Entertainment

Hati Nurani

Description
Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu
Categories
Published
of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  1 Hati Nurani Ditulis oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan dari GKPI Padang Bulan, Medan Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati  mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (Roma 2:14-15) Kita sangatlah mungkin  pernah berkata, “Dalam hati, saya tahu tindakan itu tidak  benar”, atau “Saya tidak dapat menuruti permintaan rekan kerja saya, batin saya mengatakan  bahwa hal itu keliru”. “Waduh, sungguh saya tidak percaya, saya telah berkata kasar seperti itu kepada ist eri yang sangat saya cintai!” Tanpa kita sadari, ini adalah suara “ hati nurani ” kita, kesadaran atau perasaan benar dan salah dalam batin yang membenarkan atau menuduh kita. Ya, hati nurani (atau suara hati seperti yang dinyatakan dalam nas di atas) adalah bagian yang tak terpisahkan dalam diri kita. Suara hati kita adalah penghakiman moral batin atas diri kita sendiri, menyetujui atau menentang setiap tindakan, pikiran dan rencana kita, dan menjelaskan kepada kita, apakah yang telah kita lakukan adalah benar atau salah. Kita merasakan dorongan yang kuat atas cara apa kita harus bertindak, pilihan mana yang harus kita ambil, jalan mana yang harus kita ikuti dan sebagai konsekuensinya kita merasakan sukacita dan kepuasan jika kita bertindak sesuai dengan dorongan tersebut atau, sebaliknya, kesedihan yang pasti dan penyesalan yang mendalam melanda diri kita apabila kita tidak menurutinya. Dorongan yang dalam dan kuat ini, yang kita warisi dari manusia pertama, Adam, disebut penghakiman moral karena berperan sebagai “ hukum ” atau aturan tingkah laku dalam diri orang-orang dari segala ras dan bangsa. Ini adalah kemampuan untuk memeriksa dan menilai diri sendiri (Roma 9:1) karena Tuhan telah menulis pengetahuan tertentu tentang Taurat-Nya di dalam setiap hati manusia (Roma 2:14-15   yang dikutip di awal tulisan ini). TERBENTUKNYA HATI NURANI   Nafas Hidup Manusia Pertama Ketika Allah menciptakan manusia, kitab Kejadian dengan jelas memberitahu kita  bahwa, “ TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup ” (Kej. 2:7). Sesuatu yang membuat manusia berbeda dari binatang adalah “nafas hidup” itu. Kata Ibrani yang diterjemahkan menjadi nafas hidup di sini adalah “ neshamah ”. Strong  2 menegaskan bahwa itu berarti “ roh ” (#5397). “  Neshamah ” itu menjadi roh manusia, yang dalam fungsinya terpisah dari jiwa (pikiran) dan tubuh. Nafas hidup memberikan kepada manusia dua hal yang tidak dimiliki oleh binatang: (1) kemampuan untuk mengenal Tuhan, dan (2) kemampuan untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Nafas hidup, yang menjadi roh manusia, membuat manusia menjadi satu-satunya mahkluk yang memiliki kemampuan mengenal Tuhan secara pribadi, dan memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Fungsi Hati Nurani Lalu apa sebenarnya fungsi dari hati nurani di dalam diri manusia? Untuk mengetahuinya mari kita lihat apa yang ditulis Salomo dalam Amsal 20:27, “  Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya ”. Kata “roh” dalam ayat ini kembali diterjemahkan dari kata Ibrani yang sama dengan yang diterjemahkan “nafas hidup” dalam Kejadian 2:7 yaitu “ neshamah ” , yang di sini  berarti “inspirasi ilahi” atau “roh”. Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa “ neshamah ” diberikan Allah kepada Adam dan menjadi “roh manusia”. Ini adalah yang pertama dari tiga elemen di dalam manusia –   roh, jiwa dan tubuh.  Jiwa  adalah pikiran,  Roh  adalah hati nurani dan kemampuan untuk mengenal Tuhan, Tubuh  adalah daging kita ini. “Neshamah” itu menjadi roh manusia, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya. Itu adalah hati nurani manusia. Itu adalah bagian dari manusia yang menunjukkan kepadanya ketika ia berbuat suatu kesalahan. Hati nurani manusia bekerja untuk pertama kalinya ketika Adam dan Hawa memperlihatkan kesanggupan mereka menilai perbuatan mereka salah telah melanggar hukum Allah. Reaksi mereka kemudian adalah bersembunyi dari hadapan Allah (Kej. 3:7-8). Contoh lain tentang bekerjanya hati nurani adalah reaksi Raja Daud sewaktu ia sadar bahwa ia telah berdosa karena mengadakan sensus (2 Sam. 24:1- 10). Dalam ayat 10 dikatakan, “ Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat  ”. Kata “hati” di sini mengacu kepada “neshamah” Daud , fungsi dari hati nuraninya. Hati nuraninyalah yang berdebar-debar karena ia telah melakukan dosa dengan menghitung rakyat. RUSAKNYA HATI NURANI Orang tua kita yang pertama telah berdosa di Taman Eden. Pada waktu Kejatuhan, gambar Allah telah ternoda pada diri manusia, dan hati nurani manusia menjadi cacat berat. Karena alasan ini, ketika Adam dikonfrontir oleh Tuhan tentang dosanya, ia mengajukan berbagai pembelaan diri untuk memaafkan kesalahannya, sama seperti yang juga dilakukan Hawa (Kejadian 3:11-13). Mereka berdua tidak merasakan penyesalan. Mengapa? Karena hati nurani mereka sudah berubah bentuk dan telah rusak. Demikian juga halnya dengan anak lelaki pertama mereka, yaitu Kain. Bahkan ketika Tuhan menangkap basah dia sebagai pembunuh adiknya, ia tidak merasa bersalah, dan justru mencoba mencari pembenaran atas dirinya (Kej. 4:13). Ini menunjukkan bahwa hati nurani manusia tidak lagi dapat dipercaya setelah Kejatuhan di Taman Eden. Demikianlah, hati nurani yang telah ternoda dan tidak dapat dipercaya itu telah diwariskan kepada kita dari Adam.  3 Namun yang lebih buruk lagi, semakin seseorang berbuat dosa semakin bobrok dan rusaklah hati nuraninya. Semakin manusia berdosa semakin gelap dan semakin tidak dapat dipercayalah hati nuraninya. Alkitab menyatakan kepada kita bahwa, pada zaman dahulu “ …pikiran mereka menjadi sia -sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap ” (Roma 1:21).  Di zaman Paulus, manusia juga dijelaskan seperti berikut ini: “ dan pengertiannya yang gelap,  jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran ” (Efesus 4:18-19). Dan Paulus juga menyatakan, “  Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci ,  karena baik akal maupun suara hati mereka najis”  (Titus 1:15). Dan ketika manusia terus hidup di dalam dosa, mereka merusak hati nurani mereka dengan berbuat dosa lagi dan lagi, “ oleh tipu daya pendusta-pendusta yang    hati nuraninya memakai cap mereka”    (1 Tim. 4:2). Dalam Alkitab Terjemahan Lama, ayat yang sama ditulis sebagai, “ oleh keadaan orang munafik yang memberitakan dusta, yang di dalam perasaannya seperti  diselar dengan besi hangat ” . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata selar   artinya adalah cap (tanda) yg diterakan dengan besi yg membara pada kulit orang terhukum atau  pada kulit binatang . Dan diselar  berarti “ diberi tanda (cap) dengan besi yg membara ”.  Bagi kita yang hidup di zaman modern artikel “  Believe It or Not  ” di majalah ataupun tayangan dengan judul serupa di televisi sudah sangat tidak asing lagi. Berbagai kecakapan, keahlian dan keunikan manusia ditampilkan dalam artikel atau tayangan tersebut. Pernah ditampilkan atau ditayangkan tentang seorang pemain sirkus yang sudah begitu sering mengisi acara baik dalam pertunjukan langsung di Sirkus maupun dalam tayangan di televisi. Yang ditampilkan adalah seorang laki-laki yang memasukkan pedang ke dalam nyala api sampai baja itu terbakar menjadi merah. Kemudian ia menyentuhkan pedang panas itu ke lidahnya. Uap keluar dari mulutnya. Menurut keterangan yang diberikan, katanya itu bukan suatu trik. Laki-laki itu meletakkan pedang baja yang panas membara itu tepat di lidahnya! Orang itu benar-benar menaruh pedang panas membara itu di lidahnya tanpa merasa sakit! Selanjutnya dijelaskan bahwa ia telah melakukan itu berulang kali, sehinga setelah banyak kali berlatih ia tidak lagi dapat merasakan sakit sama sekali! Lidahnya sudah sering dibakar sehingga menjadi kebal, oleh sebab itu ia tidak merasakan sakit lagi! Betapa ini adalah gambaran tentang orang-orang yang hati nurani mereka “ telah diselar (dibakar) dengan besi panas ” ( 1 Tim. 4:2)! Dengan kata lain, semakin orang berdosa, semakin keballah hati nuraninya, sampai ketika hati nurani itu dibakar oleh nyala api dosa, orang tersebut tidak lagi merasakan sakit dalam hati nuraninya, tidak peduli berapa banyak dosa yang telah ia lakukan. Hitler telah berdosa begitu lama, sehingga pada Perang Dunia II ia dapat memberikan perintah untuk menyiksa anak-anak Yahudi yang dilakukan oleh Dr. Mengele, seorang Nazi yang bengis, yang senang membelah perut anak-anak Yahudi untuk melihat berapa lama mereka akan bertahan sampai mati. Hitler juga dapat memerintahkan untuk membunuh 6 juta  4 orang Yahudi dengan gas beracun, hanya karena mereka adalah orang Yahudi, tanpa merasakan sedikitpun sakit dalam hati nuraninya. Demikian juga, Henry VIII dapat memenggal dua istri mudanya yang tidak bersalah dan setelah itu, tanpa hati nuraninya tertusuk sedikitpun, ia dapat makan-makan dan pergi tidur, jadi hati nuraninya sudah “ terbakar dengan besi panas ”!  Hati nurani kita telah ternoda ketika kita dilahirkan. Kita mewarisi hati nurani yang telah rusak dari nenek moyang kita yaitu Adam. Jadi kita telah memiliki hati nurani yang rusak sejak masih anak-anak! Hati nurani itu semakin rusak oleh karena dosa masa kanak-kanak kita. Setiap kali kita membohongi orangtua kita, hati nurani kita semakin rusak. Setiap kali kita mencuri sesuatu, setiap kali kita berbuat curang di sekolah, setiap kali kita memikirkan berbagai hal yang tidak senonoh, hati nurani kita semakin rusak dan semakin rusak lagi  –   sampai akhirnya kita mulai benar-benar membuatnya mati (bdk. Buku Ende No. 165:2    –    Pardosa na godang do au, badia anggo Ho, sai tu na roa do au lao, sai tu na jahat do ) Seperti halnya dengan besi panas, kita benar-benar mulai membakar hati nurani kita. Kita membakarnya dengan senyum dan tawa sinis ketika kita disentuh oleh besi panas dari dosa kita; membakar hati nurani kita lagi dan lagi dengan dosa-dosa yang lebih dahsyat. Bahkan mungkin ada dari antara kita yang telah membakar hati nurani kita dengan liar, dengan semangat melakukan dosa yang semakin merusak atau membakar hati nurani kita. Tak perlu disebutkan apa saja itu, kita sendiri pasti tahu apa itu. Kita tahu betapa semua dosa itu membakar hati nurani kita. Kita tahu betapa semua dosa itu menumpulkan perasaan kita dari kesalahan kita. Kita tahu bagaimana sampai menjadi tidak mungkin bagi kita untuk merasa bersalah atas semua dosa yang kita lakukan itu. Dengan kata lain, kita semakin merusak hati nurani kita sendiri yang sedari awal memang sudah rusak! DARAH YESUS MENYUCIKAN HATI NURANI KITA Apakah masih mungkin ada pertolongan bagi kita untuk merestorasi hati nurani kita yang sudah rusak parah? Ke mana kita harus mencari pertolongan? Jika kita mencari pertolongan kepada manusia, pasti akan sia- sia karena, “ Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak  ” (Roma 3:10 -12). Solusi yang pasti untuk menjadikan hati nurani kita kembali terang bercahaya, adalah datang kepada Yesus. Dia akan menginsafkan kita “ akan dosa, kebenaran dan penghakiman ” (Yoh. 16:8). Datanglah kepada Tuhan Yesus dengan segala kerendahan hati, walaupun sebenarnya kita tidak layak datang memohon kepada-Nya. Kita telah meludahi wajah-Nya dalam hati kita selama bertahun-tahun kita hidup. Kita telah menampar muka-Nya dengan segala tindakan kita yang menurutkan hawa nafsu kita. Kita telah mencambuki punggung-Nya dengan segala sikap kita yang tidak mempedulikan peringatan yang dibisikkan Roh-Nya melalui hati nurani kita.  5 Perlu kita renungkan bahwa Kristus tidak berhutang apapun kepada kita. Ia hanya berhutang murka, penghukuman dan api neraka kepada kita. Harus kita akui, kita memang layak menerima itu! Jadi, jika kita merasa bahwa penghukuman yang teramat mengerikan adalah layak bagi kita, datanglah kepada Yesus seperti seorang perempuan yang telah berdosa yang datang kepada-Nya dan mencium kaki-Nya. Seperti Bunyan dan Whitefield menggigil sambil menangis mengharapkan anugerah, datanglah kepada Dia dan kita akui dosa-dosa kita. Datanglah dengan ketundukan total dan dalam ratap tangis untuk memohon kepada-Nya, kiranya Ia memberikan kepada kita kesempatan lagi (yang sudah berulang kali Ia berikan kepada kita) untuk menerima anugerah-Nya dan menyucikan kembali hati kita. Karena hanya “  darah Kristus ” yang “ akan menyucikan  hati nurani  kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup ” (Ibr. 9:14).  
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x