Reports

Critical review Jurnal Perencanaan Pesisir : Reklamasi Pesisir Kota Cirebon

Description
Salah satu kota di Indonesia yang menerapkan konsep pembangunan tersebut salah satunya adalah Kota Cirebon Kondisi geografi Kota Cirebon merupakan dataran rendah dengan kondisi pesisir memiliki banyak potensi yang perlu dikembangkan untuk menumbuhkan
Categories
Published
of 7
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
    CRITICAL REVIEW Mata Kuliah : Perencanaan Pesisir   Sutialdi Wirdandi (08171072)   INSTITUT TEKNOLOGI KALIMANTAN JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA BALIKPAPAN 2019 Dosen Pengampu : Ariyaningsih, S.T., M.T., M.Sc. Anggit Suko Rahajeng, S.T., M.T. Dwiana Novianti Tufail, S.T., M.T. Muhammad Rizky Pratama, S.T., M.T.  1 Critical Review Jurnal Perencanaan Pesisir Judul Jurnal : Reklamasi Pesisir Kota Cirebon Penulis :   Wiyoga Triharto Reviewer : Sutialdi Wirdandi Tanggal Review : Latar Belakang Indonesia merupakan Negara Kepulauan dengan jumlah pulau yang mencapai 17.508 dan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 Km (DKP, 2008). Keadaan ini menyebabkan kawasan pesisir menjadi andalan sumber pendapatan masyarakat Indonesia. Secara umum, wilayah pesisir dapat didefenisikan sebagai wilayah pertemuan antara ekosistem darat, ekosistem laut dan ekosistem udara yang saling bertemu dalam suatu keseimbangan yang rentan (Beatly et al, 2002). Transisi antara daratan dan lautan di wilayah pesisir telah membentuk ekosistem yang  beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan peningkatan kegiatan pembangunan sosial- ekonomi “nilai” wilayah pesisir terus bertambah.  Sebagai wilayah peralihan darat dan laut yang memiliki keunikan ekosistem, dunia memiliki kepedulian terhadap wilayah ini, khususnya di bidang lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pengelolaan wilayah pesisir berkelanjutan membutuhkan penataan yang terintegrasi dan terpadu dengan memenuhi berbagai fasilitas penunjang prasarana dan sarana di kawasan pesisir tersebut. Keterbatasan wilayah pesisir membuat perluasan area menjadi tidak terhindarkan. Tetapi dibalik itu semua, pembangunan di daerah kawasan pesisir semakin gencar dan  bahkan terkadang melupakan prinsip dari sebuah pembangunan yaitu berkelanjutan. Banyak kota-kota di Indonesia khususnya yang memanfaatkan kawasan pesisirnya sebagai infestasi dan menjadi salah satu pemasukan untuk kota tersebut. Dari beberapa pembangunan yang dilakukan di kawasan pesisir, ada konsep pembangunan yang sudah sangat tidak asin terdengar dan bahkan sudah di jalankan terlebih dahulu oleh negara-negara besar di dunia. Konsep  2  pembangunan tersebut lebih menekankan untuk adanya perluasan daerah daratan atau yang  biasa disebut dengan reklamasi. Salah satu kota di Indonesia yang menerapkan konsep pembangunan tersebut salah satunya adalah Kota Cirebon Kondisi geografi Kota Cirebon merupakan dataran rendah dengan kondisi pesisir memiliki banyak potensi yang perlu dikembangkan untuk menumbuhkan  perekonomian. Kawasan pesisir tersebut sangatlah dekat dengan pusat kota. Potensi pesisir kota Cirebon dapat ditingkatkan dengan membangun waterfront city yang dapat menjadi pintu masuk kedua dari laut setelah pintu pertama dari darat. Pembangunan waterfront city dapat mengatasi permasalahan keterbatasan wilayah yang kecil sebagai perluasan wiayah Kota Cirebon yang sedang berkembang sekaligus memperbaiki kerusakan pantai akibat abrasi. Review Jurnal Kota Cirebon merupakan Provinsi Jawa Barat, kota ini terletak di utara pantai Pulau Jawa. Kota Cirebon memiliki letak geografis 108,33o dan 6,41o Lintang Selatan pantai utara Pulau Jawa. Kota Cirebon berbatasan dengan Sungai Banjir Kanal atau kabupaten Cirebon di sebelah barat, Sungai Kalijaga di sebelah selatan, Sungai Kedung Pane di sebelah utara, dan Laut Jawa di sebelah timur. Permasalahan Kota Cirebon adalah wilayah administrasi yang terbatas/kecil yaitu 37,36 km2 atau 3.736,8 hektar. Pemerintah kota Cirebon menilai luas wilayah yang terbatas/kecil itu tidak dapat memenuhi pertumbuhan di kawasan pesisir kota Cirebon yang merupakan salah satu kawasan perluasan dari Kota Cirebon sendiri yang semakin  berkembang. Persebaran penduduk di kota Cirebon juga tidak merata terutama pada kawasan  pesisir pantai. Geografi kota Cirebon mempengaruhi pola struktur kota Cirebon (Kusliansyah, Y. Karyadi, 2012-2013). Permasalahan pantai utara kota Cirebon adalah rentan mengalami abrasi dari ombak laut. Kota Cirebon memiliki empat sungai yang tersebar, yaitu Sungai Sukalila, Sungai Kedung Pane, Sungai Kalijaga, dan Sungai Kesunean (Kriyan). Sungai Kesunean sebelah selatan dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan sungai Sukalila sebelah utara. Kondisi pesisir kota Cirebon memburuk akibat adanya abrasi, dan sendimentasi (tanah timbul)  baik dari sungai maupun akibat pembuangan sampah yang dilakukan masyarakat sekitar, sehingga pesisir pantai tidak layak lagi untuk dijadikan tempat wisata.  3 Berdasarkan analisis penulis menunjukkan bahwa kota Cirebon membutuhkan  perluasan wilayah. Hal ini dilakukan untuk menunjang pemenuhan kebutuhan kota Cirebon yang terus semakin berkembang sebagai kota tujuan wisata dan tidak lagi sebagai kota  perlintasan. Kota Cirebon sendiri memiliki pelabuhan yang digunakan untuk sarana transportasi barang dan orang antar pulau. Seiring berkembangnya Kota Cirebon menjadi daerah tujuan dan kecilnya Administrasi Kota Cirebon maka diperlukan perluasan wilayah kearah pantai disisi lain wilayah pantai bisa dijadikan pintu masuk ke Kota Cirebon, selain  jalan darat mengingat potensi pelabuhan yang ada pada saat ini. Perluasan wilayah administrasi merupakan salah satu alternatif pilihan dengan cara melakukan reklamasi pantai, hal ini dilakukan karena kondisi pesisir pantai yang rusak oleh abrasi dan sendimentasi. Perluasan wilayah administrasi di kawasan pesisir direncanakan pada kecamatan Kejaksan dan Lemahwungkuk seluas ±205 hektar. Pembangunan pada tepian laut pesisir pantai merupakan pembangunan yang berkelanjutan,. Waterfront city yang akan dibangun pada lahan/tanah reklamasi tersebut perlu memperhatikan tata-ruang kota dalam perencanaan  pembangunanya. Sehingga dalam pembangunannya memenuhi tujuan yang akan dicapai, yakni menumbuh kembangkan dan meningkatkan potensi yang ada di pesisir kota Cirebon yang berkelanjutan. Maka diperlukan keterpaduan dan koordinasi dalam penataan yang saling terintegrasi dan menunjang dalam kawasan pesisir Kota Cirebon, oleh sebab itu dengan kondisi tersebut dan terbatasnya lahan maka diperlukan pembangunan waterfront city atau kawasan tepi air di kawasan pesisir yang berkelanjutan dengan cara reklamasi terutama pada bagian kawasan yang abrasi dan tersendimentasi yang terjadi secara alami, dan ulah masyarakat yang menimbun sampah kota di area kawasan pesisir.Diharapkan dengan adanya reklamasi dan diatasnya dibangun waterfront city menjadi solusi pemecahan masalah kawasan pesisir Kota Cirebon dalam pembangunan berkelanjutan juga sebagai pintu masuk kedua melalui laut. Pemabahasan Kebutuhan pembangunan yang semakin meningkat, akan selaras dengan meningkatnya kebutuhan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan tersebut. Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang gencarnya melakukan pembangunan guna meningkatkan kemajuan dari negara itu sendiri.. Indonesia juga merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah lautan meliputi hampir dua per tiga bagian dari seluruh luas wilayah Nusantara yang  4  potensial dengan sumberdaya pesisir dan lautan berupa sumberdaya perikanan, mangrove, terumbu karang, padang lamun, sumberdaya mineral minyak bumi dan gas alam termasuk  bahan tambang lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dari hal tersebutlah pembangunan di Indonesia tidak hanya gencar di bagian daratanya, tetapi di daerah pesisirnyapun sudah mulai  banyak di adakan pembangunan dengan berbagai konsep yang sudah ada dan tentunya harus  berkelanjutan. Salah satu kota yang sedang melakukan pembangunan untuk kawasan  pesisirnya adalah Kota Cirebon. Dalam jurna; tersebut penulis menjelaskan mengenai kondisi geografis Kota Cirebon. Dimana kota tersebut merupakan salah satu kota denga luas administrasi yang bisa dikatakan kecil, dan akhirnya menuntut pemerintah untuk melakukan reklamasi pada kawasan pesisirnya untuk dibangunnya sebuah waterfront city.  Penulis menjelaskan bahwa pembangunan waterfront city dapat mengatasi permasalahan keterbatasan wilayah yang kecil sebagai perluasan wiayah Kota Cirebon yang sedang berkembang sekaligus memperbaiki kerusakan pantai akibat abrasi. Selain itu pertumbuhan di kawasan pesisir Kota Cirebon juga menagalami peningkatan dan merupakan yang tertinggi dari penduduk di kawasan lainnya. Hal sudah tentunya menunjukkan bahwa perkembangan penduduk di Kota Cirebon lebih terfokus di daerah kawasan pesisirny, dan tentunya akan membuat masayarakat disana akan melakukan pekerjaan yang lebih banyak dikukan dilaut. Dalam jurnal inin penulis menjelaskan bahwa pembangunan waterfront city dapat meningkatkan penghasilan pertambakan dan npenghasilan para nelayan. Tetapi dari studi kasus yang lain tidak banyak yang menunjukkan bahwa pembangunan tersebut akan meningkatkan  pendapatan para nelayan, tetapi malah sebaliknya menimbulkan kerugian denga turunnya  pendapatan dari hasil melaut. Hal tersebut terjadi akibat bukan dari konsep yang diusung, tetapi dari proses awal yang dilakukan yaitu reklamasi, karena apabila tidak dilakukan reklamasi  pembnagunan tersebut tidak akan terjadi. Tetapi dalam jurnal ini penulis tidak banyak menjelaskan mengenai dampak dari reklamasi yang dilakukan oleh pemerintah. Yang seharusnya juga dituliskan dampak dari reklamasi tersebut, agar menjadi acuan untuk  pembangunan yang lainnya bahwa setiap pembangunan pasti akan menimbulkan dampak  positif serta negatif. Selain itu sebagian masyarakat banyak yang menganggap pembangunan reklamasi banyak merugikan mereka, mulai terjadinya abrasi pantai akibat banyaknya pasir  pantai yang dikeruk guna menunjang proses reklamasi tersebut, kemudian tercemarnya lautan yang ada di kawasan reklamasi tersebut dan kahirnya tidak dapat lagi dimanfaatkan. Dalam  jurnal ini pada bagian kesimpulan menjelaskan bahwa permasalah-permasalahn yang ada di kawasan pesisir Kota Cirebon juga di akibatkan oleh masyarakat yang menumpuk sampah kota
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x