Humor

METAFORA SINESTESIA DALAM BAHASA JAWA (Javanese Synesthesia Metaphor)

Description
ABSTRAK Metafora sinestesia adalah metafora berupa ungkapan yang bersangkutan dengan suatu indra yang dipakai sebagai objek atau konsep tertentu, yaitu pertukaran alat indra penanggap. Dapat diartikan juga bahwa metafora sinestesia adalah perubahan
Categories
Published
of 9
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  101 METAFORA SINESTESIA DALAM BAHASA JAWA(  Javanese Synesthesia Metaphor ) oleh/ by Edi Suwatno Balai Bahasa Provini Daerah Istimewa YogyakartaJalan I Dewa Nyoman Oka 34, Kotabaru, gondokusuman, Yogyakarta *) Diterima: 14 Juni 2016, 2016, Disetujui: 21 Juli 2016 ABSTRAK Metafora sinestesia adalah metafora berupa ungkapan yang bersangkutan dengan suatu indra yang dipakai sebagai objek atau konsep tertentu, yaitu pertukaran alat indra penanggap. Dapat diartikan juga bahwa metafora sinestesia adalah perubahan makna akibat perbedaan  pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan. Metafora sinestesia dalam bahasa Jawa, misalnya, Omongane pancen atos. ‘Berbicaranya memang keras’. Dapat dibandingkan dengan W atune atos . ‘Batunya keras’. Kata atos  ‘keras’ yang harus ditanggap dengan alat indra perasa kulit, tetapi ditanggap oleh alat indra penglihatan mata  Swarane sindhene cemplang ‘ Suara  pesindennya hambar  ’  bandingkan dengan  Jangane cemplang kurang uyah ‘Sayurnya hambar kurang garam’.  Ngendikane alus sopan.’ Berbicaranya halus   dan sopan’, dapat dibandingkan dengan Kulite alus kaya sutra, ‘ Kulitnya halus seperti kain sutera’. Metafora sinestesia memiliki fungsi dan jenis. Metafora sinestesia berfungsi untuk penghalusan makna (eufemisme) dan fungsi pengasaran/mengasarkan makna (disfemia). Metafora sinestesia dalam bahasa Jawa memiliki beberapa jenis antara lain, (1) indra penciuman hidung, (2) indra pendengaran telinga, (3) indra penglihatan mata, (4) indra peraba kulit, dan (5) indra perasa lidah. Kata kunci:  metafora sinestesia, pertukaran indra, perubahan makna, fungsi dan jenis  ABSTRAK  Synesthesia metaphor is a metaphor expression form, which is concerned with a sense that is used as an object or a particular concept, namely the exchange of responder senses.The synesthesia metaphor also refers to meaning change because of response differences between two different senses. Javanese synesthesia metaphor, for example omongane pancen atos ‘his speech was hard’. It can be compared to watune Atos ‘the rock is hard. The atos ‘hard’ word should be responded with ear as listening sense, but it is responded with by the eyesight sense. Swarane sindhene cemplang ‘the pesinden’s voice is bland’ can be compare with jangane less cemplang kurang uyah ‘The soup is bald because of less salt’. Alus Ngendikane sopan ‘his speech is smooth and polite ‘ can be compared to Alus Kulite kaya sutra ‘her skin is smooth as silk ‘. Synesthesia metaphor has functions for smoothening meaning (euphemism) and coarsening meaning (disfemia). Types of Javanese synesthesia metaphor are (1) nose as smell sense, (2) ear as hearing sense, (3) eye as sight sense, (4) skin as touch sense, and (5) tongue as taste sense.  Keywords:  synesthesia Metaphor, exchange of senses, change of meaning, function and type  Jalabahasa, Vol. 12, No. 2, November 2016, hlm. 101  —  109 102 PENDAHULUAN Objek penelitian ini akan membicarakan metafora sinestesia dalam bahasa Jawa. Metafora adalah  pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan, misalnya kaki gunung,   kaki meja  berdasarkan kias    pada  kaki manusia ( Kridalaksana,20008:136) Adapun sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan (Keraf,1991:166) atau pertukaran alat indra penanggap (Chaer,1990:142). Menurut Kridalaksana (2008:198)  bahwa sinestesia adalah metafora berupa ungkapan yang bersangkutan suatu indra yang dipakai untuk objek atau konsep tertentu yang biasanya disangkutkan dengan indra lain, misalnya Suaranya sedap didengar. Kata sedap seharusnya ditanggap oleh alat    perasa lidah, tetapi ditanggap oleh alat indra pendengar telinga.   Contoh lain ialah ungkapan  Kata-katanya sangat pedas didengar, Pidatonya hambar sekali. Demikian  juga   kata  hambar dan  pedas yang harus ditanggap oleh alat indera perasa lidah, tetapi ditanggap oleh indera pendengar telinga.Pengertian metafora sinestesia adalah metafora berupa ungkapan yang bersangkutan dengan suatu indra sebagai objek atau konsep tertentu, yaitu  pertukaran alat indra penanggap atau  perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang  berlainan. Dalam bahasa Jawa, misalnya  Atine pancen perih. ‘ Hatinya memang  pedih ’. Dapat dibandingkan dengan  tatune perih ‘lukanya pedih’.    Dheweke lagi peteng atine  ‘Dia sedang ditimpa musibah’ atau ‘Dia lagi mengalami kesusahan’.   Kata  peteng ‘gelap’ yang harus ditanggap   oleh alat pelihatan mata, tetapi ditanggap oleh alat indra  pendengar telinga.   Bandingkan dengan ungkapan;  Dalane peteng jalaran durung ana lampune ‘Jalannya gelap sebab belum ada lampunya’. Dapat disimpulkan bahwa metafora sinestesia adalah perbedaan makna akibat  pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan, misalnya Tembunge  pedhes banget.  ‘Kata-katanya sangat  pedas’. Kata  pedhes  ‘pedas’ sebenarnya tanggapan indra perasa lidah, tetapi ditanggap oleh alat indra pendengaran telinga. Uripe pancen getir. ‘ Hidupnya memang pahit getir’  , tanggapan indra  perasa lidah, tetapi ditanggap oleh alat indra pendengaran telinga. Swara sindhene cemplang.  ‘Suara sindennya hambar’. sebenarnya merupakan kata yang dipakai untuk indra perasaan lidah, tetapi tertukar menjadi ditanggap dengan alat indra pendengaran telinga.Dalam bahasa Jawa dijumpai tembung  entar yang mirip berdekatan dengan metafora sinestesia. Entar artinya kata pinjaman (Hadiwidjana,1967:52), (Padmosoekotjo,1959:58). Tembung entar adalah kata pinjaman atau kata yang artinya menjauh dari arti sebenarnya, contohnya; Tembunge pancen alus . Katanya (bicaranya) memang halus’. Omongane pedhes banget.  ‘Bicaranya sangat pedas’.  Bocahe pancen landhep  pikire. ‘Anaknya memang tajam  pikirnya (pandai)’. Kata alus  ‘halus’  pada tembunge alus  yang seharusnya ditanggap dengan alat indra perasa kulit, tetapi tertukar menjadi ditanggap oleh alat indra pendengaran telinga. Kata  pedhes ‘pedas’ yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah, tetapi tertukar menjadi ditanggap oleh alat indra pendengaran telinga.  Metafora Sinestesia dalam Bahasa Jawa  ... ( Edi Suwatno ) 103Demikian juga kata landhep ‘tajam’   pada landhep pikire  yang seharusnya ditanggap dengan alat indra peraba kulit, tertukar menjadi ditanggap oleh alat indra penglihatan mata.Dari berbagai pengertian para ahli bahasa, antara lain Kridalaksana (2008:136), Keraf (1991:166), Chaer (1990:142), Padmosoekotjo (1959:58, dan Hadiwidjana (1967:59) metafora sinestesia dide fi nisikan berupa ungkapan yang bersangkutan dengan suatu indra yang digunakan sebagai objek atau konsep tertentu, yaitu petukaran alat indra penanggap, yaitu indra pendengar telinga, peraba kulit, perasa lidah, dan  pelihatan mata.Masalah penelitian ini adalah metafora sinestesia dalam bahasa Jawa. Rumusan masalah tersebut dapat dirinci sebagai berikut. (1) Berfungsi apa sajakah metafora sinestesia dalam  bahasa Jawa? (2) Jenis-jenis apa sajakah metafora sinestesia dalam bahasa Jawa?Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan masalah metafora sinestesia sebagai berikut. (1) Menjelaskan fungsi metafora sinestesia dalam bahasa Jawa. (2) Menerangkan  jenis-jenis metafora sinestesia dalam  bahasa Jawa.Hasil penelitian itu diharapkan  bermanfaat untuk mengetahui tentang apa saja fungsi dan jenis-jenis metafora sinestesia dalam bahasa Jawa. Hasil itu  bermanfaat untuk mengetahui perbedaan  perubahan makna akibat pertukaran tanggapan alat indra yang satu dengan alat indra yang lain bersangkutan dengan fungsi dan jenis-jenis metafora sinestesia. Adapun fungsi metafora sinestesia untuk mengonkretkan  pengalaman manusia, yaitu fungsi  penghalusan makna (eufemisme) dan fungsi pengasaran atau mengasarkan makna (disfemia). Metafora sinestesia  bersangkutan dengan mekanisme  perpindahan alat indra yang satu ke alat indra yang lain. Tentang jenis- jenis metafora sinestesia berkaitan  pertukaran tanggapan antara dua indra yang jumlahnya lima alat indra atau yang disebut pancaindra, indra perasa lidah, penciuman hidung, peraba kulit,  pendengar telinga, dan pelihatan mata.Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode simak, yaitu menyimak bahasa tulis. Metode simak itu dengan teknik catat, yaitu mencatat subjek tulisan atau topik secara langsung dengan prosedur (1) pemilihan dan pemilahan data, (2) penggolongan data dengan mengidenti fi kasi, dan (3) menganalisis data (Sudaryanto,1993:13). Tentang  pengumpulan data Samarin (1967), terjemahan Badudu,1988:90--115) menjelaskan bahwa sifat data yang baik dan sahih ialah data yang berasal dari sumber yang beraneka ragam dan dengan gaya penulisan yang bermacam-macam  pula agar dapat mewakili pemakaian  bahasa yang realistis, yaitu sahih atau valid.Untuk tulisan ini data bahasa Jawa ragam tulis diperoleh dari sumber sekunder, yaitu (1)  Ngengrengan Kasusastran Djawa  I. 1967. Yogyakarta: Hien Hoo Sing karya Padmosoekotjo, (2) Sarining Kasusastran Djawa . 1968. Yogyakarta: PT Jaker Karya R.S. Subalidinata, (3) Tata-Sastra: Titi-Tembung, Titi-Ukara, Titi-Basa. 1966. Yogyakarta: U.P. Indonesia karya Hadiwidjana. Kamus Ungkapan Bahasa  Jawa. 1990. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sumber dari Majalah mingguan berbahasa Jawa  Jalabahasa, Vol. 12, No. 2, November 2016, hlm. 101  —  109 104( Kalawarti Basa Jawa ) Djaka Lodang tahun 2000-an (tersebar) yang terbit di Yogyakarta.Data yang sudah diklasi fi kasikan atau digolongkan dianalisis dengan menggunakan medote agih dan metode  padan, Metode agih adalah metode analiisis yang alat penentunya merupakan  bagian dan bahasa bersangkutan (Sudaryanto,1993:12). Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto,1993:13). Penerapan metode padan menggunakan padan referensial, yaitu referen (unsur bahasa). Dalam penelitian ini metode padan digunakan untuk menganalisis metafora sinestesia berdasarkan fungsi dan jenis- jenisnya dalam bahasa Jawa.Analisis data menghasilkan fungsi dan jenis-jenis metafora sinestesia dalam  bahasa Jawa. Fungsi metafora untuk mengonkretkan pengalaman dengan  perpindahan indra yang satu ke yang lain. Di samping itu, metafora sinestesia dapat digolongkan menjadi lima macam yang antara laing jenis (1) indra perasa lidah, (2) indra penciuman hidung, (3) indra peraba kulit, (4) indra pendengaran telinga, dan (5) indra penglihatan mata. HASIL DAN PEMBAHASANFungsi Metafora Sinestesia (dalam Bahasa Jawa) Pada subbab empat ini dibicarakan tentang fungsi metafora sinestesia. Tentang fungsi metafora berkaitan dengan perubahan makna, yang salah satunya adalah perubahan makna disebabkan oleh pertukaran tanggapan indra (Chaer,1990:144). Dapat dijelaskan  juga bahwa perubahan makna metafora sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan (Keraf,1991:166). Berkaitan dengan fungsi metafora menurut Wijana (2015:3) adalah untuk mengonkretkan pengalaman manusia dalam hal kias dan persamaan. Fungsi metafora sinestesia dalam bahasa Jawa  berkaitan dengan perubahan makna akibat pertukaran tanggapan indra atau pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan yaitu (1) fungsi  penghalusan makna (eufemisme) dan (2) fungsi pengasaran/mengasarkan makna (disfemia). Masing-masing fungsi metafora sinestesia dalam bahasa Jawa diuraikan sebagai berikut. Fungsi Penghalusan/Menghaluskan Makna (Eufemisme) Penghalusan atau menghaluskan makna (eufemisme) adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan orang lain. Penghalusan makna mengacu yakni ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung  perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus. Kridalaksana (2008:52) mende fi nisikan bahwa eufemisme adalah pemakaian kata atau bentuk lain untuk menghindari bentuk larangan atau tabu, misalnya frasa ke belakang  untuk mengganti kata berak yang dianggap kurang sopan. Ungkapan yang halus berfungsi untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung, mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan Keraf (2000:132). Penghalusan makna  Metafora Sinestesia dalam Bahasa Jawa  ... ( Edi Suwatno ) 105(eufemisme) ini dihadapkan dengan gejala ditampilkannya kata-kata atau  bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna yang lebih halus, atau lebih sopan dari pada kata (bentu kata) yang akan digantikan. Berikut contoh penghalusan makna (eufemisme). (1) Kowe yen omongan sing alus, sing becik, lan sopan supaya anggone kakancan bisa rumaket.  ‘Kamu jika berbicara yang halus, yang baik, dan sopan agar dalan  berteman dapat akrab erat’. (2)  Anisa tembung-tembunge manis, alus, kanthi lembah manah ora nate gawe seriking liyan utawa kanca. ‘Anisa kata-katanya indah, halus, dengan rendah hati tidak  pernah berbuat marahnya orang lain atau teman’. (3) Wong kang wani ngalah iku dhuwur wekasane   kanthi dibarengi omong sing becik lan alus.  ‘Orang yang berani mengalah akhirnya luhur budi pekertinya dengan diikuti  berbicara yang baik dan halus’. (4)  Bulik ngendikane lembut, sipate andhap asor, lan luhur bebudene.  ‘Bulik bicaranya halus, sifatnya rendah hati, dan budi  pekerti luhur’. (5)  Nyuwun priksa bu  Darmo, kamar wingkingipun pundi nggih? ’Minta diberitahu bu Darmo, (WC) kamar mandinya di mana ya?’.Perhatikan ungkapan Kowe yen omongan sing alus, becik, lan sopan santun.’ Kamu kalau berbicara yang halus, baik, dan sopan’. (1) menunjukkan ungkapan yang menghaluskan/ penghalusan (eufemisme) yang merupakan pertukaran tanggapan indra  peraba kulit yang ditanggap oleh indra  pendengaran telinga. Demikian juga ungkapan (2)  Anisa tembung-tembunge manis, alus. an kanthi lembah. ‘Anisa kata-katanya indah, halus, dengan sikap rendah hati’. Menyatakan ungkapan yang sangat halus atau menghaluskan (eufemisme) yang merupakan  pertukaran tanggapan indra peraba kulit yang ditanggap oleh indra pendengaran telinga, Hal yang sama juga berlaku  pada contoh (3 ) Wani ngalah dhuwur wekasane kanthi ngomong sing becik lan alus. ’Berani mengalah akan luhur  budi pekertinya disertai berbicara yang halus dan baik’ menunjukkan metafora sinestesia fungsi penghalusan (eufemisme). Demikian juga contoh (4)  Ngendikane lembut, sipate andhap asor, lan luhur bebudene. ‘ Berbicaranya halus (lembut), sifatnya yang rendah hati, dan  budi pekerti yang luhur; menunjukkan metafora sinestesia fungsi penghalusan (eufemisme). Pada contoh (5) kamar wingkingipun ‘ WC atau mandi (bak untuk mandi) seharusnya ditan ggap oleh alat indra penglihatan mata, tertukar menjadi ditanggap oleh alat indra pendengaran telinga. Fungsi Pengasaran/Mengasarkan Makna (Disfemia) Kebalikan dari penghalusan makna (eufemisme) adalah pengasaran makna (disfemia), yaitu usaha untuk mengganti kata, bentuk kata, atau ungkapan yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan mengganti kata yang maknanya kasar Chaer (1990:149). Usaha atau gejala pengasaran (mengasarkan) ini biasanya dilakukan orang dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan. Sebagai contoh perhatian ungkapan-ungkapan  berikut. (1)  Mubakir omongane atos, kasar, lan kanthi praupan kang ora ngenakake. ‘ Mubakir berbicaranya keras, kasar, dan dengan raut muka yang tidak mengenakkannya’. (2)  Ditakoni apik-apik karo kancane, Tini
Search
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x