Internet & Web

Jalinan Feodalisme dan Kapitalisme Agraris20191013 31807 oghlmn

Description
Jalinan Feodalisme dan Kapitalisme Agraris20191013 31807 oghlmn
Categories
Published
of 9
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  Jurnal Sejarah Lontar Vol. 4 No. 2 Juli-Desember 2007  JALINAN FEODALISME DANKAPITALISME AGRARIS: TELAAHTERHADAP BUKU “KEBESARAN DANTRAGEDI KOTA BANTEN” Oleh:Sugeng P. Syahrie S.S Dosen Jurusan Sejarah FIS UNJ  Abstrak   Studi tentang kemunduran Kesultanan Banten sudah dilakukan oleh banyaksejarawan dengan meletakkan faktor politik sebagai unit utama analisis. Berbedadengan kecenderungan tersebut, buku Kebesaran dan Tragedi Kota Banten  yangditulis oleh Heriyanti Ongkodharma ini menampilkan politik hanya sebagai latar.Ongkodhrama membeberkan fakta-fakta lain hasil dari kajian arkeologi ekologi ihwal pasang surut peranan Banten. Dari telaah tersebut, Ongkodharmamenyimpulkan bahwa titik perhatian untuk menjelaskan kemunduran dankemudian kehancuran kota Banten adalah pada pola-pola ekonomi dan sosial.,bukan pada ekologis karena faktor ini lebih merupakan akibat. Bertolak dari karyaOngkodharma tersebut, artikel ini memberi penjelasan lebih jauh bahwa kapitalismeagraris (oleh golongan pribumi) tampaknya telah berlaku di Banten sejakdidirikannya kesultanan hingga berakhirnya masa kekuasaan Sultan Ageng pada1682. Tetapi, kapitalisme itu jalin-menjalin dengan praktik eksploitasi terhadaprakyat oleh kaum penguasa dan para tuan tanah yang disamarkan oleh nilai-nilai tradisional dalam sistem feodal lokal khas kerajaan-kerajaan agraris Jawa yangmasih berurat berakar—yang ternyata juga muncul dalam sebuah kerajaan pesisirseperti Banten. Pendahuluan Sejak Batavia mengambil alihperan Banten sebagai bandar niaga yangdisegani pada penghujung abad ke17,riwayat Banten tak ubahnya kisahSaijah dan Adinda yang memelas dalamnovel  Max Havelaar  karya Multatuli.Kelas kapitalis niaga yang tadinya mulaitumbuh di Banten dengan sendirinyarontok oleh hadirnya monopoli serikatdagang VOC. Sejak itu yang terjadiadalah sebuah transformasi sosialterbesar dalam sejarah Benten: transisidari masyarakat niaga pada zamanKesultanan Banten menuju masyarakat buruh industri dewasa ini.Studi tentang transformasi Bantenini sudah dilakukan oleh para penelitilain, terutama sejarawan, denganmeletakkan faktor politik—terutamapertikaian internal keluargakesultanan—sebagai unit utama analisis.Berbeda dengan kecenderungan ini, buku  Kebesaran dan Tragedi Kota Banten  yang ditulis oleh HeriyantiOngkodharma ini menampilkan politik hanya sebagai latar. Ongkodhramamembeberkan fakta-fakta lain hasil darikajian arkeologi ekologi ihwal pasangsurut peranan Banten dalam perniagaan.Dengan memanfaatkan ribuan bukti-bukti arkeologis ( material  33  Jurnal Sejarah Lontar Vol. 4 No. 2 Juli-Desember 2007 culture ) —artefak-atefak biotik danabiotik serta ekofak—Ongkodharmamengkaji pola-pola pemanfaatan daneksploitasi sumber daya ingkungan diKesultanan Banten. Dalam analisisnya yang cermat, Ongkodharmamenunjukkan bahwa pemerintahkesultanan tidak berfungsi sebagailembaga yang mengkonservasilingkungan. Politik ekonomi lada yangeksploitatif dan mengabaikan dayadukung dan keseimbangan lingkungantelah menyebabkan deteriorisasilingkungan pedalaman maupun pesisirsecara besar-besaran. Akibatnya,peranan Banten sebagai kota pelabuhanniaga berskala internasional terkikis bersama terjadinya deteriorasilingkungan di kawasan ini (hlm. 203). Bandar Niaga  Asal-usul Banten sebagai sebuahkerajaan Islam agak unik. Taufik  Abdullah dalam kata pengantar atas buku  Banten Dalam Pergumulan Sejarah  (2004) menjelaskan bahwakerajaan ini tidak bermula dari tumbuhdan membesarnya sebuah kekuasaanlokal, tetapi muncul sebagai akibat dariekspansi kekuasaan dari luar. Dalamusaha untuk meluaskan kekuasaan danmengembangkan Islam, Sunan GunungJati—ulama-penguasa dari Cirebon,mendirikan Banten. Ternyata ini adalahsebuah keputusan politik yang sangattepat karena pada awal abad xvi ituMalaka jatuh ke Portugis sehinggaterjadi pemencaran pusat-pusatperdagangan Islam.Di Jawa, abad xvi menyerupaisebuah tahap pokok dalam sejarah jaringan perniagaan. Selama enamdasawarsa kekuasaan agraris dipedalaman yang sampai saat itu unggulkemudian ditundukkan dan disingkirkanoleh kekuasaan niaga di pesisir. Sebuahkebangkitan politik daerah pantai ataspedalaman. Kota-kota dagang baru pun bermunculan yang kemudian tumbuhmenjadi pusat kekuasaan yang besar.Dalam situasi inilah— the age of Islamichegemony —Banten secara pelan tapipasti tumbuh menjadi entrepot  —pelabuhan yang menerima barangimpor, mengirim barang ekspor, danmengekspor barang impor—yangterbesar di Pulau Jawa sekaligusmenjadi kerajaan Islam yang besar.Sepanjang kurun akhir abad xvihingga awal abad xvii, sebagaimanaditulis oleh sejarawan Denys Lombarddalam  Nusa Jawa Silang Budaya (2005, II: 55, 59), berkat meningkatnyaperdagangan Eropa di daerah itu, tidak kuranglah kesaksian menganai Banten,semuanya memberitakan segikosmopolit kota itu dan mengemukakan bahwa pelabuhan itu termasuk yangterpenting di Jawa. Kota Bantenmengalami masa kejayaannya di bawahpemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa(1650-1682) yang merangsangperniagaan, melaksanakan pekerjaan besar di bidang kanalisasi dan pengairan,membangun istana baru, dan terutamatak henti-hentinya menyerang bangsaBelanda. Sesudah itu adalah masa-masasuram kemunduran Banten karenakesultanan diperintah oleh sultan-sultan yang pada dasarnya memihak padakepentingan-kepentingan Belanda diBatavia.Sejarah yang tersusun seperti initelah menempatkan Banten sebagaisebuah kerajaan yang berwatak maritim—kegiatan dagang, kebudayaandinamis, dan pandangan ke luar( outward looking ). Watak yangdikontraskan dengan kerajaan agraris dipedalaman—keterikatan pada tanah,pertanian, sikap kultural yangkonservatif, dan cenderung mempunyai 34  Jurnal Sejarah Lontar Vol. 4 No. 2 Juli-Desember 2007 pandangan ke dalam ( inward looking ).Namun, apakah karena sejarahnyasebagai sebuah bandar niaga lantasmenjadikan Banten benar-benar tidak teresapi oleh watak kerajaan agraris yang selema berabad-abad sebelumnyamendominasi kekuasaan di Pulau Jawa?Ekonomi, yang menjadi urat nadi bagi kehidupan Kesultanan Banten, padahakikatnya terbentuk dari jaringan yang berisi hubungan-hubungan sosial yangmengorganiasikan produksi, distribusi,dan pertukaran barang dan jasa dalamsuatu masyarakat. Dalam masyarakatprakapitalis seperti Banten, produksiekonomi ditentukan oleh keinginan danpilihan para pemilik kekuatan-kekuatanproduksi, yakni sultan dan peguasalain—bangsawan serta orang yang dekatdengan keluarga istana. Wujud feodalisme khas kerajaanagraris yang ternyata juga munculdalam sebuah kerajaan pesisir yangmendasarkan dirinya pada perniagaan,agaknya bukan sesuatu yang tanpa akarsejarah. Lombard (2005, III: 65)menulis bahwa ketika Islam datang,tentu membawa perubahan terhadapkonsepsi raja yang demikian. Raja tidak lagi dianggap sebagai perwujudan dewa,melainkan wakil Allah di dunia( kalifatullah ).Namun, agaknya perubahan inihanya pada permukaannya, dan ’lapis’luar keislaman itu ternyata tidak banyak mempengaruhi nilai-nilai lama. Konseplama tentang raja sebagai poros duniatetap bertahan dalam pikiran orang.Konsep kuno tentang kekuasaan raja di Asia Tenggara memandang kerajaansebagai mikrokosmos dengan rajasebagai pelaku utama yang bertugasmempertahankan keserasian antaramikrokosmos dan makrokosmos (jagadraya). Fungsi raja juga disandangi ciri-ciri moral tertentu, antara lainhubungan dasar antara “hamba dantuan” ( kawula gusti  ). Analisis inimemaksa kita untuk menengok kembalisejumlah konsep yang mungkin relevanuntuk menjadi pijakan dalam menjawabpertanyaan di atas. Ekonomi Dualistis Eksistensi Banten, sebagaimanadijelaskan oleh kalangan sejarawan,pada hakikatnya bertumpu padaekonomi perdagangan komoditas lada.Tanpa hasil lada, Banten tidak banyak dikunjungi pedagang (hlm. 179). Kondisiserupa ini sangat disadari oleh penguasaBanten sehingga mereka memperbesarlahan untuk budidaya lada di sampingtetap mempertahankan daerahpenghasil lada di Lampung (hlm. 179).Kekuasaan Banten atas Lampung,daerah pemasok lada terbesar, sangatdominan, terbukti dari piagam Sukan1695 Masehi (hlm. 168). Alhasil, “kulturlada” ini sangat berperan dalamperekonomian Banten sehinggamenciptakan ketergantungan.Ketergantungan terhadap lada itumendorong munculnya ’keserakahan’membuka lahan di kawasan pedalamanuntuk budi daya lada yangmengakibatkan penanaman padimenurun sehingga bahan pangan iniharus didatangkan dari luar daerah. Akibat selanjutnya adalah terciptanyaketergantungan bahan pangan yangmembuat ketahanan pangan kesultananmenjadi sangat rawan. Pembudidayaanlada secara meluas di pedalaman telahmenunjukkan bahwa lingkunganpedalaman adalah tulang punggungperekonomian kesultanan yang berpusat di pesisir (hlm. 201-202).Realitas sosial ekonomi di Banten yang ditopang oleh kultur lada inimungkin dapat dijelaskan, mula-mula,dengan menggunakan perspektif teori 35  Jurnal Sejarah Lontar Vol. 4 No. 2 Juli-Desember 2007  yang dikemukan oleh J.H. Boeke (1973), yaitu teori tentang sistem ekonomidualistis di mana sektor kapitalis niagaterpisah dari sektor tradisional yangprakapitalis dan tidak dapatmemberikan pengaruh yang sanggupmentransformasikannya. Sektor niaga yang kapitalis jelas berorintasi padapeningkatan produksi, bersikap rasional,mengutamakan pertimbangan ekonomidi atas pertimbangan sosial. Sebaliknya,sektor tradisional (pertanian) yangprakapitalis lebih berorientasi padapemenuhan konsumsi, bersikapkomunal dengan mengutamakanpertimbangan sosial di ataspertimbangan ekonomi.Namun, sebagaimana argumenClifford Geertz tentang pertanian diJawa dalam karya provokatifnya,  Involusi Pertanian (1983), dalam kasusBanten kedua sektor itu—pesisir danpedalaman—sesungguhnya tidaklahterpisah, melainkan terikat oleh suatuhubungan. Dalam jangka pendek initampak sebagai sebuah hubungan salingmenguntungkan ( symbiose mutualis ).Masyarakat Kesultanan Banten berhasilmengembangkan sumber dayalingkungan sehingga berhasil menjadikota pelabuhan yang produktif, yang jejak-jekanya terekam dalam bentu dataarkeologi dan sumber tertulis (hlm 122).Persoalannya, dinamika hubungandi antara dua kawasan ini dalam jangkapanjang ternyata memiliki sifat tidak saling menguntungkan ( symbiosenonmutualis ). Sektor niaga yangkapitalis mengambil keuntungan darisektor tradisional justru dengan caramemberi kesempatan kepada sektortradisional untuk tetap hidup dan berkembang seperti semula dengankonsepsi bahwa kerja adalahpengabdian, penghambaan kepadasultan sebagai wakil Allah di dunia.Ketidakmampuan sektor tradisionaluntuk berkembang merupakan akibat yang dideritanya melalui ’penghisapan’oleh sektor niaga yang kapitalis, sepertitampak dalam kutipan-kutipan berikut: Pemanfaatan hutan secaralangsung maupun tidak langsungagaknya sebagian besar hanyadiperuntukkan bagi kelancarankehidupan di kota pesisir saja.Sumber daya terbesar yang banyak diserap dari kawasan pedalamantelah mampu menjadikan KotaBanten berfungsi sebagai kota daganginternasional (hlm. 190).Namun, pemanfaatan hutan dipedalaman sebagai lahan pertanianlada tampaknya tanpa diimbangidengan mekanisme kontrol, baik olehpetani lada maupun oleh pihak lain.Kecenderungan untuk merambahhutan dilakukan semata-mata gunameningkatkan materi. Pihak pemerintah yang seharusnya tampilmengendalikan dan mengatureksploitasi hutan, justru menjadipihak penganjur aktivitas tersebut(hlm. 196-197).Hilangnya kawasan hutan dipedalaman—oleh sebab pembukaanlahan untuk lada, penebangan pohonuntuk bahan baku alat transportasi, bahan bangunan, dan sumber bahan bakar—mengakibatkan kandunganlumpur semakin tinggi di daerah hilirSungai Cibanten. Akibat berikutnyaadalah terjadinya bencana banjir dikota yang terletak di muara sungaidan pesisir (hlm. 151).Sifat pantai Teluk Banten yangsenantiasa menambah daratan jugatelah menjadi ancaman lain bagi KotaBanten karena tidak diikuti olehkemampuan teknologis dalampengendaliannya. Makin lama muarasungai semakin dangkal, akibatnyakapal-kapal semakin sulit mendekatidaratan (hlm. 183). 36  Jurnal Sejarah Lontar Vol. 4 No. 2 Juli-Desember 2007  Akar Penghisapan Tulang punggung perekonomianKesultanan Banten berupapembudidayaan lada secara meluas dipedalaman mengarahkan kita padakesimpulan bahwa masyarakat Bantenpada hakikatnya adalah masyarakatagraris, meskipun “sisi luar”-nya adalahaktivitas perniagaan yang berbasis dikawasan pesisir. Oleh sebab itu, menjadirelevan untuk mengkajinya dari sudutagrarisme.Salah satu ciri kuat masyarakatagraris adalah jurang yang luas dalamkekuasaan, hak istimewa, dan prestise yang terjadi antara kelas dominan dansubordinatnya. Tentu saja masyarakatagraris adalah masyarakat yang palingterstratifikasi di antara semuamasyarakat praindustri. Selanjutnya,uraian tentang agrarisme di bawah inimerujuk pada Sanderson (1993: 111-130, 145-155, 169-187).Pemerintah dalam masyarakatagraris adalah orang yang secara resmimenjadi pemimpin politik. Kelaspenguasa terdiri dari mereka yangmempunyai tanah dan menerimakeuntungan dari pemilikan tersebut.Kenyataannya, kelas penguasa danpemerintah biasanya merupakan tuantanah sekaligus penguasa politik, dan halini merupakan hubungan penting antarakedua segmen kehidupan elite tersebut.Sementara, populasi terbesar adalahpetani yang mempunyai status ekonomi,politik, dan sosial yang lebih rendah—suatu kedudukan ditentukan secaraturun-temurun. Keadaanperekonomian mereka pada umumnyaserba kekurangan, walaupun kadar“eksploitasi” terhadap mereka bervariasi dari satu masyarakat kemasyarakat agraris lainnya.Negara agraris sangatterstratifikasi dan birokratis, terutamadi Asia. Dalam peradaban ini sedikitsekali dijumpai adanya insentif bagiusaha pribadi yang kita asosiasikandengan kapitalisme karena negara begitu kuat sehingga usaha-usaha untuk menaikkan peranan usaha pribadi akanditumpas sedini mungkin. Banyak masyarakat agraris disebut feodal yangditandai oleh bentuk negara yang sangattersentralisasi, birokratis, dan berkuasasecara intensif di mana rakyat sangattersubordinasi tehadap suatu elite yangkecil. Dalam masyarakat yang sepertiini, manusia tidak mempunyaikedudukan yang sama. Terdapatkalangan atas dan kalangan bawah yangkedudukannya ditentukan olehkelahirannya. Di sini birokrasimemainkan peran utama dalampelembagaannya.Bergerak di dalam lingkungankekuasaan pusat itu, para pegawaikerajaan (  pamong praja )—sebagaimanapara pendahulunya dari zaman kuno— berperan memancarkan kekuasaansampai ke propinsi yang jauh. Jadipegawai ini adalah pancaran sang raja.Pada tingkat terbawah dari tata hierarkiini terdapat desa-desa. Jadi, sementaradi ibukota raja menjaga keserasianantara kerajaannya dan kosmos, wargadesa berusaha mencapai tujuan yangsama pada tingkat yang lebih sederhana.Ciri khusus negara agraris adalahluasnya negara mengembangkanideologi legitimasi yang sempurna yangdigunakan untuk meyakinkan rakyatmengenai hak moral negara untuk memerintah. Semakin besar komitmenpsikologis rakyat terhadap negara,semakin kurang kemungkinanpemberontakan terhadap negara.Ideologi legitimasi mempunyai berbagai bentuk, tetapi taktik yang paling umum bagi penguasa negara ialahmembenarkan pemerintahan mereka 37
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x