Pets & Animals

Arena Tertutup part 1 selamat datang

Description
Arena Tertutup (coverfieldland) Marilah kita melangkah pelan-pelan, untuk mereka yang masih sanggup membaca sampai sejauh ini maka saya ucapkan selamat datang. Vidi Vici Lavida Preambule Ini adalah tulisan tentang perspektif saya, suatu ringkasan
Categories
Published
of 35
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
   Arena Tertutup (coverfieldland) Marilah kita melangkah pelan-pelan, untuk mereka yang masih sanggupmembaca sampai sejauh ini maka saya ucapkan selamat datang.Vidi Vici Lavida  Preambule Ini adalah tulisan tentang perspektif saya, suatu ringkasan opini (self opinion), dandiakhir saya berpuisi sastra. saya tidak berkompeten untuk mengatakan ini suatuartikel mudah dimengerti untuk dibaca. mungkin banyak orang yang tidak mengerti dengan bahasa tulisan ini. bila ada istilah-istilah baru dalam tulisan iniyang membuat para pembaca ingin tahu. Dimohon kebijakannya untuk mencaritahu. karena saya tahu internet menyediakan seperti halnya, etimologi, verbal,istilah-istilah ataupun referensi. dan misalnya, bertanya benar ga sih? akarnyadarimana pemikiran siapakah hal itu? Ada semacam intrupsi argumentasi yangmengganggu pemikiran para pembaca, ya mungkin ini tulisan sampah diary saya.Katakan saja seperti itu, saya adalah mahasiswa Teknik geologi unpak bogor yangingin berbagi arena tertutup ini (coverfieldland). Tulisan ini seperti labirin dan paradox, karena saya menulis lepas seperti mengawan diatas awan. luas makna,luas penafsiran untuk para pembaca. dan tidak berkelanjutan yang dikemas dalam bentuk artikel, ringkasan. tentunya tulisan ini ada, karena rasa ingin tahu saya yangtinggi sehingga bermuculan energi baru kedalam arena perspektif dan pemikiransaya. Kemudian saya tuliskan disini karena seperti Bahasa ucapan akan mudahdilupakan tetapi tulisan akan abadi (verba volant scriptamanent). Semoga energiyang saya tulis disini bisa sedikit dinikmati, saya tidak berharap lebih dari hal ituterimakasih salam saya maulana yusuf yuliansyah.  Verba Volant Scriptamanent Aforisme PART 1 (Vidi Vici Lavida) Conundrum (teka-teki) Manusia dilahirkan dengan kebingungan diparu-paru sebelah kanannya dan paradox disebelahkirinya. Setiap kali mereka bernafas, kebingungan dan paradox itu akan menyebar keseluruhtubuhnya, pikirannya, jiwanya, dan menuntun mereka kelabirin yang tak berujung. Didalamlabirin yang memang tidak memiliki pintu keluar itu manusia terjebak selamanya lantas mati danmembusuk. ditengah proses tersebut itu lah saya kemudian menyadari soal keterbatasan yangsaya, para pembaca, dan 7 milyar kepala lainnya. Rasa ingin tahu dan wawasan manusia tidak terbatas, namun kapasitasnya jelas terbatas. Jika manusia dihukum karena memakan buahterlarang di firdaus, saya pikir ini adalah salah satu hukuman yang paling menyiksa. Anda terus-menerus bertanya, menggugat, tidak puas, namun tubuh dan pikiran Anda sengaja didesain untuk hanya dapat menyimpan sedikit sekali informasi. Pada suatu titik di dalam petualangan Andadalam bertanya Anda akan terbentur batasan yang begitu tegas dan nyata dan di luar batas itu,kegelapan dan kehampaan yang hanya ada. Putus asa, itu sudah yang akan Anda rasakan. Dan pada titik ini lah, kualitas manusia akan dibedakan. Antara mereka yang kemudian berhentiuntuk berjalan tertunduk kembali atau memaksa diri melewati batasan yang ada. Saya diajarkandan dibesarkan di lingkungan yang melecehkan batasan dan terus menggoda diri sendiri untuk melaju walau tertatih walau terseok-seok. Namun jika Anda berpikir saya menjadi pribadi yangngoyo dan keras kepala untuk melewati batasan dan terus-menerus mengalahkan diri sendiri dan pencapaian orang lain, Anda salah besar. Saya sudah dan sedang belajar untuk mencukupi dirisendiri dengan segala yang saya punya. Tentu lah ini terdengar klise, namun menjalaninya tidak semudah itu. Saya harus terus mengipasi diri dengan pseudo-motivasi dan terus-menerusmenutup mata dan telinga untuk tidak peduli dengan pencapaian-pencapaian yang orang lainlakukan di sekitar saya. Pada suatu waktu, saya tentu saja sedikit khawatir dengan cara ini karenasewaktu-waktu saya bisa kehilangan empati dan menjadi nihilis garis keras. Hingga sayamencoba berkelit dan bersahabat dengan segala batasan yang ada. Bahwa batasan ada bukan lahuntuk dilewati melainkan dilampaui. Pelampauan, ah, saya suka dengan kata itu karena ianirmana. Ia tidak memiliki nuansa fisik yang ajeg melainkan gagasan abstrak dan setiap nodesdarinya adalah gagasan dan berada dalam alam pikiran atau pemikiran. Dengan melampaui,maka batasan yang ada berubah dimensi dan makna sama sekali, ia tidak lagi hadir untuk  berbenturan dengan kemampuan, melainkan menjadi pijakan. Ia tidak lagi mengatur danmengarahkan pergerakan melainkan terlibat didalamnya. Dalam kondisi itu tentu saja tidak adalagi saling mengalahkan dan tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya. Sebab saya mulaimerasa lelah dengan semua upaya untuk membangun pemikiran bahwa saya lebih baik dari yanglain. Entah, saya hingga kini belum mendapat logika dan apa yang mendasari pemikiran bahwa“saya lebih baik dari orang lain”. Beberapa, mendaku agama, yang lain ilmu, sementara ada yangmendasarkannya pada kemampuan praktis. Namun bagi mereka yang pergi melampauinya,  segalanya hanyalah kefanaan belaka. Ah, beruntungnya saya tumbuh dan dipupuki semangat ke-Gonzaga-an dan kekolesean, bahwa nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, dan kebebasan yang bertanggungjawab sangat kontekstual dengan segala keruwetan yang tengah saya hadapi ini.nilai-nilai tersebut membawa penghayatan akan kebersamaan, bukan keinginan kompetisi dansaling mengalahkan dan membawa kepada ketenangan, sesuatu yang dimiliki oleh setiapmanusia di dalam dirinya namun tak henti manusia itu mencarinya hingga lupa kalo iasebenarnya sudah memilikinya. Ah manusia memang aneh. Melamun tapi berarti. Melamun tapi berarti seperti lagu geologi yang saya sering nyanyikan ketika Pendidikan dasar  pada masa itu. Tapi yang akan saya lamunkan itu Jika diam adalah emas, maka mencintai dalamdiam adalah kesempurnaan jiwa. Bukan hanya sekedar kausalitas yang koheren didalam kajianterhadap premis diatas. Tentu makna yang sesungguhnya tak mungkin ditangkap dengan teknik hermeneutik biasa. Terlalu terbiasa sehingga tidak biasa tapi tahukan Anda bahwa intro laguYYZnya Rush dibuat menggunakan ritme morse yang bererti Y, Y, dan Z Atau kode yang munculdi album X & Y Coldplay adalah sandi yang dipakai militer inggris yang terbaca X & Y  . Lihat begitu banyak ‘penanda’ yang tak koheren dengan ‘yang ditandainya’. Saya tidak bermaksudmembahas semiotika ala de Saussure disini, hanya mau menampilkan bahwa tak semua simbolitu reprsentatif. Dunia kita tak analog, nilai-nilainya tidak linier. Maka, dunia tidak pernah bicaralewat simbol. Namun karenanya, ia dianggap diam. Dalam teori komunikasi terjadi keributanantara mana yang lebih baik, tulisan atau lisan? Alam kita tak mau pusing akan keduanya. Jikakeduanya masih menggonakan simbol, maka jelas ia tidak akan menggunakan keduanya. Ia tidak  perlu kata atau simbol dalam memberi tahu makna atau maksudnya. Maka ia hanya diam. Makamencintailah dalam diam . Anda pernah mendengar lirik lagu Aura Kasih? “bila kau benar-benar sayang padaku, kalau benar-benar cinta sudah tutup saja mulutmu, jangan bilang siapa-siapa”Seperti itulah kira-kira. Dalam diam kita akan terlepas dari kerangkeng simbol. Simbol menguras banyak sekali energi dalam interpretasinya. Menurut Anda seberapa mudah coding? Dalam proses interpretasipun, sang interpretator tak mungkin luput dari kesalahan. Sekali lagi, degradasimakna dan nilai. Jika diam adalah emas, maka mencintai dalam diam adalah perak dankesempurnaan jiwa Emas (ougon) merupakan jiwa dunia, sementara perak melambangkankemurnian jiwa. Esensi dunia dilambangkan dengan emas, sehingga ia dianggap logam paling berharga. Kilaunya merupakan pertanda keberhargaan, kemakmuran, dan supremasi.Sementara perak? Kilau tanpa warnanya melambangkan kemurnian jiwa. Kemilaunya akan memantulkan bayangan bagi siapapun yang memandangnya dengan apa adanya, tanpa warna tambahan, hanyarefleksi. Seperti cinta.Maka mencintailah dalam diam. Pernahkah Anda mendengar tentang partikel Higgs Boson? Partikel yang kemudian dianggap menjadi salah satu kunci untuk melengkapi standart model dalam fisika kuantum dan karenanya dapat menjawab salah satu pertanyaan paling fundamental dalam fisika, apa yang memberi masa pada suatu materi? Tak  jauh berbeda dengan tekanan? Konsep masa menjadi sebuah common sense yang overdogmatic.Tak pernah ada yang berpikir bagaimana suatu benda dapat memiliki masa dan darimana masaitu berasal. Fisika SMA mengajarkan kita tentang massa namun selayaknya ilmu fisika, ia tidak menjelaskan apa itu masa, ia hanya menjelaskan bagaimana masa bertingkah laku. Pertanyaan  lantas muncul ketika ada suatu fenomena menarik. Tahukah Anda bahwa foton itu dianggap tak  bermasa? Lantas ia mendapat momentum dan energinya semata-mata karena efek relativistik.Dari sana, orang-orang lalu mulai mempertanyakan konsep masa. Bagaimana model dan persamaan matematisnya akan membuat mata Anda terpuntir ke belakang. Cabang ilmu fisika partikel dapat saya anggap sebagai avant-garde dalam ilmu fisika teori, saking njelimetnya. Laluapa pentingnya tahu hal ini? Hidup itu seperti foton. Tak bermasa dan hanya eksis ketika ia bergerak. Semakin ia cepat bergerak, maka energinya akan semakin besar dan nyata. Tidak hanyaitu, Tuhan pun hanya eksis dalam proses menjadinya (becoming bukan being). Itulah pentingnyamembuat pergerakan dalam hidup. Seperti pula kata Einstein, bahwa menjalani hidup sepertinaik sepeda, Anda akan jatuh kalau berhenti. cukup melamunnya, saatnya review kuliah. Estetika Rasional Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi dalam mempelajari hal baru dan merupakantantangan terbesar yang harus dihadapi adalah masalah kemampuan bahasa dan komunikasi ataukemampuan mengabstraksi sesuatu. Detilnya lagi, adalah kemampuan memahami danmenginternalisasi istilah-istilah baru. Seringkali, dalam banyak kasus, untuk memahami konsepsecara utuh karena terpentok pada suatu istilah. Misalnya Dalam kajian geomorfologi, setiap pengamatan dituntut harus dapat mengidentifikasi dan membedakan sesuatu berdasarkan bentukannya. Bentuk cembung, lingkaran, cekung, datar, miring, kotak dansebagainya menjadi dasar utama untuk membedakan dan mengklasifikasi berbagai fenomena berupa bentukan di permukaan bumi. Sebab itu, pengamat harus mengenali dan memberi namaserta istilah berbagai macam bentukan tersebut dan mereka bisa beranak pinak sedemikian banyaknya. Suatu bentuk cekungan bisa menjadi doline, uvala, polje, gorge. Suatu doline, berdasarkan bentuknya lagi bisa berupa cockpit atau poligonal. Padahal, selain an sich dari bentukannya, suatu fenomena geomorfologi juga diklasifikasikan berdasarkan prosesterbentuknya. Doline tadi, jika dilihat dari prosesnya bisa beranak pinak menjadi subsidencedoline, collapsed doline, atau solution doline. Sampai pada titik ini, kita bisa membayangkan berapa banyak istilah yang harus dijejalkan ke dalam satu kepala hanya lewat geomorfologi saja.Tak jauh berbeda, dalam ilmu sosial, kita juga harus berhadapan dengan berbagai macam istilahyang kadangkala bikin macet. Wabil khusus dalam rumpun keilmuan sosial, kita berhadapandengan sesuatu yang nyaris tidak empiris. Maka sebagai tantangan baru, selain kemampuanidentifikasi, kita perlu kecerdasan abstrak yang membuat kita mampu merasakan suatu fenomenadan membedakannya dari fenomena lain. Terma-terma khusus dalam keilmuan sosial seperti,sebagai contoh dalam konteks marxis sepeti struktur, basis, komoditas, atau nilai menjadi contohsebab, dalam konteks atau paradigma lain, istilah tersebut akan merujuk kepada sesuatu yanglain. Memusingkan? Jelas. Mengapa ini semua penting? Sebab salah satu syarat yang menjaditulang punggung dalam keilmuan adalah obyektifitasnya. Setiap subjek atau manusia di dalamarena ilmiah diharapkan (atau diharuskan) dapat melakukan pemahaman dan penyangkalanterhadap suatu konsep. Demikian sehingga, diperlukan kesepakatan bersama dalam suatufenomena agar kemudian fenomena tersebut dapat dikonstruksi atau didekonstruksi oleh berbagai individu. Dalam hal ini kita menyerahkannya ke dalam bahasa. Apa contohnya? Untuk dapat melakukan kritik terhadap suatu sistem pemerintahan kita harus tahu terlebih dahulu   bagaimana pemerintahan sebagai suatu fenomena ber’ada’. Ada berbagai macam atribut dan ciri-ciri yang menempel dalam sistem pemerintahan tersebut. Gabungan dari berbagai atribut tersebutyang kemudian dikelompokan dan melahirkan entitas tersendiri. Ketika entitas tersebut lahir, kitaakan dapat mengkajinya. Sebagai gambaran, atribut demokrasi seperti rakyat, pemilihan umum,dan dewan akan bertentangan dengan atribut-atribut di teokrasi seperti tuhan, keturunan, dan petinggi agama. Bilamana kemudian kita sampai pada kajian ilmiah seperti pertanyaan: manayang lebih cocok diterapkan di dalam iklim sosial-budaya Indonesia? Kita sudah separo jalansebab sudah memahami atribut ciri dan karenanya akan dapat dikontekstualisasi ke dalam duniariil. Selain tentu saja muatan kepraktisan. Perlu diperhatikan juga bahwa dalam menciptakansuatu terma atau entitas baru, diperlukan dasar-dasar. Dalam konteks geomorfologi dan geologi,suatu istilah baru dapat diciptakan berdasarkan pertimbangan: bentuk, proses, material/bahan danukuran/skala. Bentuk dan proses yang sama namun memiliki perbedaan ukuran yang “mencolok”dapat diklasifikasikan secara berbeda. Contoh teranyar adalah masuknya istilah Tiankeng untuk merujuk pada doline yang sangat besar. Bentuk cembung di permukaan, dengan ukuran dan bentuk yang sama namun berbeda proses juga dapat diklasifikasikan berbeda. Ini akanmemudahkan Anda apabila pada suatu kelas filsafat ada yang mempermasalahkan “kenapa inimeja dan kenapa itu bukan meja?”. Tak perlu mundur terlalu jauh untuk masuk ke diferensiasiforma, idea, dan substansi ala Plato dan Aristoteles, cukup lah dijelaskan berdasarkan pertimbangan di atas atau sergah dia mengenai apa pentingnya mempertanyakan hal tersebutkarena pada akhirnya ia hanya membuat proses berpikir filsafati menjadi tidak relevan. Begitulah bahwa bahasa adalah jembatan utama antara apa yang ada di dalam idea kita dengan fenomenayang ada di dunia. Masih ada banyak sekali entitas-entitas yang tidak terjembatani baik fenomena yang ada dengan istilah maupun apa yang ada di pemikiran kita dengan fenomenayang ada di dunia ini. Tak perlu risau, pelan-pelan saja melangkah Itu satu hal, ini hal yanglainnya. Selain pemahaman abstrak atau kesulitan memhami istilah baru, yang menjadikelemahan berikutnya adalah kurangnya apresiasi. Ini kita sudah mafhum, sedari kecil secarasadar atau tidak kemampuan apresiasi kita terhadap dunia sudah dibelenggu dan dihimpit. Kitatidak pernah diajarkan betapa indah dan menyenangkannya dunia ilmu pengetahuan yangsebenarnya. Salah satu faktornya jumlah mata pelajaran kesenian yang sangat terbatas dan itu pun diisi oleh materi dan kegiatan kreasi, bukan apresasi. Saya membayangkan bahwa mestinyadalam setiap pelajaran kesenian kita diberikan satu karya untuk kemudian diapresiasi bersama bukan Cuma diisi kegiatan melukis dan membuat prakarya. Hal tersebut saya pikir berujung padaimpotensi teman-teman kita menangkap keindahan dari suatu fenomena. Contoh lainnya adalah pelajaran matematika dan fisika. Kita dijejali betapa mengerikannya dan terkenal sekali bahwakedua hal tersebut menjadi momok yang menakutkan. Padahal, apabila kita melihat danmerasakannya, keduanya menawarkan keindahan yang tersembunyi. Dalam suatu esainya,Karlina Supelli menyatakan bahwa suatu rasionalitas dan logika akan selalu dibangun di atas danmenginternalisasi keindahan di dalamnya. Beliau mencontohkan bagaimana Paul Dirac membuatmodel berdasarkan keindahannya dulu untuk kemudian baru ditemukan verifikasinya. Demikian bagaimana bahasa dalam keilmuan juga memegang peranan penting. Dalam ilmu-ilmu kualitatif  penggunaan keindahan bahasa menjadi salah satu faktor utama untuk juga dapat mencintainya.Salah satu contohnya adalah judul penelitian Harry J. Benda yang berjudul The Crescent and the Rising Sun. Indonesian Islam under the Japanese Occupation 1942–1945  dimana Benda
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x