Crafts

Pelajaran dari Terorisme Lokal di El Paso - indopos

Description
Pelajaran dari Terorisme Lokal di El Paso - indopos
Categories
Published
of 4
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  10/14/2019Pelajaran dari Terorisme Lokal di El Paso - indopos.co.idhttps://indopos.co.id/read/2019/08/13/186380/pelajaran-dari-terorisme-lokal-di-el-paso/1/4 Home    Nasional    Opini   Oleh Yanuardi Syukur,Pengajar Antropologi Universitas Khairun, Alumni Professional Fellow Amerika Serikat 2019  Penembakan mengerikan yang terjadi di toserba Walmart di kota El Paso, Texas, pada Sabtu 3 Agustus 2019,sekira pukul 10:00 pagi waktu lokal, menyebabkan 22 orang tewas dan melukai sedikitnya 26 orang.Penembakan ini disebut sebagai “penembakan massal paling mematikan di Amerika Serikat sepanjang tahun2019” yang dilakukan sekitar 13 jam sebelum penembakan massal lainnya di Dayton, Ohio, yang menewaskan10 orang dan 19 orang luka-luka. Pelajaran dari Terorisme Lokal di El Paso Editor Ali Rahman   Selasa, 13 Agustus 2019 - 08:40 OPINI  10/14/2019Pelajaran dari Terorisme Lokal di El Paso - indopos.co.idhttps://indopos.co.id/read/2019/08/13/186380/pelajaran-dari-terorisme-lokal-di-el-paso/2/4 Otoritas setempat menyebut bahwa penembakan di El Paso yang dilakukan oleh Patrick Crusius (21 tahun)sebagai kejahatan kebencian dan terorisme lokal (dalam negeri), sedangkan penembakan yang dilakukan olehConnor Betts (24 tahun) disebut sebagai penembakan yang dilakukan oleh seseorang yang berpandanganpolitik ekstrem dan punya masalah kejiwaan.Tak Ada Tempat bagi KebencianKedua lelaki itu, secara umum disebut oleh Presiden Trump sebagai orang yang sakit jiwa dan diilhami olehkebencian yang menurut Trump, “kebencian tidak punya tempat di negeri ini.” Ini menjadi kritikan sangat kerasbahwa perang terhadap ujaran kebencian harus menjadi perhatian penting tak terkecuali di dunia maya,sebuah tempat di mana ujaran kebencian tumbuh subur dan dapat berdampak pada psikologi seseoranguntuk bertindak yang buruk kepada orang lain.Satu hal yang menjadi trend terutama di kalangan para nasionalis ekstrem, yaitu membuat manifesto, sebuahdokumen tertulis yang berisi pandangan, logika, kepercayaan, dan mengapa pelaku teror itu melakukanaksinya. Setidaknya, dalam satu dekade terakhir, ada beberapa manifesto yang dirilis oleh pelaku terorsebelum mereka bertindak, yaitu, manifesto yang ditulis oleh Patrick Crusius (penembakan El Paso, Texas,2019; 4 halaman), Brenton Tarrant (penembakan Christchurch, New Zealand, 2019; 74 halaman), dan AndersBehring Breivik (penembakan di Pulau Utoya, Norwegia, 2011; 1518 halaman).Ketiga pelaku ujaran kebencian sekaligus terorisme ini punya kaitan satu saling menginspirasi satu danlainnya, kendati mereka tidak saling kenal. Crusius misalnya, mengakui bahwa dia mendukung penembakan diNew Zealand, dalam kalimat pembuka manifesto “The Inconvenient Truth”: “In general, I support theChristchurch shooter and his manifesto.” Pun demikian dengan Tarrant yang terinspirasi dari Breivik, danBreivik terpengaruh oleh pandangan yang keliru, salah satunya soal penyebaran Islam yang disebutnyasebagai “islamic colonization” dan “islamisation of Western Europe.”Ketiga manifesto ini jika dibaca secara jeli sesungguhnya berasal dari kekhawatiran akan orang lain, dalamhal ini imigran (pendatang) yang dapat menggantikan keberadaan warga tempatan, yaitu warga kulit putih.Kekhawatiran itu kemudian disulut dengan berbagai fakta telah terjadi kejahatan terhadap orang kulit putih(seperti yang ditulis Brenton Tarrant), atau kemungkinan pendatang untuk melakukan invasi dan penggantianbudaya, at least membuat warga tempatan jadi pengangguran (seperti yang ditulis Crusius dalammanifestonya).Kebencian kepada warga asing atau xenophobia tampaknya tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi,ditambah dengan kemudahan untuk mendapatkan senapan serbu yang dapat mematikan sekian banyakorang dalam waktu yang cepat. Mereka, para white supremacist yang melakukan teror itu kelihatannyacenderung membuat aksi pada tempat-tempat yang terlihat aman, sebutlah New Zealand yang selama ini kitakenal sebagai “negara yang aman”, pun demikian dengan El Paso yang jarang terdengar ada teror yang berarti.  10/14/2019Pelajaran dari Terorisme Lokal di El Paso - indopos.co.idhttps://indopos.co.id/read/2019/08/13/186380/pelajaran-dari-terorisme-lokal-di-el-paso/3/4 Pemilihan El Paso oleh pelaku lebih karena di situ mayoritas warganya adalah warga pendatang dari Meksiko,sedangkan pemilihan New Zealand adalah karena di situ ada banyak pendatang muslim dan apa yangdilakukannya di hari Jum’at akan berdampak secara luas.Sakit Jiwa yang Saling MemanggilDari sini juga dapat pelajaran bahwa ujaran kebencian, sekecil apapun itu, adalah berbahaya. Orang yang sakit jiwa akan “saling memanggil” untuk melakukan tindakan yang serupa. Soal sakit jiwa, lebih banyak kitapelajari dari pelaku penembakan di Dayton, Ohio. Laki-laki 24 tahun itu telah memperlihatkan masalahkejiwaan dalam berbagai postingannya di internet, termasuk deskripsi dirinya di akun Twitter-nya@iamthespookster: “I’m going to hell and i’m not coming back.”Selain itu, Connor Betts juga memperlihatkan sebagai seseorang yang kagum pada tragedi, cenderung padakekerasan dan berpikir untuk bunuh diri (dia pernah 2 kali memasukkan pistol ke mulutnya), yang secaraumum dapat disebut sebagai “pria muda bermasalah yang terobsesi pada pikiran yang gelap.” Memang, diatidak (atau belum) terindikasi sebagai pelaku kekerasan rasial (seperti Crusius), akan tetapi dia melakukan itukarena masalah kejiwaan.Mantan kekasih Betts, Adelia Johnson, dalam 7 lembar pernyataan tentang hubungannya dengan lelaki itu,yang dikirim ke Dayton Daily News, mengatakan bahwa mereka bertemu pertama kali pada Januari 2019waktu sama-sama ambil mata kuliah Psikologi Sosial di Sinclair College. Mereka sama-sama tahu bahwamereka punya masalah kejiwaan.Suatu ketika, Betts memperlihatkan video penembakan terhadap jemaat Tree of Life di Sinagog Pittsburghyang menewaskan 11 orang dan 6 terluka. Ketika memperlihatkan video itu pada Maret 2019, Bettsmenjelaskannya secara detail (play-by-play). Johnson merasa aneh dengan kejadian itu. Akan tetapi, diaberpikir positif bahwa sebagai sesama mahasiswa yang mengambil mata kuliah Psikologi Sosial, merekatelah terbiasa untuk membicarakan soal serial pembunuhan. Di sini, terlihat bahwa Johnson–kendati dia jugapunya masalah kejiwaan–berupaya untuk mengerti perihal lelaki yang dia sukai tersebut.Sebuah pertanyaan mungkin penting diajukan: Apakah seorang yang punya penyakit kejiwaan akan mencarikawan dekatnya seorang yang punya masalah kejiwaan juga? Jika merujuk pada relasi Betts dan Johnson itu,berarti bahwa orang yang sakit jiwa akan mencari teman yang sakit jiwa juga. Untuk kasus Brenton Tarrant,kita belum melihat ia punya teman dekat yang sakit jiwa, tapi fakta terang benderangnya adalah dia begitunyaman bermain game online yang bernuansa kekerasan. Mungkin, teman-teman online itulah yangmenjadikan dia nyaman untuk melakukan apa yang menurutnya benar.Perlunya Kepedulian Online  10/14/2019Pelajaran dari Terorisme Lokal di El Paso - indopos.co.idhttps://indopos.co.id/read/2019/08/13/186380/pelajaran-dari-terorisme-lokal-di-el-paso/4/4  Yanuardi Syukur Ada kecenderungan orang untuk melihat bahwa masalah di dunia maya itu sekedar di dunia maya, dan tidakada korelasinya dengan dunia nyata. Di awal-awal kita dekat dengan internet, itu ada benarnya. Tapibelakangan ini sangat sulit bagi kita untuk memisahkan antara yang online dan oine. Maka, jika kita punyateman yang terindikasi sakit jiwa yang mengarah pada kemungkinan tindakan kekerasan, ada baiknya untukdilaporkan kepada pihak berwajib, kepada keluarganya, atau kepada orang terdekatnya.Kepedulian online sangat perlu kita viralkan agar sama-sama kita peduli pada keamanan dan kenyamananhidup kita di dunia maya. Saling peduli berarti bahwa kita saling menjaga kehidupan sosial di dunia maya agartidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk pelaku teror berbasis pada anti-imigran, xenophobia, atauyang ketakutan akan teori konspirasi bahwa orang kulit putih akan terus tergerus, mereka umumnya bermaindi website yang menyediakan papan gambar (image board) yang bisa jadi satu sama lainnya tidak salingkenal.Jika ada kawan kita di media sosial yang cenderung pada ujaran kebencian (hate speech), atau cenderungpada intensi untuk melakukan tindakan kekerasan, ada baiknya kita sama-sama mendekatinya agar tidakmelakukan hal itu. Atau, paling minimal meminta teman dekatnya, atau keluarganya (jika ada yang dikenal)untuk memberi perhatian lebih kepadanya dengan tujuan agar mengantisipasi kemungkinan berpindahnyaujaran kebencian dan intensi tindakan kekerasan dari dunia maya ke dunia nyata. (*) © 2019 - indopos.co.id. All Rights Reserved.PT. Tunas Intermedia Globe
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x