Music & Video

INTERNALISASI VISI UNJA A WORLD CLASS ENTREPRENEURSHIP DALAM MEWUJUDKAN TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI20191015 117204 gm9qe9

Description
INTERNALISASI VISI UNJA UNTUK MEWUJUDKAN DOSEN PROFESIONAL DAN LULUSAN YANG ENTREPRENEURSHIP 1. Pendahuluan Pengelolaan Perguruan Tinggi di dunia terdiri atas Teaching University, Research University serta Entrepreneurship University. Perbedaan
Categories
Published
of 6
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
    Nama Dosen : Sherli Yurinanda, S.Pd., M.Si. NIP : 199307182019032017 Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jambi INTERNALISASI VISI UNJA UNTUK MEWUJUDKAN DOSEN PROFESIONAL DAN LULUSAN YANG ENTREPRENEURSHIP 1.   Pendahuluan Pengelolaan Perguruan Tinggi di dunia terdiri atas Teaching University, Research University serta Entrepreneurship University. Perbedaan antara Teaching University dengan Research University terletak pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tingginya. Pada Perguruan Tinggi Teaching University mempunyai proporsi lebih banyak pada pengajaran sementara Research University lebih menekankan kepada penelitian. Jika kita kaji lebih dalam, perguruan tinggi sangat berpotensi menghasilkan pelaku wirausaha yang dapat membantu pembangunan nasional. Untuk itu, perguruan tinggi harus mengubah visi dan misinya dari sekedar teaching university atau research university menjadi entrepreneurship university, yaitu universitas yang menerapkan hasil-hasil penelitiannya untuk kepentingan dunia usaha. Hal ini senada dengan visi UNJA sebagai  A World Class    Entrepreneurship University . Setiap tahunnya ribuan sarjana baru dilahirkan dari Perguruan Tinggi. Namun, lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas. Hal ini mengakibatkan banyaknya lulusan Perguruan Tinggi yang menggangur serta bekerja tidak sesuai dengan bidangnya. Selain itu perkembangan menuju abad ke-21 mengharuskan kita untuk mempersiapkan mahasiswa yang terampil agar mereka mampu menghadapi tantangan. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan tersebut dibutuhkan dosen professional dalam mewujudkan visi UNJA sebagai  A World Class    Entrepreneurship University.   2.   Pembahasan Menurut Chaplin (2005: 256), Internalisasi adalah sebuah proses karena didalamnya ada unsur perubahan dan waktu. Internalisasi (internalization) diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat, dan  seterusnya di dalam kepribadian. Jika kita hubungkan dengan visi UNJA sebagai  A World Class    Entrepreneurship University, maka internalisasi yang dimaksudkan disini adalah suatu proses menyatukan Visi UNJA dengan semua civitas akademika agar terbentuknya UNJA sebagai salah satu universitas kelas dunia yang menghasilkan lulusan entrepreneurship yang berkualitas. Menurut Muhaimin (1996 : 153), Dalam proses internalisasi yang dikaitkan dengan pembinaan peserta didik atau anak asuh ada tiga tahap yang mewakili proses atau tahap terjadinya internalisasi, yaitu:   a. Tahap Transformasi Nilai : Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik atau anak asuh. b. Tahap Transaksi Nilai : Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang bersifat interaksi timbal-balik. c. Tahap Transinternalisasi : Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Tahap dalam internalisasi inilah yang harus di aplikasikan dosen dalam proses perkuliahan. Proses internalisasi visi UNJA ini sendiri tidak terlepas dari peran dosen yang professional. Menurut UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen, dalam pasal 1 ayat 1 dibunyikan bahwa dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan kata lain, seorang dosen yang professional adalah dosen yang melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan baik. Selain itu, dosen professional yang diinginkan UNJA adalah dosen yang mampu mengimplementasikan visi UNJA sebagai  A World Class    Entrepreneurship University  dalam proses pengajaran, mulai dari rancangan perkuliahan, pelaksanaan hingga evaluasi.  Rancangan perkuliahan tertuang ke dalam bentuk RPS (Rencana Perkuliahan Semester) yang didalamnya terdapat implementasi unsur kewirausahaan. RPS ini berdasarkan kepada kurikulum dan profil lulusan yang diinginkan. Dosen UNJA yang profesional dituntut untuk menanamkan sikap dan skill entrepreneurship dalam setiap mata kuliah yang sedang diampunya. Tidak hanya itu, RPS yang dirancang tadi harus dilaksanakan dalam proses perkuliahan. Pada saat akhir perkuliahan dosen kemudian melakukan evaluasi untuk ditindak lanjuti. Jika ditemukan adanya hal yang kurang tepat, dibuat rancangan baru yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, diharapkan dosen mampu mewujudkan internalisasi visi UNJA dalam proses perkuliahan. Selain itu, dosen profesional mampu mengembangkan bidang ilmunya melalui penelitian. Dosen profesional UNJA diharapkan mampu mengkolaborasikan penelitian pada bidang ilmunya dengan dunia entrepreneur. Dosen nantinya dapat mengajar sesuai dengan hasil risetnya. Pengembangan ilmu pengetahuan itu dapat ditransfer kepada mahasiswa. Sasarannya lulusan dari UNJA dapat menjadi lulusan entrepreneurship, untuk itu mereka harus dipersiapkan untuk menghadapi tantangan abad 21. Keterampilan yang harus mereka miliki antara lain. 1.   Kemampuan Dasar Kemampuan dasar adalah kemampuan harus dimiliki seseorang sesuai dengan bidang ilmunya. Sebagai contoh lulusan dari Program Studi Farmasi pasti memahami berbagai macam obat-obatan termasuk zat yang terkandung di dalamnya. Selain itu, mereka juga paham dosis dan kegunaan obat tersebut. Lulusan farmasi ini bisa berwirausaha dengan mendirikan berbagai apotik. 2.   Kemampuan Berkomunikasi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud dapat dipahami. Dalam hal ini mahasiswa dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk baik secara lisan, tulisan, dan multimedia. Jika kita tinjau lebih dalam, abad 21 merupakan era digital yang menyebabkan komunikasi yang dilakukan tanpa batas jarak dan waktu. Bahkan dengan bantuan internet dalam hitungan detik, manusia dapat dengan  mudah terhubung ke seluruh dunia. Hal ini berarti kompetisi dalam dunia pekerjaan semakin terbuka lebar, tidak hanya dengan lulusan UNJA atau Perguruan Tinggi lain di Indonesia, namun juga lulusan Perguruan Tinggi dari negara lain. Komunikasi memerlukan seni kita harus tahu dengan siapa berkomunikasi, kapan waktu yang tepat untuk berkomunikasi, dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik. 3.   Kemampuan Berfikir Kritis Menurut Wijaya (2010:72), berpikir kritis yaitu kegiatan menganalisis ide atau gagasan ke arah yang lebih spesifik, membedakannya secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya ke arah yang lebih sempurna. Selanjutnya, menurut Surya (2011:131), berpikir kritis merupakan kegiatan yang aktif, gigih, dan pertimbangan yang cermat mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan apapun yang diterima dipandang dari berbagai sudut alasan yang mendukung dan menyimpulkan. Sehingga, kita dapat menyimpulkan kemampuan berpikir kritis merupakan suatu kemampuan untuk menganalisis ide secara logis untuk membantu membuat, mengevaluasi serta mengambil keputusan tentang suatu informasi yang di peroleh. Kemampuan berfikir kritis mahasiswa UNJA bisa dilatih selama proses proses perkuliahan agar tercapainya lulusan yang bermental kuat.  4.   Information / Digital Literacy Digital literacy merupakan kemampuan untuk menavigasi, mengevaluasi dan membuat informasi dengan menggunakan berbagai teknologi digital. Kemampuan d migital literacy meliputi kemampuan menggunakan hardware dan software, memahami sumber dan akses dari informasi, memahami penggunaan teknologi informasi untuk penelitian, mengikuti perkembangan teknologi informasi sserta mengevalusi manfaat teknologi baru. 5.   Kemampuan Penalaran Penalaran dapat diartikan sebagai proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap pernyataan. Tujuan dari penalaran adalah untuk menentukan secara logis dan objektif, apakah suatu pernyataan tersebut benar atau salah sehingga bisa untuk diyakini. 6.   Kemampuan Interpersonal  Secara sederhana kemampuan interpersonal merupakan kemampuan yang di miliki oleh seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain, baik individu maupun masyarakat. Sebagai contoh dalam sebuah perusahaan seseorang dengan interpersonal skill yang bagus akan memiliki kesempatan mendapat tempat di perusahaan itu lebih baik dari pada orang dengan interpersonal skill yang buruk. Hal ini karena orang dengan interpersonal skill yang baik cenderung lebih di sukai karena dia memiliki kemampuan memahami perasaan orang lain. Selain itu, orang memiliki kemampuan interpersonal yang baik dapat di rasakan dari cara dia mendengarkan dan memecahkan masalah di lingkungan sekitarnya. 7.   Multicultural/ Multilingual Literacy Kemampuan multi kultural merupakan kemampuan untuk mengakui, menerima dan menegaskan perbedaan manusia yang dikaitkan dengan budaya, etnik, gender, ras, keanekaragaman bahasa, kelas sosial. Jika kita hubungkan dengan perkembangan abad 21, salah satu hal yang penting adalah kemampuan memahami keanekaragaman linguistic. Hal ini dikarenakan lulusan UNJA harus mampu berkompetisi dengan lulusan dari negara lain, sehingga kita harus mempersiapkan kemampuan bahasa asing yang baik. 8.   Kemampuan Pemecahan Masalah Kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki oleh setiap lulusan UNJA. Semakin matang ilmu seseorang, maka semakin baik pula kemampuan pemecahan masalahnya. Hal ini tentu sangat diperlukan dalam dunia wirausaha, tanpa mental yang kuat dalam memecahkan masalah mustahil dapat menjalankan usahannya dengan baik. Menurut Polya (1985), terdapat empat prinsip-prinsip dasar dalam memecahkan masalah yaitu memahami masalah, merencanakan pemecahan, melaksanakan rencana, dan melihat kembali . 9.   Kemampuan Teknologi Kemampuan Teknologi sangat penting dimiliki oleh semua lulusan UNJA. Saat ini, dunia seperti berada dalam genggaman teknologi. Apabila kita tidak mampu memahami, mengikuti serta mengaplikasikan teknologi maka akan semakin tertinggal dan kalah dalam kompetisi.
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x