Crafts

PERHITUNGAN MENURUT ILMU FALAK

Description
Salah satu ruang lingkup dalam ilmu falak adalah menghitung awal waktu shalat, dimana dalam menentukan awal waktu shalat harus menggunakan ilmu falak. Hal ini dikarenakan ilmu falak merupakan sebuah ilmu yang mempelajari lintasan benda langit sebagai
Categories
Published
of 6
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  PERHITUNGAN MENURUT ILMU FALAK A.Waktu Shalat menurut Ilmu Falak atau AstronomiSalah satu ruang lingkup dalam ilmu falak adalah menghitung awal waktu shalat,dimana dalam menentukan awal waktu shalat harus menggunakan ilmu falak. Hal inidikarenakan ilmu falak merupakan sebuah ilmu yang mempelajari lintasan benda langitsebagai penentu waktu dan arah di permukaan bumi. Dalam menentukan awal waktu shalatdengan menggunakan ilmu falak berangkat dari apa yang dipahami dalam ayat dan hadis.Dalam ayat dan hadis yang menjadi dasar dalam menentukan awal waktu shalat adalahMatahari, yakni tergelincirnya Matahari, terbenamnya Matahari, panjang pendek bayang- bayang suatu benda, hilangnya mega merah dan terbitnya fajar yang biasanya dikenal dengan peristiwa rotasi dan revolusi bumi. Selanjutnya ilmu falak mengartikan posisi Mataharisebagai penanda bagi awal dan akhir waktu shalat dalam ayat dan hadis ke dalam bentuk rumus dengan menggunakan ilmu ukur bola (trigonometri bola).Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa ketentuan dalam menentukan waktu shalat berkaitan dengan posisi matahari dalam bola langit maka data astronomis yang terpentingdalam penentuan awal shalat adalah posisi matahari, terutama tinggi (irtifa' (h)), atau jarak zenith (al- bu'd as-samit (z)), z = 90° - h. Fenomena awal fajar (mornig twilight), matahariterbit (sunrise), matahari melintasi meridian (culmintion), matahari terbenam (sunset), danakhir senja (evening twilight) berkaitan dengan jarak zenith matahari.Awal waktu shalat menurut ilmu falak :1.Waktu Dhuhur Awal waktu shalat Zuhur dimulai sesaat setelah Matahari terlepas dari titik garismeridian langit setelah mencapai titik kulminasi dalam peredaran hariannya (Ismail,2013). Hisab waktu dhuhur selalu dihubungkan dengan sudut waktu matahari. Untuk awalwaktu dhuhur matahari berada pada titik meredian yang memiliki sudut waktu 0° dan padawaktu tersebut waktu menunjuk jam 12 menurut matahari hakiki. Pada saat ini waktu pertengahan belum tentu menunjukkan jam 12, melainkan kadang kurang atau bahkanlebih dari jam 12 tergantung pada nilai equation or time  (e). Karena itu, waktu pertengahan pada saat matahari di meredian langit (Meredian Pass) dirumuskan MP = 12-e. Sesaat setelah waktu inilah sebagai permulaan waktu Dhuhur menurut waktu pertengahan dan waktu ini pula lah sebagai pangkal hitungan untuk waktu-waktu shalatlainnya.2.Waktu Ashar Awal waktu salat Asar dimulai saat Matahari berada pada posisi yang menghasilkan bayang-bayang suatu benda tegak lurus di permukaan Bumidua kali panjangnya. Posisi  Matahari seperti ini diketahui dengan cara menentukan nilai jarak zenit Matahari (zm),tinggi Matahari (hₒ) dan nilai sudut waktu Matahari (tₒ) (Harun, 2008). Barang yang berdiri tegak lurus di permukaan belum tentu memiliki bayangan, ketika matahari berkulminasi atau berada di meridian. Bayangan itu terjadi manakala harga lintang tempatdan harga deklinasi matahari itu berbeda. Panjang bayangan yang terjadi pada saatmatahari berkulminasi adalah sebesar tan ZM, dimana ZM adalah jarak sudut antara zenitdan matahari ketika berkulminasi sepanjang meridian, yakni ZM = (f - d˳) (jarak antaraZenit dan matahari adalah sebesar harga muthlak Lintang dikurangi Deklinasi Matahari).Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi SAW. melakukan shalat Ashar pada saat"panjang bayang-bayang sepanjang dirinya", artinya pada saat matahari berkulminasi atasmembuat bayangan senilai 0 (tidak ada bayangan). Dan juga disebutkan saat "panjang bayang-bayang dua kali panjang dirinya". Ini terjadi ketika matahari kulminasi atasmembuat bayangan yang panjangnya sama dengan panjang dirinya, sebagaimana penjelasan di waktu Dhuhur.3.Waktu MaghribAwal waktu shalat Maghrib dimulai pada saat Matahari terbenam (  sunset  ), dalam artiseluruh piringan Matahari sempurna melewati garis ufuk mar;i ( horizon kodrat  ) (A. Jamil,2009). Waktu Maghrib dimulai sejak matahari terbenam sampai tiba waktu isya'.Dikatakan matahari terbenam apabila menurut pandangan mata piringan atas matahari bersinggungan dengan ufuk.Perhitungan tentang kedudukan maupun posisi benda-benda langit, termasuk matahari, pada mulanya adalah perhitungan kedudukan atau posisi titik pusat mataharidiukur atau dipandang dari titik pusat bumi, sehingga dalam melakukan perhitungantentang kedudukan matahari terbenam kiranya perlu memasukkan Horizontal ParallaksMatahari, Kerendahan Ufuk atau Dip, Refraksi dan Semidiameter Matahari. Hanya sajakarena parallax matahari itu terlalu kecil nilainya sekitar 0° 0' 8", sehingga parallaxmatahari sering diabaikan dalam perhitungan waktu Maghrib.hmg = - (Sd˳ + Refraksi +Dip)Atas dasar itu, kedudukan matahari atau tinggi matahari pada posisi awal waktuMaghrib dihitung dari ufuk sepanjang lingkaran vertikal (hmg) dengan rumus: Sd= 0° 16' 0"Refraksi = 0° 34' 30"Dip= 0,0293 x √tinggi tempat atau 0° 1' 46" x √ tinggi tempatPerhitungan harga tinggi matahari pada awal waktu Maghrib dengan rumus di atas sangatdianjurkan apabila untuk awal bulan. Tetapi apabila perhitungan awal waktu shalat cukupdengan hmg = -1°.4.Waktu Isya’  Awal waktu Isya dimulai pada saat gelap malam sudah sempurna yang terjadi padasaat posisi Matahari berada sekitar 18 derajat di bawah ufuk barat (A. Jamil, 2009).Begitu matahari terbenam di ufuk barat, permukaan bumi tidak otomatis langsung menjadigelap. Hal ini karena ada partikel-partikel berada di angkasa yang membiaskan sinar matahari, sehingga walaupun sinar matahari sudah tidak mengenai bumi namun masih ada bias cahaya dari partikel-partikel itu. Dalam ilmu falak dikenal dengan "Cahaya Senja"atau "Twilight".Ketika posisi matahari berada antara 0° sampai 6° di bawah ufuk benda-benda dilapangan terbuka masih tampak batas-batas bentuknya dan saat itu sebagian bintang- bintang terang saja yang baru dapat dilihat. Keadaan ini dalam astronomi dikenal dengan"Civil Twilight". Ketika matahari berada pada posisi -6° sampai -12° di bawah ufuk, benda-benda di lapangan terbuka sudah samar-samar batas bentuknya, dan pada waktu itusemua bintang terang sudah tampak. Keadaan ini dikenal dengan "Natical Twilight".Ketika posisi matahari berada antara -12° samapai -18° di bawah ufuk, bumi sudahgelap, sehingga benda-benda di lapangan terbuka sudah tidak dapat batas bentuknya, dansemua bintang, yang bersinar terang maupun bersinar lemah sudah tampak. Mulai saatitulah para astronom memulai kegiatan penelitian benda-benda langit. Keadaan ini dikenaldengan "Astronomical Twilight". Oleh karena pada posisi matahari -18° di bawah ufuk,malam sudah gelap karena telah hilang bias partikel (mega merah). Maka ditetapkan bahwa awal waktu isya' apabila tinggi matahari (his) -18°. Dan ketinggian ini dipakaiBHR Departemen Agama RI. Sementara itu terdapat ahli hisab yang menggunakanketinggian -17° dan ada juga yang menggunakan criteria -19°. Bahkan ada yang -15° dan-16°. Tentu saja ketinggian tersebut masih perlu dikoreksi lagi dengan kerendahan ufuk.5.Waktu ShubuhWaktu subuh sama keadaannya waktu isya'. Hanya saja cahaya fajar lebih kuat dari padacahaya senja. Dan disini ada beberapa pendapat mengenai posisi matahari. Tapi yangdigunakan Kemenag. RI posisi matahari -20° di bawah ufuk timur. Sehingga ditetapkantinggi matahari hsb = -20. Atau dapat dikatakan bahwa awal waktu shalat Subuh dimulai pada saat matahari berada pada posisi yang menghasilkan cahaya fajar. Cahaya ini terjadi pada saat Matahari berada disekitar 20 derajat di bawah ufuk timur (Muhyiddin, 2005). Menurut BHR-NAD (2008), terdiri atas dua penentuan waktu shalat, yaitu : a. Metode  Rukyah Metode rukyah  merupakan suatu cara dalam menentukan waktu shalat dengan berpedoman langsung kepada Matahari atau bayangan Matahari. Dalam menggunakan  metode ini tidak memerlukan rumus matematis dan data astronomis. Di Indonesia metode rukyah terlihat pada peralatan yang digunakan sebagai penentu waktu shalat seperti halnyasepertiadanya jam bencet atau miqyas, tongkat istiwa’, dan rubu’ al -mujayyab. Biladilihat dari segi alat yang digunakan, metode ini kian berkembang, tetapikeakuratan danmanfaat dari semua alat tetap sama. b. Metode  Hisab Metode hisab  merupakan suatu cara dalam menentukan waktu shalat dengan menggunakan ilmu matematik dan data astronomi dalam mengartikan posisi Matahari sebagai penanda masuk waktu shalat dan telah berakhirnya waktu shalat. Di Indonesia, metode ini terus mengalami perkembangan dalam menentukan waktu shalat untuk mencarititik kesempurnaan. Berikut tingkatan dalam perkembangan metode hisab di Indonesia.1)Tingkatan PertamaBerdasarkan BHR-NAD (2008), pada tingkatan pertama ini memiliki ciri-ciri a.Dalam proses perhitungan sudah menggunakan ilmu matematik dan data astronomi b.Dalam mencari tinggi Matahari, ketinggian tempat hanya diambil 10 meter saja dari ketinggian permukaanc.Dalam proses pengambilan data astronomis, seperti data deklinasi dan equatior of time  diambil satu kali pada pukul 12:00 untuk satu hariperhitungan waktu salat.d.Dalam perhitungan, nilai ihktiyat 1 menit ditambah sisa nilai detik, sehingga nilai ihktiyat satu menit lebih beberapa detik.e.Dalam pemberlakuan hasil perhitungan waktu salat hanyamemperhatikan beda nilai  bujur saja, tidak pada nilai lintang.2)Tingkatan KeduaPada tingkatan kedua memiliki ciri-ciri sebagai berikut :a.Dalam proses perhitungan sudah menggunakan ilmu matematik dandata astronomis. b.Dalam mencari nilai tinggi Matahari, ketinggian tempat sudahdisesuaikan dengan kondisi daratan, tetapi hanya pada waktu Magrib saja.c.Dalam proses pengambilan data astronomis, seperti data deklinasi danequatior of time diambil lima kali dalam satu hari untuk lima waktusalat, yaitu pada saat perkiraan kasar bagi awal waktu salat.d.Dalam perhitungan, nilai ihktiyat 1 menit ditambah sisa nilai detik,sehingga nilai ihktiyat satu menit lebih beberapa detik.e.Dalam pemberlakuan hasil perhitungan waktu salat hanyamemperhatikan beda nilai  bujur saja, tidak pada nilai lintang.(Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2009)3)Tingkatan KetigaCiri-ciri metode tingkatan ketiga adalah sebagai berikut :Dalam proses perhitungan sudah menggunakan ilmu matematik dandata astronomis.a.Dalam mencari nilai tinggi Matahari, ketinggian tempat sudahdisesuaikan dengan kondisi daratan untuk waktu salat Magrib, Isya danSubuh.   b.Dalam proses pengambilan data astronomis, seperti data deklinasi danequatior of time diambil satu kali pada pukul 12:00 untuk satu hariperhitungan waktu salat.c.Dalam perhitungan, nilai ihktiyat 2 menit ditambah sisa nilai detik,sehingga nilai ihktiyat dua menit lebih beberapa detik.d.Dalam pemberlakuan hasil perhitungan waktu salat hanyamemperhatikan beda nilai  bujur saja, tidak pada nilai lintang.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x