Arts & Culture

STRATEGI PENERAPAN CLOUD COMPUTING PADA SISTEM DISEMINASI METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, KUALITAS UDARA, DAN GEOFISIKA (MKKuG)

Description
Cloud computing adalah teknologi yang memanfaatkan layanan internet menggunakan pusat server yang bersifat virtual dengan tujuan untuk menjaga/mengolah data dan aplikasi [Akhmad 2010]. Lahirnya cloud computing secara tidak langsung menimbulkan
Categories
Published
of 9
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
    STRATEGI PENERAPAN CLOUD COMPUTING PADA SISTEM DISEMINASI METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, KUALITAS UDARA, DAN GEOFISIKA (MKKuG) Budi Dwinanto 1906324340 S2 Manajemen Telekomunikasi - Teknik Elektro boedi.dwinanto@gmail.com ; budi.dwinanto@bmkg.go.id   Dosen : DR Ir Iwan Krisnadi MBA   ABSTRAK Cloud computing adalah teknologi yang memanfaatkan layanan internet menggunakan pusat   server yang bersifat virtual dengan tujuan untuk menjaga/mengolah data dan aplikasi [Akhmad 2010] . Lahirnya cloud computing   secara tidak langsung menimbulkan perubahan dalam cara kerja sistem teknologi informasi pada sebuah organisasi. Karena cloud computing   dapat mengurangi biaya Teknologi Informasi (TI), menyederhanakan pengelolaan layanan TI, dan bekerja secara remote  . Secara umum arsitektur komputasi awan terdiri dari (1  ) Infrastructure as a Service (IaaS) (2)  Platform as a Service (PaaS) dan (3)  Software as a Service (SaaS)  . Badan   Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai instansi pemerintah yang mempunyai tugas untuk menyebarkan informasi Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika (MKKuG) dan mempunyai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang luas di wilayah Indonesia. Inisiatif penerapan cloud computing di BMKG untuk memudahkan UPT memiliki website tanpa harus membangun server sendiri dan memudahkan dalam integrasi penyebaran data dan informasi MKKuG. Disamping itu bisa menekan biaya pembelian hardware, efisiensi sumber daya manusia, menghemat biaya maintenance, biaya lisensi software, dan biaya investasi bidang TIK. Dibutuhkan perencanaan yang matang dan terintegrasi sehingga strategi penerapan cloud    computing pada sistem diseminasi MKKuG bisa terwujud. Penelitian ini menggunakan metode   analisis SWOT dan  Analytic Network Process (ANP)  . Didapat 4 alternatif terbaik yaitu Pembangunan web center, pengadaan infrastruktur jaringan, virtualisasi hosting, dan Program pengembangan TIK, serta mendapat gambaran tentang strategi penerapan cloud computing   pada sistem diseminasi MKKuG. Sehingga di masa yang akan datang BMKG dapat memberikan layanan yang terbaik, mutakhir dan berkesinambungan kepada penggunanya. Kata kunci : Cloud Computing  , Analisis SWOT, ANP, diseminasi MKKuG 1.   PENDAHULUAN Secara lebih mendalam instansi BMKG dalam mempersiapkan visi dan misi kebijakan teknologi informasi, lebih melihat pada faktor equity   (menjadikan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi penggunaan umum). Untuk mencapai target penerapan teknologi informasi yang efektif perlu diadakan komputerisasi di BMKG dan sumber daya manusia serta pendidikan. Alasannya karena penerapan teknologi informasi akan menjadi optimal apabila pengetahuan para pemakai atau pengguna jasa teknologi benar-benar memahami teknologi sehingga sasaran penerapan teknologi informasi tercapai. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika adalah salah satu badan pemerintahan yang mempunyai tugas untuk memberi layanan kepada masyarakat dalam hal informasi di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika. Selaian melaksanakan tugas tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyelenggarakan fungsi; Pelayanan data dan informasi, peringatan dini kepada pihak terkait dan masyarakat berkenaan dengan bencana karena fakor cuaca, iklim, polusi udara dan gempa bumi. 1    Banyaknya kejadian bencana menyadarkan masyarakat akan pentingnya informasi MKKuG. Masyarakat semakin kritis menuntut untuk memperoleh informasi MKKuG secara lebih cepat, tepat, akurat, mudah dipahami, dapat menjangkau ke semua pelosok tanah air dan mudah dipahami. Oleh karenanya, pembangunan MKKuG harus dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif. Penayangan informasi cuaca dan kejadian gempa bumi di website, sebagai salah satu perwujudan diseminasi dalam rangka percepatan penyebarluasan informasi cuaca, iklim dan gempa bumi. Website BMKG yang berisi MKKuG merupakan salah satu sarana layanan dan diseminasi informasi yang ditujukan untuk menjangkau pengguna yang luas lewat internet. Saat ini banyak website dilingkungan BMKG pusat dan UPT yang dikelola oleh masing-masing unit kerjanya. Dengan adanya banyak website dan server untuk diseminasi informasi MKKuG berbasis internet, diharapkan memudahkan masyarakat mendapatkan informasi BMKG. Namun dengan banyaknya website dan server diseminasi tersebut, menyebabkan informasi MKKuG yang disampaikan ke pengguna tidak terkoordinasi antar website di lingkungan BMKG. Kendala lain adalah website masing-masing UPT sangat berbeda-beda, baik dari segi desain, penamaan domain, dan content  . Untuk itu BMKG perlu memfasilitasi web hosting yang mewadai untuk keperluan masing masing UPT BMKG. Tujuan penulisan ini adalah mengetahui alternative   dan konsep strategi penerapan cloud computing   pada sistem diseminasi MKKuG, sehingga di masa yang akan datang BMKG dapat memberikan layanan yang terbaik, mutakhir dan berkesinambungan kepada penggunanya. 2.   CLOUD COMPUTING    Cloud computing adalah teknologi   yang memanfaatkan layanan internet menggunakan pusat server yang bersifat virtual dengan tujuan untuk menjaga/mengolah data dan aplikasi [Akhmad   2010] . Lahirnya cloud computing   secara tidak langsung menimbulkan perubahan dalam cara kerja sistem teknologi informasi pada sebuah organisasi. Karena cloud computing   dapat mengurangi biaya Teknologi Informasi (TI), menyederhanakan pengelolaan layanan TI, dan bekerja secara remote  . Layanan komputasi ini tersedia untuk diakses dari internet dan lokasi fisik dari server-server sumber daya komputasi ini bisa di mana saja, tidak harus on-premise atau di data center masing-masing. Saat ini ada beberapa organisasi yang memberikan berbagai jenis layanan cloud computing  , dan secara fisik sumber daya komputasi berada di data center   mereka. 2.1 Jenis Layanan Gambar 1. Jenis Layanan Cloud Computing [Hack 2011] Layanan yang disediakan oleh Cloud    Computing dapat dibagi dalam tiga kategori   utama  [Maria 2009] : a. Software-as-a-Service (SaaS) SaaS ini merupakan layanan  Cloud Computing yang paling dahulu populer.  Software as a Service ini merupakan evolusi   lebih lanjut dari konsep  ASP (Application    Service Provider). Sesuai namanya, SaaS   memberikan kemudahan bagi pengguna untuk bisa memanfaatkan sumberdaya perangkat lunak dengan cara berlangganan. Sehingga tidak perlu mengeluarkan investasi baik untuk in house development   ataupun pembelian lisensi. Dengan cara berlangganan via web, pengguna dapat langsung menggunakan berbagai fitur yang 2    disediakan oleh penyedia layanan. Hanya saja dengan konsep SaaS ini, pelanggan tidak memiliki kendali penuh atas aplikasi yang mereka sewa. Hanya fitur-fitur aplikasi yang telah disediakan oleh penyedia saja yang dapat disewa oleh pelanggan. Sebagai gambaran, Zoho.com dengan harga yang sangat terjangkau, menyediakan layanan SaaS yang cukup beragam, dari mulai layanan word processor seperti Google Docs, project management, hingga invoicing online. IBM dengan Lotuslive.com nya dapat dijadikan contoh untuk layanan SaaS di area kolaborasi/unified communication. b. Platform-as-a-Service (PaaS) PaaS adalah layanan yang   menyediakan modul-modul siap pakai yang dapat digunakan untuk mengembangkan sebuah aplikasi, yang tentu saja hanya bisa berjalan diatas platform tersebut. Seperti  juga layanan SaaS, pengguna PaaS tidak memiliki kendali terhadap sumber daya komputasi dasar seperti memori, media penyimpanan, processing power   dan lain-lain, yang semuanya diatur oleh provider layanan ini. Pionir di area ini adalah Google     AppEngine  , yang menyediakan berbagai   tools untuk mengembangkan aplikasi di atas platform Google  , dengan menggunakan   bahasa pemrograman Phyton   dan Django  . c.   Infrastructure-as-a-Service (IaaS) IaaS terletak satu level lebih rendah dibanding PaaS. Ini adalah sebuah layanan yang menyewakan sumberdaya teknologi informasi dasar, yang meliputi media penyimpanan, processing power, memory  , sistem operasi, kapasitas jaringan dan lain-lain, yang dapat digunakan oleh penyewa untuk menjalankan aplikasi yang dimilikinya. Model bisnisnya mirip dengan penyedia data center yang menyewakan ruangan untuk co- location  , tapi ini lebih ke level mikronya.   Penyewa tidak perlu tahu, dengan mesin apa dan bagaimana caranya penyedia layanan menyediakan layanan IaaS. Salah satu pionir dalam penyediaan IaaS ini adalah Amazon.com yang meluncurkan  Amazon EC2 ( Elastic Computing Cloud  ). 2.2 Tipe Cloud Computing Terdapat 4 tipe cloud computing, yaitu  [Seacl 2009] : a.   Public cloud   Merupakan bentuk standart   dari cloud computing  , penyedia layanan   menyediakan sumber daya seperti apliaksi dan penyimpanan dan tersedia untuk masyarakat umum di internet. Ada yang gratis, namun ada pula yang membayar. Contoh penggunaan adalah Amazon Elastic Compute Cloud (EC2), IBM's Blue Cloud, Sun Cloud, Google AppEngine dan Windows  Azure Services Platform. b.   Private Cloud   Di mana sebuah infrastruktur layanan cloud  , dioperasikan hanya untuk sebuah organisasi tertentu. Infrastruktur cloud   itu bisa saja dikelola oleh organisasi itu atau oleh pihak ketiga. Lokasinya pun bisa on-site   ataupun off-site  . Biasanya organisasi dengan skala   besar saja yang mampu memiliki/mengelola private cloud  . c.   Community Cloud   Dalam model ini, sebuah infrastruktur cloud digunakan bersama-sama oleh beberapa organisasi yang memiliki kesamaan kepentingan, misalnya dari sisi misinya, atau tingkat keamanan yang dibutuhkan, dan sebagainya. Jadi, community cloud ini merupakan pengembangan terbatas dari private cloud  . Dan sama juga dengan  private cloud  , infrastruktur cloud yang ada   bisa di-manage oleh salah satu dari organisasi itu, ataupun juga oleh pihak ketiga. d.   Hybrid Cloud   Untuk jenis ini, infrastruktur cloud yang tersedia merupakan komposisi dari dua atau lebih infrastruktur cloud (private,   community, atau public). Di mana meskipun   secara entitas mereka tetap berdiri sendiri-sendiri, tapi dihubungkan oleh suatu teknologi/mekanisme yang memungkinkan portabilitas data dan aplikasi antar cloud   itu. Misalnya, mekanisme load balancing   yang antar cloud,  sehingga alokasi sumberdaya bisa dipertahankan pada level yang optimal. 3    2.3 Keamanan Data Pada dasarnya, ada 3 tingkatan keamanan yang diperlukan pada lingkungan cloud [Hurwitz 2010] , yaitu sebagai berikut : a.   Manajemen identitas Hal yang paling pokok pada sebuah sistem adalah kewenangan. Sehingga suatu layanan aplikasi atau bahkan komponen perangkat keras dapat diberikan wewenang kepada pihak yang tepat. b.   Kontrol akses Diperlukan juga sebuah tingkatan kontrol akses yang tepat pada lingkungan cloud   untuk melindungi keamanan dari resource  . c.   Otorisasi dan otentikasi Diperlukan sebuah mekanisme agar orang yang tepat dapat mengakses data yang tepat. 3. KONDISI SISTEM DISEMINASI MKKUG SAAT INI Sistem informasi di instansi BMKG saat ini masih belum terintegrasi dengan baik, bahkan tidak ada koordinasi yang jelas antara UPT dengan BMKG Pusat. Adapun sistem diseminasi MKKuG yang sedang berjalan saat ini adalah sebagai berikut ([Ali 2010], 390) : 3.1 Informasi Publik Instansi BMKG adalah merupakan Pelayanan publik yang profesional, artinya pelayanan publik yang dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan (instansi BMKG) [UUKOMINFO   2008] . Untuk menjaga kestabilan website BMKG (www.bmkg.go.id ) dan terhindar dari traffic error yang disebabkan adanya jumlah   user pengakses sangat besar (melebihi kapasitas daya tampung akses) yang berada di web server, maka sistem jaringan database BMKG dibuat semi cluster dan dipasang Citrix (load balancing) sebagai pengatur lalulintas pengakses ke server    primare atau  server secondary  . 3.2 Informasi Private (Internal BMKG) Sistem informasi private (internal BMKG) adalah informasi yang hanya diperuntukan oleh BMKG Pusat, Balai Wilayah BMKG, dan UPT. Jadi pertukaran data informasi hanya melalui jaringan VPN (VSAT IP) untuk menjamin keamanan sistem informasi. Data tersebut adalah : Database kepegawaian, Informasi data MKKuG, Rapat prakiraan musim, dan lainnya. Balai Besar (5) GAW (1) UPT Meteorologi (120) UPT Geofisika(31) UPT Klimatologi (21) Gambar 2. Jaringan UPT BMKG [KEP03 2009] 3.3 Manajemen Data Base MKKuG BMKG sebagian besar masih dikerjakan terpisah antara bagian yang satu dengan bagian lainnya. Metode ini tidak efisien dari sisi waktu dan tenaga karena seringkali terjadi pengulangan pekerjaan yang sama. Ditemukannya sejumlah data MKKuG dengan lokasi yang sama tetapi datanya beda-beda, hal ini menunjukan masih lemahnya penataan data di BMKG. Keadaan manajemen data base di instansi BMKG sampai saat ini dirasakan masih kurang tertata dengan benar. Salah satu faktor penyebabnya adalah pemanfaatan aplikasi-aplikasi SI/TI yang masih belum optimal meliputi kurangnya kontribusi, integrasi dan inovasi. Sehingga diperlukan suatu perencanaan manajemen data base yang lebih terstruktur, inovatif, terintegrasi dengan baik dan memberikan kontribusi yang optimal dalam pencapaian strategi kerja yang efisien dan akurat. Jenis data antara lain : data Synop, AWS, ARG. 4. METODOLOGI 4.1 Analisis SWOT  Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai factor 4    secara sitematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan ( Strengths)   dan peluang ( Opportunities) namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan ( weaknesses)   dan ancaman ( Threats  )  ([Rangkuti 2004], 18) . 4.2  Analytic Network Process (ANP)    Metode  Analytic Network Process    (ANP) adalah salah satu metode yang mampu   mempresentasikan   tingkat kepentingan   berbagi   pihak    dengan mempertimbangkan saling keterkaitan antara kriteria dan sub kriteria. Model ini merupakan pengembangan dari metode  Analytical Hierarcy Process (AHP) sehingga   tingkat kompleksitasnya lebih dibanding metode AHP. Metode ANP diperkenalkan oleh Profesor Thomas Saaty pakar riset dari Pittsburgh University, dengan tujuan sebagai bentuk penyempurnaan dari metode AHP. Konsep  ANP berasal dari teori AHP yang didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara beberapa komponen, sehinggan AHP merupakan bentuk khusus dalam ANP. Kelebihan ANP dari metodologi yang lain adalah kemampuannya untuk melakukan pengukuran dan sintesis sejumlah faktor-faktor dalam bentuk hierarki ataupun jaringan. Tidak ada metodologi lain yang memiliki fasilitas simtesis seperti metodologi ANP.  ANP mengijinkan adanya umpan balik dan interaksi dari elemen-elemen dalam cluster ( inner independence  ) dan antar cluster ( outer dependence  ) [Saaty, 1996] . Metode ANP digunakan untuk pemecahan suatu masalah yang tidak terstruktur dan membutuhkan ketergantungan antar beberapa elemennya, sehingga dengan adanya keterkaitan tersebut menyebabkan metode ANP lebih kompleks dari metode  AHP. Pada jaringan ANP terdapat Cluster yang dapat memiliki beberapa kriteria dan alternatif didalamnya, yang sekarang disebut dengan simpul. Gambar 3. Perbandingan Hierarki Linier dan Jaringan Feedback    [Ascarya 2005] Dari Gambar 2. dari jaringan Feedback dapat dilihat bahwa elemen-elemen yang akan dibandingkan berada pada cluster-cluster yang berbeda, contohnya elemen utama C4 berhubungan dengan cluster (C2) dan (C3) yang dikenal dengan outer dependence. Selain itu juga ada elemen -elemen utama yang akan dibandingkan berhubungan dengan dirinya sendiri, sehingga membentuk hubungan loop  , kondisi ini dikenal dengan istilah  inner dependence. 5. PEMBAHASAN DAN DISKUSI 5.1 Penentuan Parameter   dengan SWOT Pada penelitian riset pendahuluan dilakukan penyebaran kuisioner tahap pertama kepada 30 responden yang akan melakukan pengujian elemen-elemen yang signifikan pada masing-masing level dimulai dari level I untuk penentuan kriteria, level II untuk penentuan sub kriteria, dan level III untuk penentuan alternatif pilihan. Tabel 1. Matrik SWOT Strength : Weaknesses : - Internet unlimited - Banyak admin - Internet bandwicth web UPT yang - Data storage belum menguasai - Tersedia LAN dan TIK WAN -  Anggaran TIK masih kurang - Infrastruktur TIK UPT masih kurang - Tidak ada 5
Search
Similar documents
View more...
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x