Crosswords

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT KASEPUHAN CIPTAGELAR DALAM PENGELOLAAN HUTAN

Description
1. PENDAHULUAN Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (Permenhut No. 62 tahun 2013).
Categories
Published
of 28
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  1 KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT KASEPUHAN CIPTAGELAR DALAM PENGELOLAAN HUTAN Hendra Samsuri 1 1.   PENDAHULUAN Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (Permenhut No. 62 tahun 2013). Pada pasal 6 UU 41 tahun 1999, hutan mempunyai tiga fungsi yaitu fungsi konservasi, fungsi lindung dan fungsi produksi. Adanya tiga fungsi hutan tersebut maka hutan perlu dijaga dan dikelola dengan baik agar hutan dapat lestari, dan tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarak sekitar hutan. Pengelolaan hutan saat ini banyak mengalami kegagalan. Terbukti dengan banyaknya kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia, seperti penyalahgunaan fungsi kawasan, kerusakan ekosistem akibat manusia, bencana alam dan masih banyak yang lainnya. Kerusakan hutan disebabkan manusia masih mengedapankan sifat antroposentris, dimana manusia masih mementingkan akan kebutuhan hidupnya sendiri tanpa memperhatikan kondisi alam di sekitarnya. Kerusakan hutan ini tentu akan berakibat buruk bagi lingkungan dan masyarakat sekitar hutan. Masyarakat sekitar hutan merupakan elemen yang paling merasakan secara langsung dampak dari kerusakan hutan. Selain itu, kerusakan hutan secara tidak langsung akan merubah kebudayaan masyarkat sekitar hutan. Oleh karena itu, pengelolaan hutan sebaiknya melibatkan masyarakat sekitar hutan sehingga pengelolaan hutan dapat lestari, karena masyarakat sekitar hutan bersinggungan langsung terhadap hutan. Pengelolaan hutan oleh masyarakat tentu mempunyai cara-cara tersendiri yang berbeda dengan pengelolaan hutan oleh pemerintah, dan menjadi sistem budaya yang melekat di masyarakat. Budaya masyarakat desa hutan terbentuk dari hubungan timbal balik yang berkesinambungan dengan lingkungan sumber daya hutan. Norma-norma yang belaku dimasyarakat dan ditaati oleh setiap elemen masyarakat dapat menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Pengelolaan hutan oleh masyarakat dengan menggunakan norma-norma tersebut tentu mempunyai nilai positif dan nilai negatif bagi lingkungan. Nilai positifnya yaitu apabila pengelolaan hutan dilakukan dengan baik maka hutan akan lestari dan kerusakan hutan dapat dihindari. Kebutuhan masyarakat akan hutan dan hubungan timbal balik antara hutan dan masyarakat dapat terjalin dengan baik. Sedangkan, nilai negatif dari pengelolaan hutan oleh masyarakat yaitu apabila pengelolaan hutan tidak dilakukan dengan baik, tentu akan menimbulkan banyak bencana seperti kerusakan hutan, penebangan liar, deforestasi, bencana alam, dan lain-lain. Norma-norma atau aturan-aturan tersebut disebut dengan kearifan lokal ( local wisdom ). Norma-norma tersebut diakui dan ditaati oleh setiap elemen masyarakat, sehingga norma-norma tersebut dapat menjaga stabilitas alam sekitar masyarakat dan menjadi sesuatu kebudayaan yang melekat pada masyarakat tersebut. Kearifan lokal  2 menjadi sebuah penentu keberhasilan pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan masyarakat. Kearifan lokal dibangun dari nilai-nilai sosial dan berfungsi sebaggai pedoman, aturan-aturan dalam berprilaku, serta berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kearifan lokal menjadi salah satu faktor penting dalam pengelolaan sumber daya alam yang baik dan dapat meminimalisir kerusakan alam yang marak terjadi saat ini. Kearifan lokal perlu dikaji lebih lanjut dan dilestarikan sebagai suatu bentuk kebudayaan bangsa dalam suatu masyarakat guna menjaga kelestarian dan keseimbangan suatu sumber daya alam. penelitian ini bermaksud untuk mengkaji kearifan lokal yang ada dalam masyarakat terkait dengan pengelolaan sumber daya alam, dampak kearifan lokal yang ada pada masyarakat tersebut serta bentuk interaksi masyarakat terhadap alam sekitar. Salah satu masyarakat yang masih menjaga dan menjalankan kearifan yang berlaku di masyarakat yaitu Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Hal ini dikarenakan menurut informasi yang didapat oleh peneliti di Kasepuhan Ciptagelar terdapat kearifan lokal dalam pengelolaan hutan. Selain itu diindikasikan bahwa daerah ini mempunyai bentuk kearifan lokal lain yang bertujuan untuk menselaraskan antara manusia dengan alam. Sehingga alam dapat terjaga dengan baik dan lestari. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui secara mendetail bentuk interaksi dan kearifan lokal tersebut, sehingga dapat menjadi salah satu model pengelolaan hutan yang dapat menjaga kelestarian alam secara kontinyu dan dapat dirasakan manfaatnya oleh generasi selanjutnya serta mampu menjadi solusi bagi kerusakan hutan yang marak terjadi akibat kurang baiknya pengelolaan hutan. Berdasarkan latar belakang yang dijelaskan di atas, ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji dalam kearifan lokal yang ada di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yaitu: 1.   Bagaimana bentuk kearifan lokal yang terdapat di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ? 2.   Bantuk interaksi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar terhadap hutan ? 3.   Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari kearifan lokal masyarakat Kasepuhan Ciptagelar terhadap hutan dan pengelola? 2.   PEMBAHASAN  Kasepuhan Ciptagelar merupakan suatu kampung yang berada di Dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi RT 02/RW 10, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi dengan koordinat 6 ⁰ 48 ’ 07.72 ” LS dan 106 ⁰ 29 ’ 53.98 ”  BT dengan suhu antara 20 0  hingga 26 0 Celsius. Kasepuhan Ciptagelar merupakan suatu perkampungan yang terletak di daerah paling ujung dari Kecamatan Cisolok dan berbatasan langsung dengan Provinsi banten, sehingga dapat disebut juga dengan kesatuan Kasepuhan Banten Kidul atau kasepuhan banten yang berada di sebelah selatan (kidul). Batas wilayah Desa Sirnaresmi yaitu:  3    Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sinargalih, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak provinsi Banten.    Sebelah timur berbatasan dengan Desa Cihamerang, Kecamatan Kelapanunggal, Kabupaten Sukabumi.    Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sirnarasa, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.    Sebelah barat berbatasan dengan Desa Cicadas Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi Gambar 1. Peta Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Sumber: Desa Sirnaresmi, Cisolok, Sukabumi Kasepuhan Ciptagelar merupakan suatu kampung yang berada di daerah perbukitan, sehingga memiliki topografi bergelombang atau berbukit dengan ketinggian 1200 mdpl. Kasepuhan Ciptagelar dikelilingi oleh tiga buah gunung. Bagian utara terdapat Gunung Kadeng, bagian barat terdapat Gunung Halimun, bagian timur terdapat Gunung Bongkok dengan kelerangan 40 % (agak curam). Data mengenai jumlah penduduk di Kasepuhan Ciptagelar sangat minim dan tidak adanya data resmi mengenai statistik Kasepuhan pertahunnya. Hal tersebut dikarenakan perhitungan jumlah penduduk didasarkan pada perhitungan jumlah pemasok padi kedalam lumbung (  Leuit  ) dalam upacara Seren Taun yang dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga, sehingga untuk menentukan jumlah atau statistik kependudukan berdasarkan jenis kelamin sangat sulit didapatkan. Penduduk Kasepuhan Ciptagelar terdiri dari sebagian besar penduduk asli Kasepuhan Ciptagelar, dan hanya sebagian kecil penduduk yang berasal dari luar Kasepuhan Ciptagelar. Menurut catatan tahun 2008-2010 Jumlah penduduk berdasarkan jumlah pemasok padi di Kasepuhan Ciptagelar yaitu pada tahun 2008 yaitu 84 kepala keluarga terdiri dari 151 Laki-Laki dan 142 Perempuan. Pada tahun 2010  jumlah penduduk di Kasepuhan Ciptagelar mengalami peningkatan, yaitu sebanyak 109 kepala keluarga. Hutan di Kasepuhan Ciptagelar termasuk kedalam kawasan Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (BTNGHS) yang berada di Resort Gunung Bodas dengan sistem  4 pengelolaan zonasi. Sistem pengelolaan ini berupa pembagian hutan menurut pemanfaatannya yaitu hutan garapan, hutan tutupan dan hutan titipan. Hutan memiliki fungsi yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, yaitu sebagai pemenuhan kebutuhan akan kayu bakar, tempat penyerapan dan penyedia sumber air, tempat hidup dan berkembangnya flora dan fauna, dan juga sebagai penyeimbang lingkungan. Fungsi hutan sebagai tempat penyerapan, dan penyedia air merupakan fungsi yang paling penting bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, karena masyarakat membutuhkan air guna kehidupan sehari-hari dan pengairan sawah yang merupakan hal tersakral dalam kehidupan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Hutan memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup manusia karena hutan menjadi penopang hidup manusia. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya ketergantungan manusia terhadap hutan. Manfaat hutan bagi Kasepuhan Ciptagelar yaitu sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan juga sebagai kawasan konservasi, sehingga perlu dilakukan penjagaan dan pemanfaatan hutan secara lestari. Pemanfaatan hutan secara lestari ini merupakan bentuk dari kearifan lokal masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dalam turut menjaga kelestarian hutan sehingga mampu menopang kebutuhan masyarakat akan sumber daya hutan baik sebagai pemenuhan kebutuhan akan kehidupan sehari-hari, bahan konstruksi kayu maupun sebagai penyedia air bagi pertanian masyarakat. Selain itu, kearifan lokal masyarakat terhadap hutan ini juga berfungsi sebagai warisan kepada generasi selanjutnya agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka akan hutan. 2.1.   Sejarah Kasepuhan Ciptagelar Berdasarkan hasil dari wawancara terhadap Sekretaris Desa yang bernama M. Buchori dan kepala atau pemangku adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi Sukriana Rakaswi, didapatkan sejarah tentang terbentuknya Kasepuhan Ciptagelar. Terbentuknya Kasepuhan Ciptagelar berasal dari daerah Banten. Pada masa kepemimpinan Abah Jasiun kasepuhan berada di Kampung Cisono, Banten. Pada tahun 1937 Abah Ahmad Jasiun meninggal dan digantikan oleh anaknya yang bernama Amarusdi. Kasepuhan dipindahkan ke dalam hutan di daerah Cicemet karena adanya serangan dari Belanda. Pada tahun 1959 karena adanya Organisasi DI/TII yaitu suatu organisasi yang menghendaki NKRI menjadi negara berbasiskan Agama Islam, Kasepuhan diserang sehingga kasepuhan harus dipindahkan ke Cikaret. Pada tahun 1960 Amarusdi meninggal dan dilanjutkan oleh Abah Arjo. Karena adanya perubahan dari Orde Lama menjadi Orde Baru nama kasepuhan kemudian disahkan menjadi Kasepuhan Sinar Resmi. Pada tahun 1980 terjadi permasalahan antara kasepuhan dengan Penganut Agama Islam. Hal tersebut dikarenakan adanya pendapat bahwa Kasepuhan Sinar Resmi menganut aliran kepercayaan yang masih melakukan ritual. Adanya permasalahan tersebut Abah Arjo memindahkan kasepuhan ke Sirna Rasa. Pada tahun 1982 kasepuhan dipindahkan lagi ke Kampung Linggar Jati dan Abah Arjo meninggal disana. Abah Arjo memilki enam orang istri dari istri pertama abah Arjo memilki tiga orang anak yaitu Abah Uum Sukma Wijaya, Mak Titin dan Ujad Sujati. Sedangkan dari istri  5 kelima mempunyai tiga orang anak yaitu Abah Encup, Engkor dan Lia. Setelah meninggalnya Abah Arjo, Abah Uum tidak mau melanjutkan tampu kepemimpinan adat, sedangkan adiknya yang bernama Abah Ujad sedang menjabat menjadi kepala desa sehingga tidah bisa menjadi pemimpin adat. Dari kesepakatan adat maka ditunjuklah Abah Encup (Abah Anom) menjadi Pemimpin adat yang pada saat itu Abah Encup (Anom) baru berumur 16 tahun. Pada masa kepemimpinan Abah Anom, ia mendapatkan sebuah wangsit   agar memindahkan Kasepuhan dari Linggar Jati ke Kampung Ciptarasa pada tahun 1985, pada saat ini pula Abah Ujad yang semula menjadi kepala desa telah selesai masa  jabatannya. Pada tahun 1985 ini terjadilah kesepakatan antara Abah Ujad dan Abah Anom. Kesepakatan tersebut berisi pembagian kawasan menjadi dua, dimana Abah Ujad menjadi Pemimpin Kasepuhan Sinar Resmi dan Abah Anom (Encup) menjadi pemimpin di Kasepuhan Ciptarasa. Pada tahun 2000-2001 Kasepuhan yang dipimpin oleh Abah Anom dipindahkan ke Ciptagelar. Pada tahun 2002 Abah Ujad meninggal dan digantikan oleh anaknya yang bernama Abah Asep. Abah Uum kemudian mendirikan Kasepuhan Ciptamulya dan dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Abah Hendrik. Pada tahun 2008 Abah Anom meninggal dan digantikan oleh Abah Ugi sebagai pemimpin Kasepuhan Ciptagelar hingga sekarang. Struktur pemangku adat dan lokasi kasepuhan dapat dilihat dari table berikut: Tabel 1. Pemangku Adat Kasepuhan Ciptagelar No Pemangku Adat Tahun Lokasi 1 Ki Buyut Martayuda - Guradog, Banten 2 Ki Buyut Maskara - Lebak Binong, Banten 3 Ki Buyut Ros 1381-1559 Cipatat, Bogor 4 Ki Buyut Gondok 1559-1729 Ciear, Bungkuk, Banten 5 Ki Buyut Kayon 1729-1797 Lebak Binong, Banten 6 Ki Buyut Santaiyu 1797-1832 Pasir Telaga, Pariangan 7 Kibuyut Arikin 1832-1895 Tegalumbu,Cingabeui, Banten 8 Ki Buyut A. Jasiun 1895-1937 Bojongsono, Banten Cicemet, Sukabumi 9 Aki Buyut Rusdi 1937-1960 Cikaret, Sukabumi 10 Abah Arjo 1960-1972 1972-1982 1982 Cikaret, Sukabumi Sirnarasa, Sukabumi Linggar Jati, Sukabumi 11 Abah Encup 1982-1985 1985-2001 2001-2008 Linggarjati, Sukabumi Ciptarasa, Sukabumi Ciptagelar, Sukabumi 12 Abah Ugi 2008-sekarang Ciptagelar, Sukabumi Sumber: Data primer
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x