Court Filings

PUZLE-PUZLE PEMIKIRAN LIBERALIS

Description
PUZLE-PUZLE PEMIKIRAN LIBERALIS
Categories
Published
of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  PUZLE-PUZLE PEMIKIRAN LIBERALIS Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tsaqofah IslamiyyahDosen Pengampu:Ust. Muhammad Isa AnshoryOlehFADILAH AINI PROGAM DIROSAH ISLAMIYAH JURUSAN FIQIH DAN USHUL FIQIHMA’HAD ‘ALY HIDAYATURROHMANSRAGEN1441 H/2019 M   Puzzle-Puzle  Pemikiran Kaum Liberalis Inti daripada pemikiran Islam Liberal adalah Sekularisasi, yaitu memisahkan agamadalam berkehidupan. Agama hanya boleh direalisasikan di dalam masjid, selain itu makamanusia dilarang untuk menjadikan agamanya sebagai rujukan dalam menjalanikehidupan.  Narasi sekular ini diadopsi dari pendekatan sejarah Kristen pada abad pertengahankediktatoran gereja menjadikan gerakan non konservatif membuat gagasan untuk memisahkan gereja dari dunia perpolitikan. Maka trauma sejarah terhadap gereja adalahmenjadi dalang terhadap pensekuleran bagi gereja. Maka apakah logis umat Islam mengambil metode ini dalam mengatur kehidupannya, sedangkan Islam dikancah peradaban memiliki nilai berkualitas emas didalam sejarah kepemimpinannya. Kemudian selain trauma sejarah juga kemungkinan besar terdapat konspirasi besar-besaran yang diperankan oleh kaum  fremasonry  terhadapagama. Mereka ingin melibas setiap agama yang ada di dunia.Dalam doktrin sekular ala barat ini  step  awal yang mereka propagandakan adalahmengajak kita berfikir kritis dalam memandang suatu dalil apakan dalil tersebut relevansesuai dengan zaman ini atau tidak. Timbangan relevan atau tidaknya mereka menimbangdengan sebuah kemaslahatan umum yang tidak terukur. Sehingga tolak ukur dipakai atautidaknya sebuah dalil dan kemaslahatannya adalah berdasarkan kemauan mereka. Jelas hal ini sangat bertolak belakangan dengan ilmu pengetahuan Islam yangsangat terperinci dan jelas pijakan dan pondasinya. Dalam mengukur suatu kerelevananIslam tidak hanya mengedepankan akal sebagai alat saringnya. Adalah juga melibatkankonsep-konsep dasar yang telah dirumuskan oleh para ulama yang kapabel dalam bidangnya. Jika dalil tersebut mereka rasa tidak relevan versi keinginan mereka maka merekaakan mengarahkan pemikiran kita bahwa al-Qur’an adalah produk budaya sehinggaseiring dengan berkembangnya budaya dan perbedaan budaya antar bangsa maka mutlak dalil bisa berubah sesuai dengan kebudayaan. Muntaj tsaqafi (produk budaya) adalah  narasi dasar liberalis dalam memandang nash mereka memukul rata pemakaian pandangan kebudayaan pada subtansi yang dikandung oleh nash. Ketika muntajh tsaqafi tidak  goal   dikancah pemikiran maka mereka akanmembelokan dengan narasi al-Qur’an dan al-Hadits adalah kitab anti budaya. Terlepasdari narasi yang digembongkan mereka, perlu kita pahami bahwa opsi-opsi yang merekatuduhkan itu adalah bentuk ifrath  dan tafrith dalam memandang nash sehingga merekakeluar dari alur pemahaman yang diharapkan. Wahyu turun salah satunya berdasarkan pendekatan kebudayaan bukan produk budaya ataupun anti kebudayaan.Begitu juga mereka menanamkan paham Pluralis, paham yang beranggapan bahwasetiap agama itu adalah sama. Sama-sama menghendaki kebaikan bagi para pemeluknya,maka pada kesimpulannya semua agama itu adalah benar karena menghendaki kebaikan. Narasi ini jelas sangat jauh dari akal sehat beragama, karena masing-masing agamamemiliki kepercayaan tertentu. Kebaikan itu tidak disangkal bahwa keberadaanya menyebar di seluruh peradabantanpa pengecualian, akan tetapi mengumpulkan  puzzle-puzle  kebaikan yang sesuaidengan hakikat dalam Islam itu membutuhkan pemahaman yang lurus mengenai apayang dimaksud hikmah di dalam Islam itu sendiri, bukan malah mencampurkan semuakebaikan dengan tolak ukur akal tanpa menyaringnya dengan dasar-dasar yang telahditentukan.Dalam makalah ini akan disinggung sedikit dari salah satu pemikir liberalis yaitu Nur Cholis Madjid yang sering disebut Cak Nur yang ia tuangkan dalam bukunya IslamDoktrin dan Peradaban membahas kajian mereka di Yayasan Pramadina, berikutulasannya: “Pengalaman alam Paramadina itu membuktikan adanya kemungkinandiwujudkannya prinsip persaudaraan dan kemanusiaan yang benar, yang pada intinya, setelah iman sebagai landasannya, ialah paham kemajemukan atau pluralisme. Pertama,di antara sesama kaum beriman berdasarkan prinsip kenisbian ke dalam (relativismeinternal). Menurut Ibnu Taimiyah ini adalah sebuah prinsip yang agung (ashl al-azhim) yang harus dijaga dengan baik, sebagaiman yang telah diteladankan oleh Nabi s.a.w   sendiri dan para sahabat beliau (Minhaj al-Sunnah, 3;60). Kedua, diantara sesama umat manusia secara keseluruhan, paham kemajemukan itu ditegakkan berdasarkan prinsipbahwa masing-masing kelompok manusia berhak untuk bereksistensi dan menempuhhidup sesuai dengan keyakinannya. Larangan memaksakan agama, yang disebutkandengan tegas dan jelas dalam kitab suci, berkaitan dengan prinsip besar ini (lihat Qs. Al-Baqoroh 2:256 dan Yunus 10:99 beserta tafsirnya) pengalaman paramadina jugamembuktikan bahwa salah satu segi yang harus lebih diperhatikan dalam memahamikembali Islam ialah semangat kemanusiaan (hablum minannas). Hal ini sungguh telah secara luas diketahui oleh kalangan Muslim. Maka yang diperlukan ialah penegasan- penegasan dengan emnunjukan dasar-dasar dalam sumber-sumber suci (Kitab danSunnah) dan denagn emnelit kembali berbagai dukunagn historisnya (sebab akanmerupakan suatu absurditas “sebutlah begitu” jika kaum Muslimin mengabaikan sejarah ita sendiri yang nota bene merupakan perjalanan dan rangkaian pengalamanmanusia Muslim melaksanakan ajaran Islam, baik yang kelak inilai berhasil maupun yang dinilai gagal)” 1 Dari tulisan Nur Cholis Madjid di atas banyak terdapat doktrin-doktrin berbauliberal. Tulisan tersebut adalah salah satu kumpulan kajian di yayasan Paramadina yangmendukung kajian liberalis di Indonesia. Pada pernyataan Nur Cholis Madjid di atas terlihat bahwa mereka seakan sangat perduli akan sebuah persatuan. Jelas sebuah persatuan itu tentu sangat diharapkan karena berhujung dengan nilai moral yang beraturan, akan tetapi dalam penerapan persatuan ada prinsip-prinsip dasar yang tidak bisa tersentuh, seperti kenyataan bahwa umat Islamdisatukan dengan aqidah yang lurus, kelurusan dalam beraqidah memiliki konsekuensiyaitu menjaga keyakinan Islam tanpa mencampurkannya dengan ideologi yang.Dalam bukunya Nur Cholis sering menggemborgemborkan persatuan danmenggambarkan keadaan kemajemukan, toleransi antar beragama, umat harus menjadirelevan dan moderen sesuai dengan zaman dan lain sebagaianya. Apa pendapat andaterhadap gagasan tersebut setuju, mengiyakan saja atau terdapat argument yang bisamenyangkal pandangan mereka? 1 Nur Cholis Madjid, Islam Doktri dan Peradaban , hal. 14  Prinsip dan persaudaraan yang benar bukan berarti menerima secara utuh apa yangdibawa kemajemukan. Menerima tanpa menyaring apa yang baik dan buruk dengan tolak ukur agama adalah suatu kemunafikan yang nyata, karena dalam Islam ada perinsip- perinsip aqidah yang tidak boleh dilanggar. Sehingga apabila meng iya kan seluruhgagasan modern yang dibawa oleh peradaban barat tanpa mensinkronkan dengan ajaransyar’I akan sangat terlihat tidak memiliki keberprinsipan.Menerima kemajemukan bukan berarti menerima saja terwarnai oleh kemajemukantersebut. Kajian al-wala’ wal baro’ harus tetap tertanam di dalam diri umat Islam, haltersebut adalah suatu visi pertahanan mendasar bagi umat. Setiap agama memiliki taktik dalam memegang prinsipnya ataupun dalam melancarkan visi dan misinya, jika umatIslam tidak memiliki pertahanan dalam pemikirannya otomatis akan terwarnai olehstrategi yang telah disusun secara apik oleh tiap-tiap agama. Maka narasi menerimakemajemukan alih-alih akan menimbulkan perdamaian antar agama malah akanmemasukkan musuh kedalam selimut sendiri. Nurcholis menyatakan bahwa paham kemajemukan itu ditegakkan berdasarkan prinsip bahwa masing-masing kelompok manusia berhak untuk bereksistensi danmenempuh hidup sesuai dengan keinginannya. Pernyataan ini sangat sungguh jauh darirealita yang ada. Bagaiman Cak Nur bisa membuat pernyataan bahwa eksistensi kemajemukan harusdijaga sedangkan ia sendiri menumpas, menghancurkan, merusak eksistensi Islam itusendiri dan menggelorakan narasi pembaharun agar Islam yang dilatar belakangi dengan labeling kurang modern, gak relevan, terbelakang, maka dibutuhkan gerakan anti sifatfeodalisme dan radikal kemudia mengikuti narasi-narasi plural dan liberal. Apakah ituyang dimaksud memberikan eksistensi? Dengan cara me labeling   dan memvonis.Sungguh, perkataan sangat jauh dari perbuatan. Lembaran sejarah menjadi saksi bahwa kemajuan yang kini dinikmati oleh baratadalah sebagian besar warisan dari pada Islam. Umat hari ini dibutakan oleh narasi-narasikosong yang menyatakan bahwa Islam itu tidak relevan kemudian dijauhkan dari sejarahemasnya. Islam adalah agama yang akan relevan pada setiap zaman dan tugas kita
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x