Memoirs

ANALISIS SEMIOTIK PADA FOTO JURNALISTIK JURNAL KARYA ILMIAH ANALISIS SEMIOTIK PADA FOTO JURNALISTIK

Description
ANALISIS SEMIOTIK PADA FOTO JURNALISTIK JURNAL KARYA ILMIAH ANALISIS SEMIOTIK PADA FOTO JURNALISTIK
Categories
Published
of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
    ANALISIS SEMIOTIK PADA FOTO JURNALISTIK (Studi Deskriptif Pada Majalah Tempo Edisi Khusus Pengakuan Algojo 1965 Tahun 2012 dan Geger dan Lekra 1965 Tahun 2013) JURNAL KARYA ILMIAH Diajukan Sebagai Salah Satu Sarat Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Persada Indonesia Y.A.I Oleh: THORIQURRIZQI 0964190183 JURUSAN BROADCAST FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA Y.A.I JAKARTA 2013    ANALISIS SEMIOTIK PADA FOTO JURNALISTIK (Studi Deskriptif Pada Majalah Tempo Edisi Khusus Pengakuan Algojo 1965 Tahun 2012 dan Geger dan Lekra 1965 Tahun 2013) Thoriqurrizqi Abstrak Majalah Tempo merupakan salah satu surat kabar yang menyajikan foto jurnalistik sebagai pelengkap daripada naskah beritanya dan merupakan salah satu majalah yang menjadikan PKI sebagai edisi khusus pada terbitannya di bulan September 2012 & 2013. Hanya sedikit media massa yang memberitakan tragedi PKI karena hal tersebut sangat sensitif. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teori agenda setting   sebagai teori utama dengan pendekatan semiotika. Penulis juga menggunakan teori komunikasi massa, media massa, dan foto jurnalistik sebagai teori pendukung untuk memahami bagaimana foto  jurnalistik terbentuk dan memahami makna dari foto jurnalistik yang ada di dalam majalah Tempo. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penilitian kualitatif dengan studi deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan berdasarkan data, wawancara, dan observasi. Peneliti menggunakan teknik triangulasi metode untuk keabsahan data, pada penelitian ini  peneliti melakukan wawancara dengan redaktur foto Tempo sebagai key  informan dan fotogrefer Tempo sebagai informan. Majalah Tempo menggunakan foto profil dan foto  peristiwa di dalam edisi khusus ini dengan harapan pembaca dapat menerima informasi sesungguhnya dari para tokoh dan peristiwa yang terjadi. Majalah Tempo berusaha untuk  bersikap netral dalam pemberitaan dua edisi khusus ini dengan harapan para pembaca bisa mendapatkan informasi berimbang. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa momentum peringatan G 30 S PKI dimanfaatkan Tempo untuk bisa menarik minat masyarakat, serta menjaga eksistensi media cetak ditengah perkembangan dan persaingan dengan media digital. Kata Kunci : Semiotik, Foto Jurnalistik, Majalah. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Media komunikasi sangat  berkontribusi kepada masyarakat yang saat ini sedang berubah secara cepat. Berbicara komunikasi, kebutuhan akan informasi semakin banyak seiring  berkembangnya persaingan media massa, tidak dipungkiri lagi banyak  perusahan penerbitan pers merambah dunia bisnis. Kemajuan teknologi telah menciptakan media-media baru    khususnya dalam hal pemberitaan. Penyampaian suatu berita kini dapat ditemui disegala macam bentuk media massa seperti surat kabar, tabloid, majalah, televisi, radio dan internet. Media elektronik saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, akan tetapi kehadiran media cetak khususnya majalah masih terus bertahan. Hal ini dikarenakan kehadiran media tersebut saling menunjang dan melengkapi antara satu dengan yang lain. Majalah berisi berbagai macam informasi yang menarik perhatian khalayak dan informasi dinamis setiap minggunya yang dikemas dalam bentuk  berita maupun  feature. Majalah memiliki  peranan penting dalam memenuhi kebutuhan khalayak akan informasi. Majalah dituntut memiliki mutu dalam penyajian berita yang dikemas secara informatif, beragam dan semenarik mungkin agar minat khalayak akan media cetak tidak kalah dengan media elektronik yang kini semakin mendominasi. Majalah mempunyai sifat yang mudah dibawa sehingga khalayak dapat membaca berita dimana saja dan kapan saja. Mengenai isi, majalah dituntut menyajikan informasi semenarik mungkin yang tidak dimiliki media massa lainnya. Selain itu pembaca majalah dapat lebih cepat mencerna suatu berita yang sifatnya visual atau  berupa gambar dan foto. Salah satu kelebihan suatu gambar atau foto pada majalah ialah mudah dimengerti dan mudah diingat serta mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh tulisan yaitu dapat meyakinkan pembacanya dan memberikan gambaran yang nyata dari suatu peristiwa. Foto memiliki makna tersendiri yang mengandung  permasalahan yang tengah terjadi dan  berkembang dalam masyarakat. Foto dapat mengandung hal-hal yang menyangkut isu politik, sosial, ekonomi,  budaya dan lain sebagainya. Selain menggambarkan berita secara tersirat, foto di media massa juga menggambarkan makna tersirat dalam simbol-simbol yang ada di dalamnya. Pesan-pesan yang tersirat ini kerap kali  berkaitan dengan „keberpihakan‟ media dalam menyajikan suatu realitas atau isu sosial yang terjadi. Majalah Tempo merupakan salah satu surat kabar yang menyajikan foto  berita pelengkap daripada naskah  beritanya dan merupakan salah satu    majalah yang menjadikan PKI sebagai edisi khusus pada terbitannya dibulan September. Penulis memilih majalah Tempo karena majalah ini adalah majalah mingguan pertama di Indonesia. Penulis beranggapan hanya sedikit media massa yang memberitakan tragedi PKI karena hal tersebut sangat sensitif, salah satunya adalah majalah Tempo yang memberitakan dan memuat foto-foto PKI ditahun 1965 yang notabennya  berisi tentang kekerasan, padahal seluruh media sedang gencar memberitakan kasus korupsi. Selain kekerasan pada “pengakuan algojo 1965” di edisi 2012 yang berisi tentang pembantaian anggota PKI penulis ingin mengaitkannya pada “Geger dan Lekra 1965” di edisi 2013 yang berisi tentang kesenian dan kebudayaan . Lewat penelitian ini, penulis  berharap untuk bisa lebih memahami makna komunikasi dibalik sebuah foto  jurnalistik yang disajikan oleh Tempo. Peneliti juga ingin mengkaji lebih jauh tentang pemahaman khalayak terhadap foto jurnalistik yang sering menghiasi  berbagai macam media, khususnya majalah. Foto jurnalistik berfungsi sebagai  perpaduan antara teks berita yang disertai foto. Foto jurnalistik juga dapat menarik perhatian lebih dari pembaca ketika melihat isi foto tersebut sehingga menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih dari pembaca. Dalam hal foto jurnalistik pada majalah, sebuah makna mengartikan sebuah komunikasi efektif antara wartawan dengan pembaca karena foto dinilai mampu berbicara mewakili seribu  bahasa. Foto sendiri memiliki makna yang sifatnya langsung (denotasi) dan tidak langsung (konotasi). Makna denotasi adalah pesan yang disampaikan oleh foto secara keseluruhan (gambar yang ada di foto) secara visualisasi, sedangkan makna konotasi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh unsur-unsur yang terdapat dalam foto tersebut sejauh  pemahaman kita membedakan unsur-unsur tersebut. Singkatnya makna denotif bersifat objektif sedangkan makna konotif bersifat subjektif. Foto jurnalistik merupakan satu  penyampaian informasi yang memiliki makna, sehingga diperlukan metode khusus untuk memahami dan mengartikan foto jurnalistik tersebut. Metode tersebut harus mampu menganalisis tanda-tanda visual yang terdapat pada foto jurnalistik.    Dengan adanya foto dan tulisan yang ditampilkan Majalah Tempo di edisi Pengakuan Algojo 1965 (2012) dan Geger dan Lekra 1965 (2013) maka  penulis ingin meneliti foto dan tulisan yang disajikan oleh Tempo. Selain itu  penulis ingin mengetahui maksud dan tujuan Tempo yang mengemas liputan tentang PKI. Mulai dari pemilihan judul,  pemilihan foto, sampai dengan artikel yang ditampilkan. Pertanyaannya adalah, kenapa Tempo meliput tentang PKI, apa maksud dan tujuan akhir yang ingin dituju dan apakah ada alasan lain dibalik  penerbitan edisi khusus ini. Penelitian menggunakan  pendekatan semiotik model Roland Barthes karena dianggap sesuai dalam  pengungkapan makna foto, dan dalam hal ini model Roland Barthes digunakan untuk menggali makna dibalik tanda-tanda yang terdapat pada foto-foto  jurnalistik yang terdapat pada majalah Tempo Edisi khusus Pengakuan Algojo 1965 terbitan tahun 2012 dan Geger dan Lekra 1965 terbitan tahun 2013. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam  penelitian ini adalah Bagaimana makna foto jurnalistik pada pemberitaan PKI di Edisi Pengakuan Algojo 1965 1-7 Oktober 2012 dan Geger dan Lekra 1965 30-6 September 2013? Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yakni, Untuk mengetahui makna foto jurnalistik  pada pemberitaan PKI Edisi Pengakuan Algojo 1965 1-7 Oktober 2012 dan Geger dan Lekra 1965 30-6 September 2013.  METODOLOGI Istilah komunikasi atau dalam  bahasa Inggris communication  berasal dari kata Latin communicatio , dan  bersumber dari kata communis  yang  berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. (Effendy, 2004:9). Definisi komunikasi massa yang  pernah dikemukakan oleh De Vito yakni  pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa  banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi massa akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut  bentuknya seperti televisi, radio, surat
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x