Comics

PELANGGARAN PRINSIP KESOPANAN DALAM CERAMAH HABIB BAHAR BIN SMITH (Violation of the Politeness Principle bin Habib Bahar bin Smith Lectures)

Description
ABSTRAK Penelitian ini untuk mengungkapkan pelanggaran prinsip kesopanan dalam ceramah Habib Bahar bin Smith (selanjutnya disebut HBBS). Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan studi dokumen. Sumber data yaitu
Categories
Published
of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  PELANGGARAN PRINSIP KESOPANAN DALAM CERAMAH HABIB BAHAR BIN SMITH (Violation of the Politeness Principle bin Habib Bahar bin Smith Lectures) Oleh/by Ali Kusno Kantor Bahasa Kalimantan Timur Jalan Batu Cermin 25, Sempaja Utara Samarinda Kalimantan Timur Pos-el: alikusnolambung@gmail.com Diterima: 29 Maret 2019, Disetujui: 6 Mei 2019 ABSTRAK Penelitian ini untuk mengungkapkan pelanggaran prinsip kesopanan dalam ceramah Habib Bahar bin Smith (selanjutnya disebut HBBS). Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan studi dokumen. Sumber data yaitu tuturan ceramah HBBS yang diunggah di Youtube . Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pernyataan-pernyataan dalam ceramah HBBS terbukti melanggar prinsip kesopanan. HBBS mengungkapkan bahwa Jokowi seorang pengkhianat bangsa, Presiden Jokowi seperti banci, Presiden Jokowi tidak pantas menjadi presiden karena mantan tukang mebel, dan Presiden Jokowi mengingkari janji.   HBBS dalam pernyataan tersebut mempertanyakan program kesejahteraan rakyat yang dijalankan pemerintah. Penyataan HBBS melanggar prinsip kesopanan, yakni pelanggaran prinsip maksim kearifan dan maksim pujian. Kata kunci: ceramah, Habib Bahar bin Smith, pelanggaran prinsip kesopanan  ABSTRACT This research aims to reveal violation of the politeness principle in HBBS's lecture. It is descriptive qualitative research, based on document analysis. The data source is HBBS's lecture on Youtube. The results of the study showed that statements in HBBS's lecture violate the principles of politeness. HBBS declared that Jokowi was a traitor to the nation and was like a sissy, President Jokowi did not deserve to be a president because he was a  furniture craftman, Jokowi broke his promise, There were no data provided to support his  statements. HBBS questioned welfare program run by the government, in general, and also the welfare of the audience. He believed prosperity was not for the people, but for  foreigners. HBBS's statements violated the principle of politeness, namely maxim of wisdom and praise.  Keywords : lectures, Habib Bahar bin Smith, violation of the politness principle PENDAHULUAN Ceramah merupakan sarana syiar keagamaan yang efektif. Melalui ceramah, pemuka agama dapat  berinteraksi langsung dengan  jemaah. Sebuah ceramah yang baik diharapkan mampu mempersuasi  jemaah ke arah kebaikan. Oleh karena itu, seorang penceramah  Pelanggaran Prinsip Kesopanan dalam Ceramah …. (Ali Kusno) harus memiliki bekal ilmu agama yang baik. Selain itu, seorang  penceramah harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang  baik. Sayangnya, tidak semua  penceramah memiliki kemampuan tersebut. Tahun 2019 merupakan tahun politik dengan adanya agenda  pemilihan umum serentak, termasuk  pemilihan presiden. Ada beberapa penceramah menggunakan agama sebagai  penyampai alat politik. Penceramah- penceramah tersebut dalam  berkomunikasi menggunakan bahasa yang cenderung menghasut bahkan  provokatif. Provokasi yang dilakukan seorang penceramah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Provokasi dapat menyebabkan kesesatan di kalangan umat, juga menimbulkan  pertentangan antarmasyarakat. Oleh karena itu, tidak jarang terdapat  penceramah yang mendapat  pertentangan dari masyarakat karena menggunakan bahasa yang tidak santun bahkan cenderung provokatif. Selain provokatif, ceramah-ceramah tersebut juga melanggar prinsip kesopanan. Salah satu penceramah yang mendapat perhatian publik karena bergaya provokatif dalam ceramah-ceramahnya adalah HBBS (detik.com, 2018). HBBS dilaporkan dua pihak karena ceramah yang  berisi hinaan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dua pihak yang melaporkan yakni Jokowi Mania (Joman) dan Cyber Indonesia. HBBS dilaporkan dengan pasal UU Nomor 1 Tahun 1946 KUHP No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, UU Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU  Nomor 1 Tahun 2008 tentang ITE, serta Pasal 207 KUHP, Pasal 16 jo Pasal 4 huruf b angka 1, dan Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) (detik.com, 2018). Laporan itu bermula dari ceramah HBBS yang menyebut “Jokowi kayaknya banci” viral di media sosial. Habib Bahar tidak hanya menyebut Jokowi seperti  banci. Pernyataan keras lainnya juga dilontarkan HBBS ke Jokowi. Pernyataan tersebut yang membuat  berang Joman dan Cyber Indonesia sehingga mereka melaporkan HBBS. Joman menganggap HBBS melakukan orasi yang mengandung diskriminasi ras dan etnis, serta ujaran kebencian atau hate speech . Sementara, Cyber Indonesia menilai apa yang disampaikan pria yang dijuluki Habib Bule itu sudah melampaui batas (detik.com, 2018). Selain itu, pernyataan HBBS  juga mendapat kecaman dari banyak  pihak. Pernyataan pria yang pernah ditahan karena memimpin aksi  sweeping   di Kafe de Most, Bintaro, Jakarta pada 2012 lalu itu, mendapat kecaman dari Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, dan partai  politik pendukung dan Timses Jokowi. Pihak-pihak tersebut meminta polisi mengusut tuntas kasus tersebut. HBBS juga didesak untuk meminta maaf. Selain itu,  polisi juga diminta untuk segera menangkap HBBS. Berdasarkan pernyataan di atas, menjadi menarik untuk mengkaji  penggunaan bahasa ceramah HBBS yang mendapat beberapa penolakan karena dinilai provokatif. Hal ini sangat penting agar menjadi bahan referensi bagi pendakwah lain agar tidak terjebak dengan pola yang  Jalabahasa, Vol. 15, No. 1, Mei 2019, hlm. 25—35 27 serupa. Apabila pola dakwah yangg  provokatif terus menggejala dikhawatirkan dapat menimbulkan kebingungan umat dan menimbulkan  perpecahan. Untuk itu, dalam  penelitian ini diangkat pelanggaran  prinsip kesopanan dan penggunaan gaya bahasa provokatif dalam ceramah keagamaan yang dilakukan HBBS. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pelanggaran prinsip kesopanan dan penggunaan gaya  bahasa provokatif dalam beberapa ceramah keagamaan HBBS yang diunggah di Youtube. Provokatif dalam deskripsi tersebut mengacu  pada penggunaan gaya bahasanya maupun substansi ceramah HBBS. Kesopanan merupakan elemen keberterimaan dalam interaksi antarpengguna bahasa. Menurut Leech (1993: 161) sopan santun sering diartikan secara dangkal sebagai suatu ‘tindakan yang sekadar  beradab’ saja, namun makna yang lebih penting yang diperoleh adalah sopan santun merupakan mata rantai yang hilang antara prinsip kerja sama dengan masalah bagaimana mengaitkan daya dengan makna. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pengertian kesopanan berbahasa adalah adat sopan santun tutur kata yang baik yang mengaitkan daya dan makna. Prinsip kerja sama tidak dapat menjelaskan mengapa manusia sering menggunakan cara yang tidak langsung untuk menyampaikan apa yang dimaksud. Dalam hal ini  peranan sopan santun menjadi  penting karena dapat mengungkapkan alasan dalam  pemilihan penggunaan bahasa yang mengedepankan sopan santun. Dengan demikian, sopan santun tidak sebatas mengungkapkan cara  bertutur, melainkan juga mengungkapkan alasan penggunaan  bahasa tersebut. Penelitian tentang kesopanan  berbahasa seiring dengan  perkembangan masyarakat. Menurut Rahardi (2009: 35) penelitian kesopanan mengkaji penggunaan  bahasa ( language use ) dalam suatu masyarakat bahasa tertentu. Masyarakat tutur yang dimaksud adalah masyarakat dengan aneka latar belakang situasi sosial dan  budaya yang mewadahinya. Adapun yang dikaji dalam penelitian kesopanan adalah maksud dan fungsi tuturan. Sebagai retorika interpersonal,  pragmatik membutuhkan prinsip kesopanan (  politeness principle ). Prinsip kesopanan tersebut  berhubungan dengan dua peserta  percakapan, yakni diri sendiri (self  ) dan orang lain ( other  ) (Wijana, 2009: 51). Diri sendiri adalah penutur dan orang lain adalah lawan tutur, dan orang ketiga adalah yang dibicarakan  penutur dan lawan tutur. Dalam konteks ini  ,  diri sendiri adalah HBBS, sedangkan orang lain adalah masyarakat (jemaah), dan orang ketiga yang dibicarakan Habib Bahar adalah Presiden Jokowi. Selain memperhatikan pihak- pihak terkait, menurut Chaer (Masfufah, 2013: 103) ada tiga hal  pokok yang harus diperhatikan dalam memberikan tuturan, yaitu (1) identitas sosial budaya para partisan (penutur dan lawan tutur), (2) topik tuturan, (3) konteks waktu, situasi, dan tempat penuturan berlangsung. Selain itu, dalam tuturan juga dipengaruhi oleh tujuan tuturan. Dengan demikian, dalam bertutur  Pelanggaran Prinsip Kesopanan dalam Ceramah …. (Ali Kusno) lisan maupun tulisan harus memperhatikan identitas sosial  budaya para partisan, topik tuturan, konteks, dan tujuan. Hal-hal pokok tersebut menjadi pertimbangan kesopanan dalam tuturan. Pesan yang disampaikan dapat dengan baik diterima peserta tutur apabila komunikasi yang terjalin mempertimbangkan prinsip-prinsip kesopanan berbahasa. Prinsip kesopanan berbahasa memiliki beberapa jenis maksim. Berikut ini maksim-maksim sebagaimana dikemukakan oleh Leech (1993: 206  207) yakni sebagai berikut. a.   Maksim kearifan (tact maxim). Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin. Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.  b.   Maksim kedermawanan (generosity maxim). Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin. Buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin. c.   Maksim pujian  (approbation maxim). Kecamlah orang lain sesedikit mungkin (pujilah orang lain sebanyak mungkin). d.   Maksim kerendahan hati (modesty maxim). Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin (kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin). e.   Maksim kesepakatan  (agreement maxim). Usahakan agar kesepakatan antara diri sendiri dan lain terjadi sesedikit mungkin (usahakan agar kesepakatan antara diri sendiri dengan lain terjadi sebanyak mungkin). f.   Maksim simpati (sympathy maxim). Kurangilah rasa antipati antara diri dengan lain hingga sekecil mungkin (tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri dan lain). Penerapan maksim-maksim tersebut diharapkan dapat ditaati.  Namun, Leech (1993: 209) mengungkapkan maksim-maksim tersebut ditaati sampai batas-batas tertentu saja dan bukannya ditaati sebagai kaidah absolut. Ini berlaku khususnya bagi submaksim-submaksim yang lebih lemah (dinyatakan dalam tanda kurung). Penerapan maksim-maksim tentunya mempertimbangkan situasi tuturan. Lebih lanjut Leech (1993: 209) mengungkapkan bahwa dalam komunikasi seseorang yang pada setiap kesempatan merendahkan dirinya akan menjadi orang yang sangat membosankan. Selain itu, orang tersebut akan dinilai sebagai orang yang tidak tulus dan tidak sungguh-sungguh. Penutur juga harus memperhatikan hal-hal yang menyebabkan pelanggaran prinsip kesopanan. Pranowo mengungkapkan (2009: 68--73)  beberapa faktor atau hal yang menyebabkan pelanggaran prinsip kesopanan. a.   Penutur menyampaikan kritik secara langsung (menohok mitra tutur) dengan kata atau frasa yang kasar.  b.   Penutur didorong rasa emosi ketika bertutur. c.   Penutur protektif terhadap  pendapatnya. d.   Penutur sengaja ingin memojokkan mitra tutur dalam  bertutur.  Jalabahasa, Vol. 15, No. 1, Mei 2019, hlm. 25—35 29 e.   Penutur menyampaikan tuduhan atas dasar kecurigaan terhadap mitra tutur. Pelanggaran maksim-maksin kesopanan dengan berbagai sebab tersebut tentunya memiliki fungi tertentu. Fungsi tersebut yang mendasari kesengajaan penutur melakukan pelanggaran kesopanan. Oleh karena itu, pengungkapan fungsi pematuhan dan pelanggaran  prinsip kesopanan sangat menarik dan penting dilakukan. Salah satu hal yang memerlukan  prinsip-prinsip kesopanan adalah ceramah. Menurut M. Munir, (2006: 62) dakwah adalah suatu proses  penyampaian/penyeruan informasi ilahiyah  kepada para hamba manusia yang merupakan bagian integral dari hidup dan kehidupan setiap individu muslim. Bedasarkan definisi tersebut dakwah digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada umat muslim. Metode dakwah yang dapat digunakan cukup beragam. Cukup  banyak metode strategi dalam  berdakwah, seperti ceramah, tausiah, nasihat, diskusi, bimbingan keagamaan, uswah  dan qudwah hasanah , dan lain sebagainya (An- Nabiry, 2008: 239). Saat ini istilah ceramah dan tablig mulai digeser oleh istilah tausiah. Ceramah dan tablig lebih merujuk pada aktivitas pidato, yakni  pidato tentang keislaman, sedangkan tausiah lebih terkesan informal. Sedangkan tausiah (“KBBI Daring,” 2017) artinya ‘pesan’, misalnya dalam bentuk syair lagu yang berisi nasihat. Secara praktis, tausiah artinya ceramah keagamaan yang  berisi pesan-pesan dalam hal kebenaran dan kesabaran. Pesan- pesan kebenaran dan kesabaran hendaknya menggunakan bahasa yang baik. Meskipun demikian, kenyataannya masih terdapat  pendakwah yang menyampaikan  pesan-pesan keagamaan dengan menggunakan bahasa provokatif. Saat ini masih banyak pengguna  bahasa yang terpicu isi ceramah yang  provokatif. Provokatif dalam (KBBI  Daring (2017) dimaknai ‘bersifat  provokasi’; ‘merangsang untuk  bertindak’; ‘bersifat menghasut’. Berdasarkan definisi tersebut tindakan provokatif merupakan upaya merangsang atau menghasut khalayak untuk bertindak. Dalam konteks dakwah, memprovokasi, kata Menteri Agama, adalah dakwah yang menyatakan pandangan- pandangannya saja yang paling  benar, menjelek-jelekkan dan sejenisnya (Prihantoro, 2016). Dakwah yang provokatif merupakan dakwah yang menyatakan  pandangan-pandangan pendakwah saja yang paling benar, menjelek- jelekkan, dan sejenisnya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa dakwah yang provokatif adalah dakwah yang menyampaikan  pandangan-pandangan pendakwah saja yang paling benar, bertindak cenderung menjelek-jelekkan, dan  berupaya merangsang atau menghasut khalayak. Hasutan dan rangsangan dalam dakwah provokatif tentunya berpotensi dapat menimbulkan konflik atau  perpecahan di kalangan umat dan  bangsa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang  bersifat deskriptif. Metode penelitian
Search
Similar documents
View more...
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x