Short Stories

Potensi Batuan Induk Cek Banggai

Description
Potensi Batuan Induk Cek Banggai
Categories
Published
of 12
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  MINDAGI Vol. 2 No.1 Juli 2011 29 PPOOTTEENNSSII BBAATTUUAANN IINNDDUUK K  DDII CCEEK K UUNNGGAANN BBAANNGGGGAAII,, SSUULLAAWWEESSII TTEENNGGAAHH  oleh :   Arista Muhartanto dan Taat Purwanto *)   *)  Dosen Tetap, Prodi T. Geologi Fakultas Teknologi Kebumian & Energi, Usakti Gedung D, Lt. 2, Jl. Kyai Tapa No.1, Grogol, Jakarta 11440   Abstrak Cekungan Banggai/Tomori tergolong unik. Cekungan Banggai/Tomori diketahui memiliki kandungan hidrokarbon, tetapi uniknya, di cekungan di sebelahnya, seperti P.Seram, Buton, dan sebagainya, itu tidak ada. hal itu disebabkan Cekungan Banggai yang merupakan bagian dari mintakat ( microcontinent  ) Banggai-Sula, yang diinterpretasikan sebagai fragmen dari  Australian Continent  . Banggai-Sula Mikrokontinen merupakan bagian dari benua Australia Utara-  New Guinea . Selama zaman Mesozoik Lempengmikro Banggai-Sula terpisah dan bergerak ke arah barat Lempeng Asia. Periode ekstensional ini dicirikan dengan sebuah fase transgresi klastika Yurasik dari daratan ke laut dangkal yang berada di atas anoxic shale laut dalam. Secara utama proses sedimentasi  passive margin  terjadi dalam Cretaceous   hingga Tersier selama pergerakannya ke arah barat. Tumbukan dari Banggai-Sula dengan Lempeng Asia terjadi dari Miosen Tengah hingga Pliosen dan dihasilkan dalam kerak samudra Asia, Sulawesi ophiolite  , sedangkan ditekan menuju timur pada Lempeng mikro Banggai-Sula. Episode compressive   merupakan hal yang mengakibatkan terjadinya struktur sesar yang muncul di paparan Taliabu. Sedimen molasses   pada periode Pliosen dan Pleistosen, mengalami progradasi ke arah timur mengisi area cekungan hingga ke bagian barat P. Peleng. Studi stratigrafi yang berkaitan dengan  petroleum system , diketahui yang memiliki potensi sebagai batuan induk, yakni serpih Formasi Tomori dan Formasi Matindok, sedangkan batuan reservoar adalah Formasi Tomori ( lower  platform limestone unit  ), Formasi Minahaki ( upper platform limestone unit  ), dan Anggota Mantawa. Pembentukan minyak dan gas bumi telah terjadi di Sub-Cekungan Banggai/Tomori ( Senoro-Toili dan  Matindok  Blocks  ), dimana yang bertindak sebagai batuan induk adalah Formasi Tomori dan Matindok, diantaranya keduanya hanya Formasi Tomori yang mengandung material organik yang cukup kaya (di Sumur Geo TOC rata-rata 10,01%), demikian pula nilai PY yang menunjukkan istimewa, mengindikasikan memiliki potensi dalam menghasilkan hidrokarbon, tetapi berdasarkan tingkat kematangannya menunjukkan kondisi belum matang/ immature   hingga awal matang/ early mature   (R  o  : 0,25%   0,43% dan T max  sebesar 429 - 435   C) , tetapi apabila  batuan induk Formasi Tomori memungkinkan mencapai kematangan yang optimum, maka akan dapat memproduksikan campuran minyak dan gas. Sumur Mantawa-1, Minahaki-1, Matindok-2 yang menunjukkan keberadaan rembesan gas, Dongkala-1 yang menunjukkan keberadaan rembesan minyak dan gas, dan penemuan akumulasi minyak di lapangan Tiaka, menunjukkan bahwa hidrokarbon telah berkembang dari batuan induk yang matang dan telah bermigrasi ke perangkap yang ada. Hasil output   pemodelan cekungan menunjukkan bahwa pembentukan minyak oil windows   telah terjadi di daerah dalaman ( low area ) yang mencapai kematangan pada tahap pembentukan kondensat dan gas basah atau condensate dan wet gas, selanjutnya hidrokarbon yang telah terbentuk mengalami proses migrasi primer dan sekunder dari daerah dalaman (sebagai kitchen area yang merupakan   lokasi terdapatnya  source rocks)  bergerak menuju tempat yang  bertekanan rendah mengisi daerah-daerah tinggian (perangkap) yang merupakan tempat terakumulasinya kondensat dan gas basah yang salah satunya terdapat di sumur Geo . di Sub-Cekungan Banggai/Tomori ( Senoro-Toili dan   Matindok Blocks  ). PENDAHULUAN Krisis bahan bakar minyak yang melanda dunia akibat dari tingginya harga minyak dunia dan menipisnya cadangan minyak bumi memaksa seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia untuk mengambil langkah dalam mengatasi hal tersebut, dan upaya yang telah dilakukan Indonesia diantaranya upaya eksplorasi melalui pencaharian lapangan minyak dan gas bumi baru, serta pengembangan sumur-sumur lama. Banggai yang terletak di timur Sulawesi, selatan Laut Maluku, ialah daerah yang sudah lama dikenal sebagai salah satu batas aktif paling rumit dalam geologi. Cekungan Banggai/Tomori secara historikal, dan potensi hidrokarbon (minyak dan gas bumi) yang terkandung di sana dan masih  belum tergali secara maksimal. Cekungan Banggai/Tomori tergolong unik. Cekungan Banggai/Tomori diketahui memiliki kandungan hidrokarbon, tetapi uniknya, di cekungan di sebelahnya, seperti P.Seram, Buton, dan sebagai-nya, itu tidak ada. hal itu disebabkan Cekungan Banggai yang merupakan bagian dari mintakat ( microcontinent  ) Banggai-Sula, yang diinterpretasi-kan sebagai fragmen dari  Australian Continent  . Regional tektonik Cekungan Banggai dibentuk dari hasil tumbukan, selang Miosen, antara mintakat benua Banggai-Sula dan Lempeng Asia. Tumbukan tersebut menghasilkan lipatan, patahan, dan obduksi dari salah satu massa terbesar ophiolit di dunia, yang dikenal sebagai  PPootteennssii BBaattuuaann IInndduuk k  CCeek k uunnggaann BBaannggggaaii,, SSuullaawweessii TTeennggaahh Arista Muhartanto dan Taat Purwanto 30  East Sulawesi Ophiolite Belt  . Kegiatan tektonik tersebut mempengaruhi penampang urutan stratigrafi dari Cekungan Banggai/Tomori (Senoro-Toili dan Matindok  Blocks)  . Hidrokarbon yang telah dihasilkan di Cekungan Banggai/Tomori berasal batuan induk telah matang secara temperatur dan telah  bermigrasi ke jebakan yang tepat. Ketersedian  batuan induk, batuan waduk, perangkap dan  batuan penutup semuanya hadir sebagai prasyarat terbentuknya hidrokarbon dalam suatu runtunan Miosen, pada waktu Neogen, yang diikuti pula oleh adanya panas akibat bekerjanya proses struktur geologi, maka dapat terakumulasilah hidrokarbon. Gambar 1. Lokasi penelitian yang terletak di Cekungan Banggai/Tomori Geologi Regional   Kerangka Tektonik Lempengmikro Banggai Sula merupakan  bagian dari lempeng benua Australia-  New Guinea  yang terlepas selama zaman Mesozoik akhir. Hal ini didukung dengan adanya kesamaan dalam stratigrafi Pra-Kapur yang menindih di atas basement Paleozoic granitic   dan metamorphic  . Selama periode Miosen hingga Pliosen, lempengmikro tersebut bertubrukan dengan lempeng Asia menghasilkan obduction  ke arah timur dari ophiolite   di sebelah timurlaut Sulawesi. Banggai-Sula Mikrokontinen merupakan  bagian dari benua Australia Utara-  New Guinea . Selama zaman Mesozoik Lempengmikro Banggai-Sula terpisah dan bergerak ke arah barat Lempeng Asia. Periode ekstensional ini dicirikan dengan sebuah fase transgresi klastika Yurasik dari daratan ke laut dangkal yang berada di atas anoxic shale laut dalam. Secara utama proses sedimentasi  passive margin  terjadi dalam Cretaceous   hingga Tersier selama pergerakannya ke arah barat. Tumbukan dari Banggai-Sula dengan Lempeng Asia terjadi dari Miosen Tengah hingga Pliosen dan dihasilkan dalam kerak samudra Asia, Sulawesi ophiolite  , sedangkan ditekan menuju timur pada Lempeng mikro Banggai-Sula. Episode compressive   merupakan hal yang mengakibatkan terjadinya struktur sesar yang muncul di paparan Taliabu. Mengikuti aktivitas pensesaran dan pengangkatan dari Sulawesi timur, ke arah timur dihubungkan dengan pengendapan molasses   yang dimulai pada Pliosen Awal. Sedimen molasses   pada periode Pliosen dan Pleistosen, mengalami progradasi ke arah timur mengisi area cekungan hingga ke bagian barat P. Peleng. Di bagian utara Banggai-Sula mikrokontinen merupakan batasan dengan lempeng laut Maluku. Sedimen yang terdeformasi menunjukan bukti obduksi menuju north-dipping   bagian Mesozoik hingga Tersier. Sequence   yang terdeformasi mungkin menjadi bagian yang tersusun atas sedimen imbrikasi dari batuan asal Banggai-Sula tetapi lebih menyerupai sebuah mélange tektonik yang menutupi laut Maluku. Jauh ke utara diketahui kandungan sedimen yang berasosiasi dengan batuan ultrabasa dan batuan vulkanik. Di tempat lain, sesar normal periode Pliosen akhir hingga Pleistosen diakibatkan bagian dari gaya tekanan kompresi awal, dihasilkan dari  subsidence   pada Selat Peleng. Kompleks tumbukan/ terusan sabuk diinterpretasikan terbentuk sebagai suatu hasil dari proses tumbukan, yang terjadi selama kala Miosen, dari Lempengmikro Kontinen Banggai-Sula dan sebuah busur vulkanik Tersier, yang membentuk daerah yang dikenal sebagai Sulawesi Tengah pada saat ini. Proses tumbukan menghasilkan lipatan yang mempengaruhi daerah disekitarnya, penunjaman dan imbrikasi dari sedimenter, dan juga pada obduksi dari salah satu massa ophiolit terbesar di dunia, yakni Sabuk Ophiolit Sulawesi bagian timur (gambar 2). Gambar 2. Kerangka Perkembangan Tektonik Mikro-kontinen Banggai-Sula ( op.cit BATM  Report  , 2011) Stratigrafi Mikrokontinen Banggai-Sula berisi urutan stratigrafi menarik berumur Paleozoikum hingga Kuarter. Formasi tertua termasuk metamorfosis diterobos oleh granit  Permo-Triassic   dan ditindih oleh batuan vulkanik berkomposisi asam. Kompleks batuan dasar secara tidak selaras ditutupi oleh batuan klasik laut dangkal Formasi Kabauw yang berumur Yura awal dan Formasi  MINDAGI Vol. 2 No.1 Juli 2011 31 Bobong. Serpih hitam restricted marine   dan  batulempung Formasi Buya yang berumur Yura akhir hingga Kapur awal menindih selaras di atasnya. Di Kepulauan Taliabu dan Mangole, Formasi Buya ditutupi oleh karbonat laut dalam Formasi Tanamu yang berumur Kapur. Di lokasi lain, batugamping  platform  Formasi Salodik dan Pancoran yang berumur Eosen dan Miosen menindih selaras pada formasi yang lebih tua (gambar 3). Gambar 3. Stratigrafi Regional Cekungan Banggai ( op.cit BATM, 2011) Pembahasan studi stratigrafi yang berkaitan dengan  petroleum system  yang diketahui memiliki potensi sebagai batuan induk seperti serpih Formasi Tomori dan Formasi Matindok, sedangkan batuan reservoar adalah Formasi Tomori ( lower platform limestone unit  ), Formasi Minahaki ( upper platform limestone unit  ), dan Anggota Mantawa. METODOLOGI Studi ini lebih menggunakan metodologi penelitian yang didasarkan kepada studi pustaka dan penggunaan data sekunder, berupa data geokimia, meliputi: TOC, pirolisis Rock-Eval (S 1 , S 2 dan T max ) dan kematangan (R  o ), serta membuat pemodelan cekungan ( basin modelling  ). HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan parameter cekungan yang benar akan sangat berpengaruh dalam pengerjaan pemodelan, khususnya pada pemodelan termal,  juga untuk menentukan kapan kematangan suatu  batuan induk terjadi, dan kapan mulai terben-tuknya hidrokarbon, serta proses migrasinya. Data-data yang diperlukan sebelum dilakukannya pengerjaan pemodelan cekungan pada sumur Geo, yakni analisis geokimia. Hasil Analisis Laboratorium Berdasarkan pengamatan data hasil laboratorium geokimia sumur Geo yang meliputi analisis TOC, pirolisis Rock-Eval (S 1  , S 2 dan T max ) dan kematangan (R  o ) yang meliputi 30 sampel. Analisis Geokimia Berdasarkan data runtunan stratigrafi regional diyakini bahwa formasi batuan di Cekungan Banggai/Tomori ( Senoro-Toili dan  Matindok Blocks) yang memiliki potensi sebagai batuan induk adalah Formasi Matindok dan Tomiri, sehingga pembahasan selanjutnya dalam analisis geokimia dititikberatkan hanya terhadap kedua formasi tersebut. Litologi pada formasi-formasi tersebut terdiri dari serpih yang banyak mengandung material organik dan bersifat batubaraan atau coally  , serta kadang terdapat sisipan tipis batubara. Kedua formasi tersebut secara stratigrafi menem-pati bagian bawah di Cekungan Banggai/ Tomori ( Senoro-Toili dan Matindok Blocks  ) yang berumur Miosen Awal hingga Tengah. Karakteristik Batuan Induk dan Evaluasi Kematangan Sejumlah sampel dan  sidewall cores   (SWC) dianalisis total organik karbon (TOC) untuk evaluasi geokimia petroleum pada interval kedalaman 700 hingga 11075  feet   TD. Hasil analisis kekayaan material organik yang diplot terhadap kedalaman ditunjukkan pada gambar 4. Kandungan TOC dari sampel yang dianalisis umumnya menunjukkan kisaran dari miskin hingga cukup (  poor to fair  ), kecuali 3 (tiga) sampel yang terdapat pada kedalaman 7510  feet  , 7828  feet  , dan 7838  feet   yang memiliki nilai TOC 69,68%; 11,78% dan 62.25% yang memperlihatkan adanya kandungan batubara ( coal  ). Pada sumur Geo dijumpai adanya suatu sesar naik besar ( a   major thrust fault  ) antara kedalaman 7870  feet  . Sesar tersebut menyebabkan adanya pengulangan unit litologi di atas kedalaman 7870  feet  . Formasi Matindok Litologi formasi ini terdiri dari perselingan serpih, batupasir dan sisipan batubara yang terdapat pada interval 7120 - 7300  feet   dan 9820  - 9970  feet  , umumnya memiliki kekayaan material organik yang didominasi dengan kuantitas yang cukup (0,68 ≤ TOC   0,89%).  PPootteennssii BBaattuuaann IInndduuk k  CCeek k uunnggaann BBaannggggaaii,, SSuullaawweessii TTeennggaahh Arista Muhartanto dan Taat Purwanto 32 Gambar 4. Analisis Geokimia Potensi Batuan Induk Sumur Geo    MINDAGI Vol. 2 No.1 Juli 2011 33 Gambar 5. Analisis Geokimia Potensi Batuan Induk Sumur Geo (lanjutan)  
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks