Calendars

TEKNIK PEMBELAJARAN KOLABORATIF UNTUK MEMANDIRIKAN CALON JAMAAH HAJI PADA KELOMPOK BIMBINGAN HAJI MASJID ISTIQAMAH UNGGARAN

Description
This quantitative research is intended as part of alternative solution for the Hajj at Masjid Istiqomah Ungaran in 2013. The research is focused on the technique on how to make the Hajj tobe self-reliance. Observation and interview are the technique
Categories
Published
of 23
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
  45 Vol. 8, No. 1, Juni 2013  TEKNIK PEMBELAJARAN KOLABORATIF UNTUK MEMANDIRIKAN CALON JAMAAH HAJIPADA KELOMPOK BIMBINGAN HAJI MASJID ISTIQAMAH UNGGARAN Muh Saerozi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga Saerozi2010@yahoo.com   Abstract  This quantitative research is intended as part of alternative solution for the Hajj at Masjid Istiqomah Ungaran in 2013. The research is focused on the technique on how to make the Hajj tobe self-reliance. Observation and interview are the technique on collecting the data through inductive approach. The finding shows (1) being self-reliance for the Hajj on reli- gious activities and travel are not individual but collective; (2) improving one self-reliance not only require one but also collaborative teaching technique. (3)this collaborative technique will be effective when there is a support from the participant with different educational background and the organizer who knows the participant as an adult. Keyword: Guidance, Manasik Haji, Teaching Technique, self-reliance, Adult.  Abstrak  Penelitian kualitatif ini diharapkan menjadi alternatif solusi atas problem kemandirian calon jamaah haji. Subyek penelitian adalah Kelompok Bimbingan Manasik Haji Mesjid Istiqomah Ungaran tahun 2013. Pene- litian difokuskan pada teknik pembelajaran untuk memandirikan calon  jamaah haji. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan pendekatan induktif. Dari  proses tersebut diketahui bahwa (1) kemandirian calon haji dalam aspek ibadah dan perjalanan tidak selalu bersifat individual, tetapi juga bersifat kolektif.(2) Pengembangan satu kompetensi kemandirian tidak cukup hanya dengan satu teknik pembelajaran, tetapi diperlukan kolaborasi.(3) Teknik pembelajaran kolaboratif tersebut bisa efektif, sebab didukung   46INFERENSI, Jurnal Penelitian Sosial KeagamaanMuh Saerozi oleh peserta didik yang beragam latar belakang pendidikan, profesi, dan kecakapan keagamaan. Didukung pula oleh penyelenggara yang memahami kondisi peserta didik sebagai orang dewasa. Kata kunci: Bimbingan, Manasik Haji, Teknik pembelajaran, Keman-dirian, Orang dewasa. Pendahuluan  Bimbingan manasik haji merupakan amanat Undang-Undang Re-publik Indonesia Nomor 13 tahun 2008. Kegiatan bimbingan meru-pakan bagian dari unsur pembinaan terhadap jamaah haji. Penye-lenggara bimbingan manasik dalam praktiknya adalah Kantor Urusan Agama (KUA). Namun mayoritas bimbingan manasik KUA kurangmemuaskan peserta (Imam Syaukani (Ed.), 2009:52-53). Bimbinganmanasik juga belum berhasil memandirikan jamaah haji dalamibadah maupun proses perjalanannya. Di sisi lain, kemandirianjamaah sangat urgen untuk kelancaran, kenyamanan, dan kekhusu-kan ibadah (Slamet Riyanto dalam Budiman (ed.), 2010:181).Kemandirian jamaah memperoleh perhatian khusus dalam pasal18 Keputusan Menteri Agama Nomor 396 Tahun 2003.DirektoratHaji pada tahun 2010 juga menjadikan kemandirian jamaah sebagaiarah pembinaan haji (Slamet Riyanto, dalam Budiman (ed.),2010:97). Atas dasar problem kemandirian tersebut, maka Kementerian Agama mendorong KUA agar melibatkan Ormas Islam, PondokPesantren, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), dan ulamasetempat. Masyarakat secara perorangan atau kelompok juga diberipeluang untuk menyelenggarakan bimbingan manasik haji (SlametRiyanto, dalam Budiman (ed.), 2010:97, 181). Yayasan Istiqomah sebagai lembaga swasta di Ungaranmerespon peluang tersebut. Jawaban strategis yang dilakukan adalahmenyelenggarakan bimbingan manasik haji bekerjasama denganIPHI Kecamatan Ungaran. Penyelenggaraan bimbingan manasik diMesjid Istiqomah ini menarik untuk diteliti. Ada beberapa faktor yang dapat disebutkan di sini. Pertama  , usia kelompok bimbingantermasuk “tua” di Kab. Semarang. Berdiri sejak tahun 2003. Kedua  ,  47 Vol. 8, No. 1, Juni 2013: 45-67Teknik Pembelajaran Kolaboratif untuk Memandirikan Calon Jamaah Haji... jumlah peserta bimbingan stabil setiap tahun.Antara 100-150 orang. Ketiga  , peserta dan tutor memiliki latar belakang paham keislaman yang beragam. Keempat  ,  peserta memiliki tingkat pendidikan danprofesi yang beragam pula. Kelima  , peserta memiliki kemampuan‘ Arabiyah   yang beragam. Ada yang sudah mahir, tetapi ada yangtidak bisa sama sekali.Selain faktor-faktor tersebut, ada faktor keenam  , jamaahdinilai mampu mandiri dan toleran terhadap perbedaan pendapat.Penilaian semacam ini sudah umum didengar dari para alumnibimbingan, para petugas haji, dan beberapa pejabat Kementerian Agama serta Pemerintah Daerah.Pertanyaan pokok yang ingin diketahui dari penelitian iniadalah bagaimanakah sifat kemandirian peserta bimbingan? teknikpembelajaran apa saja yang diterapkan untuk kemandirian calonhaji? Bagaimana teknik-teknik tersebut dipraktikkan dalam kegiatanpembelajarannya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebuttentu tidak bisa dilepaskan dari ulasan sekilas tentang tutor, materibimbingan manasik, karakteristik peserta, dan metode-metode pem-belajaran. Faktor-faktor tersebut saling terkait (Abdul Majid,2013:232). Bimbingan dan Kompetensi Kemandirian  Masyarakat luas meskipun belum tahu persis arti bimbingan, tetapimereka sudah familiar dengan istilah “bimbingan manasik haji”(Dirjen penyelenggaraan Haji dan Umrah, 2001:11). Istilah bimbi-ngan berasal dari kata “bimbing” yang berarti juga pimpin, asuh,tuntun (Tim redaksi Kamus Besar bahasa Indonesia, 2007:152).Bimbingan cenderung pada usaha sadar dan terencana untuk me-nuntun orang supaya dapat bersikap, berpengatahuan, dan ber-keterampilan sesuai pedoman tertentu (Uyoh Sa’dullah, 2011:8).Untuk mewujudkan tujuan itu, maka sekurang-kurangnyaada tiga kompetensi yang perlu dimiliki calon haji.yaitu:1.Sikap, pengetahuan dan keterampilan tentang keimigrasian pergihaji. Ada peraturan perundang-undangan dan urgensi dokumen-dokumen, seperti prosedur-prosedur, dokumen paspor, vaksinmeningitis, gelang haji, dan alat tukar.  48INFERENSI, Jurnal Penelitian Sosial KeagamaanMuh Saerozi 2.Sikap, pengetahuan, dan keterampilan tentang manajemen per-jalanan ibadah haji. Dalam manajemen perjalanan itu me-nyangkut pula aspek perlengkapan material, perlengkapan finan-sial, dan prosedur-prosedur penerbangan. Manajemen perjalananjuga akan berpengaruh pada keabsahan dan keutamaan ibadah.3.Sikap, pengetahuan, dan keterampilan tentang prosesi ibadahhaji. Ada syarat, wajib, rukun, dan sunnah haji. Ada aspek hati,ucapan, dan perbuatan ibadah. Ada aspek fiqih dan tasawuf dalam ibadah.4.Sikap, pengetahuan, dan keterampilan tentang kesehatan. Adaaspek aspek fisik dalam diri jamaah haji, tetapi juga psikis.Kesehatan ini terkait erat dengan keutamaan ibadah.5.Sikap, pengetahuan, dan keterampilan tentang “setia kawan”.Kompetensi ini penting untuk setiap calon haji supaya mampurukun dan kompak. Supaya mereka mampu pula untuk menjagadiri dari  jidal   dan  fusuk  .6.Sikap, pengetahuan, dan keterampilan tentang budaya dan iklimnegara tujuan. Kompetensi ini berguna untuk menumbuhkansikap dan perilaku yang tepat selama berada di negara tujuan.  Teknik Pembelajaran  Peserta Didik Dewasa  Bimbingan manasik haji dalam perspektif Undang-undangtermasuk dalam kategori pendidikan informal (Tim Redaksi WacanaIntelektual, 2006:56, 62). Mereka yang hadir mengikuti bimbingandisebut sebagai peserta didik pendidikan informal. (Tim RedaksiSinar Grafika. 2013:6). Tidak ada batasan usia untuk menjadi pesertadidik jalur informal, sehingga calon haji dengan usia yang beragambisa masuk di dalamnya. Ragam usia jamaah haji bisa dibaca daridata Kementerian Agama tahun 2010. Jumlah calon haji 189.358orang.Mereka yang berusia antara 1 sampai 40 tahun berjumlah35.795 orang (18, 9%).Selebihnya berusia antara 41 sampai dengan90 tahun ke atas (Direktorat Jenderal Penyelenggraan Haji danUmrah, 2010:49).  49 Vol. 8, No. 1, Juni 2013: 45-67Teknik Pembelajaran Kolaboratif untuk Memandirikan Calon Jamaah Haji... Usia 40-90 tersebut menurut Hj. Samsu Numiyati Mar’at(2010:234-244) dimasukkan dalam dua kategori, yaitu kategoripertengahan masa dewasa (40 tahun sampai 65 tahun) dan masadewasa lanjut (65 tahun sampai wafat). Dalam perspektif psikologi,ada perubahan-perubahan spesifik dalam usia tersebut, seperti fisik,sensori, kognitif, memori, psikososial.Belajar bagi orang dewasa lebih mengarah pada pemantapankemampuan dan keterampilan dasar yang pernah diperoleh sejakmasa kanak-kanak. Ini berbeda dengan belajar masa anak-anakdan remaja yang cenderung untuk mengoleksi informasi (AnisahBasleman dan Syansu Mappa, 2011:16). Menurut pannen, dalamH. Suprijanto (2007:11) pendidikan bagi orang dewasa berlangsungdalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah,sedangkan pendidikan untuk anak-anak berlangsung dalam bentukidentifikasi dan peniruan.Menyimak pada perbedaan psikologistersebut, maka pendekatan pembelajaran yang tepat untuk merekajuga berbeda. Orang dewasa menggunakan pendekatan andragogi,sedangkan untuk anak-anak menggunakan pendekatan pedagogi. Macam-Macam Teknik Pembelajaran  Teknik pembelajaran berbeda dengan metode pembelajarandan pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran adalah“cara yang dilakukan untuk menyelesaikan persoalan pembelajaransecara menyeluruh” (Suwarna, dkk., 2005:101). Adapun teknik pem-belajaran adalah siasat yang dilakukan oleh guru dalam meng-implementasikan metode pembelajaran. (2013:233).Di antara teknik pembelajaran tersebut adalah sebagaiberikut:a.Teknik bertanya, yaitu siasat yang tepat bagi pendidik untukmengajukan petanyaan kepada peserta didik. Pertanyaan harusefektif untuk suatu tujuan pembelajaran.b.Teknik memberi penguatan ( reinforcement  ), yaitu siasat yangtepat bagi pendidik untuk memberikan penguatan kepadapeserta didik supaya perhatian mereka bertambah intensif.c.Teknik menjelaskan, yaitu siasat yang tepat bagi pendidik untukmerefleksi segala informasi yang dimilikinya kepada peserta
Search
Similar documents
View more...
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x