Graphics & Design

ANALISIS STRUKTUR DAN MAKNA ONOMATOPE DALAM KOMIK BARU KLINTING KARYA SAPRIANDY (Analysis of Structure and Onomatope Meaning in the Baru Klinting Comics by Sapriandy)

Description
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan makna onomatope yang terdapat dalam komik Baru Klinting karya Sapriandy. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah
Published
of 12
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  MAKNA DAN KETERKAITAN ANTARMANTRA DALAM UPACARA SIRAMAN AIR SEDUDO MASYARAKAT NGANJUK (  Meaning and Interruption of Gatra in the Certificate of Sedudo Water Ceremony Community Work    ) Oleh/  By   Hendri Wahyu Widodo Ucik Susilowati Seplian Nungki Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang, East Java, Indonesia 65144 Telepon 082244597036; email ucik.susilowati97@gmail.com  *) Diterima: 22 Mei 2018, Disetujui: 4 Juni 2018 ABSTRAK   Penelitian ini membahas tentang makna dan keterkaitan antarmantra Siraman Air Sedudo untuk mengetahui makna yang terkandung dalam mantra tersebut bagi kehidupan masyarakat Nganjuk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode  pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung kepada narasumber yang mengetahui tentang teks mantra siraman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) makna mantra Siraman Air Sedudo memiliki arti dalam dan kuat; 2) keterkaitan antarmantra satu dan lainya saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan; 3) mantra Siraman Air Sedudo tetap berkembang dan dijaga hingga saat ini, meskipun perkembangan zaman terus berlangsung. Mantra Siraman Air Sedudo memiliki tiga mantra, seperti 1)  Pangkur Singgah-Singgah , 2)  Dhandhanggula Rahayu , dan 3) Wirangrong  . Ketiga mantra yang digunakan memiliki keterkaitan antara satu dan lainnya. Ketiga mantra itu mengenai hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta hidup, mati, rezeki, dan kemujuran masyarakat. Mantra Siraman Air Sedudo digunakan untuk menjaga keselamatan warga Nganjuk dari hal yang buruk dan mendapatkan hal-hal yang  baik. Kata kunci : makna, mantra, Siraman Air Sedudo  ,  keterkaitan mantra    ABSTRACT This study aims to discuss the meaning and interrelationship Mantra Siraman Air Sedudo. The meaning and interrelationship between spells to know the meaning contained in the mantra for the life of Nganjuk people. This research uses qualitative method, to know the meaning and relevance of water sprinkle Sedudo mantra. Data collection techniques used in knowing the Mantras Air Sedudo text is by observing or visiting direct informants who know about the spell text. The analytic method used qualitatively in text form. The results of this study show that 1) The meaning of the Siraman Air Sedudo has a deep and strong meaning. 2) The interrelationship between the  spells of one another are interconnected and inseparable. 3) Mantra Siraman Air Sedudo  112 continues to grow and be maintained until today, although the development of the times continues. Mantra Siraman Air Sedudo has three mantras such as: 1) Pangkur Singgah-Singgah, 2) Dhandhanggula Rahayu, and   3) Wirangrong . The three mantras used are related to one another. The above three spells concerning human relationships with the Creator and the life, death, sustenance, and luck of society. Air Sedudo spell is used to keep the citizens of Nganjuk from bad things and get good things. Keywords : mean, mantra siraman Air Sedudo, mantra interconnection PENDAHULUAN Puisi lisan merupakan bagian dari seni yang ada di dalam masyarakat. Puisi lisan biasanya banyak digunakan dalam upacara tradisional. Sastra lisan dalam kehidupan masyarakat bisa digunakan sebagai cerminan atau identitas dari kebudayaan yang ada di masyarakatya. Atmazaki (dalam Amin, 2013: 138) menyatakan bahwa sastra lisan memiliki berbagai fungsi. Fungsi yang bisa digunakan dalam sastra lisan adalah untuk mengekspresikan gejolak jiwa dan renungannya tentang kehidupan. Emosi cinta dalam puisi diungkapkan dalam penggambaran binatang buas yang dihadang. Mantra-mantra tersebut disebut dengan puisi lisan. Widodo (2013: 36) menyatakan  bahwa mantra itu tersusun atas konstruksi kata dan kalimat yang dipercaya memiliki daya magis bagi  pembaca (perapal) atau pengamal mantra. Mantra secara leksikal,  berarti pembacaan bunyi atau kata sebagai sarana ritual yang memiliki daya magis. Keberadaan mantra di masyarakat tergantung pada tingkat kepercayaannya. Kepercayaan yang dimaksudkan adalah yang berasal dari  jiwa sehingga berpengaruh pada kehidupan dan alam sekitarnya. Ritual   Siraman Air Sedudo   merupakan sebuah tradisi yang ada di kota Nganjuk, Jawa Timur, di daerah lereng Gunung Wilis. Air yang mengalir deras di daerah itu dipercaya masyarakat sekitar mengandung  banyak khasiat untuk kesehatan dan keberuntungan. Ritual   Siraman Air Sedudo merupakan bagian dari kebudayaan yang mengandumg norma tatanan nilai bagi masyarakatnya (Ayuningtyas, 2014: 34). Ritual yang dilakukan untuk menyambut 1 Sura dilakukan sebelum mandi bersama di bawah guyuran air terjun Sedudo, yang dipercaya membuat tubuh awet muda oleh masyarakat sekitar. Namun, sebelum melakukan beberapa ritual siraman menurut informan, Bapak Wijanarko, sesepuh yang berhak mengucapkan mantra dalam ritual siraman adalah Mbah Pik’i yang memiliki kemampuan spiritual sebagai juru kunci. Ada tiga mantra yang saling  berkaitan dalam ritual tersebut, yaitu Wirangrong, Dhandhanggula  Rahayu, Pangkur Singgah-Singgah . Berbagai macam bunga 7 rupa ditebarkan ke air terjun kemudian sesaji berupa makanan lengkap dengan lauk pauknya ditaburkan (larung) ke tengah sungai aliran air terjun. Tujuh gadis dan tujuh perjaka  pun melaksanakan upacara dengan melakukan beberapa hal, seperti turun ke dalam air terjun untuk mengambil air dan berdoa meminta izin kepada Sang Pencipta. Ada beberapa larangan yang harus dihindari dalam pelaksanaan  113 upacara, yaitu tidak boleh memakai  baju warna hijau dan putih polos serta  bunga mawar dalam upacaranya. Dalam ritual juga disebutkan bahwa wanita yang sedang datang bulan tidak bisa ikut serta dalam ritual tersebut karena ritual yang dilakukan harus benar-benar suci. Pelaksanaan siraman dilakukan setiap bulan Sura dalam kalender Jawa, tepatnya tanggal 1. Masyarakat masih percaya jika air terjun Sedudo memiliki kekuatan supranatural sehingga mereka melontarkan doa keselamatan dan kesejahteraan untuk kota Nganjuk. Begitu tingginya kepercayaan masyarakat terhadap khasiat air terjun Sedudo sehingga mereka rela membawa air itu pulang. Mereka percaya bahwa melalui upacara tersebut mereka akan mendapatkan kelancaran rezeki, awet muda, dan terhindar dari segala  bencana (Rohmah, 2015: 12). Siraman Air Sedudo memiliki tiga mantra yang masing-masing memiliki arti dalam sebuah ritual. Tiga mantra yang disampaikan oleh  juru kunci mempunyai arti yang  berbeda-beda, tetapi saling berkaitan. Mantra Wirangrong   memiliki makna ketidakamanan, mantra  Dhandhanggula  Rahayu  memiliki arti suka cita menuju kemenangan yang tenteram, dan terakhir mantra  Pangkur Singgah-Singgah  yang memiliki arti  berhenti. Ketiga mantra tersebut memiliki tujuan memohon berkat dari  Nabi Muhammad SAW untuk mengambil air. Masyarakat juga mempercayai bahwa siraman tersebut memiliki kekuatan yang tidak bisa dinalar oleh kebanyakan orang. Kekuatan yang dimaksudkan dapat memberikan dampak kemakmuran  bagi masyarakat Nganjuk. Penelitian ini membahas mengenai makna yang terkandung dalam mantra ritual Siraman Air Sedudo   dan keterkaitan antarmantra dalam ritual Siraman Air Sedudo    bagi kehidupan masyarakat Nganjuk. Kajian penelitian mengenai Siraman Air Sedudo   terdahulu belum mengkaji teks yang disampaikan. Peneliti terdahulu lebih menitikberatkan pada proses dan ritualnya, serta lebih menfokuskan tanaman yang dipakai dalam upacara. Penelitian ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui makna dan keterkaitan antarmakna di dalam mantra Siraman Air Sedudo . Selain itu, penelitian ini juga berfungsi untuk melestarikan budaya lokal masyarakat  Nganjuk agar budaya lokal tetap hidup dan terus dilestarikan. Winarsih (2010: 4) mengungkapkan bahwa kebudayaaan tidak hanya diteruskan melalui garis tegak lurus bawah (anak cucu dan seterusnya), tetapi juga melalui garis mendatar, yaitu kepada orang-orang lain di sekitar kita. Tradisi yang dimiliki masyarakat  bertujuan membuat hidup manusia lebih kaya budaya dan nilai-nilai sejarah. Selain itu, tradisi juga akan menciptakan kehidupan yang harmonis. Oleh sebab itu, di setiap tradisi pasti mengandung nilai-nilai kehidupan yang patut dan dapat dijadikan pelajaran dengan syarat manusia berlaku saling menghargai, saling menghormati, dan menjalankan tradisi dengan baik dan benar sesuai aturan yang berlaku dan tidak menyembah ke hal-hal buruk. Penelitian ini menggunakan  pisau analisis semiotik, khususnya semiotik puisi yang dikemukakan oleh Riffaterre. Riffaterre (Suryanata,  114 2010: 16) menyatakan bahwa kesatuan tekstual sebuah puisi merupakan struktur yang sering kali terdiri atas satuan yang beroperasi secara berpasangan dan mengandaikan adanya hubungan kesejajaran yang memiliki makna sepadan. Teori semiotik puisi menggungkapkan makna implisit yang ada di dalamnya. Semiotik atau semiotika merupakan ilmu yang mempelajari mengenai pemberian tanda atau  petanda (Wicaksono, 2018: 156; Hoed, 2001: 197; Pradopo dalam Diana, 2016: 118). Tanda dalam sebuah semiotik memiliki hubungan antara manusia dan lingkungan serta manusia dengan manusia lainnya. Morris (Parera, 2017: 41) mengungkapkan bahwa semiotik adalah suatu sistem yang  berhubungan dengan isyarat bahasa. Dalam hal ini tidak hanya isyarat  bahasa saja melainkan juga  berhubungan dengan isyarat-isyarat nonbahasa dalam komunikasi antarmanusia. Secara tidak langsung teori yang mereka ungkapkan tidak  jauh berbeda, yaitu tanda dapat  berupa isyarat yang digunakan untuk  berkomunikasi antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Teori semiotik puisi Riffaterre didasari oleh bagaimana cara mengekspresikan diri secara tidak langsung. Pemaknaan terhadap puisi tidak hanya melibatkan kompetensi linguistik membaca, tetapi juga melibatkan kompetensi kesusastraan  pembaca (Riffaterre dalam Lontawa, 2017: 8). Maksud dari melibatkan kompetensi linguistik dan kesusastraan pembaca adalah  pembaca dapat memahami maksud  puisi tersebut. Dalam hal ini puisi terkadang menggunakan bahasa yang sulit dimengerti. Untuk itu, pembaca harus memahami maksud implisit sebuah puisi. Bahasa puisi bersifat semiotik atau membangun sebuah makna. Bahasa puisi dapat dipahami oleh  pembacanya apabila pembaca tersebut memahami konvensi bahasa. Tidak hanya itu, pembaca juga harus memahami isi makna yang terdapat  pada puisi tersebut. Pemahaman terhadap puisi itu diibaratkan donat. Apa yang hadir secara tekstual adalah daging donat itu, sedangkan yang tidak hadir adalah ruang kosong  berbentuk bundar yang ada di tengahnya dan sekaligus yang menopang dan membentuk daging donat menjadi donat (Riffaterre dalam Faruk, 1996: 25). Maksud dari  pernyataan itu adalah sebuah puisi yang terstruktur dan dirangkai sebagai sesuatu yang berkelompok atau satu kesatuan. Diartikan juga sebagai suatu makna yang berbeda-beda, namun dapat disatukan kesejajaran maknanya. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam semiotik puisi, yaitu 1) ketidaklangsungan ekspresi  puisi. Ketidaklangsungan ekspresi  puisi terjadi karena adanya pergeseran makna, penyimpangan makna; 2)  pembacaan heuristik dan pembacaan retroaktif, yaitu tahapan melihat dan membandingkan; 3) matriks atau kata kunci, berupa pemaparan kata-kata dalam hal ini tidak pernah muncul di dalam teks; dan 4) hipogram yang  berupa keadaan masyarakat dan  peristiwa dalam sejarah atau alam (Riffaterre dalam Pradopo, 1995: 78). Empat hal tersebut dapat diterapkan ke dalam penjabaran makna mantra Siraman Air Sedudo.  115 Semiotik puisi sangat tepat digunakan untuk mengkaji mantra Siraman Air Sedudo   karena teori tersebut dapat membantu menjelaskan tanda-tanda yang ada di dalam mantra Siraman Air Sedudo. Mantra ini dapat dianalisis melalui struktur, konvensi, kata kunci, serta makna yang sebenarnya. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena data yang diteliti adalah kalimat-kalimat bukan angka-angka. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang jelas dan faktual mengenai makna serta relevansi yang ada di dalam teks mantra Siraman Air Sedudo . Sumber data yang digunakan  berupa teks mantra yang diperoleh dari informan pembaca mantra dan  pegawai dinas pariwisata yang  bekerja di kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Nganjuk. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengetahui teks mantra Siraman Air Sedudo adalah melalui observasi langsung dari narasumber yang mengetahui teks mantra siraman. Wawancara menjadi metode selanjutnya yang digunakan dalam pengumpulan data. Instrumen daftar petanyaan terstruktur diajukan kepada informan agar memperoleh informasi yang diinginkan. Pengecekan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi dilakukan untuk mengecek keabsahan data. Dalam hal ini data tidak hanya diperoleh dari satu sumber rujukan saja. Teknik triangulasi adalah cara yang digunakan untuk menentukan apakah data tersebut benar-benar sudah mencangkup penggunaan informasi yang ada (Bachri, 2010: 57). Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis isi. Metode ini dilakukan dengan cara mencari teks mantra beserta arti yang terkandung di dalamnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna yang Terkandung dalam Mantra Ritual Siraman Air Sedudo Ritual Siraman Air Sedudo memiliki tiga mantra, yaitu  Pangkur Singgah-Singgah, Dhandhanggula Rahayu , dan Wirangrong  . Ketiga mantra itu memiliki makna yang berbeda-beda. Berikut ini deskripsi makna masing-masing mantra.  Pangkur Singgah-Singgah  Pangkur Singgah-Singgah  adalah mantra yang digunakan pertama kali dalam ritual. Makna tersirat dari mantra  Pangkur Singgah-Singgah  adalah berhenti sejenak. Berhenti dimaksudkan sebagai makna untuk merenungkan dan menghentikan hal-hal buruk. Berikut teks mantra  Pangkur Singgah-Singgah . Tabel 1 Teks dan Terjemahan Mantra  Pangkur  Singgah-Singgah Mantra Terjemahan Singgah-singgah kala  singgah   Tan suminggah  Durgakala sumingkir    Sing asirah sing asuku   Sing atan kasat mata   Sing atenggak sing awulu sing abahu    Kabeh pada Menyingkirlah wahai segala hal yang jahat Tidakkah kalian mau menyingkar,  padahal dewa kejahatan kalian yaitu Betari Durga dan Betara Kala
Search
Similar documents
View more...
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x