Health & Lifestyle

PENILAIAN POTENSI PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KABUPATEN CIAMIS

Description
This study aims to determine the influence of Income percapita and previous year's Regional Income (PAD t-1) on Ciamis Regional Income (PAD) for the period of 2008 to 2018 both simultaneously and partially, and to know the level of Regional
Published
of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  PENILAIAN POTENSI PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KABUPATEN CIAMIS Mulia Amirullah 1  dan Eris Munandar  2 1 Program Studi Ekonomi Syariah STEI Ar Risalah Ciamis e-mail: mul.amirulloh@gmail.com, 2 Program Studi Ekonomi Syariah STEI Ar Risalah Ciamis e-mail: eris.munandar@gmail.com  Abstract: This study aims to determine the influence of Income percapita and previous year’s  Regional Income (PAD t-1  ) on Ciamis Regional Income (PAD) for the period of 2008 to 2018 both simultaneously and partially, and to know the level of Regional Income (PAD) against  Income percapita and previous year’s Regional Income (PAD t-1  ) Ciamis District. The data used in this study are annual data are secondary. Data obtained from the Central Statistics  Agency (BPS), the Regional Planning and Development Agency (BAPPEDA) and manuscripts, documents related to research from various publications. The research method used is a multiple regression model. The results of simultaneous hypothesis and partial income percapita and previous year’s Regional Income (PAD t-1  ) has a significant influence on Ciamis Regional Income (PAD). Income percapita factors has a more dominant influence and elastic on PAD than PAD t-1 . Therefore, the Ciamis Regency Government must optimize existing regional income and explore the potential of new regional income sources.    Keywords: Income percapita, Regional Income (PAD) Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pendapatan perkapita dan Pendapatan Asli Daerah tahun sebelumnya (PAD t-1 ) terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis  periode tahun 2008 hingga 2018 baik secara simultan ataupun parsial, serta mengetahui tingkat elastisitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Pendapatan perkapita dan Pendapatan Asli Daerah tahun sebelumnya (PAD t-1 ) Kabupaten Ciamis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tahunan yang bersifat sekunder. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) serta naskah-naksah maupun dokumen-dokumen yang terkait dengan penelitian dari berbagai terbitan. Metode penelitian yang digunakan adalah model regresi  berganda. Hasil pengujian hipotesis secara simultan maupun parsial Pendapatan perkapita dan Pendapatan Asli Daerah tahun sebelumnya (PAD t-1 ) berpengaruh signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis. Faktor Pendapatan perkapita memiliki pengaruh lebih dominan dan elastis terhadap PAD ketimbang PAD t-1 . Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Ciamis harus lebih mengoptimalkan pendapatan daerah yang sudah ada dan menggali potensi sumber pendapatan daerah yang baru. Kata kunci: pendapatan perkapita, Pendapatan Asli Daerah (PAD) 1. Pendahuluan Era reformasi memberikan peluang perubahan paradigma menuju pemerataan pembangunan secara lebih adil dan berimbang. Sejak dikeluarkannya UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah memberikan dampak yang sangat mendasar pada reformasi sektor publik serta pengelolaan keuangan daerah. Reformasi sektor 109 Seminar Nasional Manajemen Ekonomi dan Akuntansi (SENMEA) IV Tahun 2019 Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri   publik mendukung berjalannya lembaga-lembaga sektor publik tersebut secara ekonomis, efisien, efektif, transparan dan akuntabel sehingga cita-cita reformasi yakni terciptanya  good governance .   Keseriusan Pemerintah Daerah Ciamis dalam menciptakan pemerataan pembangunan senantiasa digalakkan dengan mengoptimalkan sumber daya daerah yang dimiliki. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Ciamis Tahun 2014-2019 yang saat ini  berjalan menunjukkan kinerja cukup baik dalam mewujudkan visi “Ciamis Maju Berkualitas Menuju Kemandirian Tahun 2019”. Beberapa indikator yang menuai hasil positif diantaranya Pendapatan Asli Daerah (PAD), berkurangnya tingkat kemiskinan dan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE).  Tabel.1 Pertumbuhan Kinerja Pemerintah Daerah Ciamis 2015-2017 Tahun PAD (juta rupiah) Tingkat Kemiskinan LPE ADHK 2015 180450 8,89 5,01 2016 204759 8,42 5,02 2017 222938 8,20 5,05 Sumber: BPS dan Bappeda Kab.Ciamis (data diaolah, 2018) Pemerintah daerah dituntut untuk meningkatkan PAD seiring dengan semakin banyak kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada daerah disertai pengalihan personil, peralatan,  pembiayaan dan dokumentasi (P3D) dengan jumlah besar. Sejauh ini, dana perimbangan yang merupakan transfer keuangan oleh pusat ke daerah dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah dengan jumlah yang relatif memadai yakni sekurang-kurangnya 26 persen dari Penerimaan Dalam Negeri dalam APBN. Meskipun demikian, pemerintah daerah harus lebih kreatif dalam meningkatkan PAD-nya demi keleluasaan dalam pembelanjaan pembangunan. Sumber-sumber  penerimaan daerah yang potensial harus digali secara maksimal, akan tetapi tentu saja didalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tercatat pada tahun 2017 PAD Kabupaten Ciamis sebesar 222.938 juta rupiah sedangkan Dana Perimbangan dari APBN sebesar 1.203.476 juta rupiah. Ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Ciamis masih sangat bergantung kepada Pemerintah Pusat dalam Pembangunan Daerah. Disisi lain, selain bagaimana cara untuk meningkatkan PAD, Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis juga harus fokus pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi sering di ukur dengan menggunakan Pertumbuhan Produk Dosmetik Bruto (PDB/PDRB), namun demikian,indikator ini dianggap tidak selalu tepat dikarenakan tidak mencerminkanmakna pertumbuhan yang sebenarnya. Indikator lain, yaitu Pendapatan perkapita yang dapat digunakan sebagai alat ukur pertumbuhan ekonomi. Tabel.2 PDRB dan PDRB Perkapita Kabupaten Ciamis 2015-2017 Tahun PDRB ADHK (juta rupiah) PDRB Perkapita ADHK (juta rupiah) 2015 17,78 15,21 2016 18,84 15,89 2017 19.82 16,50 Sumber: Bappeda Kab.Ciamis (data diolah 2018) Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan tujuan penelitian ini diantaranya 1) Menganalisis dan mengetahui pengaruh Pendapatan Perkapita dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun sebelumnya terhadap Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis; 2) Menganalisis dan mengetahui diantara Pendapatan Perkapita dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun sebelumnya, mana yang paling elastis terhadap Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis; 3) Menganalisis dan mengetahui waktu Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis. 110 Seminar Nasional Manajemen Ekonomi dan Akuntansi (SENMEA) IV Tahun 2019 Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri   Landasan Teori Pendapatan perkapitan Dalam perhitungan pendapatan suatu negara/daerah dikenal dengan Produk Dosmetik Bruto (PDB/PDRB). Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga berlaku padasetiap tahun, sedangkan Produk Dosmetik Bruto atas dasar harga konstanmenunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitungmenggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.Produk Dosmetik Bruto atas dasar harga  berlaku dapat digunakan untukmelihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedang harga konstan digunakanuntuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun (Todaro, 2006). Pendapatan per Kapita dipengaruhi oleh PDRB dan jumlah penduduk, dengan kata lain  pendapatan per kapita mencerminkan pendapatan rata-ratayang diperoleh di suatu daerah, sehingga  jika pendapatan tersebut besarmasyarakat pun cenderung memiliki pengeluaran yang lebih besar untukkebutuhannya, sehingga dapat memenuhi kebutuhannya (Kuncoro, 2004). Todaro (2006) menyebutkanbahwa pendapatan per kapita pada dasarnya mengukur kemampuan dari suatu daerah untuk memperbesaroutputnya dalam laju yang lebih cepat dari pada tingkat pertumbuhanpenduduknya. Tingkat dan laju pertumbuhan pendapatan per kapita seringdigunakan untuk mengukur kemakmuran suatu daerah, yaitu seberapa banyakbarang dan jasa yang tersedia bagi rata-rata penduduk untuk melakukankegiatan konsumsi dan investasi. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Menurut pasal 79 undang-undang No.22 tahun 1999, pendapatan daerah yaitu semua  penerimaan kas daerah dalam periode anggaran tertentu yang menjadi hak atas daerah yang menjelaskan tentang jumlah anggaran dan realisasi dari bagian sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, bagian Pendapatan asli daerah, pendapatan dari pemerintah/instansi yang lebih tinggi, dan lain-lain pendapatan yang sah. Pendapatan daerah ini dimaksud untuk membiayai belanja atau pengeluaran  pembangunan daerah, karena pembangunan daerah tidak akan terlaksana dengan baik apabila tidak didukung dengan yang dana yang cukup.Menurut Undang-Undang No. 28 Tahun2009 yaitu sumber keuangan daerah yang digali dari wilayah daerah yang bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain  pendapatan asli daerah yang sah. Sumber keuangan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah lebih penting dibanding dengan sumber yang berasal dari luar Pendapatan Asli Daerah. Hal ini karena Pendapatan Asli Daerah dapat dipergunakan sesuai dengan kehendak dan inisiatif pemerintah daerah demi kelancaran  penyelenggaraan urusan daerahnya. Selain Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan juga merupakan salah satu sumber penerimaan daerah yang memiliki kontribusi besar terhadap sturktur APBD. Dalam UU No.33/2004 disebutkan Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari  pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka  pelaksanaan desentralisasi. Penilaian Potensi PAD Dalam menilai potensi PAD suatu daerah dapat digunakan dua perangkat analisis keuangan daerah yakni elastisitas pajak dan bouyanci tax. Spesifikasi model yang digunakan untuk mengukur elastisitas pajak dapat merujuk kepada persamaan pajak Mansfield dan Wirasasmita, dan model adjustment equation modifikasi Wirasasmita. Model argumentasi Mansfield-Wirasasmita dalam Daryanto dan Hafizrianda (2010) tersebut memiliki kesamaan seperti dituliskan berikut ini. Ln T = Ln α + ε Ln Ykap ....................................................................................(2.1) dimana notasi T menunjukkan besarnya penerimaan keuangan daerah, Ykap adalah PDRB per kapita, α adalah konstanta, dan terakhir ε adalah koefisien elastisitas. Indikator elastisitas pajak yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan fiscal daerah adalah sebagai berikut : 1.   Jika E T > 1, menandakan respons pajak terhadap perubahan PDRB bersifat elastis, hal ini mengandung makna bahwa ketergantungan daerah terhadap bantuan pusat dalam jangka  panjang relatif semakin berkurang. 111 Seminar Nasional Manajemen Ekonomi dan Akuntansi (SENMEA) IV Tahun 2019 Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri  2.   Jika E T < 1, menandakan respons pajak terhadap perubahan PDRB bersifat inelastis, hal ini mengandung makna ketergantungan daerah terhadap bantuan pusat dalam jangka panjang relatif semakin bertambah. 3.   Jika E T  = 1, menandakan respons pajak terhadap perubahan PDRB bersifat unitary, hal ini mengandung makna ketergantungan daerah terhadap bantuan pusat dalam jangka panjang relative tidak berubah. Model modifikasi Wirasamita dapat juga diadaptasikan untuk menghasilkan koefisien buoyancy tingkat kesulitan realisasi penerimaan sumber keuangan daerah. Model buoyancy yang dimaksud adalah sebagai berikut. R  *t  = b 1  + b 2 Y 1  + U t ............................................................................................(2.2) dimana R* t  adalah penerimaan keuangan daerah bisa berupa pajak, retribusi dan PAD, sedangkan Y t  adalah PDRB pada tahun t. Dalam persamaan (2.2), R  *t dianggap fungsi linear dari Yt (PDRB) dan tidak dapat diobservasi. Untuk mengatasi hal tersebut dipergunakan adjustment equation dengan hasil persamaan: R  t = k b 1  Y tkb2 R  t-1(1-k)  (kU t  + V t ) ......................................................................(2.3) atau dalam persamaan linier menjadi: Ln R  t  = Ln (kb 1 ) + (kb 2 ) Ln Y t  +(1-k) R  t-1  + Ln(kU t  + U t ) Ln R  t  = Ln a 0  + a 1  Ln Y t + a 2  Ln R  t-1 ............................................................(2.4) Berdasarkan persamaan (2.4) ini dapat diketahui: a 2  = 1 – k k = 1 – a 2  0 ≤ k ≤ 1 dimana k itu merupakan koefisien penyesuaian, yang dalam hal ini digunakan untuk mengukur tingkat kesulitan yang diestimasi. Dengan demikian dari persamaan (2.4) diperoleh nilai koefisien elastisitas (b 2 ) dan nilai adjustment equation (koefisien tingkat kesulitan) k .Kemudian untuk mendapatkan tingkat keterlambatan pemungutan (dalam satuan tahun, bulan dan hari), kembali ke persamaan (1) dengan cara (1-k)/k.  Nilai koefisien elastisitas (b 2 ), yang diartikan disini sebagai perubahan penerimaan sumber keuangan daerah yang berkaitan dengan perubahan pendapatan regional (PDRB). Tingkat kesulitan (k) dapat diestimasi; apabila k mendekati atau sama dengan satu, berarti tingkat kesulitan relative rendah, karena telah dapat merealisasikan rencana (target) penerimaan. Sebaliknya jika mendekati nol, berarti tingkat kesulitan relative tinggi, karena tidak bisa merealisasikan target penerimaan yang direncanakan. 2. Metode Penelitian ini merupakan Penelitian dengan menggunakan data sekunder, meliputi variabel Pendapatan Perkapita, Pendapatan Asli Daerah (PAD) t-1 , dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Ciamis pada periode 2008-2018. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ciamis, Kantor Pemerintah Daerah, Dinas Pendapatan Daerah, instansi-instansi terkait, naskah-naskah dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti dan mendukung terhadap penulisan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik regresi linier berganda. Dengan model fungsi sebagai berikut: 112 Seminar Nasional Manajemen Ekonomi dan Akuntansi (SENMEA) IV Tahun 2019 Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri  PAD = β 0  + β 1 YKAP + β 2  Log PAD t-1 = e Dimana: PAD = Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis YKAP = Pendapatan perkapita Kabupaten Ciamis PAD t-1 = Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis tahun sebelumnya Untuk menentukan besarnya koefisien-koefisien data digunakan alat analisis dengan mengubah fungsi tersebut dalam logaritma linear, menjadi: Log PAD = β 0  + β 1  Log YKAP + β 2  Log PADt-1 = e 3. Hasil dan Pembahasan Perhitungan dalam penelitian ini diukur berdasarkan data tahunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Pendapatan perkapita Kabupaten Ciamis periode 2008 – 2018, sehingga variabel dalam  penelitian ini terdapat 11 data (N). Uji Asumsi Klasik Pemerikasaan pertama adalah Uji Multikolinieritas, uji ini untuk melihat ada tidaknya hubungan linier antar variabel independen.Pada uji multikolinieritas melihat pada nilai Centered VIF (yaitu YKAP = 4.632939, dan PAD t-1  = 4.632939) yang masing-masing kurang dari 10 (atau VIF < 10) diasumsuikan bahwa model tidak tejadi multikolkinearitas diantaravariabel ibdependent (YKAP dengan PAD t-1 ). Tabel 1 Uji Multikolinieritas Variance Inflation Factors Date: 02/01/19 Time: 16:37 Sample: 2008 2018 Included observations: 11 Coefficient Uncentered Centered Variable Variance VIF VIF LOG(YKAP) 0.141969 35271.80 4.632939 LOG(PADT) 0.014257 8395.228 4.632939 C 14.31691 13192.97 NA Sumber: Hasil penelitian diolah, 2019 Pemeriksaan kedua yakni Uji Autokorelasi, dimana melihat melihat apakah terdapat masalah autokorelasi atau korelasi antara variabel pengamatan. Nilai Obs*R¬squared  Breusch-Godfrey  (BG) Test sebesar 1.53451 yang ternyata lebih besar dibandingkan nilai χ  2  tabel (0.9261) sehingga dapat dikatakan tidak ada masalah autokorelasi. Lalu dapat dilihat dari nilai Prob.Chi-Squared(2) = 0,9261 yang nilainya lebih besar dari 5% (atau >0.05). Tabel 2 Uji Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.042442 Prob. F(2,6) 0.9587 Obs*R-squared 0.153451 Prob. Chi-Square(2) 0.9261 113 Seminar Nasional Manajemen Ekonomi dan Akuntansi (SENMEA) IV Tahun 2019 Fakultas Ekonomi UN PGRI Kediri
Search
Similar documents
View more...
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x