Psychology

PENGANTAR FISIKA INTI CRITICAL JOURNAL REVIEW (UNIVERSITAS NEGERI MEDAN)

Description
Technetium-99m labeled radiopharmaceutical is commonly used in nuclear medicines as a diagnostic agent, by mixing the sterile kit with Tc-99m. Manufacturing of kits requires an aseptic facility which need to be well designed and maintained according
Categories
Published
of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  PENGANTAR FISIKA INTI CRITICAL JOURNAL REVIEW OLEH : NAMA : AULIA EKA PUTRI NIM : 4151240004 KELAS : FISIKA ND 2015 JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2018  1. PENDAHULUAN Critical Journal Review ini berisi tentang kesimpulan dari perbandingan yang saya lakukan pada tiga jurnal yang berhubungan dengan materi didalam pembelajaran mata kuliah “Fisika Inti” dan diperoleh dari bererapa sumber jurnal seperti :  1. Jurnal Lokal ber ISSN 2. Jurnal Terakreditasi dikti 3. Jurnal Terindeks Mengkritik Jurnal (critical journal review) ini dibuat sebagai salah satu referensi ilmu yang bermanfaat untuk menambah wawasan penulis maupun pembaca dalam mengetahui kelebihan dan kekurangan suatu jurnal, menjadi bahan pertimbangan, dan juga menyelesaikan salah satu tugas individu mata kuliah Fisika Inti di Universitas Negeri Medan. 2. RINGKASAN    JURNAL 1 (Terakreditasi Dikti) Judul , volume, tahun dan halaman PENENTUAN WAKTU PARO BIOLOGI TC99M MDP PADA PEMERIKSAAN BONE SCANNING (Vol. 5, No. 4, Oktober 2016, Hal. 261-268) Jurnal Youngster Physics Journal Penulis Titi Purwati dan Wahyu Setiabudi Metode  penelitian, bahan dan alat Metode Penelitian: Metode penelitian ini menggunakan teknik pengambilan data  prospektif dimana data yang digunakan berasal dari pemeriksaan langsung dengan 35 pasien di ruang pemeriksaan kedokteran nuklir RSPAD. Metode pemeriksaan paparan aktivitas didalam tubuh dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : Dilakukan pendataan kondisi pasien seperti: umur, jenis kelamin, dan aktivitas radiofarmaka, radiofarmaka Tc99m-MDP disuntikkan kedalam tubuh pasien secara intravena dengan dosis ± 15-20 mCi. Dan setelah pasien disuntik, pasien akan menunggu didalam ruangan khusus dan menunggu selama ± 3-4 jam. kemudian pasien melakukan scanning selama 10 menit dan dari hasil scanning tersebut didapatkan nilai cacahan. Bahan dan alat : Generator Tc99m, Tc-99m MDP, kamera gamma, Dose Callibrator, Bone Scanning. Hasil dan  pembahasan Hasil dan   Pembahasan : Dari hasil pengumpulan data penelitian menentukan waktu paro biologi pada pemeriksaan bone scanning didapatkan sampel sebanyak 35 obyek yang terdiri atas 16 laki-laki  dan 19 perempuan dengan diagnosa penyakit kanker nasofaring, kanker prostat dan kanker payudara. Pada penelitian ini, rerata dosis injeksi yang diberikan kepada pasien adalah 18,434 mCi. Perolehan tersebut tidak melebihi dosis injeksi maksimum untuk bone scan yang dianjurkan oleh IAEA (International Atomic Energy Agency) yaitu 740 MBq atau setara dengan 20 mCi. Kemudian aktivitas awal yaitu sebesar 627493360 Bq. Hal ini menunjukkan bahwa dalam rentang waktu ± 3 jam pasien pada pemeriksaan bone scanning ini memiliki waktu paro biologi hampir mendekati waktu paro fisika. Untuk mengetahui lebih detail waktu paro biologi, maka akan dibedakan sesuai penyakit yang dialami pasien. 1. Waktu Paro Biologi Pada Pasien Kanker Nasofaring Pada pemeriksaan ini terdapat 13 pasien penderita kanker nasofaring, rata-rata waktu paro biologi pada pasein kanker nasofaring adalah 4,352 jam dengan range 0,394 jam (4,089 -4,483)  jam. 2. Waktu Paro Pada Pasien Kanker Prostat Pada pemeriksaan ini terdapat 2 pasien penderita kanker prostat dengan rata-rata waktu paro biologi pada pasein kanker prostat adalah 4,348 jam dengan range 0,277 jam (4,209-4,486) jam. 3. Waktu Paro Pada Pasien Kanker Payudara Pada tabel 4.6, dapat dilihat terdapat 20 pasien penderita kanker  payudara dengan rata-rata waktu paro biologi sebesar 4,497 jam dengan range sebesar 0,554 jam (4,295  –   4,848) jam. Pengaruh dari hasil adalah jumlah air yang diminum tiap pasien  berbeda, ini dikarenakan meminum air dengan jumlah banyak tidak hanya dapat meningkatkan kulaitas pencitraan tetapi juga untuk membantu mempercepat radiofarmaka Tc99m MDP keluar dari dalam tubuh melalui urine, kemudian daya tangkap tubuh tiap orang  berbeda antara satu radiofarmaka dengan radiofarmaka lainnya, dan  juga ada proses terjadinya pengikatan MDP didalam kanker tulang. Kesimpulan Kesimpulan : Hasil-hasil dari penelitian yang telah dilakukan, memberi kesimpulan sebagai berikut : 1. Rerata waktu paro biologi dalam tubuh pasien pada pemeriksaan  bone scaning adalah adalah 4,434 Jam dengan rentang 0,759 Jam (4,089  –   4,848) Jam. * Pada pasien kanker nasofaring, waktu paro biologi adalah 4,352  jam dengan range 0,394 jam (4,089 -4,483) jam. * Pada pasien kanker prostat, waktu paro biologi adalah 4,348 jam dengan range 0,277 jam (4,209-4,486) jam * Pada pasien kanker payudara, waktu paro biologi adalah 4,497  jam dengan range sebesar 0,554 jam (4,295  –   4,848) jam. 2. Korelasi antara aktivitas setelah 3 jam dan waktu paro biologi memiliki nilai korelasi linear negatif sebesar -0,94. * Korelasi antara aktivitas setelah 3 jam dan waktu paro biologi  pada pasien kanker nasofaring memiliki nilai korelasi linear negatif  sebesar -0,98. * Korelasi antara aktivitas setelah 3 jam dan waktu paro biologi  pada pasien kanker prostat memiliki nilai korelasi sebesar -0,02. * Korelasi antara aktivitas setelah 3 jam dan waktu paro biologi  pada pasien kanker payudara memiliki nilai korelasi linear negatif sebesar -0,967. Dari ketiga pemeriksaan kedokteran nuklir didapatkan koefisien korelasi aktivitas setelah 3 jam dan waktu paro biologi pada pasien kanker nasofaring dan kanker payudara memiliki korelasi linear yang kuat, sedangkan pada pemeriksaan kanker prostat dimana hubungan korelasi antara variabel tersebut lemah.    JURNAL 2 (Jurnal lokal ber ISSN) Judul , volume, tahun dan halaman PENENTUAN AKTIVITAS UNSUR RADIOAKTIF THORIUM YANG TERKANDUNG DALAM PROTOTIPE SUMBER RADIASI KAOS LAMPU PETROMAKS (Volume 35 (1), April 2012)  Jurnal Jurnal MIPA Penulis (Nugraheni, Dwijananti, & Sayono, 2012)   (Widyastuti, Lestari, & Sangaji, 2017)   Metode  penelitian, bahan dan alat Metode penelitian:  Analisis data kalibrasi energi gamma, Analisis data kalibrasi efisiensi detektor Menghitung aktivitas 152Eu pada saat  pengukuran, Menghitung efiisiensi masing-masing energi gamma, menentukan persamaan garis linier grafik dengan metode regresi linier, analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Bahan dan alat : Alat penelitian yang digunakan adalah timbangan digital dan seperangkat spektrometer gamma. Seperangkat spektrometer gamma terdiri dari HV (High Voltage), detektor Ge(Li), Cryostat, Preamplifier, Amplifier, MCA (Multi Channel Analyzer), unit pengolahan data. Sedangkan bahan-bahan yang diperlukan adalah prototipe sumber radiasi berbahan kaos lampu petromaks, prototipe berbahan abu kaos lampu petromaks,  prototipe berbahan campuran antara kaos lampu petromaks dengan abu kaos lampu petromaks, sumber standar 152Eu dan nitrogen cair. Hasil dan  pembahasan Hasil dan   Pembahasan : Kalibrasi Energi Gamma Dan Kalibrasi Efisiensi Detektor ditunjukan pada Tabel 1. Hasil Pencacahan Prototipe Sumber Radiasi Kaos Lampu Petromaks dapat dilihat pada Tabel 2 dan tabel 3. Hasil analisis kalibrasi energi gamma berupa persamaan garis kalibrasi energi gamma Y = 0,5026X - 0,5562 dengan koefisien regresi (R2) = 0,9999. Nilai koefisien regresi (R2) mendekati 1, ini  berarti perangkat spektrometer gamma masih dalam kondisi baik.  Sedangkan hasil analisis kalibrasi efisiensi detektor berupa  persamaan garis kalibrasi efisiensi detektor Y =  ─1,0982X+2,7031 dengan koefisien regresi (R2) = 0,9975. Nilai koefisien regresi (R2) mendekati 1, ini berarti efisiensi detektor masih optimum sehingga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Berdasarkan teridentifikasinya unsurunsur radioaktif anak luruh deret thorium, dapat disimpulkan bahwa prototipe kaos lampu petromaks mengandung unsur radioaktif 232Th dengan umur paruh 1,4 x 1010 tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat Klinken (1991) bahwa kaos lampu petromaks mengandung sedikit thorium dan menunjukkan gejala radioaktivitas yang sangat lemah. Unsur radioaktif thorium tersebut berasal dari proses pengecelupan kaos lampu ke dalam larutan thorium nitrat, dengan aktivitas thorium sebesar ± 2,35 mCi. Analisis kuantitatif yang dilakukan adalah menentukan aktivitas  jenis unsur radioaktif 212Pb (thorium B) dengan Eγ = 238,90 keV dan aktivitas jenis unsur radioaktif 40K. Prototipe A mengandung unsur 212Pb (Eγ = 238,90 keV)   dan unsur 40K (Eγ = 1460,91 keV) dengan aktivitas jenis terkecil. Sedangkan prototipe B mengandung unsur 212Pb (Eγ = 238,90 keV) dan   unsur 40K (Eγ = 1460,91 keV) dengan aktivitas jenis terbesar. Hal ini disebabkan karena kaos lampu petromaks yang diperlukan untuk membuat prototipe abu lebih banyak.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x