Short Stories

Cerita Pendek Tugas ini untuk tugas Ujian Akhir Semester

Description
Cerita Pendek Tugas ini untuk tugas Ujian Akhir Semester
Categories
Published
of 4
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  Cerita Pendek Tugas ini untuk tugas Ujian Akhir Semester Dosen Pengampu Rerin Maulinda S.Pd, M.Pd Disusun Oleh : Muhammad Abdalah 181010700149 SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PAMULANG 2019    Hadiah Aku sendiri senang menggunakan hujan sebagai hadiahku untuknya. Bagaimana tidak? Hujan datang dengan jarang-jarang, sangking jarangnya orang-orang juga menunggu kehadirannya sebagai anugerah dari Tuhan untuk menyejukkan bumi dan seisinya. Hujan tidak lengkap jika tidak menghadirkan baunya. Bau hujan adalah suatu kenikmatan yang sering kita hirup dalam-dalam. Udaranya masuk lewat hidung kita dan otak kita merangsang akan terjadi ketenangan. Tapi hujan tidak ditunggu-tunggu jika memang sungai-sungai sudah kembung. Orang-orang akan membenci hujan jika memang tidak diperlukan. Tapi itulah sebabnya, aku mengasihimu hujan karena cinta tidak lengkap jika tiada ketenangan, tapi cinta tidak baik akan hal-hal yang  berlebihan, takutnya bencana datang dan salah satu dari kita akan rugi karenanya. Orang-orang senang melakukan perdebatan. Tentang cinta apalagi, realistis suka dikaitkan dengan barang- barang mewah atau hal-hal yang bisa memuaskan gairah. Sedangkan cinta lebih dari gairah. Gairah adalah hasrat-hasrat yang membutakan mata dan hati. Cinta tidak selalu dikaitkan dengan hal-hal yang realistis, contohnya: cantik dan ganteng, kaya dan miskin, raja dan babu, bahkan langit dan bumi. Sudah banyak kisah-kisah cinta yang menolak kehadiran realistis. Sebagai contohnya adanya aku dan pacarku. Pacarku ini beranak duit. Ia bisa membeli apa saja yang ia mau dengan cuma-cuma. Aku sering mengantarkannya ke toko-toko yang ia mau. Sebagai lelaki yang belum punya apa-apa, pacarku sendiri tidak  pernah menyinggung soal kekayaan. Ia tetap memandangku sebagai orang yang memang dicintainya. Bukan kurir, bukan samsak tinju, bukan keset, bukan hal-hal yang merugikan salah satu pihak. Ia memandangku sebagai cintanya, pembagiannya memang sama . Ia pernah berbicara “aku mencintaimu seperti layaknya bulan dan matahari, kau lah matahari karena aku akan tetap meminta bayang-  bayangmu sebagai tenagaku.”  Suatu hari, aku pernah bersitegang dengan dirinya, kami memperdebatkan bagaimana aku sangat mencintainya. Ia tidak amat menyukai perasaan yang seperti itu, karena sesuatu yang berlebih akan menimbulkan kerugian yang gila. Ia mengisyaratkan agar aku mencintai dirinya layaknya kayu dan api. Kita sama-sama mempunyai andil untuk menghangatkan tubuh dan akan hangus jika memang waktunya. Tapi, siapa yang bisa mengatur perasaan? Perasaan layaknya angin yang sesukanya membujuk sebesar apa ombak akan menyerang  batu-batu pantai atau menggiring debu-debu yang entah ia ingin bawa kemana. Perdebatan itu muncul terus menerus hingga pada akhirnya darahku muncrat lewat ubun-ubun. Karena aku tidak tahan dengan sikapnya yang menyikapiku apa yang diinginkannya. “Kau selalu mengatur perasaanku!”   “Mengapa tuturmu mengeras? Aku tidak suka dengan caramu memberitahuku.”  Balasnya. “Aku mencintaimu dengan sangat, wajar saja kan? Kau yang selalu menyalahkanku seperti ini.” “Aku tid ak meminta kan? Aku tidak pernah meminta apapun darimu, bukankah aku telah mencintaimu dengan apa adanya?”   “Aku tidak menginginkan itu. Apakah perasaanmu juga seadanya?” Balasku sedikit naik    “Jika ya, memangnya kenapa? Apakah salah?”  Pertanyaannya telah membuat senja tidak tentram dipandang. Meski aku tidak menjawab pertanyannya, dari lubuk hati yang paling suci ini tantrum. Aku bertanya-tanya juga dengan diri sendiri apakah sudah benar apa yang kulakukan untuknya. Jatuh cinta memang begini, aku sedang jatuh diantara luasnya pengertian cinta. Lalu setelah senja tenggelam oleh umurnya, aku meninggalkan dirinya. Berjalan sendiri ditengah-tengah kusutnya ibukota tapi masih kalah dengan semerawut perasaanku terhadapnya. Seiring aku berjalan sendirian,    ada daun yang gugur tepat jatuh dipundakku, seakan memang alam mengerti bagaimana cinta akan rentan dengan kekuatan. Daun pun seperti itu, ia telah digenggam erat oleh ranting pepohonan tapi jika memang harus jatuh, ia akan jatuh dan tidak lagi bercumbu dengan buah-buahan. Setelah seminggu kita memang tidak saling mengabarkan. Aku uring-uringan tidak jelas tapi aku tidak ingin memulai menanyakan kabar darinya. Selama ia tak mengabarkanku, yang aku ingat hanya keistimewaan dirinya. Matanya yang berbinar, layak rembulan yang membentang seluas langit menggelap, suaranya seperti rintik-rintik hujan yang menenangkan, bahkan apapun dari dirinya aku ibaratkan sebagai semesta yang tak terhingga. Tiba saya ingin terlelap, malam itu ponselku berdering keras, ternyata bukan kabar darinya. Yang kudapatkan hanya pesan singkat operator yang mengingatkan untuk segera isi ulang. Ini menyakitkan, tapi ya sudah. Aku menidurkan tubuhku dengan bising yang tidak tertahan tentangnya. Cinta, rindu, benci, kasih, kisah, dan hal-hal yang mengingatkanku tentang keberadaannya. Ketika fajar menyetubuhi celah-celah kamarku, aku terbangun. Seperti biasa, aku juga mengecek ponsel sambil berharap datang kabar dari pacarku. Ya! Ternyata benar. Sungguh ini menyenangkan, apa yang aku cemaskan ternyata memunculkan batang kalimatnya. Mulailah aku baca pelan-pelan isi pesannya: “Hai, bagaimana kabarmu? Aku tahu pasti saat ini kau baru bangun  kan? Ayo ngaku! Hehehehehe. Aku mencintaimu sayang, ya memang tidak sebesar dirimu mencintaiku. Kita memang tidak mempunyai perasaan  yang seimbang. Aku adalah seseorang yang suka menuntut keseimbangan alam, kau pun juga kan? Bahkan kau  suka memberi hadiahku dengan hal-hal yang tidak bisa kupegang fisiknya, tapi aku sangat menyukai itu. Sama halnya cintamu yang sebesar itu, aku tidak pernah merasakan kulitnya, tapi aku bisa menggenggamnya dengan erat. Pacarku, sadarkah ketika kau membentakku seperti itu? Aku menangis sehabis kau tinggalkan aku sendiri di toko kopi yang biasa kita kunjungi saat senja. Itu cukup menyakitkan sayang. Pacarku, cintamu memang melebihi kemewahan yang aku punya, mobil sport, rumah gedongan, kolam uang di dompetku pun kalah dengan besaran cintamu. Sayang, kau tau kan kalo aku sangat membenci kemewahan? Ya walaupun kamu sering mengatarkanku ke toko untuk membeli benda-benda yang aku inginkan. Tapi apa kau pernah melihat aku membeli barang-barang mewah? Tidak kan? Pacarku, maaf aku harus berkata ini padamu. Aku juga tidak menyukai perasaan yang sifatnya mewah. Kau glamor sayang! Kau mencintaiku dengan kemewahan perasaanmu  sehingga aku merasa kalah dalam hal ini. Aku pernah bilang padamu, kita hanya cukup mencintai seperti kayu dan api, sampai hangus memakan sendiri massa kita. Sayangnya, aku telah menjadi abu sayang, walau apimu masih membara yang entah sampai kapan habisnya. Sayang, ingatkah ketika kau mengasihiku hujan? Kau juga berkata bahwa jika hujan telah berlebih, ini akan bersifat merugikan salah satu pihak. Dan sayangnya, aku telah dibanjiri oleh kebesaran cintamu sayang. Aku tidak mengharapkan itu. Sayang, kita sudahi saja petulangan tentang alam yang kau sering kasihi padaku. Kau sendiri yang melanggar pemberianmu kepadaku tentang hujan.  Ini fatal sayang. Ini adalah pagi terakhir untuk aku memanggilmu sebagai pacar dan sayang. Sebab hari-hari  sesudahnya kita akan menjelma bagai lautan yang asing dengan birunya. Kita akan menjadi rembulan yang telah tidak mengenal sinarnya. Kita tidak akan lagi seperti hujan dengan ketenangannya sebab nantinya kau akan tegang jika melihatku bersama dengan lelaki lainnya. Mulai hari ini, tiada lagi senja yang kau antarkan kepadaku  sesudah kopi ada di depan meja kita. Toko itu juga akan menjadi kenangan yang pahit. Aku mencintaimu tapi cinta bukan buta sayang, tak sebuta alam yang siap menerima keadaan apapun manusia yang lahir dari perutnya.  Kita akan menjadi asing pada alam-alam berikutnya, terima kasih atas semua yang kau pernah berikan padaku.  Aku mencintaimu bagai alam yang akan habis pada takdirnya, dan saat ini adalah saat takdir memang yang memutuskan, sampai jumpa di lain waktu, tiada yang tau apakah kita akan bersemi kembali karena takdir, atau kita akan menjelma menjadi debu-debu yang saling terlupakan. Aku mencintaimu untuk yang terakhir kalinya.”      Saat itulah, aku sadar bahwa kesalahan memang ada pada diriku. Setelah aku membaca pesan ini air mata  juga telah membuat karat di pipiku. Aku juga tidak bisa mempercayai bahwa aku bisa menangis seperti ini. Cinta memang sulit untuk didefinisikan dengan keadilan, tapi bersikap adil adalah kewajiban bagi setiap manusia. Alam telah memisahkan kita sayang, dengan salahku, dengan apa yang pernah aku kasih untuk menjadi kisahmu.
Search
Similar documents
View more...
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x