Art

SIKAP BAHASA PAMBIWARA PERNIKAHAN JAWA DALAM PEMERTAHANAN BAHASA JAWA KAWI DI KECAMATAN BENDOSARI, KABUPATEN SUKOHARJO (Pambiwara Language Attitude of Javanese Wedding in Preserving Kawi Language at Bendosari, Sukoharjo)

Description
ABSTRAK Pambiwara merupakan seseorang berketerampilan khusus dalam sastra dan bahasa Jawa yang mampu membawakan acara-acara di lingkungan masyarakat Jawa. Peran sentral pambiwara adalah membawa, mengatur, dan mengendalikan acara. Selain itu, juga
Categories
Published
of 12
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  233 SIKAP BAHASA  PAMBIWARA PERNIKAHAN JAWADALAM PEMERTAHANAN BAHASA JAWA KAWI DI KECAMATAN BENDOSARI, KABUPATEN SUKOHARJO (  Pambiwara Language Attitude of Javanese Wedding in Preserving Kawi Language at Bendosari, Sukoharjo ) Oleh/ by : Harsono dan Adi Deswijaya Program Studi Bahasa dan Sastra DaerahFakultas Keguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Veteran Bangun Nusantara SukoharjoJalan Letjend. Soejono Humardani Nomor 1, Kampus Jombor Pos-el: sonsjava@gmail.com Diterima: 24 Oktober 2017, Disetujui: 26 Oktober 2017 ABSTRAK  Pambiwara merupakan seseorang berketerampilan khusus dalam sastra dan bahasa Jawa yang mampu membawakan acara-acara di lingkungan masyarakat Jawa. Peran sentral  pambiwara adalah membawa, mengatur, dan mengendalikan acara. Selain itu, juga bertugas mencitrakan mempelai ( nyandra ) dengan menggunakan kata dalam bahasa Jawa Kawi .  Pada masa sekarang konsep  pernikahan Jawa telah berubah dari konsep pernikahan yang klasik ke konsep semimodern. Hal ini mengakibatkan  pambiwara  harus mengubah sikap bahasanya untuk menyesuaikan keadaan. Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif melalui pendekatan ilmu sosiolinguistik. Penyediaan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan dan distribusional (metode agih). Adapun metode yang digunakan dalam penyajian hasil analisis adalah metode informal. Berdasarkan hasil kajian, ditemukan bahwa persentase  penggunaan bahasa Jawa Kawi di kalangan  pambiwara  berbeda-beda. Persentase bahasa Jawa Kawi yang digunakan  pambiwara  adalah 3,3% dalam satu rangkaian acara pernikahan. Semakin  besar penggunaan bahasa Jawa Kawi dalam distribusi tuturan  pambiwara  pernikahan Jawa,   menunjukkan eksistensi dan wujud pemertahanan bahasa Jawa Kawi. Kata Kunci:    pambiwara, sikap bahasa, kebudayaan Jawa.  ABSTRACT  Pambiwara  is a person who has an ability in art and Javanese culture. Pambiwara  has importance role in the Javanese wedding because he controls and arranges the wedding event in order to keep it running smoothly. Therefore, he has to master Javanese or Kawi vocabularies to create a wise word for the bride. Nowadays, the concept of Javanese wedding has changed from the classic to the modern event. It motivated the  pambiwara  to change their language attitude. This is a sociolinguistics descriptive qualitative research to analyze pambiwara language attitude. This research uses simak methode to collect the data. Meanwhile, it uses padan and agih methodes to analyze the data. The result shows that the percentage of Kawi that used by  pambiwara  is different. There are 3.3% of Kawi vocabularies that is used by  pambiwara  in each wedding event. The result also shows that the greater of the use of Kawi, it denotes the existance of Kawi language maintenance.  Keywords:    pambiwara  , language attitude, Javanese culture.  Jalabahasa, Vol. 13, No. 2, November 2017, hlm. 233  —  244 234 PENDAHULUAN Pernikahan adat Jawa perlu dipahami sebagai prosesi yang agung dan banyak hal sakral ditemui di dalamnya (Endraswara, 2010:194). Kesakralan tersebut dipadu dengan tata urutan prosesi yang banyak. Tentu saja, satu demi satu rangkaian upacara tersebut tidak dapat berjalan dengan sendirinya karena dibutuhkan  pengatur acara yang menginformasikan  bagian demi bagiannya. Pengatur acara tersebut membawakan dan menginformasikan acara demi acara urutan pernikahan Jawa agar seluruh rangkaian upacara yang dikehendaki dapat berjalan sebagaimana mestinya.Komunikasi yang dibangun adalah untuk memberikan keyakinan kepada para tamu tentang acara yang akan berlangsung. Selain itu, juga  bertujuan membacakan susunan acara, memerikan aktivitas, dan memberikan  penanda bahwa acara akan berakhir (Purwanto, 2010:241—242). Tugas mengatur, mengendalikan, mencitrakan mempelai ( nyandra    panganten ), dan menginformasikan bagian-bagian acara tersebut merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Pekerjaan itulah yang melahirkan satu profesi dalam masyarakat Jawa yang disebut  pambiwara  atau  panatacara,  pranata adicara, pranata titilaksana .  Pambiwara  satu dengan yang lainnya tidak sama pembawaannya. Pembawaan  bahasa seorang  pambiwara tidak lepas dari sikap bahasa yang digunakannya. Ragam bahasa Jawa yang digunakan seorang  pambiwara adalah ragam bahasa krama inggil yang merupakan ragam undha usuk atau tingkatan bahasa Jawa yang paling halus. Pola bahasa yang digunakan  pambiwara  adalah pola bahasa yang ditata dengan indah atau istilahnya basa   rinengga . Selain itu, juga disisipi kosakata bahasa Jawa Kawi (bahasa Jawa  purba yang masuk dalam ragam bahasa Jawa kuno).Kata kawi  berasal dari kata kavya  (Sansekerta) yang artinya ‘puisi/syair’. Dalam sastra klasik kata itu berarti ‘seorang  penyair, pencipta, atau pengarang’. Bahasa Jawa Kawi merupakan bahasa ragam tulis bagian dari bahasa Jawa kuno dan menempati fungsinya sebagai bahasa yang lazim digunakan pengarang atau  pujangga (Zoutmulder, 1985:119—120).Pada masa sekarang pernikahan Jawa mengalami banyak perbedaan dalam tata urutan dan caranya. Apabila diamati, urut-urutan tata cara adat pernikahan Jawa di setiap desa tidak semuanya sama. Hal tersebut dipengaruhi banyak faktor, seperti kemampuan ekonomi dan kebiasaan masyarakat. Selain itu, juga dipengaruhi oleh selera tokoh yang dituakan daerah setempat hingga pengaruh perubahan zaman.Acara pernikahan Jawa pada zaman sekarang tidak detil dan komplit. Hal ini disebabkan oleh perubahan zaman yang secara tidak langsung  berpengaruh pada pemakaian bahasa Jawa Kawi oleh  pambiwara.  Dalam hal ini penggunaan bahasa Jawa Kawi oleh  pambiwara menjadi berkurang, bahkan dimungkinkan hilang. Bahasa Jawa Kawi muncul pada teks tembang macapat  , tuturan tokoh dalam wayang kulit  , serta tuturan  pambiwara.  Oleh karena itu,  pemertahanan bahasa Jawa Kawi tentu masih diperlukan.Pemertahanan bahasa merupakan upaya pengguna bahasa dalam suatu lingkungan komunitas bahasa tertentu untuk mempertahankan suatu bahasa melalui cara menaikkan level atau meninggikan nilai suatu bahasa serta memperluas penggunaannya untuk  Sikap Bahasa Pambiwara Pernikahan Jawa  ... ( Harsono dan Adi Deswijaya ) 235sarana komunikasi yang baik (Eastman, 1983:142). Berdasarkan pendapat Eastman tersebut,  pambiwara  dapat diposisikan sebagai agen pemertahanan bahasa Jawa. Hal itu disebabkan  pambiwara  telah  berusaha untuk menaikkan level atau meninggikan fungsi bahasa Jawa Kawi sebagai bahasa yang estetis dan agung.Penelitian ini diarahkan untuk mengamati sikap pemertahanan bahasa  pambiwara , khususnya penggunaan  bahasa Jawa Kawi. Adanya perubahan dan modi Þ kasi tata urutan pernikahan Jawa ke dalam tata urutan yang lebih ringkas dan sederhana, mendorong  pambiwara menggunakan bahasa Jawa yang  prasaja (bahasa Jawa yang sederhana dan mudah dimengerti). Hal inilah yang mengakibatkan mulai berkurangnya  penggunaan bahasa Jawa Kawi yang tergolong purba di acara pernikahan Jawa.Masalah dalam penelitian ini dibatasi  pada penggunaan bahasa  pambiwara dalam    pernikahan Jawa di Kecamatan Bendosari. Desa-desa di Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo memiliki persebaran letak geogra Þ s yang beragam. Ada desa yang terletak dekat dengan daerah perkotaan dan ada pula desa yang terletak jauh dari  perkotaan. Berkaitan dengan hal itu, dimungkinkan model pernikahan di desa yang dekat dengan perkotaan terpengaruh konsep semimodern, yaitu konsep pesta  pernikahan yang ringkas dan dilaksanakan di gedung-gedung. Sementara itu, model  pernikahan di desa, yang berada jauh dari kota dan corak masyarakatnya masih pedesaan, dimungkinkan belum  banyak terpengaruh konsep semimodern. Hal ini menggambarkan bahwa  pemertahanan bahasa Jawa Kawi oleh  pambiwara  berbeda-beda menyesuaikan dengan kondisi konsep pernikahan dan lingkungan yang memengaruhinya. Berdasarkan hal tersebut, perlu diketahui  bagaimana sikap bahasa  pambiwara dalam pernikahan Jawa berkaitan dengan upaya pemertahanan bahasa Jawa Kawi.Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran pemertahanan bahasa Jawa Kawi di tengah kemodernan dan kemajemukan masyarakat Jawa yang mendorong  pambiwara  untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi tersebut. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap  perkembangan penelitian bahasa Jawa  pada tataran sosiolinguistik, khususnya  bidang kajian sikap bahasa. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjelaskan sikap bahasa  pambiwara dalam upacara  pernikahan Jawa.Demi kepentingan analisis, dibutuhkan kerangka dasar yang digunakan sebagai landasan teori dengan melakukan  peninjauan pustaka. Peninjauan pustaka dalam penelitian ini digunakan untuk membantu peneliti menjelaskan dasar teori-teori yang relevan. Penelitian ini  pada intinya menganalisis sikap bahasa. Untuk itu, peneliti menggunakan beberapa teori dasar. Sikap Bahasa (  Language Attitude ) Fasold (2001:147) mende Þ nisikan sikap sebagai “a state of readiness; an intervening variable between a stimulus affecting a person and that person’s response”. Berdasarkan penjelasan Fasold tersebut, dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan suatu kesiapan atas keadaan dan variabel yang berpengaruh   terhadap rangsangan untuk memengaruhi seseorang beserta respons tanggapannya.Kesiapan menuntut keberhasilan dalam menerima rangsangan. Kesiapan   Sikap Bahasa  Pambiwara   Pernikahan Jawa  Jalabahasa, Vol. 13, No. 2, November 2017, hlm. 233  —  244 236yang dimaksud merupakan   kecenderungan  potensial untuk dapat bereaksi dengan cara tertentu apabila   individu dihadapkan  pada suatu rangsangan yang menghendaki adanya sebuah respons   (Chave dalam Azwar, 2011:5).Sikap bahasa dalam kajian sosiolinguistik diartikan sebagai  perilaku terhadap bahasa. Antara sikap  bahasa, pemertahanan, serta degradasi   (penurunan dan pergeseran) bahasa saling berhubungan. Hubungan tersebut menggambarkan bahwa perilaku bahasa  berpengaruh, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap pemertahanan bahasa. Hubungan tersebut dapat dijelaskan pada tahap pengenalan perilaku, baik yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung, untuk pemertahanan  bahasa (Siregar, 1998:86). Telaah kajian sosiolinguistik menempatkan bahasa sebagai bagian dari sebuah sistem sosial dan komunikasi verbal serta merupakan  bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu.Anderson (dalam Chaer, 1995:200) menjelaskan bahwa sikap bahasa merupakan serangkaian bentuk keyakinan atau kemampuan kognisi yang relatif  berjangka panjang tentang bahasa serta objek bahasa. Kemampuan dan keyakinan tersebut mendorong seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya. Sikap-sikap tersebut dapat  bersifat positif atau sebaliknya, bersifat negatif. Sikap bahasa positif dijelaskan  pula oleh Garvin dan Marthiot (dalam Suwito, 1996:31) dengan menguraikan ciri-ciri pokok sikap bahasa yang positif, yaitu kesetiaan bahasa, kebanggaan  bahasa, dan kesadaran akan adanya norma  bahasa.Kesetiaan bahasa ( language loyalty ) merupakan dorongan masyarakat bahasa untuk senantiasa mempertahankan bahasa yang dimilikinya. Dorongan tersebut secara tidak langsung mampu membangun Þ lter untuk mencegah pengaruh bahasa lain yang masuk.Kebanggaan bahasa ( language  pride ) mendorong pengguna bahasa untuk mengembangkan bahasanya dan menggunakanya sebagai bentuk lambang identitas, ciri, dan kesatuan masyarakat.Kesadaran adanya norma bahasa ( awareness of the norm ) mendorong  pengguna bahasa menggunakan  bahasanya dengan cermat dan santun. Hal ini menjadi faktor yang sangat  berpengaruh besar terhadap penggunaan  bahasa ( language use ).Selain sikap positif, juga muncul  perilaku sikap negatif. Garvin dan Marthiot (dalam Suwito, 1996:33) menjelaskan pula mengenai ciri-ciri sikap bahasa negatif oleh pemakai bahasa sebagai berikut.1. Seseorang atau sekelompok anggota masyarakat pengguna  bahasa tidak memiliki keinginan, gairah, atau dorongan untuk selalu mempertahankan kemandirian  bahasanya. Hal ini menunjukkan  bahwa kesetiaan bahasa yang dimiliki mulai lemah yang berakibat pada hilangnya bahasa.2. Seseorang atau sekelompok anggota masyarakat pengguna bahasa kehilangan rasa bangga terhadap  bahasa yang digunakan dan beralih memiliki perasaan rasa bangga kepada  bahasa lain yang bukan miliknya.3. Seseorang atau sekolompok anggota masyarakat pengguna bahasa yang tidak menyadari adanya norma bahasa. Kemunculan sikap yang demikian akan memengaruhi hampir seluruh perilaku  Sikap Bahasa Pambiwara Pernikahan Jawa  ... ( Harsono dan Adi Deswijaya ) 237 berbahasanya. Pengguna bahasa yang seperti ini tidak lagi memiliki dorongan atau merasa terpanggil untuk selalu memelihara kecermatan dan kesantunan bahasanya.  Pambiwara Sutarjo (2008:15) menjelaskan pengertian  pambiwara dengan de Þ nisi sebagai  berikut : “Pambiwara inggih menika tiyang utawi priyantun ingkang tinanggenah ngendhaleni utawi mranata lumampahing adicara  pawiwahan/ pahargyan/pepanggihan,  saha amarsudi murih lumampahing  pawiwahan utawi pahargyan saged rancag saha runtut. Pramila sedaya  paraga ingkang magepokan kaliyan lampahing adicara boten saged tumindhak piyambak-piyambak” De Þ nisi tersebut mengandung maksud bahwa  pambiwara adalah orang yang mengendalikan, menata, dan memandu jalannya acara di lingkungan masyarakat Jawa serta berkewajiban menjalankan acara dengan baik dan lancar. Semua yang terlibat dalam acara tersebut tidak boleh serta merta berjalan dengan sendirinya karena harus menaati  pambiwara  sebagai pengatur acara.Dalam bahasa Indonesia  pambiwara disebut pewara, sementara itu dalam  bahasa Inggris disebut master of ceremony (  MC  ). Dalam lingkungan masyarakat Jawa peran  pambiwara menjadi hal yang penting dalam acara-acara yang digelar oleh masyarakat. Acara-acara tersebut, diantaranya, pernikahan, kematian, kelahiran, sunatan, serta acara-acara insidental dalam lingkungan masyarakat Jawa yang lain. Menjadi seorang  pambiwara tidaklah mudah. Sutarjo (2008:17) mengungkapkan bahwa modal dasar seorang  pambiwara  meliputi latihan, tata krama, suara, tingkah laku, konsentrasi, busana, serta unggah-ungguh basa (tingkat tutur bahasa Jawa), dan  pengetahuan  sastra tembang macapat.  Apabila dilihat dari sisi kebahasaan, Sutarjo lebih lanjut menjelaskan bahwa syarat menjadi  pambiwara , yaitu:1. menggunakan bahasa rinengga  (bahasa Jawa yang indah, yaitu bahasa Kawi) basa trapsila (bahasa Jawa yang santun).2. tidak menggunakan bahasa Jawa yang digunakan sehari-hari, kecuali sebagai sarana humor. Dalam hal ini kosakata yang digunakan variatif sehingga menyenangkan dan tidak membosankan. Selain itu,  pambiwara   juga harus menguasai vokal yang baik.3. menguasai sastra-sastra Jawa, khususnya tembang macapat. Selain itu, juga terampil dalam seni sastra lisan Jawa:  paribasan, bebasan,  saloka, pepindhan. METODE PENELITIAN Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif karena analisisnya bersifat menggambarkan fakta yang ada. Sudaryanto (1993:3—5) mende Þ nisikan  penelitian deskriptif kualitatif sebagai  penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada masyarakat. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menjelaskan fenomena-fenomena kebahasaan yang ada berdasarkan fakta yang hidup pada penutur-penuturnya.   Sikap Bahasa  Pambiwara   Pernikahan Jawa
Search
Similar documents
View more...
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x