Concepts & Trends

Menangkal Gerakan Radikal Terorisme

Description
Menangkal Gerakan Radikal Terorisme
Published
of 12
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  10/14/2019 Menangkal Gerakan Radikal Terorismehttps://keamanan.rmol.id/read/2018/05/22/340907/menangkal-gerakan-radikal-terorisme 1/12  HOME (HTTPS://RMOL.ID/)INDEKS (HTTPS://RMOL.ID/INDEKSBERITA) Cari Berita   Go Home (https://rmol.id/)   Keamanan (https://keamanan.rmol.id) Menangkal Gerakan Radikal Terorisme SELASA, 22 MEI 2018, 08:17 WIB 1 Shares Foto: Net  Share Tweet Share Pin  1 Shares  10/14/2019 Menangkal Gerakan Radikal Terorismehttps://keamanan.rmol.id/read/2018/05/22/340907/menangkal-gerakan-radikal-terorisme 2/12 Realitanya, antara pandangan akademis dan publik soal radikalisme—yang istilahnya mulai dipakai di akhir abad ke-18 terkait denganreformasi sistem pemilihan secara radikal di Inggris—tidaksepenuhnya seiring-sejalan.Lantas, bagaimana cara kita mendenisikan sebuah gerakansebagai gerakan radikal atau tidak radikal? Kemudian, bagaimanamenangkal gerakan radikalisme terorisme yang ada di negeri ini? Redenisi Radikalisme Hasil kajian permulaan dari tim peneliti FISIP UI sejak tahun 2017terkait radikalisme yang dipimpin Professor Iwan Gardono Sujatmikomenunjukkan bahwa ada perbedaan denisi radikalisme versiakademis dan publik yang disebabkan karena perbedaan kontekssejarah dan struktur-komposisi masyarakat yang berbeda.Sekularisme di Eropa misalnya, dianggap sebagai pemikiran radikal yang positif, karena hendak memisahkan agama dari negara alias“mensterilkan ruhani dari politik.” Mengutip Domenic Marbaniang,kemunculan sekularisme di Barat seiring dengan posisi akal yangmulai perlahan-lahan dibebaskan dari penaklukan kekuasaanagama dan takhayul (Budiselic, 2014). Namun, di negara-negaraberpenduduk mayoritas Islam, sekularisme justru ditentang sebagaipemikiran radikal yang negatif karena dapat menjebabkanPROBLEM krusial dalam membahas gerakan radikal adalah denisi radikalisme itu sendiri.Secara bahasa, radikalisme berasal dari bahasa Latin radix yang berarti “akar” (root), dansecara umum mengutip Kamus Merriam-Webster adalah, “opini dan perilaku orang-orang yang menyukai perubahan ekstrem, terutama dalam hal pemerintahan.” BERITA TERKAIT Pengamat: Aparat Negara Terpapar Paham Radikal Itu Berbahaya, Pemerintah HarusSerius Memberantas (https://keamanan.rmol.id/read/2019/10/14/406343/pengamat-aparat-negara-terpapar-paham-radikal-itu-berbahaya-pemerintah-harus-serius-memberantas)Said Aqil Desak Polisi Ungkap Aktor Intelektual Aksi Teror Di Tanah Air(https://politik.rmol.id/read/2019/10/13/406325/said-aqil-desak-polisi-ungkap-aktor-intelektual-aksi-teror-di-tanah-air)Tangkal Terorisme, Pengamat: Harus Ada Screening   Ideologi Di Rekrutmen KepalaDaerah (https://keamanan.rmol.id/read/2019/10/12/406257/tangkal-terorisme-pengamat-harus-ada-screening-ideologi-di-rekrutmen-kepala-daerah)  1 Shares  10/14/2019 Menangkal Gerakan Radikal Terorismehttps://keamanan.rmol.id/read/2018/05/22/340907/menangkal-gerakan-radikal-terorisme 3/12 marginalisasi agama dan tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islamadalah din wad dawlah (agama dan negara).Istilah “agama dan negara” itu menurut The Oxford Dictionary of Islam, pertama kali digunakan oleh Ali bin Rabban At-Tabari (wafat870 M) dalam bukunya Al-Din wad-Dawlah  Ithbat NubuwwatMuhammad yang menjelaskan bahwa komunitas Islam tidak lepasdari soal religiusitas dan kepentingan politik. Dalam hal ini,radikalisme menjadi sangat sarat dengan bagaimana sekelompokorang menafsirkan tentang istilah tersebut.Selain itu, posisi sosial sangat menentukan bagaimana seseorangmelihat radikalisme. Agama dan etnik yang sama tidak menjaminpersamaan pemikiran soal radikalisme. Sekelompok orang yangmemiliki posisi sosial bisa jadi tidak menerima pemikiran radikalkarena pemikiran itu dapat merusak tatanan yang ada, sekaligusakan membahayakan posisinya. Sementara itu, sekelompok orang lainnya yang posisinya di luarsistem (entah itu oposisi atau gerakan perlawanan) bisa jadimenerima pemikiran radikal karena sesuai dengan kepentingannya.Dalam konteks keindonesiaan kita, denisi radikalisme dapat kitaartikan sebagai pemikiran mendasar sebuah organisasi, jaringan,atau individu yang mempunyai wawasan dan melakukan aksi yangbertentangan dengan 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945,Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI). Jika ada gerakan yangbertentangan dengan 4 pilar tersebut, maka gerakan tersebut—sekecil apapun itu—dapat disebut sebagai gerakan ekstrem (radikal) yang mengutip Ketua MPR RI Zulkii Hasan, “harus diwaspadai danperlu ditanamkan nilai-nilai luhur keindonesiaan.” (bnpt.go.id,28/3/2017). Dalam praktiknya, gerakan radikal yang anti 4 pilar ini dapatmewujudkan diri dalam gerakan pemikiran, aksi, jejaring, organisasi,atau juga gerakan terorisme, bahkan separatisme. Klasikasi Radikalisme Iwan Gardono Sujatmiko dan Adrianus Jebatu, dalam tulisannya“Toleransi, Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme” (Jalan Damai,BNPT, 2017) mengklasikasikan gerakan radikal dalam tigakelompok, yaitu (1) gerakan radikal ideologis yang ingin mengubahsistem-ideologi tanpa kekerasan, (2) gerakan radikal aksi yang ingin  1 Shares  10/14/2019 Menangkal Gerakan Radikal Terorismehttps://keamanan.rmol.id/read/2018/05/22/340907/menangkal-gerakan-radikal-terorisme 4/12 mengubah sistem-ideologi dengan kekerasan, dan (3) gerakanradikal terorisme yang ingin mengubah sistem-ideologi dengankekerasan. Contoh gerakan pertama (radikal ideologis) adalah Hizbut TahrirIndonesia (HTI). Gerakan ini perlu didekati dengan pendekatandialogis dan debat ideologis. Dalam konteks hukum, gerakan HTI— yang kini telah resmi dibubarkan—telah resmi dianggap sebagaigerakan radikal yang ingin mengubah konstitusi Indonesia dengansistem Khilafah. Mereka lebih banyak bermain dalam gerakan pemikiran (syiraul kri)sambil membangun basis-basis sosial-politik (kifahus siyasi) diberbagai tempat. Jika masyarakat telah banyak yang pro-HTI, makaurusan mengganti sistem kenegaraan akan lebih mudah bagimereka. Senada dengan itu, Clark McCauley dan Emmanuel Karagiannis dariUniversity of Maryland, menyebut bahwa gerakan Hizbut Tahrirbersifat gerakan radikal non-kekerasan (a non-violent radical Islam)dan menolak terorisme karena menurut mereka, “membunuh orang yang tidak berdosa bertentangan dengan hukum Islam.”(start.umd.edu, akses 19/5/2018).Contoh gerakan kedua (radikal aksi) adalah gerakan Front PembelaIslam (FPI). Gerakan ini hendak mengubah sistem-ideologi dengan“NKRI Bersyariah” yang dibarengi dengan beberapa aksi kekerasanseperti merusak kafe, bentrok dengan satpam dan polisi, menyerangMiss Waria, menyerbu Kampus Mubarak, dan merusak kantorMajalah Playboy (Tempo.co, 13/11/2014). Belakangan FPI mengalami transformasi dengan tingkat kekerasan yang minim. Ada semacam perubahan pemikiran FPI yangsebelumnya dikenal massif dengan aksi kekerasan tapi menjadi aksidamai, bahkan—kolaborasi dengan gerakan lainnya—yang dapatmengumpulkan massa jutaan orang dalam aksi anti-penistaaanagama di Monas. Bisa jadi, tipologi FPI sebagai gerakan radikal aksi semakin bergesermenjadi gerakan yang tidak lagi menggunakan kekerasan setelahbertemu dengan gerakan-gerakan lainnya yang sama-sama berbasisIslam tapi anti pada tindakan dan aksi kekerasan.Contoh ketiga (radikal terorisme) adalah gerakan Al-Qaeda, Jamaah  1 Shares  10/14/2019 Menangkal Gerakan Radikal Terorismehttps://keamanan.rmol.id/read/2018/05/22/340907/menangkal-gerakan-radikal-terorisme 5/12 Islamiyah, dan ISIS. Dalam riset saya terkait “Penyebaran PengaruhAl-Qaeda terhadap Gerakan Teroris di Indonesia” (Pascasarjana UI,2010), gerakan Al-Qaeda di Indonesia lebih berbentuk gerakanbawah tanah (clandestine) alias tidak berbentuk gerakan struktural yang langsung dikomando oleh Osama bin Laden. Namun, sebagai gerakan bawah tanah, pengikut Al-Qaeda (atau pro-Al-Qaeda) memiliki “struktur bergerak” yang beberapa tokohnyaterkoneksi langsung dengan Osama seperti Hambali (RiduanIsamuddin) yang disebut sebagai satu-satunya orang Asia Tenggara yang berada di puncak elite Al-Qaeda. Namun, setelah kematian Osama pada awal Mei 2011 di Abottabad,Pakistan (yang kemudian diganti oleh Aiman Al-Zawahiri) ditambahdengan berdirinya ISIS (termasuk lahirnya gerakan JAD) membuatgerakan Al-Qaeda “tiarap”, akan tetapi bisa aktif kembali setelah ISISkehilangan hampir semua wilayah yang pernah dikuasai di Irak danSuriah, termasuk kota utama seperti Mosul (Irak Utara) dan ibukotaRaqqa (Suriah Utara). Hal itu, ditambah dengan munculnya faksi yang menyalahkanKhalifah Abu Bakar Al-Baghdadi atas kehancuran proto-stateKekhalifahan Islam yang mereka dirikan sejak 2014 (New York Post,18/10/2017). “Struktur Bergerak” JAD Belakangan ini nama Jamaah Ansharud Daulah (JAD) paling banyakdibahas di media, terutama setelah penyanderaan di Mako Brimob(8/5/2018) yang disusul dengan bom Surabaya dan Sidoarjo, sertapenyerangan di Mapolda Riau. Aman Abdurrahman, seorang tokohkharismatik yang keluar-masuk penjara disebut sebagai ideologutamanya. Secara konseptual, Aman memang jagonya. Dia bisa disebut sebagaisatu-satunya kalangan pro-ISIS yang punya basis keilmuan Islam yang tidak bisa diremehkan, selain juga penghafal Al-Qur’an, danmenghafal beberapa kitab karya ulama klasik. Kelebihan Aman dibanding tokoh pro-ISIS lainnya adalah karenaAman memiliki beberapa keutamaan seperti (1) penghafal Al-Qur’an(30 juz), (2) kecerdasan intelektual (lulusan cumlaude dari LIPIA), (3)tenang dan berwibawa, dan (4) penghubung ideologis antarapemikiran radikal Timur Tengah dengan kebutuhan aksi di  1 Shares
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x