1
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH (1849-1905 M) A.
 
Historisitas Pemikiran Pendidikan Islam Modern
Perkembangan modern dalam Islam timbul sebagai akibat dari perubahan- perubahan besar dalam segala bidang kehidupan manusia yang dibawa oleh kemajuan  pesat yang terjadi dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern. Akan tetapi, masalah-masalah yang ditimbulkannya dalam bidang keagamaan, termasuk Islam, adalah lebih pelik dari yang terdapat dalam bidang-bidang kehidupan yang lain.
1
 Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memasuki dunia Islam, terutama pada awal abad ke-19, dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan  periode modern.
2
 Kontak dengan dunia Barat selanjutnya membawa ide-ide baru ke
1
 
Salah satu dari sebab-sebabnyadalah karena dalam agama terdapat ajaran-ajaran absolut, mutlak  benar, kekal, tidak berubah, dan tidak bisa diubah, namun ajaran-ajaran yang merupakan hasil ijtihad  para ulama pun seringkali diperlakukan sama. Ajaran-ajaran ini diyakini sebagai dogma dan sebagai akibatnya timbullah sikap dogmatis dalam agama, yang membuat orang tertutup dan tidak bisa menerima pendapat yang bertentangan dengan dogma-dogma yang dianutnya. Sikap dogmatis, disamping itu, membuat orang berpegang teguh pada pendapat-pendapat lama dan tidak bisa menerima  perubahan. Dogmatisme cenderung membuat orang bersikap tradisional, emosional dan tidak rasional. Lihat Nasution, Harun. 1985.
“Kata Pengantar”,
 Perkembangan Modern Dalam Islam,
 penyunting Harun Nasution dan Azyumardi Arza. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. hlm. 1-16. Betty R Scharf mengatakan bahwa industrialisasi (revolusi industri atau modernisme) memberikan dampak terhadap  beberapa aspek kepercayaan dan peribadatan dalam agama lama, disamping menyebabkan timbulnya sektarianisme, baik itu di Eropa, Amaerika maupun di Asia (Jepang). Di Inggris, berdasarkan sensus agama yang dilakukan tahun 1851, terjadinya penurunan yang sangat signifikan pengamalan agama (kebaktian gereja hari Minggu) hingga hanya tinggal sepertiganya saja di kalangan masyarakat pekerja di beberapa kota industri seperti Manchester, Sheifield, Birmingham. Meskipun diakui bahwa hal itu  bukan satu-satunya faktor, tapi juga memberikan dampak bagi kota London yang notabene kota industri jasa dan distribusi serta pemerintahan saja. Lihat Scharf, Betty. R. 1995.
 Kajian Sosiologi  Agama.
Terj. Machnun Husein. Tiara Wacana. Yogyakarta. 213-222,
2
 
Iqbal, Abu Muhammad. 2015.
 Pemikiran Pendidikan Islam; Gagasan-Gagasan Besar Para  Ilmuwan Muslim
. Pustaka Pelajar.Yogyakarta. hlm. 128. Zaman modern atau yang menurut Marshall
G.S. Hodgson lebih tepat dinamakan “zaman teknik” (
technical age),
muncul karerna adanya peran
 
2
dunia Islam seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi dan sebagainya,
3
 yang merupakan produk akal manusia dan aktivitasnya yang kreatif, yang dengan itu tampil transformasi sosial kultural yang akibatnya juga terasa dalam kehidupan  beragama.
4
 Dalam kondisi seperti inilah, di akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 dengan dorongan moral dan spiritual, muncul gerakan intelektual yang sangat kuat di  belahan dunia Islam, yang pada umumnya dikenal dengan istilah modernisme Islam
5
 
sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme. Wujud keterkaitan antara segi taknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat manusia memasuki zaman sekarang ini yaitu revolusi industry (di Inggris) dan revolusi Perancis (social-poliitik). Lihat Madjid, Nurcholis,
1992. “Makna Modernitas dan Tantangannya terhadap Iman; Hakikat Modernitas.
 Islam Doktrin dan Peradaban..
Paramadina, Jakarta.h. 452-453.
 
3
 
 Nasution, Harun. 1975.
 Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan.
Bulan Bintang. Jakarta. h. 11. Di sisi lain, Maryam Jameelah dengan sangat keras mengatakan bahwa semua ideologi kaum modersnis termasuk yang tersebut di atas, bercirikan penyembahan manusia dengan kedok ilmu pengetahuan. Karena kemajuan ilmu pengetahuan dianggap bisa memberikan kekuatan kepada manusia semua kekuatan Tuhan. Salah satu bentuk pengagungannya adalah nasionalisme, ditandai dengan peyembahan kolektif dari seseorang yang memiliki kelompok tertentu dengan merasa  benci terhadap orang asing dan kaum minoritas. Contohnya tindakan kaum Na
z
i terhadap bangsa Yahudi di Jerman, Israel terhadap bangsa Arab di Palestina dan lain-lain. Jameelah, Maryam. 1982.
 Islam dan Modernisme.
Terj. A. Jainuri dan Syafiq Mughni. Usaha Nasional. Surabaya. h. 39-41.
 
4
 Ali, Mukti. 1991.
 Metode Memahami Agama Islam.
Bulan Bintang. Jakarta. h. 158.
5
 
Fazrul Rahman menyebut gerakan intelektual di dunia Islam pada abad ke 19 sebagai modernisme klasik. Adapun yang menjadi peletak dasar dari gerakan modernisme Islam adalah gerakan Revivalisme (kebangkitan kembali) di awal abad ke 18 dan ke 19. Modernisme Islam dipengaruhi sekaligus ditantang oleh revivalisme pasca-modernis. Rahman membagi dialektika perkembangan  pembaharuan Islam ke dalam empat gerakan yaitu (1) revivalisme pramodernis yang muncul pada abad 18 dan 19 di Arabia, India dan Afrika antara tokohnya adalah Muhammad bin Abd Wahab. Yang menjadi cirinya adalah
 pertama,
keprihatinan yang mendalam terhadap degenerasi sosio-moral umat Islam dan usaha untuk mengubahnya;
kedua,
imbauan untuk kembali kepada Islam sejati dan mengenyahkan takhyul-takhyul yang ditanamkan oleh bentuk-bentuk sufisme populer (tarekat), meninggalkan gagasa tentang kemapanan dan finalitas madzhab- madzhab hukum serta berusaha untuk melakukan
ijtihad; ketiga,
imbauan untuk mengenyahkan corak predeterministik; dan
keempat,
imbauan untuk melakukan pembaharuan ini melalui kekuatan senjata (
 jihad 
) jika diperlukan. (2) Modernisme klasik di antara tokohnya adalah Muhammad Abduh dan Syeikh Ahmad Khan; (3) Revivalisme pasca-modernis atau neo-revivalisme yang tidak menerima metode atau semangat modernime klasik yang bersikap sangat terbuka dan begitu saja menerima gagasan-gagasan Barat,  bahkan bersikap
westernzied
(kebarat-baratan). Meskipun kelompok ini menerima modernisme dalam masalah-masalah substansif yaitu bahwa Islam berkaitan dengan seluruh kehidupan, tetapi itu adalah
 pis aller
(keterpaksaan) karena mata dadu telah dilemparkan. Ada tiga tema yang paling digemari kelompok gerakan ini yaitu bunga bank atau riba tidak syah meneurut hukum Islam, tidak menutup aurat wanita dan keluarga berencana adalah dosa besar, dan yang ketiga, intelektualisme Barat
 
3
yang bercirikan perluasan
“isi”
ijtihad 
 seperti hubungan antara akal dan wahyu,  pembaruan sosial, khsususnya dalam bidang pendidikan dan status wanita, serta  pembaruan politik dan bentuk-bentuk pemerintahan yang representatif dan konstitusional.
6
 Memasuki dan ikut serta dalam dunia modern ini bukanlah sebuah pilihan, tapi keharusan sejarah (
historical ought)
,
7
 karena sesungguhnya kemajuan intelektualisme dan humanisme Barat modern sebagai perkembangan yang sebenarnya berasal dari puncak peradaban Islam sendiri, dan menjadi pesan Islam sejati.
8
 Muhammad Iqbal (1876-1938) dalam Fa
z
rul Rahman mengatakan bahwa
merupakan hal yang berbahaya; (4) Neo modernisme dengan tokohnya Fazrul Rahman yang menawarkan metode penafsiran al-
Qur‟an dengan pendekatan historis yang dianggapnya sebagai
metode yang dapat berlaku adil terhadap tuntutan intelektual dan integritas moral. Metode ini
menekankan pentingnya pembedaan antara tujuan atau “ideal moral” al
-
Qur‟an dengan ketentuan legal spesifiknya, contoh poligami, “ideal moral” yang dituju monogami, tetapi penerimaa
n al-
Qur‟an
terhadap pranata poligami secara legal dikarenakan kemustahilan untuk menghapusnya dalam seketika. Lihat Rahman, Faz
rul, “Tipologi Perkembangan Modern Dalam Islam” dalam
 Perkembangan Modern  Dalam....
hlm. 20-33. Lihat juga Rahman, Fazrul. 1990.
 Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam
. Penterjemah dan penyunting Taufik Adnan Amal. Cetakan II. Mizan. Bandung. h. 18-21. Lihat juga Rahman, Fazrul. 2010.
 Islam.
 Terj. Ahsin Mohammad. Cet. VI. Pustaka.Bandung. hlm. 282-344, Pada dasarnya pergerakan yang terjadi di dunia Islam saat itu bisa dibagi dalam dua model yaitu gerakan  politik dan gerakan pemikiran Islam. Lihat Al-Bahiy, Muhammad. 1986.
 Pemikiran Islam Modern.
Pustaka Panjimas. Jakarta. h. 61-63.
6
 
Rahman, Fazrul. 1990.
 Metode dan Alternatif Neomodernisme ....
h. 18.
 
7
 
Di era modern, manusia tidak lagi dihadapkan pada persoalan kulturalnya sendiri secara terpisah dan berkembang secara otonomi dari yang lain, tapi terdorong menuju kepada masyarakat jagad (
 global 
) yang terdiri dari berbagai bangsa yang erat berhubungan satu sama lain. Karena dimensi  pengaruhnya yang global dan cepat itu, maka modernitas sekali dimulai oleh suatu kelompok manusia (dalam hal ini bangsa-bangsa Barat), tidak mungkin lagi bagi kelompok manusia lain untuk memulainya dari titik nol. Lihat Madjid, Nurcholis.
1992. “Makna Modernitas dan Tantangannya
terhadap Iman; Hakikat Modernitas.
 Islam Doktrin dan Peradaban..
Paramadina, Jakarta.h. 453.
 
8
 
Rahman,
 
Fazrul.
 Islam...
 h. 323. Menjadi sebuah pertanyaan besar, jika kemajuan intelektualisme dan humanisme Barat berasal dari puncak peradaban Islam, karena watak keduanya berbeda. Bagi Endang Saefudin Anshari, humanisme Barat yang ditandadi dengan renaisans justru merupakan awal kejatuhan manusia, karena potensi manusia dipromosikan melebihi batas-batas fitrahnya. Figur manusia adalah titik sentral alam yang bergerak ke arah pengukuhan manusia sebagai
 superman.
 Manusia merasa dirinya unggul karena penemuan sains dan teknologi lewat otaknya yang brilian, membuat dirinya semakin berambisi untuk menaklukan alam. Alam dianggap sebagai objek yang
 
4
 pemikiran Barat modern adalah keturunan langsung dari budaya intelektual Islam yang gemilang pada zaman pertengahan, yang menyebar ke Barat melalui Spanyol dan Sisilia.
9
 Kenyataan tersebut menuntut umat Islam untuk melakukan  pembaharuan,
10
 sekaligus penyegaran dan pemurnian faham keagamaan.
11
 Karena fakta sejarah mengungkap, kejatuhan Bagdad ke tangan Hulagu Khan pada tahun 1258 M membawa dampak negatif terhadap hancurnya tatanan sosial politik, dan mundurnya perkembangan intelektual umat Islam selama berabad-abad. Refleksi dari kemunduran intelektual tersebut antara lain tampak dalam dua hal; tertanamnya sikap taklid
12
 pada madhab fikih sebagai refleksi dari anggapan bahwa
 pintu
ijtihad
telah tertutup
13
, dan terjadinya penyimpangan akidah dalam berbagai bentuk.
14
 
harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan manusia, yang akibat buruknya akhirnya kembali kepada manusia sendiri. Inilah yang disebut dengan nmodern yang jahili.Lihat Anshari, Endang Saefudin. 1991.
 Desekularisasi Pemikiran; Landasan Islamisasi.
 Mizan. Bandung. Cet. III. H. 158-160.
9
 
 Ibid.
hlm 323-324.
10
 Pembaharuan atau modernisme Islam sebagai upaya untuk menyesuaikan paham-paham keagamaan Islam dengan dinamika dan perkembangan baru yang timbul atau ditimbulkan oleh kemajuan ilmu  pengetahuan dan tekhnologi modern. Atau, yang dimaksud dengan modernisme Islam adalah upaya memperbarui penafsiran, penjabaran dan cara-cara pelaksanaan ajaran-ajaran dasar dan petunjuk- petunjuk yang terdapat dalam al-
Qur‟an dan hadits sesuai dan sejalan dengan perkembangan situasi
dan kondisi masalah yang dihadapi. Lihat Nawawi,
Rif‟at Syauqi. 2002.
 Rasionalitas Tafsir  Muhammad Abduh; Kajian Masalah Akidah dan Ibadah
. Paramadina. Jakarta. h.5
 
11
 
Pemurnian atau purifikasi ajaran agama Islam adalah salah satu ciri dan watak dari gerakan modernisme yang digagas oleh Ibn Taimiyyah (1263-1328 M). Gagasan utama yang selalu dicetuskan oleh para tokoh pembaharu adalah kembali kepada al-
Qur‟an dan as
-Sunnah.
 Al-Islamu mahjub bi al-muslimin
. Ini
 
ungkapan terkenal Muhammad Abduh untuk menggambarkan kemunduran umat Islam yang disebabkan mereka tidak lagi menganut Islam yang sebenarnya. Lihat
Rif‟at Syauqi. 2002.
 Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh
 ...h.5. Lihat juga Pasha, Mustafa Kamal dan Adaby Darban. 2005.
 Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam.
 Citra Karsa Mandiri. Yogyakarta. h. 137.
12
 
Taklid adalah penerimaan yang membuta terhadap otoritas dalam masalah-masalah agama pada umumnya. Lihat Rahman, Fazrul. 2010.
 Islam...
h. 288.
13
 
Dalam pandangan Fa
 z 
rul Rahman, pintu ijtihad (pemikiran baru) telah tertutup hanyalah sebuah  penilaian terhadap keadaan-keadaan di masa lampau, bukan merupakan sebuah doktrin yang secara formal dikeluarkan oleh siapa pun termasuk yang memiliki otoritas yang besar dalam agama Islam. Hal itu adalah keadaan yang lambat laun serta pasti melanda dunia Islam dimana seluruh kegiatan
 
5
Maka dari itu, gerakan pembaharuan Islam atau modernisme Islam juga sebuah kenyataan historis atau keniscayaan dari proses dinamika peradaban manusia, sebagai cermin implementasi respon positif terhadap modernisme, untuk kemudian melahirkan dinamika dan gerakan pemikiran yang beragam dan tentu saja secara diametral masing-masing berbeda.
15
 Dimana, gagasan program rekonstruksi  pendidikan Islam juga mempunyai akar-akarnya dalam gagasan tentang modernisme  pemikiran dan institusi Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, rekonstruksi  pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dengan kebangkitan gagasan dan program modernisme Islam. Kerangka dasar yang berada di balik modernisme Islam secara keseluruhan, baik modernisme pemikiran maupun kelembagaan Islam merupakan  prasyarat bagi kebangkitan kaum muslim di masa modern. Oleh karena itu, pemikiran dan kelembagaan Islam--termasuk pendidikan--haruslah dimodernisasi, sederhananya direkonstruksi sesuai dengan kerangka modernitas; mempertahankan pemikiran kelembagaan Islam "tradisional" hanya akan memperpanjang nestapa ketidakberdayaan kaum muslim dalam berhadapan dengan kemajuan modern.
16
 
B. Riwayat Hidup Muhammad Abduh
17
 
 berfikir lambat laun berhenti. Lihat Rahman, Fa
 z 
rul. 1984.
 Membuka Pintu Ijtihad.
 Terj. Anas Mahyuddin. Pustaka. Bandung. h. 227-228.
 
14
 
Lubis,
 
Arbiyah. 1993.
 Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh; Suatu Studi  Perbandingan.
 Bulan Bintang. Jakarta. h. 3.
15
 
Abu Muhammad Iqbal,
 Pemikiran Pendidikan Islam.....
hlm. 129.
16
 
Siswanto.
 Rekonstruksi Pendidikan Islam; Menimbang Pemikiran Muhammad Abduh.
Tadris. Volume. 4. No. 1. Tahun 2009. h. 2-3.
 
17
 
Lihat Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 2001
 Ensiklopedi Islam
. Cet. 9. PT Icthiar Baru Van Houve. Jakarta. h. 255-258. Lihat juga Nasution, Harun. 1975.
 Pembaharuan dalam Islam, Sejarah  Pemikiran dan Gerakan.
Bulan Bintang. Jakarta. h. 56-68.
 
of 32