Home & Garden

Critical Review Strategi Pengembangan Pariwisata Pesisir Perencanaan Pesisir Perencanaan Wilayah dan Kota20191015 119411 ezje4i

Description
Jumlah Halaman Jurnal : 10 1. Pendahuluan Menurut Riyaningtyas (2014), daerah pesisir merupakan daerah yang sangat terkait dengan hajat hidup banyak orang, terutama masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut. Hal tersebut karena daerah
Categories
Published
of 6
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
   1 Nama : Kristia Liendika Arruan Minanga Demas NIM : 08171036 Mata Kuliah : Perencanaan Pesisir Program Studi : Perencanaan Wilayah dan Kota Judul Jurnal : Strategi Pengembangan Pariwisata Pesisir Di Desa Bentung Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara Nama Peneliti : Aldy Adrianus Tatali, Ridwan Lasabuda, Jardie A. Andaki dan Bet E. S, Lagarense Asal Peneliti : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi Tanggal Terbit Jurnal : 6 Juni 2018 Nomor Jurnal : 2018:53-62 Jumlah Halaman Jurnal : 10 1. Pendahuluan Menurut Riyaningtyas (2014), daerah pesisir merupakan daerah yang sangat terkait dengan hajat hidup banyak orang, terutama masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut. Hal tersebut karena daerah pesisir memiliki berbagai macam potensi yang meliputi sumber makanan, kekayaan alam, potensi pariwisata, hingga potensi pengembangan industri. Dalam pengembangan potensi pesisir, perlu dipahami terlebih dahulu bagaimana arahan pengembangan yang cocok, agar potensi yang ada dapat diolah secara maksimal. Pariwisata pesisir merupakan salah satu kegiatan wisata paling umum ditemui diIndonesia melihat dari kedudukan Indonesia sebagai Negara kepulauan. Namun sayangnya, potensi pariwisata pesisir dalam segi pengelolaan dan arahan pengembangan masih belum merata pada semua wilayah. Sehingga dilakukan penyusunan critical review dengan jurnal “ Strategi Pengembangan Pariwisata Pesisir di Desa Bentung Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sul  awesi Utara” untuk mengetahui seperti apa strategi pengembangan pariwisata yang tepat berdasarkan isu-isu wilayah pesisir yang ada.   2 2. Review    Penyusunan jurnal ini didasari dari kekhawatiran peneliti terhadap minimnya kajian spesifik terkait pengembangan potensi-potensi pariwisata pesisir yang terdapat di Desa Bentung, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Padahal Kabupaten Kepulauan Sangihe ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata sesuai dengan PERDA Kabupaten Kepulauan Sangihe Nomor 15 Tahun 2008. Namun sejauh ini atraksi wisata yang disajikan yaitu Lomba Balap Perahu atau disebut Mairokang Beach Game (MBG)  yang merupakan lomba tahunan yang diselenggarankan sejak tahun 2015. Sangat disayangkan karena banyak potensi-potensi pariwisata yang bisa dikembangkan selain MBG tersebut. Sehingga peneliti menyusun jurnal yang mengkaji terkait arahan strategis pengembangan potensi-potensi pariwisata pesisir di Desa Bentung. Terdapat tiga tujuan yang dikaji dalam jurnal berikut adalah : 1. Mengindentifikasi potensi sumberdaya pesisir untuk pengembangan pariwisata pesisir di Desa Bentung 2. Mendeskripsikan atraksi wisata pesisir Mairokang Beach Game di perairan Desa Bentung, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe. 3. Menyusun strategi pengembangan wisata pesisir di Desa Bentung sesuai dengan potensi sumberdaya yang ada. Metodologi penelitian ini menggunakan metode campuran dimana melibatkan metode kualitatif dan kuantitatif. Input data yang digunakan untuk penelitian kualitatif yaitu kesesuaian kawasna pantai dan peran serta pemerintah. Sedangkan untuk kuantitatif menggunakan data luasan terumbu karang dan kepadatan hutan mangrove. Narasumber yang terlibat berjumlah tiga orang yaitu dua narasumber merupakan pihak dari Dinas Kebudayaan (Kepala Dinas dan Sekretaris) serta satu narasumber merupakan pihak dari Bappeda Kabupaten Kepulauan Sangihe (Sekretaris). Metode pengumpuvan data dilakukan secara primer dan sekunder. Untuk pengambilan data sekunder yaitu dengan mengukur luas terumbu karang serta luas tutupan mangrove menggunakan bantuan alat ukur tali yang diikat pada papan manta (di perahu) yang terhubung ke pengamat. Dengan metode analisis yaitu analisis SWOT. Kemudian didapatkan hasil data yaitu berupa data luas mangrove yang rusak dan perlu rehabilitas, dan luas tutupan karang pada stasiun I dan stasiun II. Dimana stasiun II memiiki jenis karang timbul ( maritekang  ) dengan rata-rata tutupan karan 60,06% dengan kondisi baik dan konsisi karang rusak sebesar 31,59%. Sedangkan pada station I total terumbu karang yang rusak mencapai 52,45% dengan kondisi karang baik seluas 43,31%. Untuk mangrove diketahui memiliki luas sebesar 2,82 Ha dengan jenis-jenis mangrove yang ada yaitu aegiceras, corniculatum, sonneratiaalba, Rhizophora   3 apuculata, Rizhopora Mucronata.  Diketahui pula bahwa pantai-pantai yang memiliki potensi-potensi pariwisata meliputi Pantai Bulo, Pantai Nagha, dan Pantai Mairokang. Peniliti juga melakukan identifikasi terkait atraksi wisata Mairokang Beach Game yang mana diketahui bahwa kegiatan lomba perahu tersebut baru mulai diadakan sejak 2015. Pada tahun 2015 jumlah peserta sebanyak 52 peserta dan pada tahun 2016  jumlah oeserta bertambah menjadi 79 peserta. Sehingga dari pengolahan data yang dilakukan didapatkan arahan pengembangan berupa peta sebaran kegiatan dimana; 1. Pantai Bulo dimanfaatkan sebagai wisata selancar 2. Pantai Nagha dimanfaatkan sebagai kegiatan Jet Ski dan Banana Boat. 3. Kawasan Karang Timbul sebagai kegiatan snorkelling 4. Kawasan Hutan Mangorve sebagai kawasan wisata hutan mangrove. Gambar 1. Rencana Kawasan Wisata Pesisir Desa Betung Sumber : google Earth dan ArcGis 10.3   Sehingga ditarik kesimpulan bahwa arahan pengembangan yang disajikan oleh peniliti berangkan dari potensi-potensi yang dimiliki dari pantai-pantai yang ada di Desa Bentung sehingga di dapatkan peta rencana kawasan pesisir seperti pada gambar 1. 3. Kritik Lewat jurnal ini dapat diketahui bahwa Kabupaten Kepulauan Sungihe merupakan Kawasan Strategis Pariwisata yang memiliki potensi-potensi kaya seperti terumbu karang dan hutan mangrove yang sebagian besar masih dalam kondisi baik. Namun sayangnya ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki dari jurnal ini. Pada bagian Pendahuluan yang disajikan peneliti tidak cukup kuat disebut sebagai pendahuluan karena tidak ada gambaran umum terkait wilayah studi yang jelas, mencakup kondisi fisik dan lainnya. Jika dibandingkan dengan jurnal lain yang berjudul serupa tetapi memilih wilayah studi yang berbedan yaitu jurnal  Strategi Pengembangan Wisata Pesisir Pantai: Studi Kasus Desa Batu Lima, Kuala Tambangan Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan oleh Febrianty tahun 2017 dimana dalam jurnal ini   4 menjabarkan terlebih dahulu seperti apa kondisi dan gambar umum wilayah studi yang diteliti dengan menetapkan batasan-batasan jelas terkait wilayah studi yang dikaji. Berbeda dengan jurnal Pesisir Desa Betung yang malah menyebutkan wilayah-wilayah yang masuk dalam daerah penelitian pada bagian pembahasan data yaitu Pantai Bulo, Pantai Naghan, Kawasan Terumbu Karang, dan Hutan Mangrove di Pantai Bulo. Perlu menambahkan bab khusus untuk Tinjauan Pustaka, bukan menggabungkan Tinjauan Pustaka dengan bab hasil dan pembahasan. Hal tersebut untuk menghindari kesulitan pembaca dalam memahami isidari jurnal. Ketidak teraturan tinjauan pustaka ini berdampak pada car abaca yang tidak teratur, sehingga pembaca dibuat bingung mengapa tiba-tiba ada dasar metodologi baru yang muncul padahal sebelumnya tidak ada dijelaskan. Contohnya ada pada bagian kesimpulan yang tiba-tiba menyebutkan 4 pilar strategi pengembangan pesisir. Jika dilihat pada jurnal lain, peletakkan tinjauan pustaka dikelompokkan dalam sub bab khusus tinjauan pustaka. Pemilihan tinjauan pustaka yang terlalu umum, sehingga dasar-dasar yang digunakan untuk menganalisis data agar dapat mencapai tujuan menjadi rancu. Salah satunya tentang pertimbangan pengambilan keputusan terkait jenis kegiatan apa yang cocok di pantai Bulo dan pantai Nagha masih rancu, sangat objektif, dan tidak kuat. Harusnya peneliti mampu mengkaji terlebih dahulu ditinjauan pustaka terkait kriteria-kriteria suatu kegiatan wisata dan kemudian dapat melakukan analisis kesesuaian untuk mengetahui jenis kegiatan apa yang cocok sesuai dengan data eksisting yang didapatkan. Perlu disajikan kerangka berfikir agar memudahkan peniliti dan pembaca untuk memahami fokus utama dari penelitian ini. Dalam sistematika penulisan jurnal tidak sistematis. Contohnya yaitu metode analisis dan metode pengumpulan data dikategorikan dalam satu bab yaitu metode pengambilan data, yang merupakan kesalahan penyajian laporan karena substansinya berbeda. Data terkait hutan mangrove dan terumbu karang tidak digunakan secara maksimal padahal metode pengambilan datanya susah. Data yang didapat hanya digunakan sebatas untuk mengidentifikasi luas mangrove baik dan mangrove buruk tanpa adanya tindak lanjut dari data tersebut. Latar belakang yang disajikan menyebutkan bahwa peniliti termotivasi untuk “mengkaji lebih rinci” terkait potensi -potensi di Desa Betung yang belum diperhatikan, tetapi bentuk kajian rinci tersebut masih belum terwujud dari jurnal ini. Yang sangat disayangkan adalah karena tujuan dari penyusunan jurnal ini tidak terjawab dengan maksimal, masih banyak hal ganjil yang belum terjawab.   5 Strategi harusnya dapat mencakup bagaimana tahapan dan proses untuk mencapai sesuai namun pada jurnal “strategi pengembangan pariwisata pesisir Desa Betung” ini belum menggambarkan sebuah strategi yang tepat dan lengkap. 4. Kesimpulan  1. Jurnal yang mengkaji terkait strategi pengembangan pariwisata ini masih belum dapat dengan baik menggambarkan “strategi”  yang dimaksud, sehingga perlu adanya pendalaman lebih terkait strategi-strategi pengembangan pariwisata pesisir menggunakan sumber jurnal lain. 2. Perlu adanya pengkajian ulang terkait strategi yang dimaksud dalam penyusunan  jurnal ini dengan didasarkan pada tinjauan pustaka yang luas namun terarah dan terfokus.  5. Saran   1. Data yang ada dalam jurnal ini dapat menjadi dasar untuk melakukan penelitian lanjutan terkait potensi pariwisata pesisir di Desa Betung. 2. Pengkajian ulang terkait subjek dan judul yang sama namun lebih terarah dan terfokus.  6. Lesson Learn 1. Diketahui bahwa penyusunan strategi pengembangan pariwisata harus berangkat dan sesuai dengan isu-isu yang terjadi. 2. Tinjauan pustaka atau landaran teori harus kuat dalam mengkaji suatu penelitin. 3. Fokus penelitian harus konsisten hingga akhir agar rumusan masalah dan tujuan dapat terjawab serta tercapai. 7. Penutup Terima kasih kepada dosen pengampu yang sudah memberikan tugas critical review ini sehingga saya dapat memahami isu-isu terkait wilayah pesisir yang kemudian dapat diarahkan dengan strategi pengembangan pesisir yang sesuai dan tepat sasaran. Jika ada kata-kata yang kurang jelas ataupun kesalahan penggunaan kata saya mohon maaf dan dimaklumi.
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x