Public Notices

Sejarah perkembangan agama-agama di Indonesia

Description
Sejarah perkembangan agama-agama di Indonesia
Categories
Published
of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  PRASASTI PENINGGALAN KERAJAAN YANG BERCORAK HINDU-BUDDHA YANG MENGGAMBARKAN KEHARMONISAN AGAMA HINDU-BUDDHA LINDA WAHYUNING TIYAS (130731607300) FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MALANG ABSTRAK Hindu-Buddha merupakan agama yang memiliki toleransi yang tinggi. India dan Cina sebagai salah satu Negara yang ikut berkonstribusi dalam penyebaran Hindu-Buddha ini memiliki perananan penting. Selain Cina dan India, kerajaan-kerajaan di Nusantara terutama kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha memiliki tanggung jawab atas penyebaran kedua agama tersebut. Meskipun kedua agama tersebut berbeda, namun keduanya mampu berkembang dan hidup damai berddampingan di dalam masyarakat. keharmonisan kedua agama ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan prasasti. Seperti prasasti Kalasan, prasasti Kelurak, prassasti Ligor. Kata kunci: Prasasti Kalasan, Wangsa Sailendra dan wangsa Sanjaya Masa berkembangnya kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan corak kehidupan yang beragam. Kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Hindu-Buddha berkembang memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik. Terlihat dari perbedaan yang ada di dalam masyarakat tersebut tidak membuat suatu permasalaahan dan perpecahan. Perpecaahan tersebut sering timbul di dalam kerajaan yang disebaabkan oleh tahta dan kekuasaan. Meskipun di dalam kerajaan sering terjadi perpecahan, kehidupan agama mereka memiliki rasa damai idup berdampingan. Bukti bahwa pada maas Hindu-Budha telah ada toleransi antar umat beragama adalah dari isi prasasti. Dari sebuah prasasti kita dapat melihat bagaimana sebenarnya kehidupan suatu kerajaan atau daerah. Dari prasasti dapat ditemukan bagaimana suatu pemerintahan seorang raja, kehidupan sosial dan budayaa, serta kehidupan ekonomi suatu kerajaan. Prasasti membantu sejarawan untuk mengkontruksi kehidupan pada masa kerajaan-kerajaan pada zaman dahulu. Prasasti yang cukup terkenal adalah Prasasti Kalasan. Prasasti ini dibuat pada masa kerajaan Mataram Kuno di Jawa. Mataram sebagai salah satu kerajaan yang besar  di Jawa memiliki toleransi yang tinggi dalam kehidupan agamanya. Di dalam prasasti tersebut dijelaskan bagaimana wujud dari toleransi kehidupan agama dengan pembangunan sebuah wihara dan dan bangunan sui untuk Dewi Tara. Prasasti Kalasan dibuat pada tahun 778 M. Prasasti Kalasan ditulis dengan bahasa Sanskerta dalam bentuk syair dengan bentuk tulisan Pra-  Naagari. “ Prasasti Kalasaan tertulis dalam bahasa Sanskerta dalam bentuk sjair, tetapi kali ini dalam bentuk tulisan Pra-Nagari. Huruf ini berasal dari India Utara sedangkan Pallawa dari India Selatan” Suleiman ( tanpa tahun: 64). Prasasti Kalasan Isi dari Prasasti Kalasan sendiri adalah sebagai berikut  Namo bhagavatyai āryātārāyai 1.   yā tārayatyamitaduḥkhabhavādbhimagnaṃ  loka ṃ  vilokya vidhivattrividhair upayai ḥ   Sā [[6]] vaḥ   surendranaralokavibhūtisāraṃ   tārā diśatvabhimataṃ    jagadekatārā 2.   āvarjya [[7]] mahārājaṃ   dyāḥ  pañcapa ṇ a ṃ  pa ṇ a ṃ kara ṇāṃ   Śailendra rājagurubhis tārābhavanaṃ   hi kāritaṃ   śrīmat 3.   gurvājñayā kŗtajñais [[8]] tārādevī kŗtāpi  tad bhavana ṃ   vinayamahāyānavidāṃ  bhavana ṃ   cāpyāryabhikṣūṇāṃ  4.    pangkuratavānatīripanāmabhir ādeśaśastribhīrājñaḥ   Tārābhavanaṃ   kāritamidaṃ   mapi cāpy āryabhiksūṇ am 5.   rājye pravarddhamāne [[9]] rājñāḥ   śailendravamśatilakasya śailendrarajagurubhis tārābhavanaṃ  k  ŗtaṃ   kŗtibhiḥ  6.   śakanŗpakālātītair varṣaśataiḥ   saptabhir mahārājaḥ   akarod gurupūjārthaṃ  [[10]] tārābhavanaṃ  pa ṇ amkara ṇ a ḥ .   7.   grāmaḥ   kālasanāmā dattaḥ  sa ṃghāyā sākṣ i ṇ a ḥ   kŗtvā pankuratavānatiripa desādhyakṣān mahāpuruṣān 8.   bhuradak  ṣineyam [[11]] atulā dattā saṃ gh āyā rājasiṃhena śailendrarajabhūpair anuparipālyārsantatyā 9.   sang pangkurādibhih sang tāvānakādibhiḥ   sang tīripādibhiḥ    pattibhiśca sādubhiḥ  , api ca, 10.   sarvān evāgāminaḥ    pārthivendrān bhūyo bhūyo yācate rājasiṃ ha ḥ, sāmānyoyaṃ   dharmmasetur narānāṃ   kāle kāle pālanīyo bhavadbhiḥ  11.   anena pu ṇyena vīhārajena pratītya jāta [[12]] arthavibhāgavijñāḥ  bhavantu sarve tribhavopapannā janājinānām anuśsanajñāḥ  12.   kariyānapaṇ a ṃ kara ṇ a ḥ   śrimān abhiyācate bhāvinŗpān, bhūyo bhūyo vidhivad vīhāraparipālan ārtham iti. Terjemahan: Hormat untuk Bhagavatī Ārya Tārā  1.   Setelah melihat mahluk2 di dunia yang tenggelam dalam kesengsaraan , ia menyeberangkan (dengan) Tiga Pengetahuan yang benar, Ia Tarā yang menjadi satu-satunya bintang pedoman arah di dunia dan (tempat) dewa-dewa. 2.   Sebuah  bangunan suci untuk Tārā yang indah benar2 telah disuruh buat oleh guru - guru raja Śailendra, setelah memperoleh persetujuan Mahārāja dyāh Pancapana Panamkarana 3.   Dengan perintah guru, sebuah bangunan suci untuk Tārā telah didirikan, dan demikian pula sebuah bangunan untuk para bhiksu yang mulia ahli dalam ajaran Mahāyana, telah didirikan oleh para ahli 4.   Bangunan suci Tārā dan demikian juga itu ( bangunan) milik para bhiksu yang mulia telah disuruh dirikan oleh para pejabat raja, yang disebut Pangkura, Tavana, Tiripa. 5.   Sebuah bangunan suci Tārā telah didirikan oleh guru - guru raja Śailendra di kerajaan Permata Wangsa Śailendra yang sedang tumbuh 6.   Mahārāja Panangkarana mendirikan bangunan suci Tārā untuk menghormati guru pada tahun yang telah berjalan 700 tahun. 7.   Desa bernama Kalasa telah diberikan untuk Samgha setelah memanggil para saksi orang-orang terkemuka penguasa desa yaitu Pangkura, Tavana, Tiripa.  8.   Sedekah “bhura” yang tak ada bandingannya diberikan untuk Sangha oleh “raja yang bagaikan singa” (rājasi mha-) oleh raja- raja dari wangsa Śailendra dan para penguasa selanjutnya berganti-ganti. 9.   Oleh para Pangkura dan pengikutnya, sang Tavana dan pengikutnyam sang Tiripa dan pengikutnya, oleh para prajurit, dan para pemuka agama, kemudian selanjutnya, 10.   “Raja    bagaikan singa” (rājasimhah) minta berulang -ulang kepada raja-raja yang akan datang supaya Pengikat Dharma agar dilindungi oleh mereka yang ada selama-lamanya. 11.   Baiklah, dengan menghibahkan vihara, segala pengetahuan suci, Hukum Sebab Akibat, dan kelahiran di tiga dunia (sesuai) ajaran Buddha, dapat difahami. 12.   Kariyana Panangkarana minta berulang -ulang kepada yang mulia raja-raja yang akan datang senantiasa melindungi vihara yang penting ini sesuai peraturan. Dari arti prasasti Kalasan tersebut dapat dijelaskan apabila memang benar terdapat dua agama yang berkembang di masa kerajaan Mataram Kuno berkuasa. Kehidupan masyarakatnya pun hidup secara berdampingan dengan agama yang berbeda antara agama Hindu dengan agama Buddha. Di dalam baris kedua dengan terjemahan “ Sebuah bangunan s uci untuk Tārā yang indah benar   telah disuruh buat oleh guru-guru raja Śailendra, setelah memperoleh persetujuan Mahārāja dyāh Pancapana Panamkarana ”   dan juga pada baris ke enam“Mahārāja Panangkarana mendirikan  bangunan suci Tārā untuk menghormati guru pada tahu n yang telah berjalan 700 tahun ”. Ke dua baris terjemahan prasasti Kalasan ini telah menunjukkan bahwa pembangunan bangunan suci ntuk Dewi Tarra ini untuk menghormati guru dari Maharaja Panangkaran, yang bukan berarti Maharaja Panangkaran beragama Buddha. Menurut Suleiman (tanpa tahun:65-66) sebagai berikut. Djadi waktu itu ada dua keluarga radja di Djawa Tengah: dinasti Sailendra dan Dinasti Sanjayaa. Seperti telah dikatakn di atas: keluarga Sanjaya itu didesak untuk sementara waktu, tetapi kekuasaannja masih djuga, misalnya untuk pendirian sebuah kuil, diperlukan izin dari Maharaja Panamkarana, jang pula menghadiahkan tanah untuk kuil tersebut. Terlihat jelas bahwa terdapat dua raja dari dua dinasti yang berbeda dan dengan agama yang berbeda pula yang berkembang di masa kerajaan Mataram Kuno. Kedua agama tersebut juga hidup berdampingan dengan rukun. Tanpa adanya kekerasan.  Kehidupan agama rakyatnya pun juga tidak pernah dibatasi dan diatur oleh raja. Rakyat bebas memilih agama apa yang ingin mereka anut tanpa mengikuti agama yang dianut oleh raja. Selain itu, Raja diperbolehkan berpindah dari agama Hindu ke agama Buddha ataupun sebaliknya. Seperti di dalam Prasasti Sangkara. Di dalam prasasti Sangkhara ini tertulis bahwa raja Sangkhara telah meninggalkan kebaktian terhadap Siwa dan beralih menjadi pengikut agama Buddha. Raja Sangkara yang kemudian membangun sebuah prasada yang indah, karena mengingat janjinya sendiri sebagai penganut Buddha. Di akhir tulisan di dalam prasasti tersebut terdapat pujian terhadap bhiksusanggha (Soejono dan Leirissa, 2010:136). Daftar Rujukan Soejono, R.P., dan Leirissa, R. Z., 2010. Sejarah Nasional Indonesia II.  Jakarta: Balai Pustaka Suleiman, S. Tanpa tahun. Sedjarah Indonesia Djilid I A.  Bandung: K.P.P.K. Balai Pendidikan Guru
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x