Court Filings

KRISIS EKONOMI DAN RESESI EKONOMI

Description
KRISIS EKONOMI DAN RESESI EKONOMI
Categories
Published
of 18
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
    KRISIS EKONOMI DAN RESESI EKONOMI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Sistem Ekonomi Indonesia Pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpinang Oleh:  Nur Baiti 18102059 Dosen Pembimbing: SHAHRIL BUDIMAN S.SOS M.PM PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNG PINANG 2019/2020    I.Krisis Ekonomi 1.1 Pengertian Krisis Ekonomi   Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendefinisikan krisis sebagai suatu situasi yang genting dan gawat, mengenai suatu kejadian atau peristiwa-peristiwa yang menyangkut kehidupan .Krisis ekonomi juga merupakan peristiwa dimana seluruh sektor ekonomi pasar dunia mengalami keruntuhan atau penurunan dan mempengaruhi sektor lainnya diseluruh dunia. Menurut ahli ekonomi, pengertian krisis ekonomi secara sederhana adalah suatu keadaan dimana sebuah Negara yang pemerintahnya tidak dipercaya lagi oleh rakyatnya, khususnya masalah finansial. Rakyatnya tidak mau lagi menyimpan uang di bank-bank yang ada, sehingga bank-bank mengalami kesulitan uang tunai. Jika itu terjadi maka bank sentral akan mencairkan asetnya untuk menalangi semua bank-bank itu. Setelah itu maka harga-harga naik seiring dengan banyaknya uang tunai di masyarakat akibat bank kelebihan uang tunai. Jika keadaan itu terjadi maka negara memasuki masa krisis. Negara tidak mampu membayar hutangnya sehingga hutangnya sudah jauh diatas PDBnya. Maksudnya, ketika Indonesia mempunyai hutang terhadap negara lain dan bunga dari hutang tersebut semakin bertambah setiap tahunnya, tetapi pendapatan Indonesia tidak mengalami pertambahan akibat krisis ekonomi,sehingga membuat Indonesia mengalami kesulitan untuk membayar hutang-hutangnya. Berdasarkan pengertian tentang krisis dan ekonomi yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa krisis ekonomi adalah suatu peristiwa yang genting dan penuh dengan kemelut tentang tatanan kehidupan perekonomian suatu negara yang merupakan faktor dasar  bidang kehidupan manusia yang bersifat materil. 1.2 Faktor-Faktor Penyebab Krisis Ekonomi Secara teori kemungkinan bisa ada lebih dari satu faktor yang secara bersamaan menyebabkan krisis tersebut terjadi. Misalnya, tingkat atau laju inflasi yang tinggi; apakah ini disebabkan oleh harga-harga dari produk-produk impor yang melonjak tinggi akibat depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, atau karena jumlah uang yang beredar di Masyarakat (M1) lebih besar daripada penawaran agregat (kemampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan  pasar di dalam Negeri). Menurut Fischer, Adapun faktor-faktor penyebab krisis ekonomi antara lain:    Faktor Internal a. Laju Pertumbuhan Laju pertumbuhan PDB adalah salah satu indikator utama ekonomi makro yang sering digunakan dalam menganalisis kinerja ekonomi sebuah Negara.  b.Struktur Ekonomi Pada dasarnya struktur ekonomi yang lemah mencerminkan tidak seimbangnyaperkembangan dan pertumbuhan antarsektor di satu pihak, dan tidak adanya “sektor kuci” walaupun sektor tersebut dominan di dalam sturktur ekonomi dengan suatu kinerja yang baik di pihak lain. Sektor-sektor ekonomi tidak    menunjukkan kinerja yang sama, misalnya dalam hal tingkat produktivitas, efisiensi atau profitabilitas, atau kontibusi terhadap pembentukan dan pertumbuhan PDB tidak seimbang antarsektor. c.Perdagangan Luar Negeri (Ekspor Neto) Masih lemahnya Negara dalam mengembangkan ekspor bernilai tambah tinggi, sementara masih sangat tergantung pada impor produk-produk bernilai tambah tinggi dapat dianggap sebagai penyebab utama kurangnya cadangan devisa (khususnya dolar AS) yang dimilik Indonesia, untuk mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga rupiah melemah terus dan akhirnya tidak hanya menyebabkan tetapi juga memperparah krisis ekonomi.    Faktor Eksternal Selain faktor-faktor internal, menurut Fischer (1998), krisis ekonomi di Asia  juga diakibatkan oleh perkembangan perekonomian negara-negara maju dan pasar keuangan global yang menyebabkan ketidakseimbangan global. Maksudnya, seperti di Jepang dan Eropa Barat, pertumbuhan ekonomi mengalami kesulitan dan kebijaksanaan moneter tidak berubah serta tingkat suku bunga sangat rendah. Selain faktor-faktor ekonomi, krisis di Asia itu juga disebabkan oleh faktor-faktor nonekonomi, seperti sosial, budaya, kultur dan politik. Dan faktor psikologis juga sangat berperan, paling tidak membuat krisis rupiah itu menjadi suatu krisis ekonomi  besar. Dampak psikologis muncul dari krisis di Indonesia adalah merebaknya fenomena kepanikan di mana-mana yang melanda masyarakat keuangan internasional, sehingga para pemilik modal internasional memindahkan modal mereka dari Indonesia secara tiba-tiba dalam jumlah yang sangat besar. Kepanikan ini, kemudian diikuti oleh warga Negara di Indonesia dengan melakukan hal yang sama, hal serupa juga terjadi di Thailan dan Korea selatan.    Teori-Teori Alternatif Selain faktor-faktor internal dan esksternal (ekonomi dan non ekonomi), ada tiga teori alternatif yang dapat juga dipakai sebagai basic framework   untuk menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya krisis ekonomi di Asia. Yaitu: a. Teori konspirasi Dasar pemikiran dari teori ini adalah bahwa krisis tersebut sengaja ditimbulkan oleh negara-negara industri maju tertentu, khususnya AS karena tidak menyukai sikap arogansi ASEAN selama ini.  b. Teori Contagion  Krisis di Asia memperlihatkan adanya contagion effect  , yaitu menularnya amat cepat dari satu negara ke negara lain. Prosesnya terjadi terutama karena sikap investor-investor asing yang setelah krisis terjadi di Thailand menjadi    ketakutan bahwa krisis yang sama juga akan menimpa Negara-Negara tetangga seperti Indonesia, Malaysia dan Filipina. c. Teori  Business Cycle  Teori business cycle atau konjugtur, atau gelombang pasang surut suatu ekonomi. Inti dari teori ini adalah bahwa ekonomi yang prosesnya sepenuhnya di gerakkan oleh mekanisme pasar (kekuatan permintaan dan penawaran) pasti akan mengalami pasang surut pada suatu periode akan mengalami kelesuan dan pada periode berikutnya akan mengalami kegairahan kembali dan selanjutnya lesu kembali dan seterusnya . Implikasi dari teori ini adalah bahwa kalau memang krisis ekonomi di Asia merupakan suatu gejala konjungtur, maka krisis itu dengan sendirinya akan hilang, tentu dengan syarat bahwa  prosesnyasepenuhnya ditentukan oleh kekuatan pasar. Awal krisis ekonomi yang melanda Indonesia mulai tampak pada pertengahan  bulan Juli 1997 yaitu dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar.Maka, nilai tukar rupiah terhadap dollar mulai merosot.Faktor faktor penyebab krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia, antara lain: Krisis Ekonomi Periode I (Juli 1997 s/d bulan Oktober 1999).  1 Krisis kepercayaan terhadap uang rupiah di mana masyarakat lebih mempercayai US dollar daripada rupiah dan akibatnya mereka berlomba-lomba menukar uang rupiahnya ke mata uang US dollar. Hal ini disebabkan antara lain kurang transparansinya pihak  pemerintah dalam mengelola keuangan negara. Perlunya transparansi dalam konteks  penggunaan anggaran belanja negara sangat diperlukan sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat. Kita tidak akan mendapat kepercayaan bila tidak ada transparansi. Lebih cepat tindakan diambil akan lebih cepat pula kita menuai buah usaha kita. 2 Krisis rupiah yang semula hanya bersifat kejutan dari luar ( external shock  ) telah meluas menjadi krisis ekonomi yang berakibat luas, baik terhadap perusahaan maupun rumah tangga.Fondasi perekonomian Indonesia yang semula dianggap kuat ternyata tidak menunjukkan ketahanan menghadapi permasalahan-permasalahan akibat krisis nilai rupiah terhadap US dollar. Dari krisis ini tampak betapa secara struktural modal-modal swasta berskala besar sangat lemah sebagaimana diperlihatkan oleh besarnya hutang dan lemahnya daya saing di pasar yang semakin terbuka. Pemerintah pun tidak mempunyai kewibawaan yang memadai dalam mengatasi krisis ini. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US dollar berdampak luas, karena otoritas moneter juga melakukan kebijaksanaan uang ketat. Akibatnya, baik pengusaha maupun rumah-tangga terkena dua-kali pukulan. Pukulan dari melemahnya Rupiah dan pukulan akibat langkanya Rupiah.    3 Akibat Peraturan Pemerintah yang dikenal dengan Paket Oktober 1988 yang memungkinkan seseorang dengan modalmodal Rp. 10.000.000.000,- dapat mendirikan  bank berdampak buruk akibat kurang pengawasan dari Bank Indonesia.Bank Indonesia tidak atau terlambat men-deteksi pelanggaran yang dilakukan oleh bank-bank Swasta. Hal ini disebabkan karena ketidak-siapan aparat dan sistim dalam mengawasi ratusan  bank yang bermunculan dengan cepat. Bank Indonesia kemungkinan tak berani mengambil tindakan tegas karena pemiliknya punya akses-akses kuat kepada kekuasaan.Di samping itu bank swasta banyak menyelewengkan dana-dana yang diterima dari Bank Indonesia maupun dana-dana yang diterima dari masyarakat. Bank swasta banyak melakukan pelanggaran antara lain dengan menyalurkan kredit bank kepada grupnya sendiri atau anak perusahaan dari pemilik bank itu sendiri, antara lain disalurkan kepada usaha Real-Estate (perumahan mewah), pembangunan gedung-gedung bertingkat mewah, mendirikan super-market dan lain sebagainya yang tidak menyentuh kepentingan masyarakat banyak, akibatnya penyalahgunaan kredit yang sebagian besar digunakan untuk kepentingan pribadi dan ada juga yang di investasikan di luar negeri akhirnya bank swasta tersebut tidak mampu mengangsur cicilan kreditnya kepada bank-bank penyalur kredit cq Bank Pemerintah/BI. Untuk mengatasi hal tersebut Pemerintah atas desakan IMF sebagai pra-syarat bantuan-bantuan IMF kepada Indonesia, Pemerintah Indonesia telah melikuidasi 16 bank swasta. Pemerintah Indonesia juga melakukan merger di antara bank-bank Pemerintah sendiri agar bank Pemerintah bertambah kuat dan solid. 4 Hutang luar negeri swasta berjangka pendek yang akan jatuh tempo pada bulan Maret 1998, telah mencapai US$. 9,6 milyard, meliputi hutang pokok dan pinjaman. Posisi hutang luar negeri yang ditanggung oleh perusahaan swasta itu merupakan bagian hutang luar negeri swasta sebesar US$ 65 milyard dari total pinjaman luar negeri Indonesia sebesar US$ 117,3 milyard per September 1997. Jadi sekitar 50% atau US$ 32,5 milyard hutang swasta dikategorikan hutang berjangka pendek, termasuk surat  berharga komersial.Diperkirakan, hutang swasta yang jatuh tempo rata-rata mencapai US$ 2,708 milyard per bulan, jumlah yang tentunya sangat membebani neraca  pembayaran hutang ini jugalah yang menyebabkan kelangkaan Dollar. Perkembangannya bukan lagi apakah pinjaman swasta tersebut berjangka pendek, menengah atau panjang. Namun Bank Indonesia harus mendapat kepastian seberapa  banyak 5 sektor swasta akan segera memenuhi hutang luar negerinya. Kewaspadaan terhadap pinjaman komersial luar negeri sektor swasta penting dilakukan, minimal menyangkut dua hal. Pertama, adanya kecenderungan yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir dan kedua adanya kekurangan data dari Pemerintah dalam mendapatkan angka jumlah hutang sektor swasta. Bahkan diperkirakan merosotnya nilai tukar Rupiah antara lain disebabkan oleh terus membengkaknya hutang luar negeri yang ditanggung swasta, sehingga begitu kewajiban untuk membayar hutang-hutang luar negeri yang  jatuh tempo,sementara pada saat yang sama kondisi moneter di dalam negeri sedang
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x