Novels

EFEK ESTETIS DALAM CERPEN BUNGA MAWAR DAN BURUNG BUL-BUL KARYA OSCAR WILDE (KAJIAN STILISTIKA) (Aesthetic Effect in the Rose and the Nightingale by Oscar Wilde (Stylistic Study))

Description
ABSTRAK Makna sebuah karya sastra bergantung pada penggunaan gaya bahasa. Penggunaan gaya bahasa dimaksudkan oleh pengarang untuk menimbulkan efek tertentu bagi pembaca terutama efek estetik. Cerita pendek "Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul"
Categories
Published
of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
    EFEK ESTETIS DALAM CERPEN BUNGA MAWAR DAN BURUNG BUL-BUL KARYA OSCAR WILDE (KAJIAN STILISTIKA) (  Aesthetic Effect in the Rose and the Nightingale by Oscar Wilde   (Stylistic Study))   Oleh/  By: Muchamad Faisal Tjakrawiriadi Program Magister Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Posel: isaaltj@gmail.com *) Diterima: 20 Desember 2017, Disetujui: 4 Mei 2018 ABSTRAK Makna sebuah karya sastra bergantung pada penggunaan gaya bahasa. Penggunaan gaya  bahasa dimaksudkan oleh pengarang untuk menimbulkan efek tertentu bagi pembaca terutama efek estetik. Cerita pendek “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” karya Oscar Wilde yang sudah diterjemahkan oleh Amrisa Nur merupakan cerpen yang menarik untuk dikaji dalam penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan stilistika. Tujuan  penelitian stilistika adalah untuk menguraikan dan mengungkap gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tujuan untuk menemukan makna dan fungsi stilistika itu dalam karya sastra yang diteliti. Ada  beberapa unsur yang akan difokuskan oleh peneliti yaitu: unsur leksikal, unsur sintaksis (kalimat), dan unsur retorika yang terdapat dalam cerpen  Bunga Mawar dan Burung Bul- Bul  . Kata kunci : gaya, leksikal, sintaksis, retorika, stilistika  ABSTRACT The meaning of a literary work depends on the use of the language style. The use of language styles is intended by the author to have a certain effect on the readers, especially the aesthetic effects. The short story of The Rose and The Nightingale by Oscar Wilde translated by Amrisa Nur is an interesting short story for literature research using a stylistic approach. The purpose of stylistic research is to interpret and reveal the style of language used by the author. This study uses qualitative method. This study also aimed to find the meaning and function of the stylistic in this literary work. There are several elements that will be focused by the researcher, there are: lexical elements, syntax elements (sentences), and elements of rhetoric that contained in the short story The Rose and The Nightingale.    Keywords : style, lexical, syntax, rhetoric, stylists  21 PENDAHULUAN Karya sastra hadir sebagai hasil  perenungan pengarang terhadap  berbagai fenomena kehidupan masyarakat sehingga hasil karya itu tidak hanya dianggap sekadar cerita khayal pengarang semata, tetapi  perwujudan dari kreativitas  pengarang dalam menggali gagasan. Karya sastra pastilah memiliki nilai keindahan di dalamnya. Keindahan karya sastra telah terkandung sejak awal sebab karya sastra adalah respons tanggapan penulis terhadap dunia sekitar. Tanggapan ini terjadi karena adanya rangsangan keindahan aspek-aspek estetis yang menarik  perhatian untuk ditulis. Salah satu bentuk karya sastra yang berupa fiksi itu adalah cerpen. Cerpen, sesuai dengan namanya, adalah cerita yang pendek. Jassin (dalam Nurgiyantoro, 1995: 10) mengungkapkan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detil-detil khusus yang lebih bersifat memperpanjang cerita. Stilistika merupakan salah satu cabang linguistik yang mempelajari  bahasa dalam kaitannya dengan aspek estetika. Sebagai cabang linguistik, stilistika mempelajari  bahasa dalam setiap unsurnya; bunyi, kata, dan kalimat ditambah perhatian khusus terhadap kualitas estetiknya. Linguistik menyelidiki fenomena  bahasa secara umum meliputi  berbagai aspek tanpa perhatian khusus terhadap kualitas estetik, sedangkan stilistika hanya mengkaji  penggunaan bahasa yang bernilai estetik/sastra. Style  merupakan cara  penggunaan bahasa dalam mengungkapkan maksud seseorang kepada orang lain. Adapun stilistika merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji  style  ini. Menurut Shipley (1979: 314) istilah stilistika diserap dari bahasa Inggris  stylistics  yang diturunkan dari kata  style  yang  berarti ‘gaya’. Verdonk (2002: 4) memandang stilistika, atau studi tentang gaya, sebagai analisis ekspresi yang khas dalam bahasa untuk mendeskripsikan tujuan dan efek tertentu. Stilistika (  stylistic ) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan  style  secara umum adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal (Ratna, 2009: 3). Tuner (1977: 7) mengemukakan bahwa stilistika merupakan bagian dari linguistik yang memusatkan perhatiannya pada variasi penggunaan bahasa terutama  bahasa dalam karya sastra. Sering kali makna sebuah karya sastra sangat ditentukan oleh penggunaan gaya bahasa. Gaya bahasa yang dimaksud meliputi: bunyi, rangkaian  bunyi, kata, rangkaian kata, rangkaian frasa, dan rangkaian kalimat. Penggunaan gaya bahasa itu dimaksudkan oleh pengarang agar menimbulkan efek tertentu bagi  penikmat karya sastra tersebut. Efek-efek tertentu yang dikehendaki itu dapat dicapai dengan memanfaatkan  perangkat-perangkat fonologis, leksikal, gramatika, dan pemaknaan yang ada. Di samping itu,  penggunaan gaya bahasa dimaksudkan juga agar karya sastra yang bersangkutan menjadi lebih indah atau estetis (Sudjiman, 1993: 22). Penggunaan gaya yang  22  bervariasi juga akan menghindari monoton dalam nada, struktur, dan  pilihan kata (Keraf, 1994: 113). Stilistika menurut Hough (1969: 5—12) lahir melalui dua aliran, yaitu: a) dalam kaitannya dengan linguistik historis yang diwakili oleh Eropa Kontinental, dan b) dalam kaitannya dengan kritik sastra yang diwakili oleh Anglo Amerika. Konsep stilistika tidak semata-mata mempermasalahkan gaya bahasa itu sendiri, tetapi yang terpenting justru aspek-aspek keindahannya. Abrams (dalam Ratna, 2007: 244—245) juga mencoba membedakan ciri-ciri gaya  bahasa tradisional dan modern. Secara tradisional gaya bahasa dianggap sebagai penelitian terhadap suatu karya dalam kaitannya dengan apa yang dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya. Kaitan antara isi (informasi, pesan, makna  proposisional, atau saran), dan  bentuk atau gaya, yaitu variasi dalam menampilkan informasi sehingga menimbulkan kualitas estetis atau respons emosional pembaca. Sebaliknya, secara modern stilistika itu sendiri, menganalisis ciri-ciri formal seperti: a) fonologi (pola-pola  bunyi ujaran dan irama), b) sintaksis (struktur kalimat), c) leksikal (abstrak dan kongkret, frekuensi relatif kata benda, kata kerja, kata sifat), d) retorika (ciri penggunaan  bahasa figuratif, citraan dan sebagainya). Untuk itulah, analisis terhadap bahasa sastra pun membutuhkan analisis yang khusus. Dalam hal ini dibutuhkan stilistika sebagai teori yang secara khusus menganalisis bahasa teks sastra (Mills, 1995: 3) Stilistika berada di tengah-tengah antara bahasa dan kritik sastra. Fungsi stilistika adalah sebagai jembatan antara keduanya (Widdowson, 1997: 135). Bahasa sebagai media utama bagi karya sastra. Bahasa sastra sebagai media ungkapan perasaan, pikiran, dan  batin pengarang berkaitan erat dengan gaya. Bahasa karya sastra sama sekali tidak mewakili kenyataan yang sesungguhnya. Bahasa karya sastra justru memutarbalikkan kenyataan tersebut. Bahasa sastra memiliki pesan keindahan dan sekaligus membawa makna. Tanpa keindahan bahasa karya sastra akan menjadi hambar. Keindahan karya sastra hampir sebagian besar dipengaruhi oleh kemampuan pengarang dalam memainkan bahasa. Gaya bahasa merupakan cara pengarang memilih, menata, dan menempatkan kata dalam susunan kalimat sehingga memiliki pengaruh atau efek tertentu  bagi pembacanya. Penelitian dengan menggunakan  pendekatan gaya bahasa menurut Pradopo dapat dilakukan pada karya sastra karena gaya bahasa merupakan  penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek-efek tertentu yang ditujukan kepada  pembacanya. Maka dari itu, yang diteliti adalah wujud bahasa itu dan efek apa yang ditimbulkan oleh  penggunaannya (Keraf, 1994: 50). Dalam tulisan ini, penulis menganalisis gaya bahasa dari cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” karya Oscar Wilde (2003). Cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” adalah cerpen yang ditulis oleh penulis Oscar Wilde, kemudian diterjemahkan oleh Amrisa Nur dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2003. Cerpen  23 ini merupakan salah satu dari kumpulan cerpen dalam buku  Pangeran yang selalu Bahagia . Keunikan dalam cerpen ini terpapar karena awal mulanya Oscar Wilde menuliskan cerpen yang bertujuan sebagai pengantar dongeng tidur anak-anaknya. Namun, seiring  berjalannya waktu pemaknaan terhadap cerpen tersebut semakin meningkat. Dalam penulisan struktur cerita khususnya dalam alur cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” ini menggunakan alur cerita maju. Sementara itu, penggunaan unsur leksikal baik pemilihan kata kerja, kata sifat, dan lain-lain, Oscar Wilde selalu identik dengan hal-hal yang bersifat dramatisasi serta menjamah aspek-aspek mengenai  percintaan, pengorbanan, dan  perjuangan seseorang. Jika dikaitkan dengan unsur retorika, penggunaan majas atau perumpamaan banyak diungkapkan dalam cerpen ini. Aspek yang paling menonjol adalah  penggunaan objek materi alam seperti ilalang, bunga mawar, dan hewan-hewan yang dapat berbicara laiknya manusia. Hal tersebut menambah nilai estetis pada cerpen. Berdasarkan dari paparan di atas, penulis merumuskan kajian stilistika dengan konsep yang ditawarkan Abrams yang sudah dijelaskan di atas sebagai pendekatan dalam menganalisis cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” karya Oscar Wilde melalui beberapa unsur: unsur leksikal, unsur sintaksis (kalimat), dan retorika. Penggunaan  pendekatan stilistika ini secara tidak langsung bertujuan untuk mengupas  penggunaan gaya bahasa yang  bersangkutan dengan nilai estetis suatu karya sastra. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif bidang sastra dengan tujuan untuk menemukan makna dan fungsi stilistika dalam karya sastra yang diteliti. Metode pengumpulan data  primer dan sekunder yang terkait dengan cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” dengan metode simak (observasi). Data primer diperoleh dari unsur-unsur gaya  bahasa yang membangun cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul”, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber kepustakaan lain yang terkait dengan objek  penelitian yang dilakukan oleh  peneliti lain. Setelah terkumpul, data-data tersebut dianalisis dengan  pendekatan stilistika. Kemudian, dengan menggunakan pendekatan stilistika diharapkan dapat mengupas unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut. Unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut memunculkan efek-efek tertentu terhadap pembacanya. Efek tersebut merupakan efek estetis yang terkandung dalam cerpen ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kajian Unsur Leksikal Pada unsur leksikal, hasil kajian dalam cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” dapat dilihat  berdasarkan kompleksitas kata,  penggunaan kata formal nonformal,  penggunaan kata dari bahasa asing, dan jenis kata yang digunakan. Kompleksitas kata terbagi menjadi dua, yaitu kata kompleks dan kata sederhana. Dari hasil analisis pada cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” banyak ditemukan kata sederhana, misalnya malam, pemuda,  24 daun, wanita, pangeran, cinta, angkasa, kebun,  dan lain-lain. Hal itu menimbulkan efek estetis pada cerpen ini terkait penyampaian makna yang dikemas dengan pilihan kata yang praktis dan notasi yang lugas sehingga pembaca mudah menangkap isi sekaligus memaknai cerpen ini tanpa perlu menafsirkan kata-kata yang sulit dipahami. Bentuk kata (unsur leksikal) dalam cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” tidak terlalu menonjol. Dapat dikatakan, pengarang/  penerjemah kurang memanfaatkan  bentuk kata tertentu sebagai ciri khas untuk mengekspresikan pemikirannya atau pemikiran dari tokoh-tokoh yang diciptakannya. Gaya  pembentukan kata kebanyakan mengikuti pemakaian gaya bahasa Indonesia sehari-hari. Pembentukan kata dengan afiks yang tidak menyimpang dari kaidah afiksasi dalam bahasa Indonesia banyak terdapat dalam cerpen ini, seperti kata-kata mengintip, mendengar, bercerita, bersedih, diiringi, berlari, dirinya, membuatnya, menjatuhkan, menginginkan, membentangkan, merenungkan , dan lain-lain. Penggunaan jenis kata formal dan nonformal atau sering disebut dengan istilah kata baku dan tidak  baku, dalam cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” banyak ditemukan. Ditemukan beberapa kata formal umumnya yang digunakan dalam bahasa Indonesia sehari-hari seperti,  pemuda, pucat, bijak, bangsawan, wanita, bunga, dirinya, wajahnya, tangannya, kebun, cantik  , dan lain-lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kata telah sesuai dengan kaidah ejaan  bahasa Indonesia. Dalam cerpen ini  juga ditemukan beberapa gaya kata yang casual   (nonformal) misalnya, aku, dia, ia, kau, tak,  dan lain-lain. Pembentukan kata ulang pun sesuai dengan kaidah reduplikasi  bahasa Indonesia, misalnya kata ulang berkaca-kaca, celah-celah, keras-keras, tengah-tengah, pesan- pesan, dan lain-lain. Pembentukan kata dengan metode reduplikasi ini ditunjukkan untuk memberi  penegasan terhadap suatu kondisi dan memberikan efek dramatis. Penggunaan kata dari bahasa asing dalam cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul” tidak ada sama sekali. Hal tersebut menunjukkan  bahwa pendayagunaan kata dari  bahasa asing dalam cerpen ini tidak ada sama sekali. Mengingat bahwa cerpen ini merupakan cerpen terjemahan yang sudah melalui  proses terjemahan dari pengarang aslinya. Dapat dikatakan pula bahwa  penerjemah lebih nyaman menerjemahkan dan suka menggunakan bahasa Indonesia daripada mencampuradukkan tatanan kata bahasa asing. Jenis kata dalam tataran bahasa Indonesia dibagi menjadi lima, yaitu kata benda, kerja, sifat, bilangan, dan tugas. Dari hasil analisis pada cerpen “Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul”, terdapat dominasi pada kata  benda misalnya, bunga mawar,  pohon , dan lain-lain. Hal itu memperlihatkan bahwa cerpen ini lebih menunjukkan penegasan terhadap objek-objek sebagai pusat cerita dalam cerpen tersebut. Terdapat beberapa bukti, cerpen tersebut menggunakan hewan dan tumbuhan sebagai penggambaran tokoh.
Search
Similar documents
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x