Creative Writing

QIYAS; SUMBER DAN METODOLOGI HUKUM ISLAM

Description
Ketika masyarakat muslim tumbuh, muncul berbagai persoalan baru yang kebanyakan diantaranya belum pernah ada status hukumnya. Para ulama dan fuqaha mencoba memecahkan persoalan ini dengan menggunakan analogi deduktif dari al-Qur'an dan Sunnah.
Published
of 17
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  1 BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Ketika masyarakat muslim tumbuh, muncul berbagai persoalan baru yang kebanyakan diantaranya belum pernah ada status hukumnya. Para ulama dan fuqaha mencoba memecahkan persoalan ini dengan menggunakan analogi deduktif dari al- Qur’an dan Sunnah. A nalogi deduktif ini disebut dengan qiyas. Pada prinsipnya, qiyas memberi pemahaman kepada para ulama bahwa dua kasus yang berbeda dapat dipecahkan dengan mengacu pada aturan yang sama. Qiyas merupakan metode istinbat   (menggali) hukum yang populer di kalangan mazhab Syafi’i. dalam urutannya, mazhab Syafi’i menempatkan qiyas berada di urutan keempat setelah al- Qur’an, hadits, dan ijma’. Imam Syafi’i sebagai pelopor mujtahid yang menggunakan qiyas sebagai satu -satunya jalan untuk menggali hukum, mengatakan bahwa yang dinamakan ijtihad adalah qiyas. Beliau mengatakan bahwa “ijtihad” dan “qiyas” merupakan dua kata yang memiliki makna yang sama. Artinya, dengan cara qiyas, berarti para mujtahid telah mengembalikan ketentuan hukum sesuai dengan sumbernya: al- Qur’an dan hadits secara eksplisit, kad ang juga bersifat tersirat secara implisit. Hukum Islam adakalanya harus digali melalui kejelian memahami makna dan kandungan nash, yang demikian itu dapat diperoleh melalui pendekatan qiyas. Dasar pemikiran qiyas itu ialah adanya kaitan yang erat antara hukum dengan sebab. Hampir dalam setiap hukum di luar bidang ibadah, dapat diketahui alasan-rasional ditetapkan hukum itu oleh Allah. Alasan hukum yang rasional itu oleh ulama disebut “illat”. Di samping itu dikenal pula konsep mumatsalah, yaitu kesamaan atau kemiripan antara dua hal yang diciptakan Allah. Bila dua hal itu sama dalam sifatnya, tentu sama pula dalam hukum yang menjadi akibat dari sifat tersebut. Meskipun Allah SWT hanya menetapkan hukum terhadap satu dari dua hal yang bersamaan itu,  2 tentu hukum yang sama berlaku pula pada hal yang satu lagi, meskipun Allah dalam hal itu tidak menyebutkan hukumnya. B.   Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut. 1.   Bagaimana Pengertian dan Kehujjahan Qiyas? 2.   Bagaimana Rukun-Rukun Qiyas? 3.   Bagaimana Perbedaan antara ‘  Illah, Sabab, dan  Hikmah ? 4.   Bagaimana Cara Menetukan ‘Illah ? 5.   Bagaimana Tingkatan-Tingkatan Qiyas? C.   Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1.   Untuk Mengetahui Pengertian dan Kehujjahan Qiyas. 2.   Untuk Mengetahui Rukun-Rukun Qiyas. 3.   Untuk Mengetahui Perbedaan antara ‘Illah, Sabab, dan  Hikmah.  4.   Untuk Mengetahui Cara Menentukan ‘Illah . 5.   Untuk Mengetahui Tingkatan-Tingkatan Qiyas.  3 BAB II PEMBAHASAN A.   Pengertian dan Kehujjahan Qiyas Dilihat dari segi kebahasaan, kata qiyas  berarti  ا          (pengukuran);  ا    و  ة  (penyaman/analogi), yakni mengetahui ukuran sesuatu dengan menisbatkannya kepada orang lain 1  ataupun pengukuran sesuatu dengan yang lainnya atau penyamaan sesuatu dengan sejenisnya. 2   Imam Syafi’i mendefinisikan qiyas sebagai upaya pencarian (ketetapan hukum) dengan berdasarkan dalil-dalil terhadap sesuatu yang pernah diinformasikan dalam al- Qur’an dan Hadits. 3  Meng-qiyas-kan, berarti mengira-ngirakan atau menyamakan sesuatu terhadap sesuatu yang lain. Sedangkan secara terminologis, menurut ulama usul fikih, qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan ‘illat hukum. 4  Menurut Ibnu as-Subki, qiyas ialah: menyamakan hukum sesuatu dengan hukum sesuatu yang lain karena adan  ya kesamaan ‘illah hu kum menurut mujtahid yang menyamakan hukumnya.  Menurut al-Amidi, qiyas ialah: keserupaan antara cabang dan asal  pada ‘illah hukum asal menurut pandangan mujtahid dari segi kemestian terdapatnya hukum (asal) tersebut pada cabang.  Sedangkan menurut Wahbah az-Zuhaili, qiyas ialah: menghubungkan suatu masalah yang tidak terdapat nash syara’ tentang hukumanya dengan suatu masalah yang terdapat nash hukumnya, karena adanya persekutuan keduanya dari segi ‘illah hukum. 5  Qiyas berarti mempertemukan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan hal lain yang ada nash hukumnya karena ada persamaan ‘illat hukum. Dengan demikian, qiyas merupakan penerapan hukum 1  Amiruddin dan Fathurrohman, Pengantar Ilmu FIqh  (Bandung: Refrika Aditama, 2016), hlm. 54. 2   Rahmat Syafi’i,  Ilmu Ushul Fiqh (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 86. 3  Ahmad Nahrawi Abdussalam Al Indunisi,  Enseklopedi Imam Syafi’i (Jakarta Selatan: PT Mizan Publika, 2008), hlm. 342. 4   Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, terj. Saefullah Ma’shum dkk., ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), hlm. 336. 5   Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fiqh (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 161-162.  4 analogis terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan ‘illat akan melahirkan hukum yang sama pula. Oleh karenanya, sebagaimana yang diungkapkan Abu Zahrah, asas qiyas adalah menghubungkan dua masalah secara analogis berdasarkan persamaan sebab dan sifat yang membentuknya. Apabila pendekatan analogis itu menemukan titik persamaan antara sebab-sebab dan sifat-sifat antara dua masalah tersebut, maka konsekuensinya harus sama pula hukum yang ditetapkan. 6  Qiyas merupakan salah satu metode istinbat yang dapat dipertanggungjawabkan karena ia melalui penalaran yang disandarkan kepada nash. Ada beberapa ayat al- Qur’an yang dijadikan landasan bagi berlakunya qiyas di dalam menggali hukum, di antaranya: ⧫⧫❑⧫◆❑➔❑➔◆⧫❑▪◆ ⬧⧫◆⬧◼⬧ ◼❑▪◆ ⧫❑⬧➔❑◆◆⬧◆ ⬧   “Hai orang  -orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan  Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”   (Q.S An-  Nisa’ (4): 59)   Abdul Wahab Khallaf menyebutkan alasan pengambilan dalil ayat di atas sebagai dalil qiyas, yakni bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan dan dipertentangkan di antara mereka kepada Allah dan Rasulullah jika mereka tidak menemukan hukumnya dalam al- Qur’an maupun Sunnah. Sedangkan mengembalikan dan merujukkan permasalahan kepada Allah dan Rasul adalah mencakup semua cara dalam mengembalikan permasalahan itu. Artinya, bahwa menyamakan peristiwa yang tidak memiliki nash dengan peristiwa yang sudah ada nashnya 6   Ahmad Masfuful Fuad, “Qiyas Sebagai Salah Satu Metode Istinbat Al - Hukm”  Mazahib, 1 (Juni, 2016), hlm. 44.  5 dikarenakan adanya kesamaan ‘illat, maka hal tersebut termasuk kategori “mengembalikan permasalahan kepada Allah dan Rasul -  Nya” sebagaimana dalam kandungan ayat di atas. 7  Begitu juga dalam hadits yang mengambarkan dialog antara Rasulullah SAW dan Mu’az bin Jabal, menurut jumhur ulama, merupakan bukti bahwa Rasulullah SAW mengakui keberadaan qiyas sebagai salah satu dalil menetapkan hukum Islam. ذ      ب            ص    ح            ٍس         عاًذ               ن     دا  ر            ل      ر  ن       ج               م     ن     : ل   .   ب       ى        : ل   ٌء      ك     ض    عا  ذ           ف     : ل        ا    ا      : ل   .   ل      ر       : ل     ب     : ل      ب         و    ل      ر               م     ن   ل      ر  ل      ر  ق    و  ي    ا          : ل    و  ه  ر        ل      ر  ب       .   آ  و  ئ  ا  ر        ج       ل      ر            .)   دو دب ه ور  (  “Diriwayatkan dari penduduk homs, sahabat Muadz ibn Jabal, bahwa Rasulullah saw. Ketika bermaksud untuk mengutus Muadz ke Yaman, beliau bertanya: apabila dihadapkan kepadamu satu kasus hukum, bagaimana kamu memutuskannya?, Muadz menjawab:, Saya akan memutuskan berdasarkan Al- Qur’an. Nabi bertanya lagi:, Jika kasus itu tidak kamu temukan dalam Al- Qur’an?, Muadz menjawab:,Saya akan memutuskannya berdasarkan Sunnah  Rasulullah. Lebih lanjut Nabi bertanya:, Jika kasusnya tidak terdapat dalam Sunnah Rasul dan Al- Qur’an?,Muadz menjawab:, Saya akan berijtihad dengan seksama. Kemudian Rasulullah menepuk-nepuk dada Muadz dengan tangan beliau, seraya berkata:, Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan  Rasulullah terhadap jalan yang diridloi-  Nya.” (HR.Abu Dawud). B.   Rukun-Rukun Qiyas Rukun adalah unsur-unsur pokok yang harus terpenuhi demi keabsahan atau kesempurnaan suatu hal, dengan kata lain rukun adalah elemen urgen yang dengannya suatu perkara menjadi sempurna. Dalam segala hal, rukun merupakan elemen terpenting karena rukun memegang peranan sebagai penentu sah atau tidaknya, legal atau tidaknya sesuatu. Termasuk dalam hal ini, qiyas juga memiliki rukun-rukun yang harus 7   Ibid, hlm. 45.
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x