Graphic Art

Metpen PGSD2015 3 Metode Penelitian 2 3 12 Kelompok 5

Description
A. Proses Penelitian Kuantitatif Setiap penelitian selalu berangkat dari masalah, atau potensi. Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas, dan ditunjukkan dengan data yang valid. Selanjutnya masalah tersebut
Categories
Published
of 14
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  BAB 2 PROSES PENELITIAN, MASALAH, VARIABEL DAN PARADIGMA PENELITIAN A.   Proses Penelitian Kuantitatif Setiap penelitian selalu berangkat dari masalah, atau potensi. Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas, dan ditunjukkan dengan data yang valid. Selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan pertanyaan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan penelitian. B.   Masalah Pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah. Emory (1985) menyatakan bahwa, baik penelitian murni maupun terapan,semuanya berangkat dari masalah, hanya untuk penelitian terapan, hasilnya langsung dapat digunakan untuk membuat keputusan. Jadi setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah.      Sumber masalah Masalah dapat diartikan sebagai penyimpanan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan. Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila 1.   Terdapat penyimpanan antara pengalaman dengan kenyataan 2.   Terdapat penyimpanan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan 3.   Adanya pengaduan, dan 4.   Ada kompetisi C.   Rumusan Masalah Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Kalau masalah itu merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.      Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian Bentuk rumusan masalah dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk yaitu: 1.   Rumusan masalah deskriptif 2.   Rumusan masalah komperatif 3.   Rumusan masalah asosiatif Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: 1.   Hubungan simetris 2.   Hubungan kausal 3.   Hubungan interaktif/resiprokal/timbal balik 4.   Rumusan masalah komparatif-asosiatif    D. Variabel Penelitian 1.   Pengertian Kalau ada pertanyaan tentang apa yang anda teliti, maka Jawabannya berkenaan dengan variabel penelitian. Jadi variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu 'yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981). Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, h, kepemimpinan, disiplin kerj a, merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran," bentuk, dan warna merupakan atribut-atribut dari obyek. Struktur organisasi model pendelegasian, kepemimpinan, pengawasan, koordinasi, prosedur dan mekanisme kerj a, deskripsi pekerjaan, kebijakan, adalah merupakan contoh variabel dalam kegiatan administrasi pendidikan. Dinamakan variabel karena ada variasinya. Misalnya berat badan dapat dikatakan variabel, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu orang dengan yang lain. Demikian jugaprestasi belajar, kemampuan guru dapat juga dikatakan sebagai variabel karena misalnya prestasi belajar dari sekelompok murid tentu bervariasi. Jadi kalau peneliti akan memilih variabel penelitian, baik yang dimiliki orang obyek, maupun bidang kegiatan dan keilmuan tertentu, maka harus ada variasinya. Variabel yang tidak ada variasinya bukan dikatakan sebagai variabel. Untuk dapat bervariasi maka penelitian harus didasarkan pada sekelompok sumber data obyek yang bervariasi. 2.   Macam-macam variable a.   Variable Independen b.   Variable dependen c.   Variabel Moderator: adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara Variabel independen dengan dependen. Variabel disebut Juga sebagai variabel independen ke dua. Hubungan perilaku suami dan istri akan semakin baik (kuat) kalau mempunyai anak, dan akan semakin renggang kalau ada pihak ke tiga ikut mencampuri. Di sini anak adalah sebagai variabel moderator yang memperkuat hubungan, dan fihak ke tiga adalah sebagai variabel moderator yang memperlemah hubungan. Hubungan motivasi dan prestasi belajar akan semakin kuat bila peranan guru dalam menciptakan iklim belajar sangat baik, dan hubungan semakin rendah bila Peranan guru kurang baik dalam menciptakan iklim belajar. d.   Variabel intervening hal ini Tuckman (1988) menyatakan “An intervening variable is thatfactor that theorectically the observed phenomenon but cannot be seen, measure, or manipulate”.  Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyeIa/antara yang terletak di antara variabel independen dan dependen, sehingga van'abel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.     Pada contoh berikut dikemukakan bahwa tinggi rendaimya Penghasilan akan mempengaruhi secara tidak langsung terhadap harapan hidup (panjang pendeknya umur). Dalam hal ini ada variabel antaranya, yaitu yang berupa gaya hidup seseorang. Antara vanabel penghasilan dengan gaya hidup, terdapat variabel moderator, yaitu budaya lingkungan tempat tinggal E.   Paradigma Penelitian Dalam penelitian kuantitatif/positivistik, yang dilandasi pada suatu asumsi bahwa suatu gejala itu dapat diklasifikasikan, dan hubungan gejala bersifat kausal (sebab akibat), maka peneliti dapat melakukan penelitian dengan memfokuskan kepada beberapa variabel saj a. Pola hubmgan antara variabel yang akan diteliti tersebut selanjutnya disebut sebagai paradigma penelitian. Jadi pamdigma penelitian dalam hal.ini dapat diartikan, pikir yang menunjukkan hubungan antara variable yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis statistik yang akan digunakan. Berdasarkan bentuk paradigma atau model penelitian kuantitatif penelitian survey seperti gambar berikut: 1.   Paradigma Sederhana 2.   Paradigma sederhana berurutan 3.   Paradigma ganda dengan dua Variabel Independen 4.   Paradigma ganda dengan Tiga Variabel Independen 5.   Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Dependen 6.   Paradigma ganda dengan Dua variabel Indrpenden dan dua Dependen 7.   Paradigma Jalur F.   Menemukan Masalah Pada dasamya setiap orang memiliki masalah, bahkan orang yang tidak mempunyai masalah akan dimasalahkan oleh orang lain,(hanya orang gila yang tidak mempunyai masalah). Namun seperti telah dikemukakan bahwa menemukan masalah yang betul-betul masalah bukanlah pekerjaan mudah. Oleh karena itu bila masalah penelitian telah ditemukan, maka pekeljaan penelitian telah 50° 0 selesai. Dengan demikian pekeijaan menemukan masalah merupakan 50% dari kegiatan penelitian.  BAB 3   LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS   A.   Pengertian Teori Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi Suryabrata,1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapat data. Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Seperti dinyatakan oleh Neumen (2003), Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variable, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Wiliam Wiersma (1986) menyatakan bahwa, Teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Sitirahayu Haditono (1999), menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada. Mark (1963), dalam (Sitirahayu Haditono, 1999), membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:   1.   Teori yang deduktif Memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu kea rah data akan diterangkan. 2.   Teori yang induktif Cara menerangkan dari data kea rah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistic ini dijumpai pada kaum behaviorist. 3.   Teori yang fungsional Adanya interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data. Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut: 1.   Teori menunjuk pada sekelompok suatu hukum yang logis, sifat hubungan yang deduktif, dan suatu hubungan yang antara variabel-variabel empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramal sebelumnya. 2.   Suatu rangkuman yang tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. 3.   Suatu teori juga menunjukkan suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi.  Berdasarkan data tersebut di atas secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa, suatu teori yaitu diperoleh dengan jalan yang sistematis, harus di uji kebenarannya, bila tidak, maka itu bukan suatu teori. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala. Dalam bidang Administrasi Pendidikan ada beberapa para ahli mengemukakan, seperti pada Hoy dan Miskel (2001), komponen teori itu meliputi konsep dan asumsi. Konsep merupakan istilah yang bersifat abstrak dan bermakna generalisasi. Sedangkan asumsi merupakan pernyataan diterima kebenarannya tanpa pembuktian. Berikut ini diberikan contoh asumsi dalam bidang administrasi pendidikan. 1.   Administrasi merupakan generalisasi tentang perilaku semua manusia dalam organisasi. 2.   Administrasi merupakan proses pengarahan dan pengendalian kehidupan dalam organisasi sosial. Setiap teori akan mengalami perkembangan, dan perkembangan itu terjadi apabila teori sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah. B.   Tingkatan dan Fokus Teori Numan (2003), mengemukakan tingkatan teori menjadi tiga yaitu, micro, meso, dan macro, sedangkan fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu teori subtantif, teori formal, dan middle range theory.   Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori subtantif.  C.   Kegunaan Teori Dalam Penelitian Cooper and Schundler (2003), menyatakan bahwa kegunaan teori dalam penelitian adalah:   1.   Theory narrows the range of fact we need to study. 2.   Theory suggest which research approaches are likely to yield the greatest meaning. 3.   Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify them in the most meaningful way. 4.   Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformities that lie beyond immediate observation. 5.   Theory can be used to predict further fact that should be found. Ciri-ciri teori yang baik menurut Mouly, adalah: 1.   A theoretical system must permit deduction which be tested empirically. 2.   A theory mus be compatible both with observation and with previously validated theory. 3.   Theories must be stated in simple terms, that theory is best which explains the most in the simplest form. 4.   Scientific theories must be based on empirical facts and relationship.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x