Religious & Philosophical

KATA BERMAKNA MEMBESAR DALAM BAHASA JAWA (The Meaning Words of Enlarge in Javanese)

Description
ABSTRAK Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan masyarakat Jawa. Dalam kosakata bahasa Jawa ada beberapa kata yang memiliki makna membesar. Kata bermakna membesar tersebut mengacu pada kata tertentu.
Published
of 18
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  193 KATA BERMAKNA  MEMBESAR  DALAM BAHASA JAWA (  The Meaning Words of Enlarge in Javanese  ) Oleh/ by Sutarsih Balai Bahasa Jawa TengahJalan Elang Raya No. 1, Mangunharjo, Tembalang, SemarangTelepon 024-76744357, 70769945; Faksimile 024-7674358, 70799945Posel: sutabindeku@gmail.com *) Diterima: 3 Oktober 2017, Disetujui: 1 November 2017 ABSTRAK Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan masyarakat Jawa. Dalam kosakata bahasa Jawa ada beberapa kata yang memiliki makna membesar  . Kata bermakna membesar   tersebut mengacu pada kata tertentu. Kata tersebut berkaitan dengan manusia dan bukan manusia. Kata bermakna membesar   dapat dilihat berdasarkan medan makna. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana cara melihat medan makna membesar   dalam bahasa Jawa. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah menentukan cara melihat medan makna kata membesar   dalam bahasa Jawa. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, medan makna membesar   dapat dilihat dari objek, letak, sebab, akibat, dan kuantitas. Setiap kata bermakna membesar   berbeda peruntukannya. Kata kunci: medan   makna, membesar, dan bahasa Jawa.  ABSTRACT   Javanese is one of the regional languages that function as a lingua franca of Javanese society.  In the vocabulary of the Javanese, there are some words which mean ‘enlarge’. The words mean ‘enlarge’ refer to particular words. Those words relate to human and non-human. Those words can be seen based on the meaning   Þ eld. Therefore, the problem of this study is how to see the meaning   Þ eld of ‘enlarge’ in the Javanese. Thus, the purpose of this study is to determine how to  see the meaning   Þ eld of the word ‘enlarge’ in the Javanese. This study uses qualitative descriptive analysis. Based on the results of the analysis, the meaning   Þ eld of ‘enlarged’ can be seen from the object, location, cause, effect, and quantity. Each word means ‘enlarged’ has different designation.  Keywords:  meaning   Þ eld, enlarge, and Javanese. PENDAHULUAN Setiap kata pasti memiliki makna, tidak terkecuali kata yang bersinonim. Kata yang bersinonim, meskipun memiliki makna yang hampir sama, tidak selalu dapat saling menggantikan di dalam konteks yang sama. Demikian pula halnya dengan kata-kata di dalam bahasa Jawa. Ada bentuk kata tertentu dalam bahasa Jawa yang bentuknya berbeda, tetapi mengandung makna yang sama. Sejumlah kata dalam medan leksikal tersebut dihubungkan oleh komponen makna diagnostik atau pembeda. Komponen makna pembeda itulah yang menimbulkan kontras antara leksem yang satu dan yang lain di dalam sebuah medan leksikal (Lyons, 1977:326).  Jalabahasa, Vol. 13, No. 2, November 2017, hlm. 193  —  210 194Persoalan bentuk dan makna kata  berkaitan dengan proses pembentukan kata. Semua bahasa di dunia mempunyai  proses pembentukan kata. Demikian pula halnya dengan bahasa Jawa yang memiliki kata sebagai proses pembentukan. Dalam proses pembentukan kata selain mempelajari proses pembentukannya,  juga mempelajari pengaruh perubahan- perubahan bentuk dan makna kata.Pengaruh perubahan bentuk dan makna kata tersebut adalah kemampuannya mewakili makna kata. Hal itu sesuai dengan pendapat Ramlan (2009:21) bahwa morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk  bentuk kata serta pengaruh perubahan- perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Dengan kata lain, morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan bentuk kata, baik fungsi gramatik maupun semantik.Menurut arah mata angin, bahasa Indonesia dibedakan menjadi dua macam, yaitu 1) bahasa-bahasa di sebelah Barat dan Utara 2) bahasa-bahasa di sebelah timur. Bahasa-bahasa di sebelah Barat di antaranya adalah bahasa di Jawa yang terdiri atas bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Madura (Setiyanto, 2007:22). Dalam makalah ini yang akan dibahas lebih lanjut adalah bahasa Jawa.Bagi masyarakat Jawa modern,  bahasa Jawa adalah salah satu bahasa yang dikuasai selain bahasa Indonesia dan bahasa asing. Bahasa Jawa sebagai  bahasa pergaulan di masyarakat Jawa  begitu populer meski tidak sepenuhnya dikuasai oleh masyarakat Jawa. Hal itu terjadi karena kedudukan bahasa Jawa tidak selalu merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Jawa sekarang ini.Para pendatang   yang tinggal sementara atau menetap di Jawa pun belajar dan berusaha menguasai bahasa Jawa. Akibat akulturasi budaya, penyisipan kosakata dari bahasa lain dalam konteks tuturan bahasa Jawa memunculkan kata-kata baru. Meskipun demikian, ada  beberapa kosakata bahasa Jawa yang unik. Keunikan kosakata tersebut adalah dari bentuk dan maknanya.Berdasarkan penggunaannya, dapat dikatakan bahwa fungsi bahasa Jawa ada dua macam, yaitu fungsi linguistis dan fungsi budaya. Fungsi linguistis bahasa Jawa adalah sebagai alat komunikasi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah dipakai untuk menyampaikan gagasan atau pikiran dan perasaan tertentu kepada orang lain. Jadi, fungsi linguistis bahasa Jawa adalah sebagai sarana komunikasi masyarakat atau sebagai pemeliharaan kerja sama (Widada dalam Triyono, 1993:38). Kemudian, Yang dimaksud dengan fungsi budaya bahasa Jawa adalah sebagai sarana pengungkap kehalusan dan kelembutan cipta, rasa, dan karsa; sarana pemelihara etika dan estetika; sebagai Þ lter pengaruh budaya asing; dan sebagai sarana pewarisan nilai-nilai luhur (Widada dalam Triyono, 1993:39). Kedua fungsi tersebut menunjukkan  bahwa bahasa Jawa memiliki peran  penting dalam berkomunikasi bagi masyarakat penuturnya. Kedua fungsi tersebut berjalan bersama-sama pada saat digunakan, meskipun penutur tersebut  bukan penutur asli bahasa Jawa.Salah satu golongan kata-kata unik dari bahasa Jawa yang dapat dikategorikan sebagai kata-kata beku adalah kata-kata yang memiliki makna ’membesar‘. Hal itu terjadi karena kata-kata dengan makna ’membesar‘ tersebut tidak berubah bentuk  Kata Bermakna Membesar dalam Bahasa Jawa  ... ( Sutarsih ) 195dari masa ke masa. Selain itu, kata-kata tersebut maknanya kekal. Dengan kata lain, kata-kata dengan makna membesar   tidak mengalami pergeseran bentuk dan makna. Artinya, kata-kata tersebut diututurkan oleh siapa saja dan di mana saja makna tetap sama. Hal itu sesuai dengan pendapat Lyons (1977:96) bahwa the   (form of the the) word as the expression capable of being communicated to the hearer (or reader etc.), the designatum (or the concept) as the respective mental, conceptual content expressed in it, and the denotatum as the respective segment of the extralinguistic world. Zgusta (1971:34) menyatakan bahwa a direct relation between the word and the designatum on the one side, and between the designatum and the denotatum on the other side, but the relation between the wont and the denotatum ‘is only an indirect one. Indeed, as far as the word denotatum line goes, it is mostly only the onomatopoetic words that show a more direct relation to their denotata . Pernyataan Zgusta tersebut menunjukkan  bahwa setiap kata sebagai penanda ada hubungan antara bunyi dan kata yang dinamai. Akan tetapi, dalam kata unik  bermakna membesar   dalam bahasa Jawa tidak berlaku demikian. Oleh karena itu, perlu kajian untuk mengetahui  bagaimanakah bentuk dan makna kata unik  bahasa Jawa yang bermakna membesar  . Unsur-unsur pembentuk dan relevansi antara unsur-unsur kata diperlukan untuk menganalisis kata-kata. Teknik analisis seperti itu disebut sebagai pendekatan struktural (Zaimar, 1990:3).Kempson (1995:75) mengemukakan  bahwa kata tidak mempunyai makna keutuhan, tetapi merupakan kumpulan komponen-komponen arti. Dalam hal ini, arti leksikal sebuah kata dapat diurai Þ tur- Þ tur/ciri-ciri/komponen-komponen arti yang membangunnya. Sejumlah kata yang menampakkan adanya hubungan dalam komponen makna  pembentuknya dapat dikelompokkan  pada sebuah medan leksikal. Medan leksikal dikatakan sebagai sekumpulan leksem yang memiliki komponen arti  bersama sebagai pembentuk satuan medan serta membedakan dari medan yang lain dan memiliki komponen makna  pembeda untuk dapat dijadikan pembeda antarleksem yang tercakup dalam sebuah medan (Cruse, 2006:163).Subroto (2011:103) yang memberikan satu jenis komponen makna yang dinamakan komponen makna unik. Misalnya, komponen makna (+JALUR KHUSUS) yang hanya dimiliki leksem kereta api dalam medan leksikal (+BENDA+KARYA MANUSIA +TRANSPORTASI).Lima macam notasi dapat digunakan untuk menandai adanya reaksi semantik komponen makna temuan dengan leksem  pembentuk medan leksikal (Wedhawati, 2002:43—44). Pertama, reaksi semantik  positif (+) untuk menandai komponen makna yang relevan/ berfungsi membentuk arti leksem. Kedua, reaksi semantik negatif (-) menunjukkan komponen makna tidak ada/tidak  berfungsi dalam membentuk leksem. Ketiga, reaksi semantik netral (o) untuk menandai komponen yang tidak berfungsi  pada tataran sistem, tetapi berfungsi pada tataran ujaran. Keempat, reaksi semantik  positif/negatif (+/-) untuk menandai kemungkinan kehadiran komponen tertentu atau kemungkinan penegasian kehadiran komponen makna tertentu. Kelima, reaksi takbernilai (*) untuk menandai penolakan kehadiran komponen makna tertentu, baik pada tataran sistem   Kata Bermakna  Membesar   dalam Bahasa Jawa ...  Jalabahasa, Vol. 13, No. 2, November 2017, hlm. 193  —  210 196maupun pada tataran ujaran. Akan tetapi, dalam penelitian ini setiap kata dengan makna membesar diberi notasi positif (+) untuk menandai kemungkinan kehadiran medan makna dan notasi negatif (-) untuk menandai kemungkinan ketidakhadiran medan makna. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif adalah penelitian yang menggunakan data berbentuk kata-kata,  bukan angka-angka. Kalaupun ada angka-angka, sifatnya hanya sebagai penunjang. Data yang diperoleh meliputi catatan lapangan (Danim, 2002:51). Dari data yang  bersifat deskriptif itu, peneliti melakukan analisis data untuk membuat generalisasi atau perampatan yang merupakan sistem atau kaidah yang bersifat mengatur atau gambaran dari tulisan yang dijadikan subjek penelitian (Subroto, 1992:7). Data  penelitian ini berupa kata-kata dalam  bahasa Jawa bermakna membesar   yang sering muncul dalam tuturan sehari-hari.Metode analisis data dalam penelitian ini adalah padan intralingual. Menurut Mahsun (2005:117—118), teknik tersebut adalah teknik yang mengacu pada makna unsur-unsur yang berada dalam bahasa (bersifat lingual), seperti hal-hal yang menyangkut makna, informasi, dan konteks tuturan. Jadi, teknik padan intralingual dalam penelitian ini adalah teknik analisis dengan cara menghubung- bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual dalam kosakata bahasa Jawa yang memiliki makna membesar  . Makna kata dianalisis berdasarkan komponen makna dalam matriks. Kata yang memiliki komponen makna diberi tanda positif ( + ), sedangkan yang tidak memiliki komponen makna diberi tanda negatif    ( – ). Dimungkinkan sebuah kata dengan makna membesar memiliki medan makna yang sama dengan kata lainnya. Oleh karena itu, dimungkinkan sejumlah kata memiliki medan makna yang sama. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahasa Jawa merupakan bahasa yang unik. Keunikannya itu tidak hanya karena  persebarannya yang hampir di seluruh wilayah Indonesia, penuturnya tidak hanya penutur asli bahasa Jawa, dan terdiri atas beberapa macam dialek. Keunikan yang lain adalah ditemukannya beberapa  bentuk kata yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama, misalnya pada kata  bermakna membesar  . Komponen makna yang terkandung di dalam seperangkat kata bermakna membesar   tersebut dapat diketahui melalui lima dimensi, yaitu objek, letak, sebab, akibat, dan kuantitas.  Dimensi Objek Dimensi objek dalam penelitian ini adalah cara memerikan medan makna suatu kata berdasarkan dua komponen  pembeda, yaitu insan dan noninsan. Yang dimaksud insan adalah manusia, tanpa memandang jenis kelamin maupun usia sedangkan noninsan adalah selain manusia, yaitu binatang dan benda. Dengan demikian, kata bermakna membesar   yang memenuhi komponen insan diberi notasi  positif, apabila memenuhi komponen noninsan diberi notasi negatif. Apabila memenuhi kedua komponen, diberi notasi  positif keduanya. Apabila tidak memenuhi kedua komponen, diberi notasi negatif keduanya. Oleh karena itu, dimungkinkan sebuah kata hanya memenuhi komponen insan atau hanya memenuhi komponen noninsan. Dapat pula sebuah kata memenuhi kedua komponen, insan dan noninsan.  Kata Bermakna Membesar dalam Bahasa Jawa  ... ( Sutarsih ) 197 Tabel 1Komponen Makna Objek KataKomponen MaknaObjek InsanNoninsan abses ++ abuh ++  gendhut  ++  jebrot  ++  jendhol  ++ mbembeng  ++ mbendul  ++ mblendang  ++ mblendhing  ++ mblenduk  ++ meteng  ++ methunthung  ++ methuthuk  ++ mlembung  ++ mlempuh ++ mlempung  ++ mlendhung  ++ mlenthi ++ mlenthing  ++ mlenthung  ++ mlenuk  ++ njembling  ++ njembluk  ++ njendhil  ++ Berdasarkan dimensi objek kata dalam bahasa Jawa yang memiliki makna membesar   dapat dipaparkan sebagai  berikut.Kata abses ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.Kata abuh ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.Kata  gendhut ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.Kata  jebrot ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.Kata  jendhol ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.Kata mbembeng ‘membesar (manusia, binatang)’ berkomponen: manusia, binatang.Kata mbendul ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.Kata mblendang   ‘membesar (manusia, binatang)’ berkomponen: manusia.Kata mblendhing ‘membesar (manusia)’ berkomponen: manusia.Kata mblenduk   ‘membesar (manusia,  binatang, benda)’ berkomponen: manusia,  binatang, botol.Kata meteng ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.Kata methunthung ‘membesar (manusia, benda)’ berkomponen: manusia, baju.Kata methuthuk ‘membesar (benda)’  berkomponen: makanan, material, sampah.Kata mlembung ‘membesar (manusia,  binatang, benda)’ berkomponen: manusia,  binatang, perut, balon, bola, ban, kantung.Kata mlempuh ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.Kata mlempung ‘membesar (manusia,  binatang)’ berkomponen: manusia,  binatang.   Kata Bermakna  Membesar   dalam Bahasa Jawa ...
Search
Similar documents
View more...
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x