Arts & Architecture

RETINOPATI HIPERTENSI

Description
RETINOPATI HIPERTENSI
Published
of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  BAB I PENDAHULUAN Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg secara kronis. Penyakit ini bila tidak dikontrol dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap sistem organ tubuh seperti pada sistem serebrovaskular, kardiovaskular, mata, ginjal dan arteri perifer. Pada organ mata dapat terjadi retinopati hipertensi, dimana terjadi perubahan karakteristik vaskularisasi retina Kelainan ini pertamakali dikemukakan oleh Marcus Gunn pada kurun ke-19 pada sekelompok penderita hipertensi dan penyakit ginjal. Tanda-tanda pada retina yang diobservasi adalah penyempitan arteriolar secara general dan fokal,  perlengketan arteriovenosa, perdarahan retina, iskemi retina yang ditandai dengan cotton-wool spots , dan edema papilla. Dengan pemeriksaan mata sedini mungkin, seorang dokter dapat mengetahui tanda-tanda retinopati sebelum berlanjut. Sayangnya banyak penderita Hipertensi dan DM yang tidak mengetahui komplikasi penyakit tersebut pada mata. Untuk itu seorang dokter umum harus mengedukasikan kepada penderita Hipertensi dan DM tanda-tanda retinopati, dan menganjurkan pasien untuk periksa retina matanya sebelum retinopati terjadi.  BAB II TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI DAN FISIOLOGI Retina secara kasar terdiri dari 2 lapisan, yaitu lapisan fotoreseptor (pars optica retinae) dan lapisan non fotoreseptor atau lapisan epitel pigmen (retinal pigment epithelium/ RPE). lapisan RPE merupakan lapisan sel berbentuk heksagonal,  berhubungan langsung dengan epitel pigmen pada pars plana dan ora serrata. Laisan fotoreseptor merupakan satu lapis sel transparan dengan ketebalan antara 0,4 mm  berhampiran nervus optikus sehingga berhampiran 0,15mm dengan ora serrata. Di tengah-tengah makula terdapat fovea yang berada 3mm di bagian temporal dari margin temporal nervus optikus. Sel kerucut bertanggung jawab untuk penglihatan siang hari. Subgrup dari sel kerucut responsif terhadap panjang gelombang pendek, menengah, dan panjang (biru, hijau, merah) sel  –   sel ini terkonsentrasi di fovea yang bertanggung jawab untuk penglihatan detil seperti membaca huruf kecil. Sel batang berfungsi untuk penglihatan malam. Sel  –   sel ini sensitif terhadap cahaya dan tidak memberikan sinyal informasi panjang gelombang (warna). Sel batang menyusun sebagian besar fotoreseptor di retina bagian lainnya Lapisan dalam retina mendapat suplai darah dari arteri retina sentralis. Ia merupakan suatu arteri terminalis tanpa anastomose yang membagi menjadi 4 cabang utama. Sementara lapisan luar retina tidak mempunyai vaskularisasi. Bagian ini mendapatkan nutrisinya melalui proses difusi dari lapisan koroid. Arteri retina biasanya  berwarna merah cerah, tanpa disertai pulsasi manakala veena retina berwarna gelap dengan pulsasi spontan pada diskus optikus. Secara histologis retina terdiri dari 10 lapisan, yaitu : 1.   Membrana limitans interna 2.   lapisan serat saraf (yang mengandung akson-akson sel ganglion yang menuju nervus optikus) 3.   Lapisan sel ganglion (nuklei ganglion sel dari 3 rd  neuron) 4.   Lapisan pleksiform dalam (yang mengandung sinapsis antara akson 2 nd  neuron dengan dendrit dari 3 rd  neuron) 5.   Lapisan nuklear dalam  6.   Lapisan pleksiform luar (sinapsis antara akson 1 st  neuron dengan dendrit 2 nd  neuron) 7.   Lapisan inti luar (1 st  neuron) 8.   Membrana limitans eksterna 9.   Lapisan fotoreseptor (sel batang dan kerucut) 10.   Retinal pigment epithelium Retinopati Hipertensi Definisi Retinopati hipertensi merupakan kumpulan kelainan vaskurisasi retina yang secara patologis berhubungan dengan kerusakan mikrovaskular akibat peningkatan tekanan darah. Klasifikasi Klasifikasi Retinopati Hipertensi di bagian I.PMata, RSCM Tipe 1 Fundus hipertensi dengan atau tanpa retinopati, tidak ada sklerose, dan terdapat pada orang muda Funduskopi: arteri menyempit dan pucat, arteri meregang dan percabangan tajam, perdarahan ada atau tidak ada, eksudat ada atau tidak ada. Tipe 2 Fundus hipertensi dengan atau tanpa retinopati sklerose senile, terdapat  pada orang tua. Funduskopi: pembuluh darah tampak mengalami penyempitan pelebaran dan sheating setempat. Perdarahan retina ada atau tidak ada. Tidak ada edema papil. Tipe 3 Fundus dengan retinopati hipertensi dengan arteriosklerosis, terdapat pada orang muda. Funduskopi: penyempitan arteri, kelokan bertambah fenomena crossing  perdarahan multiple , cotton patches, dan macula star figure .  Tipe 4 Hipertensi yang progresif. Funduskopi: edema papil, cotton wool patches, hard exudate, dan  star  figure exudatate  yang nyata. Fenomena crossing: -   Elevasi: pengangkatan vena oleh arteri yang berada di bawahnya -   Deviasi: penggeseran posisi vena oleh arteri yang bersilangan dengan vena tersebut dengan sudut persilangan yang lebih kecil. -   Kompresi: penekanan yang kuat oleh arteri yang menyebabkan bendungan vena. Klasifikasi Retinopati Hipertensi Menurut Scheie Stadium 1 Terdapat penciutan setempat pada pembuluh darah kecil Stadium 2 Penciutan pembuluh darah arteri menyeluruh, dengan kadang-kadang  penciutan setempat sampai seperti benang, pembuluh darah arteri tegang, membentuk cabang keras. Stadium 3 Lanjutan stadium 2, dengan eksudat Cotton , dengan perdarahan yang terjadi akibat diastole  di atas 120 mmHg, kadang-kadang terdapat keluhan berkurangnya penglihatan Stadium 4 Seperti stadium 3 dengan edema papil dengan eksudat  star figure , disertai keluhan penglihatan menurun dengan tekanan diastole kira-kira 150mmHg. Klasifikasi Keith Wagener Barker Klasifikasi ini dibuat berdasarkan meninggalnya penderita dalam waktu 8 tahun; Derajat 1 Penciutan ringan pembuluh darah. Dalam periode 8 tahun: 4% meninggal. Derajat 2 Penambahan penciutan, ukuran pembuluh nadi dalam diameter yang   berbeda-beda dan terdapat fenomena crossing.  Dalam periode 8 tahun: 20% meninggal. Derajat 3 Tanda  –   tanda derajat 2 ditambah perdarahan retina dan cotton wool  patches. Dalam periode 8 tahun: 80% meninggal. Derajat 4 Tanda  –   tanda derajat 3 dengan edema papil yang jelas. Dalam periode 8 tahun: 98% meninggal. Patogenesis Hipertensi kronis dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah sistemik, yang dikontribusi oleh proses inflamasi pada endotel terus menerus, resistensi insulin,  peningkatan katekolamin, dan peningkatan RAA sistem. Pada hipertensi, otot polos  pembuluh darah akan mengalami hipertrofi dan tunika intima akan mengalami fibrosis. Hal tersebut akan mengakibatkan gangguan perfusi organ target sehingga menimbulkan gejala, seperti pada organ ginjal, otak, jantung, ekstremitas dan mata. 2.3.2.4 Patofisiologi Kerusakan pembuluh darah retina akibat hipertensi dapat menyebabkan eksudasi, perdarahan, spasme, sklerosis, fenomena crossing   dan percabangan  pembuluh darah yang tajam. Spasme pembuluh darah menyebabkan: -   Pembuluh darah menjadi lebih pucat -   Kaliber pembuluh darah menjadi lebih kecil atau ireguler akibat spasme lokal -   Percabangan arteriol yang tajam. Bila kelainan beruba sklerosis dapat tampak sebagai: -   Refleks copper wire -   Refleks  silver wire  -   Sheating -   Lumen pembuluh darah ireguler -   Terdapat fenomena crossing  . Eksudasi retina akan membentuk: -   Cotton wool patches  yang merupakan tanda iskemik sesudah sumbatan arteriol.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks