Letters

EKARISTI DAN SPIRITUALITAS BERBAGI

Description
EKARISTI DAN SPIRITUALITAS BERBAGI
Categories
Published
of 7
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  EKARISTI DAN SPIRITUALITAS BERBAGIPENGANTAR 01Menurut informasi yang kami terima, dalam rangka Seminar Ekaristi dalamKonggres Ekaristi di Keuskupan Agung Semarang, tanggal 28 Juni 2008 ini diadakanrenungan tentang Ekaristi, yang ditinjau dari beberapa segi maknanya, yakni: dari segiteologis-biblis, liturgis, spiritual, pastoral dan dalam praksis. Tanpa mengadakan pem- batasan segi tinjauan secara ketat (yang kiranya memang tidak mungkin), kami dimintamenyumbangkan pandangan sederhana tentang Ekaristi dan tentang suatu sikap batintertentu, yang perlu dimiliki guna menghayatinya secara berdayaguna. Tema yangdiberikan kepada kami berbunyi: “Ekaristi   dan Spiritualitas Berbagi” . Maka padakesempatan ini, Ekaristi akan kita renungan bersama dengan meninjaunya dari segispiritual.Paus Yohanes Paulus II menegaskan, bahwa “Gereja hidup dari Ekaristi” (Ens.EE 1), sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, yakni bahwa Ekaristi  adalah “ sumberdan   puncak setiap hidup kristiani ” (LG 11). Paus Benediktus XVI tahun lalu mene-rangkan, bahwa “Sakramen Cinta Kasih, Ekaristi kudus, adalah karunia pemberian diriYesus Kristus , yang mengungkapkan kepada kita kasih Allah yang tak terbatas kepadasetiap orang, laki-laki dan perempuan. Sakramen yang mengagumkan ini menyatakankasih yang ‘lebih besar’, yakni kasih yang mendorong Dia untuk ‘memberikan nyawa- Nya bagi sahabat-sahabat-Nya’ [Yoh 15:13]” (Ens. SC 1). Demikian secara ringkas telahdisampaikan kepada kita sebagai umat kristiani, apa sebenarnya makna Ekaristi dalamajaran Konsili Vatikan II dalam Gereja. Gereja adalah kita semua ini. Dan beberapacirinya yang khusus dalam Ekaristi itu ditunjukkan oleh Paus Yohanes Paulus II, yakni bahwa Gereja harus hidup dari Ekaristi, dan diperkuat Paus Benedictus XVI yangmenegaskan, bahwa Ekaristi pada dasarnya adalah pemberian diri kepada oranglain. Demikianlah pada dasarnya Ekaristi berarti saling berbagi.GEREJA DAN EKARISTI 02Sejak awal perlu kiranya kita sadar, bahwa Gereja  berkaitan begitu erat dengan Ekaristi , sehingga keberadaan masing-masing akan kehilangan maknanya, bila hubunganantar keduanya itu lepas. Seperti ditegaskan oleh Paulus, bila kita berbicara tentangGereja, kita berbicara tentang Tubuh Kristus, di mana kita adalah anggota-anggota danDia adalah kepala-Nya. Dan bila berbicara tentang Tubuh Kristus, kita ingat akan Gerejamaupun akan Ekaristi. Hubungan itu begitu erat, sebab Gereja adalah suatu persekutuan(communion) dan Ekaristi adalah juga persekutuan! Ekaristi adalah puncak hiduppersekutuan! Dalam setiap korban Misa hadirlah misteri penderitaan, kematian dankebangkitan Kristus, dan Ia sungguh hadir bagi kita dalam Sakramen Ekaristi.Untuk merenungkan spiritualitas, kita membutuhkan iman (kepercayaan), tetapi iman jangan disamakan dengan teologi . Secara sederhana perbedaan itu dapat kita pahami, bila kita berlutut di hadapan tabernakel. Kita berlutut, mengapa? Karena didalam Gereja Kristus berkata kepada kita, bahwa Ia sungguh hadir di dalam tabernakel.Bagaimana Kristus hadir di sana? Itulah yang disebut teologi! Dan para teolog juga tidak  pernah dapat menerangannya sepenuhnya! Makin tinggi pengetahuan teologi kita, tidak 1  otomatis sekaligus makin mendalam iman kita! Kepercayaan bahwa Kristus hadir didalam Ekaristi bukanlah hasil dari banyak membaca, bukan sebagai hasil studi ilmiah,ataupun sebagai hasil pemikiran apapun lainnya, melainkan berkat iman penuh keren-dahan hati terhadap kasih Allah.MENERIMA KRISTUS TUHAN DALAM PENERIMAAN KOMUNI 03 Ikut mengambil bagian dalam korban Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi,adalah suatu saat bagi kita untuk ikut mengalami penderitaan Yesus di salib namunsekaligus kebangkitan-Nya dari maut . Itulah saat di mana kita begitu dekat denganDia, saat kita harus menyerahkan diri kepada-Nya, sebab Ia memberikan diri-Nya kepadakita. Itulah saatnya Ia menyapa kita dan memperteguh hidup kita. Saatnya Ia memberikekuataan kepada kita bila mengalami kesukaran hidup. Saatnya di mana kita harus relamenerima dari tangan-Nya salib, apapun bentuknya, yang harus kita pikul, tetapimenerima dari tangan-Nya pula kekuatan untuk memanggulnya dengan tabah. Itulahsaatnya kita penuh kasih berani berkata: “Aku bersedia, ya Tuhan, dengan bantuan-Mu”.Saat itu adalah saat yang sangat pribadi dengan Tuhan. Hanya dengan Dia di dalam lubuk hati kita masing-masing. Hanya bila demikian, barulah kita bersama dapat merupakansuatu kelompok atau komunitas kristiani sejati. Hanya bila demikianlah terbentuk suatu jemaat, suatu komunitas, suatu paroki yang sebenarnya! Saat tenang sesudah penerimaanEkaristi adalah waktu begitu berharga! Kita masing-masing tetapi bersama-sama sebagaiGereja berhadapan dengan Tuhan. HUBUNGAN EKARISTI DENGAN IMAN 04 Tuhan datang menyapa kita melalui aneka cara . Kita percaya bahwa YesusKristus, sebagai Pribadi Kedua Allah Tritunggal, yang menjadi manusia dan tinggal bersama kita sebagai manusia. Dengan iman kita ingat akan apa yang dikatakan dandilakukan-Nya bagi kita: sabda-Nya, perbuatan baik, penderitaan dan kematian, tetapi juga kebangkitan-Nya, sehingga Ia tetap tinggal bersama kita dengan hidup baru. Itulahkarya penyelamatan-Nya. Di samping itu Kristus juga mendatangi kita lewat sabda-Nyadalam Kitab Suci; lewat Sakramen-Sakramen; sebagai teman atau sahabat dalamkehidupan pribadi kita, yang selalu ingin bergaul erat mesra dengan kita dalam hidup pribadi kita masing-masing. Tetapi Ia secara khusus juga datang menyapa kita,bahkan menyatu dengan kita dalam Ekaristi. Ekaristi, yakni Tubuh dan Darah Yesus Kristus adalah suatu anugerah luarbiasaAllah kepada umat kristiani. Ekaristi sebagai korban, yakni Misa Kudus, adalahsuatu kesempatan, saat atau peristiwa, di mana kita dapat melibatkan diri kitasecara istimewa dalam kematian dan kebangkitan Yesus, artinya dalam penebusanatau penyelamatan kita.  Misa Kudus memungkinkan kita menyatukan diri denganYesus Kristus, yang mengorbankan diri-Nya kepada Bapa-Nya. Pada saat itu juga kitasendiripun mengorbankan diri kita dan segala sesuatu yang kita lakukan kepada Allah. Dengan iman inilah kita tahu, bahwa Ekaristi memungkinkan kita bersatudengan Tuhan, dan dalam Dia juga dengan sesama kita!  Hidup kristiani atau hidupdalam Kristus, yang pada awal kita terima dalam permandian, selanjutnya mendapatsantapan pemeliharaan hidup dari Tubuh dan Darah Tuhan kita sendiri! 2  EKARISTI SEBAGAI PUSAT ATAU INTISARI GEREJA 05Kalau seperti ditegaskan oleh Konsili Vatikan II “ Ekaristi adalah sumber danpuncak setiap hidup kristiani” (LG 11), dan kemudian ditegaskan juga oleh PausYohanes Paulus II , bahwa “ Gereja hidup dari Ekaristi ” (Ens. EE 1), maka Ekaristiadalah benar-benar pusat atau intisari seluruh Gereja.  Dengan demikian jugamerupakan pusat setiap komunitas, paroki, keuskupan dan seterusnya, dan setiap pribadikristiani masing-masing di dalamnya. Itulah kekayaan paling berharga Gereja,berarti kekayaan kita semua.  Sangat perlu kita ketahui, bahwa apabila dalam perjalanan sejarahnya Gereja mengadakan beberapa perubahan dalam tata-cara pelaksa-naan Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi, tujuannya adalah untuk meningkatkan peran-serta umat dalam menghadiri Perayaan Ekaristi secara makin mendalam. Namun “KorbanKristus” (yakni Misa Kudus) yang “diperbaharui” itu, baik dahulu, sekarang maupunyang akan datang adalah sama! Memang Perayaan Ekaristi harus selalu disiapkan dandiselenggarakan sebaik dan sepantas mungkin. Sebab bukankah itu sebenarnyamerupakan saat penghayatan hidup kristiani yang paling tinggi? Gereja adalah suatu persekutuan (communio). Mutu persekutuantergantung dari kondisi anggota-anggotanya. Hanya apabila segenap anggotanyasungguh hidup dari Ekaristi, maka Gereja dapat hidup seperti seharusnya, danbukan sebagai tampaknya belakaKERENDAHAN HATI 06 Untuk dapat mewujudkan hidup ekaristis kita secara baik dan benar, kitaharus menjadi orang beriman yang rendah hati . Kita harus yakin bahwa dalam penerimaan Ekaristi, roti yang kita makan dan anggur yang kita minum, adalah sungguhTubuh dan Darah Yesus Kristus, Tuhan kita. Inilah makna kata-kata Yesus: “Lakukan-lah ini untuk mengenangkan Daku” (konsekrasi dalam Misa Kudus). Iman kitamemang hanya bermakna dan berdaya, apabila disertai kerendahan hati terhadapkasih Yesus Kristus yang begitu besar, khususnya pada saat Ia berbagi diri kepadakita dalam Ekaristi. Kerendahan terhadap kasih Allah merupakan dasar kasih ekaristis umat kristiani perdana. “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makanbersama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan merekadisukai semua orang” (Kis 2:46-47). “LAKUKANLAH INI UNTUK MENGENANGKAN AKU” 07Dalam kata-kata Yesus ini tersimpan perintah-Nya yang sangat mendalam. Latar  belakang perjamuan malam terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya adalah pembebasanIsrael dari pembuangannya di Mesir. Setiap tahun peringatan itu diselenggarakannya,untuk berterima kasih kepada Allah atas karya pembebasan-Nya, dan atas perlindungan- Nya dalam perjalanannya pulang ke tanah yang dijanjikan-Nya. Dalam perjanjian malamitu Yesus juga memuji meluhurkan Allah Bapa-Nya dan mengucapkan syukur kepada- Nya, untuk kemerdekaan orang-orang Yahudi. Tetapi dalam perjamuan itu Yesusmengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya . Dengan perbuatan-Nyaitu Yesus memberikan   makna yang baru kepada perjamuan makan itu . Apakah itu3  sebenarnya? Yesus melaksanakan itu dengan tujuan memerdekakan ataumenyelematkan umat manusia dari dosanya dengan memberikan diri-Nya untuk mati, bangkit dan naik ke surga! Yesus mengubah dan memberikan bentuk dan makna peringatan dan perjamuan Paskah Yahudi itu menjadi lain serta sungguh menjadi baru. Sejak    perjamuan terakhir itulah, setiap kali apabila seorang imam mempersem-bahkan Misa Kudus, berulanglah dan terwujudlah kembali bagi kita peristiwapenyelamatan agung, yang dahulu terjadi secara simbolis dan profetis dalamperjamuan malam teraklhir, namun menjadi kenyataan dalam kematian Yesus dikayu salib di Kalvari, yang dapat disaksikan semua orang.KRISTUS TAAT KEPADA BAPA 08Perintah Kristus “ Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” ternyata juga berarti, bahwa Ia menghendaki agar kita ikut melibatkan diri dalam apa yangdilaksanakan-Nya dalam perjamuan malam, namun juga di kayu salib di Kalvariduapuluh abad lalu . Yesus mengasihi Bapa dan kita manusia sepenuhnya. Kasihkepada Bapa-Nya, yang mengasihi umat manusia, mendorong Yesus menerimakematian di salib, sebagai bukti kesetiaan-Nya.  Memang ketaatan kepada orang lainkerapkali merupakan bukti kasih yang murni! Kita bersedia melakukan sesuatu yangdikehendaki orang yang kita kasihi. Kita harus merenungkannya secara mendalam! Sebab sungguh sulit untuk dipahami mengapa justru Allah Bapa membiarkanPutera-Nya menderita sedahsyat itu untuk menunjukkan kesetiaan-Nya kepada-Nya . Di satu pihak kita sadari betapa buruknya dosa manusia sebenarnya, namun di lain pihak betapa agung dan luarbiasa kasih Allah kepada kita! Kita ini adalah pendosa! Dosa memisahkan kita dari Allah . Bayaran yangharus kita penuhi adalah kematian.  Namun sebagai ganti dosa, yakni dipisahkan dariAllah dan harus mati, Allah yang penuh kasih dan belaskasihan mau mengampunikita, dan memberikan hidup serta persatuan kita dengan Dia . Demikianlah Kristusrela mengalami pengalaman kematian begitu kejam dan hina, untuk mengalahkan dosadan maut, agar kita dapat mengalahkan dosa dan maut pula, dan dapat mengalami pengampunan dan kebangkitan yang diberikan Bapa kepada kita! KITAPUN HARUS TAAT SEPERTI KRISTUS 09 Ketaatan Yesus kepada Bapa sampai mati menghasilkan kebebasan danhidup kepada kita, yakni kebebasan kita sebagai putera-puteri Allah . Kematian-Nyadi salib, itulah korban-Nya, pengorbanan diri-Nya. Setiap kali dipersembahkan MisaKudus, terwujudlah kembali korban Yesus dahulu di Kalvari itu. Patutlah kita renungkan, bahwa apa yang dialami dan dilakukan Yesus di Kalvari hanya sekali dan untuk semuaorang. Sebab Kristus tidak dapat mati lagi! Maka betapa luhur makna perayaanEkaristi, bila kita ikut mengambil bagian dalam korban Yesus sendiri di Kalvari,yang terulang kembali dalam setiap Misa Kudus. Setiap kali kita dapat menerimapengampunan Allah Bapa, hidup baru, persatuan erat dengan Allah. SPIRITUALITAS 10 Sikap dasar yang dimiliki seorang kristiani sejati , yang ingin hidup dan bertindak sebagai orang yang sungguh beriman , dan bukan sekadar sebagai orang 4  beragama , harus sama seperti dimiliki Yesus . Yesus bukan menekankan apa yangresmi, yang formal, yang dilihat orang, melainkan apa yang hidup dalam hati orang,dalam batin, dan sesuai dengan hati nuraninya yang benar, yang dibimbing oleh Roh-Nya(“Spiritus”-Nya). Kode etik tidak menjamin kesungguhan jatidiri seseorang, sebab kodeetik menyangkut perilaku lahiriah. Suasana hidup dan kerja seorang beriman kristianisejati bukan pertama-tama dikaitkan dengan pengawasan dan sanksi, melainkan dengansikap batin, atau dengan kata lain dengan spiritualitas yang memadai . Spiritualitas ini merupakan sikap dasar batin atau iman , yang merupakanlatar belakang dan landasan wawasan nilai seseorang, yang melibatkan diri dalam perbu-atan tertentu. Spiritualitas berfungsi sebagai sumber inspirasi, motivasi dan animasiuntuk menghayati hidup dan karya atau tugasnya, yang diharapkan sungguhmenyatu dan dapat memancar sebagai kesaksian .Spiritualitas yang murni membutuhkan pendidikan hati  yang menetap dan mem- butuhkan proses transformasi batin  yang memadai. “Demi kemurahan Allah akumenasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahanhidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yangsejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuanbudimu, sehingga kamu dapat membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah danyang sempurna” (Rom 12:1-2). Spiritualitas merupakanhasil proses pemahaman nilai-nilai Injil yang telah diberikan oleh Kristus kepadakita.SPIRITUALITAS DAN LITURGI 11Spiritualitas berhubungan erat dengan ibadat, dan ibadat resmi yang diselenggara-kan Gereja disebut liturgi. Dalam ibadat atau liturgi terungkaplah ungkapan hubungankita sebagai manusia dengan Allah, tetapi sekaligus hubungan antara kita sendiri sebagaimanusia dan dengan alam semesta. Karena itu sangat tajamlah seruan Yesaya, yang menegaskan, bahwa   ibadat dengan segala korban apapun tiada harganya, bila tidak disertai dengan hubungan yang baik dengan sesama  (Yes 1:10-20). Juga Amosmembenci ibadat yang bertentangan dengan kebaikan dan keadilan kepada sesama(Am 5:21-25) . Setiap ibadat kepada Tuhan tidak pernah akan dibenarkan maupun berkenan kepada Allah, apabila dilepaskan dari situasi dan kondisi di mana ibadat itudiselenggarakan . Karena itu setiap perayaan liturgi harus selalu diselenggarakansecara kontekstual. Nah, hal ini pertama-tama berlaku untuk Perayaan Ekaristi.EKARISTI DAN SPIRITUALITAS BERBAGIMemecah-mecahkan roti 12Dalam setiap Perayaan Ekaristi kita selalu mendengar ucapan kata-kata imam ini: “Yesus mengambil roti, mengucap syukur kepada-Mu, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya…”. Dan kemudian dalam bagian keduaimam juga mengulangi kata-kata Yesus sendiri: “  Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”   (kata-kata konsekrasi roti dan anggur). Kiranya dalam kata-kata Yesus itulah kitaharus menempatkan sumber SPIRITUALITAS BERBAGI yang harus dimiliki setiaporang kristiani sejati. 5
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x