Math & Engineering

Penerapan Analisis ABC Obat Pasien BPJS Depo Farmasi Rawat Jalan RSUD A.M Parikesit Tenggarong Tahun 2017

Description
ABSTRAK Latar belakang: Keanggotaan BPJS yang terus meningkat menyebabkan penggunaan obat juga semakin meningkat sehingga perlu dianalisis persediaannya. Analisis terhadap obat dilakukan untuk mencegah terjadinya kekosongan dalam persediaan. Metode
Published
of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
   Penerapan Analisis ABC Obat Pasien BPJS Depo Farmasi Rawat Jalan RSUD A.M Parikesit Tenggarong Tahun 2017 Heri Wijaya , 1*  Muhamad Suhada Nur, 1 Eka Siswanto Syamsul. 1 1 Akademi Farmasi Samarinda, Jl.A.W.Syahranie, No.226 Samarinda, Kalimantan Timur *Email korespondensi: pusam_12@yahoo.com ABSTRAK Latar belakang: Keanggotaan BPJS yang terus meningkat menyebabkan penggunaan obat  juga semakin meningkat sehingga perlu dianalisis persediaannya. Analisis terhadap obat dilakukan untuk mencegah terjadinya kekosongan dalam persediaan. Metode yang dapat digunakan yaitu metode analisis ABC. Metode analisis ABC merupakan metode pengklasifikasian barang berdasarkan peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan dibagi menjadi kelompok A, B, dan C. Tujuan:  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengklasifikasian obat pasien BPJS dengan menggunakan metode analisis ABC di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong periode Januari-Maret 2017. Metode:  Desain penelitian yang dilakukan adalah non-eksperimental dengan analisis secara deskriptif. Data obat dikelompokkan berdasarkan harga jual dan banyaknya pemakaian. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan  Microsoft Excel   2007 dan diklasifikasikan ke dalam kategori ABC. Hasil penelitian: Jumlah item  obat pasien BPJS di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong selama periode Januari-Maret 2017 sebanyak 431 item , dengan jumlah pemakaian obat sebanyak 483.929 dan total nilai pemakaian Rp. 1.069.501.113,-. Klasifikasi A berjumlah 86 item  (20%) dengan nilai pemakaian Rp. 870.110.113,- (81,36%), klasifikasi B sebanyak 129 item  (30%) dengan nilai pemakaian Rp. 162.492.266,- (15,19%), dan klasifikasi C sebanyak 216 item  (50%) dengan nilai pemakaian Rp. 36. 898.734,- (3,45%). Kesimpulan:  Obat klasifikasi kelompok A adalah obat mahal pada beberapa kasus merupakan obat yang sering digunakan, atau kelompok obat yang memiliki jumlah pemakaian yang banyak namun harganya murah dan juga sebaliknya. Obat Klasifikasi B adalah obat murah dengan jumlah pemakaian yang banyak. Obat Klasifikasi C adalah obat murah dengan jumlah pemakaian sedikit. Analisis Metode VEN sangat direkomendasikan untuk mengetahui tingkat prioritas obat dari segi farmasetik, dan metode EOQ untuk dapat menentukan jumlah minimal obat yang dipesan tiap kali pengadaannya. Kata kunci : Pareto ABC, rawat jalan, RSUD A.M. Parikesit Tenggarong, Kode Abstrak: FK  1.   PENDAHULUAN Sediaan farmasi, khususnya obat memiliki nilai yang tinggi dikarenakan banyaknya jenis dan tingginya nilai produk farmasi tersebut. Hal ini menyebabkan manajemen persediaan sangat penting 1 . Tahapan penting dalam melakukan pengelolaan terhadap persediaan farmasi dimulai dari perencanaan yang baik  4 . Perencanaan yang tepat merujuk pada proses pemilihan obat sesuai kebutuhan. Proses pemilihan obat sebaiknya diawali dengan dasar-dasar seleksi kebutuhan obat, yaitu obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah serta memberikan efek terapi jauh lebih baik dibanding efek samping yang ditimbulkan, jenis obat dipilih seminimal mungkin, menghindari terjadinya duplikasi obat, obat merupakan drug of choice  dari penyakit yang prevelansinya tinggi, melaksanakan evaluasi kontra indikasi serta efek samping secara cermat, dan harga terjangkau. Biaya merupakan faktor pertimbangan utama pada pemilihan obat. Obat yang secara klinis memberikan efek penyembuhan yang sama sebaiknya dalam proses pemilihannya didasarkan pada obat generik yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dengan berpedoman pada harga yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang masih berlaku 2 . Manajemen persediaan yang efektif akan berdampak kepada tercapainya keseimbangan antara biaya penyimpanan dan pembelian, serta biaya terjadi karena kekurangan pasokan. Sistem manajemen persediaan yang lemah dapat menyebabkan beberapa masalah, antara lain terjadinya kekurangan pada obat-obat yang esensial, terjadinya penumpukan stok obat-obat yang kurang esensial yang dapat menyebabkan kadaluarsa, dan terjadinya penurunan kualitas perawatan pada pasien 7 . Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Upaya jaminan kesehatan di Indonesia dilaksanakan oleh badan hukum yang berwenang untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan, yang disebut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) 3 . Metode analisis ABC merupakan metode pengklasifikasian barang berdasarkan peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan dibagi menjadi 3 kelompok besar yang disebut kelompok A, B, dan C 9 . Kelompok A mewakili 20% obat dalam persediaan dan 70% total penjualan. Kelompok B mewakili 30% obat dalam persediaan dan 20% total penjualan. Kelompok C mewakili 50% obat dalam persediaan dan 10% total penjualan 8 . Analisis ABC dapat membantu manajemen dalam menentukan pengendalian yang tepat serta dapat menentukan barang mana yang harus diprioritaskan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya 9 . Prinsip penting dari pendekatan ABC yaitu adanya dua sisi ekstrem, yaitu di satu sisi sedikit satuan barang yang signifikan dengan pengendalian yang ketat dan di satu sisi lainnya sejumlah besar satuan barang yang relatif signifikan dengan pengendalian lebih longgar 6 . Peramalan, kontrol fisik, keadaan pemasok dan reduksi pada persediaan pengaman yang lebih baik dapat dihasilkan dari kebijakan-kebijakan manajemen persediaan yang tepat. Analisis ABC membimbing pengembangan kebijakan tersebut 5 . 2.   BAHAN DAN METODE  2.1. Bahan Data obat pasien BPJS di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong periode Januari-Maret 2017, meliputi nama obat, harga jual, dan banyaknya pemakaian obat.  2.2. Metode Desain penelitian yang dilakukan adalah non-eksperimental dengan analisis secara deskriptif. Data obat dikelompokkan berdasarkan harga jual dan banyaknya pemakaian. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan  Microsoft Excel   2007 dan diklasifikasikan ke dalam kategori ABC  3.   HASIL Jumlah item  obat pasien BPJS di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong selama periode Januari-Maret 2017 sebanyak 431 item. Berdasarkan data  jumlah pemakaian obat pasien BPJS di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong periode Januari-Maret 2017 diperoleh pemakaian obat sebanyak 483.929 dengan total nilai pemakaian Rp. 1.069.501.113,-. Klasifikasi A obat pasien BPJS di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong berjumlah 86 item obat dari total 431  item dengan nilai pemakaian Rp. 870.110.113,- dan   memiliki nilai pemakaian sebanyak 81,36% dari total seluruh nilai pemakaian. Klasifikasi B obat pasien BPJS di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong berjumlah 129 item obat dari total 431  item dengan nilai pemakaian Rp. 162.492.266,- dan   memiliki nilai pemakaian sebanyak 15,19% dari total seluruh nilai pemakaian. Klasifikasi C obat pasien BPJS di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong berjumlah 216 item obat dari total 431  item dengan nilai pemakaian Rp. 36.898.734,- dan memiliki nilai pemakaian sebanyak 3,45% dari total seluruh nilai pemakaian. 4.   PEMBAHASAN Tabel 1. Klasifikasi obat berdasarkan analisis ABC Kelompok Jumlah % Total Item (%) Nilai Pemakaian (Rp) % Nilai Pemakaian (%) A 86 20 870.110.113 81,36 B 129 30 162.492.266 15,19 C 216 50 36.898.734 3,45 431 100 1.069.501.113 100 Berdasarkan tabel 1 obat yang termasuk dalam kategori pareto A merupakan obat yang memiliki harga yang lebih mahal dan pada beberapa kasus merupakan obat yang sering digunakan, atau kelompok obat yang memiliki jumlah pemakaian yang banyak namun harganya murah dan juga sebaliknya. Berdasarkan data penelitian obat yang termasuk dalam kategori pareto A antara lain obat mata, antidiabetik parenteral, antidot, antiasma, obat topikal, dan obat antialergi, obat antihipertensi, antiangina, antikoagulan, penurun kolestrol, antiasma, antiinfluenza, obat untuk tulang, antiepilepsi, antibiotik, suplemen, obat untuk hormon kelamin, antasida dan antiulkus, antidiabetik, obat untuk relaksan perifer, analgetik, diuretik, serta vitamin dan mineral. Obat kardiovaskuler merupakan salah satu contoh kelompok obat yang jumlah pemakaiannya banyak dan merupakan kelompok obat yang penting dalam persediaan, sehingga untuk kelompok obat ini pemesanannya ke gudang farmasi harus dilakukan dengan cepat, dan stoknya dalam persediaan harus selalu tercukupi. Pengawasan yang dilakukan oleh pihak depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong terhadap kelompok obat kategori A ini yaitu dilakukan sebanyak dua kali dalam satu minggu. Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi pengawasan sudah lebih baik. Kegiatan pengawasan yang dilakukan meliputi pengendalian pengeluaran obat dengan menggunakan kartu stok dan Sistem Informasi Manajemen (SIM), penyimpanan obat dalam persediaan, serta stock opname  yang dilakukan tiap satu bulan sekali untuk mengevaluasi persediaan obat dengan menghitung jumlah obat yang dikeluarkan serta sisa stok dalam persediaan, yang kemudian hasilnya dilaporkan rinci sebagai dasar perencanaan periode berikutnya. Obat pada kategori B dengan jumlah pemakaian yang banyak, yaitu lebih dari seribu pemakaian selama periode Januari-Maret 2017 namun memiliki harga yang sangat murah.  0204060801001200 20 40 60 80 100 120    N   i   l  a   i   P  e  m  a   k  a   i  a  n   (   %   ) Jumlah Persediaan (%) Kelompok obat tersebut antara lain obat antihipertensi, antiangina, antikoagulan, penurun kolestrol, diuretik, antiepilepsi, antitiroid, mukolitik dan ekspektoran, antitusif, antibiotik, antiparkinson, kortikosteroid, antidiabetik, analgetik, psikofarmaka, antivertigo, antasida dan antiulkus, antispasmodik, antiemetik, antialergi, antimikroba, suplemen, serta vitamin dan mineral. Obat-obat yang termasuk kategori B ini juga harus dikontrol, namun tidak perlu seketat seperti obat-obat pada kategori A, umumnya cukup dilakukan tiap satu sampai dengan tiga bulan sekali. Pengawasan yang dilakukan oleh pihak depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong terhadap kelompok obat kategori B ini dilakukan sebanyak satu kali dalam satu minggu Obat pada kategori pareto C merupakan kelompok obat dengan harga yang murah dan sebagian besar merupakan obat yang jumlah pemakaiannya sedikit, karena hanya terdapat beberapa obat saja pada kategori C dan ini merupakan obat yang sering digunakan. Kelompok obat tersebut antara lain obat antipirai, antihipertensi, glikosida jantung, analgetik, antialergi, psikofarmaka, antiepilepsi, antiemetik, mukolitik dan ekspektoran. Secara umum pengawasan yang dilakukan terhadap kelompok obat pada kategori C ini tidak perlu seketat dibandingkan dengan kategori lainnya, hanya dilakukan tiap dua sampai dengan enam bulan sekali. Kegiatan pengawasan yang dilakukan terhadap kelompok obat kategori C di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong dilakukan dua minggu sekali. Gambar 1.  Kurva Analisis ABC Obat Pasien BPJS di Depo Farmasi Rawat Jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong Periode Januari-Maret 2017 Analisis obat dengan model analisis ABC ini dapat digunakan sebagai tahapan dalam merencanakan persediaan obat di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong. Metode analisis ABC juga dapat membantu pihak manajemen untuk memfokuskan perlakuan terhadap item  obat berdasarkan kategorinya. Obat di depo farmasi rawat jalan harus terjamin ketersediaannya karena pelayanan kefarmasian di instalasi rawat  jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong memiliki standar waktu pelayanan yang harus dilakukan dengan cepat, mengingat jumlah pasien yang banyak, khususnya pasien dengan kategori BPJS. Ketidaktersediaan obat di depo farmasi rawat jalan dapat menyebabkan pelayanan terhadap pasien menjadi terhambat.  5.   KESIMPULAN Jumlah item  obat pasien BPJS di depo farmasi rawat jalan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong selama periode Januari-Maret 2017 sebanyak 431 item  dengan  jumlah pemakaian obat 483.929 dan total nilai pemakaian Rp. 1.069.501.113,-. Klasifikasi A berjumlah 86 item  (20%) dengan nilai pemakaian Rp. 870.110.113,- (81,36%). Klasifikasi B berjumlah 129 item  (30%) dengan nilai pemakaian Rp. 162.492.266,- (15,19%), serta klasifikasi C berjumlah 216 item  (50%) dengan nilai pemakaian Rp. 36.898.734,- (3,45%). Obat klasifikasi kelompok A adalah obat mahal dan pada beberapa kasus merupakan obat yang sering digunakan, atau kelompok obat yang memiliki jumlah pemakaian yang banyak namun harganya murah dan juga sebaliknya. Obat Klasifikasi B adalah obat murah dengan jumlah pemakaian yang banyak. Obat Klasifikasi C adalah obat murah dengan jumlah pemakaian sedikit. Analisis Metode VEN sangat direkomendasikan untuk mengetahui tingkat prioritas obat dari segi farmasetik, dan metode EOQ untuk dapat menentukan jumlah minimal obat yang dipesan tiap kali pengadaannya. DAFTAR PUSTAKA 1.   Dessele, S.P., Zgarrick, D.P. Pharmacy Management Essential for All   Practice Setting . New York. McGraw-Hill Company. 2009. 2.   Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor    1121/Menkes/SK/XII/2008 Tentang Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan Dasar  .   Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. 3.   Depkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 71   Tahun 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional . Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. 4.   Depkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72   Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Jakarta . Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2016. 5.   Heizer, J., Render, B.  Manajemen Operasi . Jakarta. Salemba Empat. 2010. 6.   Muhardi.  Manajemen Operasi: Suatu Pendekatan Kuantitatif untuk Penganmbilan Keputusan . Bandung. PT. Refika Aditama. 2012. 7.   Quick, J.D. Rankin., Dias., Vimal. Inventory Management in Managing Drug Supply. Third Edition,  Managing access to Medicines and Health   Technologies . Airlington. Management Sciences for Health. 2012. 8.   Seto, S.  Manajemen Apoteker. Surabaya . Airlangga University Press. 2001. 9.   Wahyuni, T. “Penggunaan Analisis ABC untuk Pengendalian Persediaan Barang Habis Pakai: Studi Kasus di Program Vokasi UI” .  Jurnal Vokasi    Indonesia . Vol. 3 hal: 1-20. 2015.
Search
Similar documents
View more...
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x