Graphics & Design

Konsep Wasiat dalam al-Qur'an dan Hadits

Description
Konsep Wasiat dalam al-Qur'an dan Hadits
Published
of 13
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah .......................................................................................................... 2 B. Rumusan Masalah .................................................................................................................... 2 C. Tujuan Penulisan ...................................................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................................... 3 A. Surah al-Baqarah (2) : 180-182 ................................................................................................ 3 B. Surah al-Maidah (5) : 106-108 ................................................................................................. 9 BAB III PENUTUP ............................................................................................................................. 12 A. Kesimpulan .............................................................................................................................. 12 B. Kritik dan Saran ..................................................................................................................... 12 DAFTAR PUSTAKA    2 BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Masalah al- Qur’an diturunkan untuk   memberikan petunjuk kepada umat manusia di muka  bumi ini. Termasuk pula dalam hal peninggalan harta seseorang setelah kematian. Seringkali terjadi konflik ditengah masyarakat karena perebutan harta warisan. Satu dan yang lainnya saling mengklaim hak atas harta peninggalan tersebut dan menimbulkan perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa harta warisan harus dibagi sebagaimana permintaan si mayit sebelum meninggal. Adapula yang menginginkan harta tersebut dibagi sebagaimana yang telah diatur dalam syariat. Sistem wasiat sudah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat. Adanya sistem wasiat ini sebagai salah satu jalan untuk mengurangi konflik pembagian harta yang ada. Maka dari itu di dalam makalah ini, pemakalah akan memaparkan bagaimana konsep wasiat yang telah diatur dalam al- Qur’an maupun as -sunnah. Serta mengetahui apa saja makna yang terkandung di dalamnya. B.   Rumusan Masalah 1.   Bagaimana tafsir serta penjelasan surah al-Baqarah ayat 180-182 mengenai konsep wasiat? 2.   Bagaimana tafsir serta penjelasan surah al-Maidah ayat 106-108 mengenai konsep wasiat? C.   Tujuan Penulisan 1.   Untuk mengetahui tafsir serta penjelasan surah al-Baqarah ayat 180-182 mengenai konsep wasiat. 2.   Untuk mengetahui tafsir serta penjelasan surah al-Maidah ayat 106-108 mengenai konsep wasiat.  3 BAB II PEMBAHASAN  Sebelum kita membahas mengenai tafsir mengenai ayat wasiat, perlu kita ketahui terlebih dahulu pengertian wasiat tersebut. Istilah wasiat berasal dari bahasa arab yang berarti tausiyah, kata kerjanya berasaldari kata ausha, dan secara etimologi wasiat berarti pesan, nasehat, dan juga diartikan mensyari’atkan. 1 Wasiat  secara kebahasaan adalah pesan baik yang disampaikan kepada orang lain untuk dikerjakan, baik saat hidup maupun setelah kematian yang berpesan. 2   A.   Surah al-Baqarah (2) : 180-182  ِُُُ      أ       ا  ذِ ُ  ُت  ٱ  خ  ك     نِً  ٱِ   ِ  و ِ  ِِ     ٱ       فوُ     ّ    ِُٱ٨٠ “  Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut,  jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya  secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. ”   Pada ayat sebelum ayat ini dikemukakan mengenai masalah qishash yang mana  qishash ini kemudian mengakibatkan pada kematian. Maka tampak relevan apabila ayat selanjutnya kemudian membicarakan masalah wasiat bagi orang-orang yang mengetahui apabila datang tanda-tanda kematian. 3   Ayat diatas merupakan ayat tentang wasiat, dan penyebutan kata wasiat di dalam al- Qur’an terdapat dalam beberapa ayat. Di antaranya disebutkan dalam ayat ini al-Baqarah ayat 180, kemudian dalam surah an-  Nisaa’ ayat 11-12 dan dalam surah al-Maidah ayat 106. 4  Ada  pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini di naskh  bagi orang yang tidak berhak menerima warisan. Menurut ar- Rifa’i dalam ikhtisar  nya, apa yang dikemukakan tersebut bukan naskh . Sehingga ayat waris hanya menghilangkan ketentuan bagi beberapa individu yang ditentukan oleh keumuman ayat wasiat, sebab kata kerabat itu lebih universal daripada kata ahli waris 1 Sidik Tono,  Kedudukan Wasiat dalam Sistem Pembagian Harta Peninggalan, (Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm 43   2  M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah , (Tangerang: Lentera Hati, 2007), hlm. 398 3  M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah , (Tangerang: Lentera Hati, 2007), hlm. 397 4  Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi , (Jakarta:PUSTAKA AZZAM,2007), hlm. 594  4 atau bukan ahli waris. Lalu, ayat waris menghilangkan hukum wasiat kepada ahli waris. 5 Ahli ilmu yang mengatakan bahwa ayat ini mansukh,  berdasarkan kepada sabda Nabi yang  berbunyi “tidak ada wasiat untuk ahli waris”. Sebagian pula mengatakan bahwa hukumnya wajib telah dihapus dan yang berlaku adalah sunnah. Demikian yang diriwayatkan dari asy- Sya’bi, an -  Nakha’i dan Malik. Adapun pendapat bahwa ayat ini merupakan ayat muhkamah, dengan alasan walaupun ayat ini bersifat umum, namun maknanya bersifat khusus. Maksudnya wasiat ini dapat ditunjukkan kepada orangtua yang kafir atau orangtua yang statusnya sebagai budak (hamba sahaya). Sedangkan untuk kerabat adalah bagi mereka yang tidak termasuk ahli waris. 6  Menurut Abu Muslim Al-Asfahani (seorang ulama yang tidak mengakui adanya nasakh dalam ayat-ayat Alquran) dan Ibnu Jarir At-Thabari berpendapat bahwa ayat ini, tidak dinasakhkan oleh ayat-ayat mawaris dengan alasan antara lain: a.   Tidak ada pertentangan antara ayat wasiat ini dengan ayat-ayat mawaris, karena wasiat ini sifatnya pemberian dari Tuhan. Oleh karena itu, seorang ahli waris bisa mendapat bagian dari wasiat sesuai dengan ayat 180 ini, dan dari warisan sesuai dengan ketentuan ayat-ayat mawaris.  b.   Andaikata ada pertentangan antara ayat wasiat ini dengan ayat-ayat mawaris, maka dapat dikompromikan yaitu ayat-ayat wasiat ini sifatnya umum, artinya wajib wasiat kepada setiap kerabat, baik ahli waris maupun bukan, sedang ayat-ayat mawaris sifatnya khusus. Jadi kewajiban berwasiat itu seperti dalam ayat 180 tetap berlaku, sehingga tidak  bertentangan dengan ayat-ayat mawaris. Ayat mengenai wasiat ini diturunkan sebelum turunnya ayat  faraidh atau waris. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa sebelumnya wasiat itu merupakan kewajiban adalah karena melihat zhahir ayat. Maka ditentukanlah batas-batas tertentu bagi para ahli waris, dan ditetapkanlah kedua orangtua sebagai ahli waris dalam semua keadaan. Oleh karena itu tidak disiapkan untuk mereka wasiat karena tidak boleh berwasiat kepada ahli waris, 7  sebagaimana sabda Nabi SAW,  ثِرا    ِ  و     ُ   ٍ     يِذ ُ   طْ   ْ     نِ   5  Muhammad Nasib ar- Rifa’i,  Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir  , (Depok: Gema Insani, 2008) hlm. 283 6  Asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir  , (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 691 7  Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)  , hlm. 197  5 “Allah telah memberikan kepada tiap -tiap orang yang berhak akan haknya, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” 8  Ayat ini mewajibkan kepada orang-orang yang menyadari kedatangan tanda-tanda kematian agar memberi wasiat kepada keluarga serta kerabat yang ditinggalkan dengan hartanya, bila hartanya banyak. Adapun makna kata    ِُ  yang digunakan ayat diatas  bermakna wajib, karena itu banyak ulama mewajibkan wasiat, apalagi penutup ayat ini menegasakan bahwa itu adalah hak. 9  Tidak mu’annats - nya  fi’il  , yaitu kata    ِُ  yang menjadi sandaran kata  ِ  ٱ  karena adanya pemisah antara keduanya. Ada juga yang mengatakan kata  bermakna ا  (mewasiatkan,  mudzakkar  ). Diriwayatkan pula bolehnya menyandarkan kata yang tidak ada ta’nits - nya kepada mu’annats  walaupun tanpa pemisah. 10  Baris di depan sebagai naibul fa`il   dari  ِُ , dan tempat berkaitnya  ذِ  jika merupakan  zharfiyah  dan menunjukkan hukumnya jika ia  syartiyah  dan sebagai jawaban pula dari نِ  , artinya hendaklah ia berwasiat.   Para ulama sepakat bahwa makna dari kata اً  خ  (kebaikan) pada ayat ini adalah harta atau kekayaan. Walaupun setelah itu terdapat perbedaan pendapat mengenai ukuran  banyaknya harta yang menjadikannya wajib berwasiat. Ada yang berpendapat bahwa harta tersebut haruslah harta yang banyak sekali. Sebagian lagi berpendapat bahwa harta apapun,  baik sedikit maupun banyak. Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas berkata: “Kalau seseorang meninggalkan harta tujuh ratus dirham, ia tidak harus berwasiat. Tapi kalau warisannya mencapai delapan ratus dirham, ia mesti berwasiat.”  Qatadah berkata : “Batasannya adalah  seribu dirham.” 11 Ukuran harta yang dianggap terkena keharusan wasiat itu senantiasa diperselisihkan dari masa ke masa dan dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya. 12  Kata ِفوُ  ٱ   yang berarti dengan rasa kasih sayang, baik  13  dan adil. Artinya disini tidaklah kurang dan tidak pula berlebihan. 14  Pemberian wasiat itu harus adil dan tidak boleh 8  Shahih Bukhari, 5/435 9  M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah , (Tangerang: Lentera Hati, 2007) hlm. 398 10  Asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir  , (Jakarta: PUSTAKA AZZAM, 2008), hlm. 690 11  Wahbah az-Zuhaili, Tasfir al-Munir  , (Depok:Gema Insani, 2005) hlm. 369 12  Sayyid Quthb, Tafsi fi Zhilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000),hlm. 197 13  Muhammad Nasib ar- Rifa’i,  Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir  , (Depok: Gema Insani, 2008) hlm. 285 14  Asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir  , (Jakarta: PUSTAKA AZZAM, 2008), hlm. 692
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x