Abstract

Katalog Induk nasional Tercetak dan Elektronik pada Abad 21a Sulistyo-Basukib Pendahuluan

Description
Katalog Induk nasional Tercetak dan Elektronik pada Abad 21a Sulistyo-Basukib Pendahuluan
Categories
Published
of 9
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  1 Katalog Induk nasional Tercetak dan Elektronik pada Abad 21 a   Sulistyo-Basuki b   Pendahuluan Perpustakaan tidak dapat memenuhi kebutuhnpemakainya d hanya darai bahan perpustakaan yang dimilikinya sedniri. Untuk memenuhi kbutuhan pemakai maka perpustakaan perlu bekerja sama, antara lain dalam bentuk pinjam antarperpustakaan. Salah satu syarat pinjam antarperpustakaan adalah masing-masing perpustakaan perlu mengetahui koleksi yang ada di perpustakaan lain. Untuk keperluan ini diperlukan sebuah katalog induk. Katalog induk . Katalog yang digunakan dalam Bahasa Indones ia berasal dari kata katalog (Bahasa Belanda) atau catalogue (bahasa Inggris). Dari kata katalog muncul istilah katalogisasi (katalogisiering), kataloger , katalog dsb. Istilah katalog itu sendiri berasal dari bahasa Yunani katalogos. Dalam bahasa Inggris katalog induk dikenal dengan frasa union catalogue  berasal dari kata katalogos (katlog) dan unio (bersama dari abahsa Latin (Hanson 1981). Katalog induk adalah katalog dari dua perpustakaan atau lebih, mencakup semua pemilikan material perpustakaan dari semua perpustakaan yang berada dalam sebuah sistem perpustakaan atau seluruh atau sebahagian koleksi kelompok perpustakaaan independen, dikenali berdasarkan nama dan/atau simbol lokasi (Reitz 2007; Gorman 2007), Katalog induk berkembang tidak saja mencakup koleksi yang dimiliki perpustakaan peserta, melainkn juga menyatukan karya yang sama yng mungkin dideskrispi berbeda oleh beberapa perpustakaan untuk keperluanpenelusuran pemakai. Katalog induk semual hanya mencakup buku saja, laim disebut katalog induk buku atau cukup disingkat katalog saja; kini cakupannya mencakup material cetak, bentuk mikro, kartu katalog dan kini pangkalan data elektronik berjaring ((Chelak & Azadeh 2010). Tujuan dan manfaat jatalog induk . Dalam bahasa Inggruis sering diketemukan istikah union catalog  dan union lsii. Istilah unuion cataog diterjemahkan menjadi katalog induk dalam arti cakupannya material perpustakaan kecduali seraial. Adapun union list   diterjemahkan menjadi katalog induk majalah. Makalah ibi tidak membahas katalog induk majalah, dibatasi pada katalog induk buku dan mterial lainnya, selanjutnya dingkat katalog induk. Tujuan katalog induk ialah menghimpun hasil katalogisasi dari perpustakaan peserta skema pinjam antarperpustakaan , eksistebsinya untuk kepelruan pustakawan dan pemakai dalam mencari material yang dipelrukan, Dalam perkembangan selanjutnya, katalog induk menjadi panduan bagi perpustakaan untuk mengkatalog/katalogiasi bahanb perpustakaan yang diterimanya. Adapun bahan deskripsi dapat diambil dari katalog induk. Kebewradaan katalog induk memiliki keuntungan bagi pemakai maupun perpustakaan. Keuntungan katalog induk bagi perpustakaan ialah: (1)   Fasilitas untuk katalogisassi dan peningkatan katalogisasi atau pengatalogan (Yan 2004. Keberadaan katalog induk memungkinkan staf perpustakaan menyalin katalog, tidak perlu lagi melakukan pengakatlogan asli 9 srcibal cataloguing ). Pada tingkat lebih tinggi, keuntungan ini dapat diperoleh dari WorldCat (2)   Meningkatkab pemasokan cantuman berkuakitas, baik menyangkut bibliografi maupin otoritas resmi. (Anthi 1998; Stubley 2003). Karena pengumpulan cantuman ( records ) a  Makalah untuk Workshop Penyusunan Katalog Induk daerah), Jakarta, 11 s.d. 13 Agustus 2015 di Jakarta b  Guru Besar Luar Biasa, program pascasarjana dan Sekolah pascasarjana Universitas Indonesia, Institu Pertanian Bogor, UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Gadjah mada  2 bibliografis dari berbagai perpustakaan, maka lambat laun akan tersusun daftar resmi pengarang perorangan dan badan korporasi. (3)   Pengembangan dan upakara ( maintenance ) standar yang dapat diterima semua perpustakaan peserta. (4)   Pengembangan jasa pemasokan dokumen. Karena katalog induk bertujuan memudahkan pinjam antarperpustakaan, maka dengan sendirinya akan umbuh jasa pemasokan ( supply  )dokumen. (5)   Pengembangan koleksi gabungan, cetak maupun elektronik. (6)   Tautan ( links ) ke pemasok dokumen dan jurnal elektronik. Karena dalam katalog inudk, terdapatmaterial yang dimiliki oleh beberapa perpustakaan, maka katalog induk dapat menautkan berbagai sumber daya informasi yang ada di perpustakaan peserta. (7)   Penggunaan sumber berbagi. (8)   Tumbuhnya diskusi, perencanaan dan program dari kalangan perpustakaan peserta, (9)   Pembentukan jaringan bibliografis nasional. Karena perpustakaan nasional tidak memiliki semua bahan perpustakaan, maka dari katalog induk dapat diketahui material mana yang tidak dimiliki perpustakaan nasional dan dari data tsb berkembangn jaringan bibliografis nasional. (Anthi 1998) (10)   Pengurangan biaya akuisisi dan katslogisasi. Bagi pemakai, keberadaan kataklog induk memiliki manfaat berupa: (1)   Konfirmasi ekseistensi sebuah material. Pemakai dapat mengetahui bahwa ada material tertentu yang dimiliki perpustakaan anggota. (2)   Lokasi material diketahui secara eksak ada di mana. Hal ini terlihat dari kode perpustakaan peserta, (3)   Kerangka waktu bagi pemakai (4)   Mengetahui kontrol dan otirisasi lisenesi, terutama menyangkut jurnal dan buku elektroninik. Dari katalog indukm pemakaimengetahui bahan mana yabg dapat diakses, Cuma-Cuma atau berbayar, Bentuk katalog induk Secara fisik, katalog induk dapat berupa kartu katalog dan elektronik. Kartu katalog tradisional yang berukuran 7,5x12,5cm relatif udah jarang digubanakan, namun masih digunakan pada perpustakaan terutama untuk perpustakaan yang berada di bawah aras (level) nasional, misal katalog induk perpustakaan dua provinsi atau lebih. Sungguhpun demikian nasib katalog induk kartu dipertanyakan (Smith 2003) karena perkembangan teknologi. Katalog induk tercetak paling terkenal ialah The National Union Catalog, Pre-1956 imprints (1968-1981) diterbitkan oleh Library of Congress sebesar 754 jilid! (Carpenter 1994). Katalog perpustakaan kini sudah berbentuk OPAC ( Online P  ublic  A cces C  atalogue ), dapat ditelusur oleh pemakai melalui sistem OPAC. Bila perpustakaan tsb merupakan perpustakaan tanpa dinding ( libraryies withouth walls ) serta memiliki fasilitas yang tertaut dengan Internet, maka katalog perpustakaan dapat dirambang ( browising ) oleh pemakai jarak jauh. Secara teoritis, seorang pemakai yang ibgin mengetahui keberadaan sebuah material perpustakaan (misal terbitan Dewan Perpustakaan Nasional ) maka secara teoritis, pemakai dapat mencari melalui berbagai katalog sambung jaring Ionline ). Dalam praktik, pencarian melalui sambung jaring pada banyak perpustakaan menghabiskan waktu dan tenaga sehingga praktik semacam itu mulai ditinggalkan. Maka yang diperlukan ialah katalog induk sambung jaring ( online union catalogue ) c   Katalog induk sambung jaring ( online )  Dalam bahasa Inggris disebut online union catalogue , merupakan katalog induk merepresentasi koleksi masing-masing perpustakaan peserta (Breeding 2000; Chelak and Azadeh 2000). c  Istilah online  dapat diterjemahkan menjadi dalam jaring, sambung jaring serta taut jaring.  3 Penyusunan Penyusunan katalog induk dalam jaring dimulai dengan OPAC serta perangkat lunak berbasis Web. Kini di Indonesia sebahagian besar perpustakaan tekah menyediakan kemudahan OPAC ditunjang dengan pengembangan perangkat lunak maisng-masing. Berdasarkan penelitian sederhana, menyangkut kataog induk nasional yang akan dikelola oleh Perpustakaan Nasional RI, maka pada saat ini terdapat sedikit-dikitnya dua perangkat lunak utama yait Inlis dan Senayan. Inlis dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI sementara Senayan dikembangkan oleh pustakawan yang tertarik pada teknologi informasi (TI) untuk perpustakaan, Dari segi kuantitas, untuk Indoneasia pemakai Senayan lebih banyak daripada pemakai Inlis; yang disebut terakhir ini relatif terbatas pada Perpustakaan Nasional RI, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah d . Model katalog induk Untuk mendesain katalog induk, ada dua cara tergantung pada strukturnya; apakah katalog induk terpusat (fisik) ataukah terdistribusi (virtual atau rumpun) (Preece and Thompson 2001; gatenby 2002; Hider 2004; Chelak and Azadeh 2010). (1)   Terpusat (centralized  ) (2)   Terdistribusi Ad 1. Terpusat Di sini pangkalan data memuat cantuman ( records ) bibliografis milik perpustakaan perserta. Pemasukan data dapat dilakukan langusng ke pangkalan data pusat atau tidak langsung, jadi melalui perpustakaan lokal baruke pangkalan data pusat. Alasan pembentukan katalog induk terpusat ialah: (1)   Terbentuknya titik ases pusat bagi pemakai. Pemakai dapat langsung ke pangkalan data pusat. (2)   Merupakan platforom artau landasan kerjasama JASA SEPERTI PEMASOKAN DOKUMEN. (3)   Platform untuk kesepakatan standar bibliografis, misal mengenai nama pengarang perorangan dan badan korporasi. (4)   Adanya manajemen yang efektif (Dekkers 1997). Gambar 1 di bawah ini mubgkin dapat memberikan gambaran tentang katalog induk terpusat. Bibl Gambar 1 Katalog induk sambung jaring terpusat d  Nama badan pada level provinsi berbeda, terpulang pada kebijakan masing-masing provinsi, Periksa Buku kerja Perpustakaan Nasional RI yang dibagikan setiap tahun.   Katalog Lokal 1 Katalog lokal 2 Katalog lokal 3   Pangkalan data Katalog induk  4 Pada gambar 1, cantuman digabung menjadi satu, setiap perpustakaan mendapat kode pengebnal ( identifier  ) maisng-masing Pemakai mengirim permintaan via internet ke pangkalan data serta memperoleh hasil penelusuran dari pangkalan data yang sama. Ad 2. Katalog induk terdistribusi Pada ppangkalan data terdistribusi, maisng-masing katalog lokal di perpustakaan anggota disambung satu dengan yang lain dengan server masing-masing menggunakan protokol. Pemakai dapat menelusur masing-masing katalog brrtgantian atau simultan sekaligus sehingga menciptakan katalog induk virtual (Hifer 2004; MacGregor and Nicolaides 2006). Gambar 2 Katalog induk virtual Gambar 2 menunjukkan katalog induk virtual, menunjukkan dialog maya (virtual) yang terjadi antara komputer yang dihububgkan ke jaringan virtual yang terdiri dari katalog virtual. Aplikasi katalog induk virtual meliputi: Pencarian/penelusuran diketik ke layar pencari terdistribusi (berasal dari server) Menggunakan perambang ( browser  ) web; Perambang meneruskan kueri ( query  , pertanyaan) ke server; Server mendistribusi pertanyaan/permintaan ke server perpustakaan anggota, dengan klien diinstal; Klien merespons dengan hasil yang diteruskan ke server pemulai. Katalog ibduk virtual berbeda dari katalog induk fisik. Katalog induk virtual menghubungkan katalog yang berklainan melalui protokol, merepresentasi panenan ( harvesting ) berbagai pangkalan data dan tidak mewakili himpunan seragam indeks dan fungsi penelusuran. Waktu gagal sistem lokal dapat mempengaruhi ketersediaan katalog, katalog lokal harus menunjang kapasitas tambahan dan protokol tidak membantu duplikasi cantuman (Preece and Thompson 2001). Katalog induk virtual memiliki ciri: (1)   Koleksi perpustakaan dari berbagaui perpustakaan (2)   Koneksi perpustakaan anggota melalui internet (3)   Tidak tersedia lokasi tunggal untuk nemampung koleksi perpustakaan terdistribusi (4)   Penggunaan bentuk pencarian bersamam noduk penelysuran terpencar ke berbagai pangkalan data yang berlainan, melakukan penelusuran lokal kemudian ke pool hasilpenelusuran, lalu dikembalikan ke layar pemakai. Klien Katalog 1 Katalog 2 Katalog Katakog 4  5 Adapun keuntungan katalog induk terbagi ialah: (1). Pusat sumber daya lokal memiliki kendali penuh atas koleksinya, baik desain maun manajemennya. (2) Temu kembali informasi bersifat mutakhir dan dinamis, selalu berubah-ubah ke arah yang lebih terkini, (3) Mampu menghilanagkan berbagai faktor perintang sepertipenyimnpanan data yang redubdan, biaya upakara ( maintenance ) lokasi penyimpanan data pusat dan waktu gagal total sistem (Sahoo, 2002) (4) Penelusurn multisasaran. Dari sebuah antarmuka (interface ) pemakai tunggal, penelusuran pengenal ( identifier  ) dapat menelusur sasaran jamak walaupun tidak seragam soal platforom, sistem pangkalan data atau model pangkalan data. (5) Penelusuran berbasis konsep abstrak. Penggunaan konsep seperti “judul” memungkinkan setiap server memetakan struktur riilnya. Klien tidak perlu mengetahui ruas data. Tengara ( tag ) ruas data pada pangkalan data bibliografis seringkali berbeda namun standar semacam Z39.50 mengabaikan perbedaanini dan mengenalnya sebagai judul. Karen format cantuman standar bersama berubah misal MARC atau XML/DC, maka mungkin saja mengkombinasikan hasil penelusuran dari pangkalan data yang beraneka ragam (Gatenby 2002) Bagaimana dengan Indobesia ? Sebelum membahas levih lanjut tentang katalog induk, perlu menyimak fungsi utama sebuah perpustakaan nasional. Pada tahun 1970, dalam konferensi umumnya yang ke 16, UNESCO mengeluarkan Recommendations Concerning the International Standardization of Library Statistics  yang memuat definisi perpustakaan nasional sebagai berikut: Perpustakaan nasional: perpustakaan yang bertanggung jawab atas akuisisi dan pelestarian kopi semua terbitan yang signifikan, yang diterbitkan di sebuah negara dan berfungsi sebagai perpustakaan “deposit”, baik berdasarkan undang -undang maupun kesepakatan lain, dengan tidak memandang nama perpustakaan. Perpustakaan nasional juga umumnya menjalankan fungsi sebagai berikut: menyusun bibliografi naisonal; menyimpan dan memutakhirkan koleksi terbitan luar negeri yang besar dan representatif termasuk buku mengenai negara yang bersangkutan; bertindak sebagai pusat bibliografi nasional; menyusun katalog induk; menerbitkan bibliografi nasional retrospektif. Perpustakaan yang menyebut dirinya sebagai perpustakaan “nasional” namun fungsinya tidak sesuai dengan definisi di atas tidak da pat dimasukkan ke kategori “perpustakan nasional . Definisi tersebut sedikit berubah sebagaimana nampak dari hasil pertemuan Conference of Directors of National Libraries(CDNL) di Bangkok tahun 1999. Konferensi tersebut memberikan definisi sebuah perpustakaan nasional sebagai berikut. Sebuah institusi, terutama didanai (langsung atau tidak langsung) oleh negara, yang bertanggung jawab atas pengumpulan secara komprehensif, pencatatan bibliografis, pelestarian dan menyediakan warisan dokumenter (terutama materi yang diterbitkan dalam semua jenis) yang berasal atau berkaitan dengan negara tersebut; dan dapat juga bertanggung jawab atas pelaksaaan lebih lanjut fungsi perpustakaan di negara tersebut secara efisien dan efektif melalui tugas seperti manajemen koleksi yang maknawi secara nasional, penyediaan infrastruktur, koordinasi aktivitas perpustakaan dan sistem informasi di negara bersangkutan, hubungan internasional, dan melaksanakan kepemimpinan. Biasanya tanggung  jawab ini secara formal diakui lazimnya berdasarkan perundang  – undangan. Untuk keperluan definisi ini maka sebuah negara didefinisikan sebagai negara independen berdaulat. Institusi yang disetarakan dengan perpustakaan nasional terdapat juga di entitas( nasional non-berdaulat seperti di Catalonia, Quebec dan Wales) (Lor2003)
Search
Similar documents
View more...
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x