahir dalam menggunakan metode-metode tersebut. Sebagai perkenalan di wilayah akuntansi biaya (cost accounting), saya akan mulai dengan membahas beragam metode costing  —   beserta kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tetapi sebelum itu, ada hal yang penting untuk saya sampaikan, terutama mengenai  pentingnya memilih metode costing yang paling sesuai untuk perusahaan.   Page 3  of 11   Untuk Akuntansi Biaya Yang Lebih Baik, Abaikan Prinsip dan Standard Akuntansi   Rasanya saya tidak perlu lagi membahas mengenai peranan akuntansi di dalam lingkungan  binis, semua akuntan rata-rata sudah tahu akan hal itu. TETAPI, dari pengalaman saya mensupervisi bagian accounting dan keuangan di beberapa perusahaan, saya menemukan:    Rata-rata, para akuntan sangat jarang berpikir tentang : bagaimana caranya memaksimalkan peranan cost accounting untuk menghasilkan informasi cost yang dapat dijadikan sebagai input dalam proses pengambilan keputusan  —  yang pada akhirnya dapat mengarahkan operasional perusahaan menuju pencapian tingkat profitabilitas maksimal.    Rata-rata, para akuntan hanya berkutat diseputaran masalah mengenai : bagimana caranya agar cost yang dihasilkan dari proses akuntansi biaya dapat dimasukan ke dalam Laporan Keuangan. Orientasi para akuntan, entah mengapa, sebagian besar masih saja menitikberatkan fokus pada laporan keuangan . Padahal, laporan keuangan hanya setumpuk kertas yang tidak ada artinya bila tidak dapat memberikan informasi yang bersifat incremental bagi  pengelolaan suatu binis (entitas). Saya memperkirakan, hal itu disebabkan oleh kuatnya pengaruh doktrin bawaan sejak di  bangku kuliah  —  yang sedikit-sedikit prinsip akuntansi berterima umum (GAAP), sedikit-sedikit standar akuntansi, seakan-akan dunia ini akan bubar jika prinsip akuntansi dilanggar, dimanapun dan dalam konteks apapun. “ Saya menghabiskan 5 tahun untuk meraih gelar sarjana akuntansi, ditambah 1 tahun pendalaman profesi dan belajar kode-etik, belum lagi ditambah bertahun-tahun menghabiskan waktu di KAP. Tanpa standard dan kode-etik, mana bisa menjadi akuntan profesional? Sorry, saya ingin jadi akuntan profesional, bukan pegawai accounting abal-abal yang cuma lulusan SMEA, seperti anda .”     Page 4  of 11   Oh.. hi, hello Mr. Professional Accountant kalau demikian halnya, saya ucapkan goodluck. Dalam pemahaman saya (mohon dikoreksi jika keliru), PRINSIP dan STANDAR AKUNTANSI adalah petunjuk mengenai cara mengukur, mengakui dan menyajikan laporan keuangan perusahaan, agar fair bagi semua pihak yang berkepentingan  —  terutama bagi investor/shareholders (mohon ditambahkan jika ada yang kurang). SEMENTARA, disamping sebagai bahasa bisnis, akuntansi adalah alat (tool) untuk menghasilkan informasi yang bisa digunakan sebagai input dalam pengambilan keputusan  bisnis, TERMASUK keputusan-keputusan binis yang diambil oleh management internal  perusahaan. Dan, input yang lebih banyak dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan  bisnis oleh management perusahaan, adalah informasi-informasi terkait dengan cost atas  produk/jasa yang dihasilkan. Okelah, sebagian akuntan (terutama akuntan publik) sudah pasti orientasinya adalah stakeholders di luar management  —  terutama shareholdera . Pemeriksaan kepatuhan  pelaporan keuangan (au diting), sebagian besar dimaksudkan untuk menilai seberapa “fair” laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan bagi para pemegang saham. Dengan ‘mantra’ yang mungkin lebih familiar: “apakah proses pengukuran, pengakuan dan penyajian informasi keuangan s udah sesuai standard?”   Sampai pada ‘pialang   saham’  dan ‘analyst  pasar modal ’  mungkin masih peduli terhadap angka-angka lapora keuangan  —  untuk diolah menjadi rasio-rasio keuangan yang  bisa digunakan untuk menjaring para pemain bursa saham  —  dan para pengambil keuntungan  jangka-pendek lainnya. Middle-men macam business valuators yang dilibatkan dalam due diligent proses akuisi dan merger, mungkin juga masih peduli. TETAPI, shareholders (investor yang sesungguhnya) tidak terlalu ambil pusing hal-hal lain, selain dividend . Bagi shareholders, laba-rugi dan retained earning tak lebih dari ASUMSI, PENDAPAT dan INTERPRETASI, yang samasekali USELESS, jika tidak bisa diconvert menjadi kas masuk ke pundi-pundi mereka (dalam bentuk pembagian dividend). Sedangkan audit assignment dibutuhkan hanya untuk 3 alasan: (a) formalitas permintaan Bappepam; (b) shareholders tidak percaya denga assersi management (penyajian laporan keuangan); dan (c) permintaan perusahaan untuk membangun citra kredibilitas  —  yang tentu   Page 5  of 11   saja hanya untuk keperluan public-relation semata. Tidak ada yang bersifat nyata dan incremental. Boleh jadi profitabilitas  capital market  meningkat  —  dari hasil pembangunan citra dan  public-relation effort   lainnya, tetapi itu hanya akan menjadi angka-angka VIRTUAL  belaka JIKA perusahaan TIDAK menghasilkan keuntungan yang nyata dari  product market -nya  —  sehingga yang terjadi dalam aggregate ekonomi (makro) hanya perpindahan angka-angka lembar saham yang samasekali tidak berkontribusi nyata bagi penciptaan nilai tambah ( value added  ) dalam suatu negara, pada wilayah yang lebih luas. Sehingga, bagi saya (seorang pegawai accounting abal-abal tamatan SMEA)  —  yang  pemahaman akuntansinya tentu masih dangkal, usaha-usaha mengoptimalkan fungsi akuntansi untuk meningkatkan efektifitas dan produktifitas opersional binis, TAK KALAH PENTINGNYA jika dibandingkan dengan usaha-usaha untuk taat dan tunduk tehadap  prinsip/standar akuntansi yang ada. Lebih bagus lagi, jika keduanya bisa bersinergi. Target utama saya, dalam costing , adalah menyediakan informasi cost yang bisa menjadi input bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan oleh manajemen perusahaan. Dan untuk mencapai target itu, seringkali saya harus melakukan tweak dan kustomisasi, membuat hybrid-system yang paling sesuai bagi karakter operasional perusahaan. Misalnya : Untuk decision-making yang lebih akurat sehubungan dengan harga dari tambahan unit  produk terjual (biasanya harga yang paling mendekati direct cost), saya harus menggunakan incremental cost yang timbul pada setiap tambahan unit produk yang dihasilkan. Nah, jika harus mematuhi standard akuntansi, menggunakan metode penentuan biaya yang hanya mengalokasikan porsi overhead cost ke dalam product cost akan membuat saya kesulitan  —  meskipun untuk yang tergolong bukan incremental cost. Dalam konteks yang lebih sempit , demi untuk meningkatkan dayaguna informasi cost yang dihasilkan dari proses akuntansi biaya, dalam banyak hal saya memilih untuk DENGAN SENGAJA mengabaikan prinsip/standar akuntansi yang ada. Khusus di wilayah costing, jika terpaksa, saya memilih untuk menomorduakan GAAP, tidak kenal PSAK, aturan Bappepam, dan regulasi sejenisnya. Begitulah cara pandang saya mengenai pentingnya proses pemilihan dan penerapan metode costing secara khusus  —  dan cost accounting dalam cakupan lebih luas, yang lebih banyak  berfokus pada pertimbangan: bagimana caranya mendayagunakan cost accounting untuk bisa memberi manfaat maksimal bagi pengelolaan bisnis, ketimbang sekedar bisa memasukan unsur cost ke dalam laporan keuangan.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks