Research

TAFSIR SUROTUL FATIHAH

Description
Para ahli qira`at Makkah dan Kufah telah memastikan bahwa basmalah merupakan satu ayat dari Surah Al Fatihah, tapi bukan merupakan salah satu ayat dari surah – surah lainnya. Mereka berkata, di tuliskannya pada permulaan setiap surah itu, hanya
Categories
Published
of 4
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  TAFSIR SUROTUL FATIHAH   Surah ini mempunyai 20 nama antara lain : ب ِْا   ُة ِ ف  ,   ٰاْُْا   ّمأ ,   ِف ْ  , ةِفا ْ  , ةِفثا ,   ِ ث ْا   ُعْ س  dll. Surah ini termasuk Makiyah, terdiri dari tujuh ayat, dan turun setelah Surah Al-Muddassir. Keutamaan Keutamaan surah ini telah banyak di sebutkan dalam hadits  –   hadits shohih, antara lain yang artinya “ Allah tidak menurunkan di dalam Taurat dan Injil sebutan surah seperti Ummul Qur`an, dialah Sab`ul Matsaani, dan dia sebagaimana Firman Allah `Azza wajalla dalam hadits Qudsi terbagi antara di diri-Ku dan hamba-Ku, dan hamba-K  u berhak mendapatkan apa saja yang ia minta” ( HR. Tirmidzi ). “Surah Al Fatihah adalah syifaa` ( penyembuh ) segala racun” ( HR. Darimi ). “Dalam surah Al Fat ihah terkandung kesembuhan dari segala penyakit ( HR. para imam hadits dari Said Al Khudri ). Sunah Al Fatihah Sebelum membaca Surah Al Fatihah di sunahkan membaca ta`awudz (   ِِجا   ِن ْا   ِ   ِِ   ُذْُ  ) secara sir / samar ( hanya di dengar oleh diri sendiri ). Firman Allah dalam QS An Nahl ayat 98, yang artinya “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk “. Menurut persepakatan ulama` bahwa ta`awudz bukan bagian dari Al Qur`an. 1.   ِِحٱ   ِٰ حٱ   ِٱ   ِِ   “ Bismillaahir-rohmaanir-rohiim “   Para ahli qira`at Makkah dan Kufah telah memastikan bahwa basmalah merupakan satu ayat dari Surah Al Fatihah, tapi bukan merupakan salah satu ayat dari surah  –   surah lainnya. Mereka berkata, di tuliskannya  pada permulaan setiap surah itu, hanya sebagai pemisah antara surah satu dengan yang lainnya dan untuk mendapatkan keberkahannya. Al Hakim meriwayatkan dalam Al Mustadrak, dari Abu Hurairah, bahwa ia melaksanakan sholat, lalu ia menjaherkan / mengeraskan bacaan basmalahnya. Setelah selesai sholat, ia  berkata :” akulah orang yang mirip shola tnya dengan Rosulullah SAW. ( Riwayat ini di shohihkan oleh Addaruqutni, Al Khatib, Al Baihaqi, An-Nasa`i, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah ). Dari Ibnu Abbas,  bahwa Rosulullah SAW mem  buka sholat dengan membaca “Bismillaahir  -rohmaanir- rohiim “ ( HR. Abu Daud dan At Tirmidzi ). Imam Bukhori meriwayatkan dari Anas dalam kitab shohihnya, bahwa ia pernah di tanya tentang bacaan Rasulullah SAW, lalu ia menjawab, bacaan Bel iau panjang, kemudian beliau membaca “Bismillaahir  -rohmaanir- rohiim “ dengan memanjangkan  bismillaah, ar-rohmaan dan ar-rohiim. Basmallah adalah kalamullah (    ا   ف  : barang siapa yang mengingkarinya , maka dia kufur ). Allah SWT mengawali kitabnya dengan basmallah, demikian ini Allah mengajari kita agar memulai semua  perbuatan dan perkataan yang baik dengan basmalah. Nabi SAW bersabda : “ Setiap perkara yang tidak dimulai dengan “bismillaahir  -rohmaanir- rohiim”, maka dia akan terputus ” . Hukum Hukum membaca basmalah ada 5 : 1.   Wajib, seperti : membaca fatihah yang di awali dengan basmalah 2.   Sunah `Ain dan kifayah : seperti mandi dan wudhu, makan berjama`ah ( kifayah ) 3.   Makruh seperti melihat farjinya istri 4.   Haram seperti akan melakukan ma`siyat, missal zina, judi, mencuri, dll 5.   Mubah, dalam hal hal yang hukumnya wenang seperi memindah barang dari tempat satu ke tempat yang lain. Huruf ba` dalam ( bismillah ) adalah ba` lil isti`anah ( mohon pertolongan ). Susunan jar majrur menurut nadzam kuffah adalah makhal nasab yang di nasobkan oleh fi`il yang tersimpan, taqdirnya adalah :       ت اا  (aku memulai pekerjaan dengan menyebut nama Allah ). Lafal Allah adalah isim alam ( nomina petunjuk identitas ),    د  ( untuk dzat yang di sembah dengan haq ). Sedangkan lafal Al ilah ( ه ا ), لط   وا      د  : yang di sembah baik secara haq maupun bathil. Al ilah : isim yang di gunakan untuk menunjuk Allah dan selain Allah.  Lafal حا   حا  adalah dua sifat yang berasal dari ةحا  ( kasih sayang, belas kasih, lemah lembut ). Meskipun demikian, ke duanya mempunyai makna tersendiri / khusus. Al Azmi menakwilkan حا  : rohmat Allah meliputi seluruh makhluk ( di dunia ) dan حا  : rahmat Allah hanya untuk orang  –   orang yang beriman ( di akhirat ) . Rasulullah SAW bersabda : “ Bahwa Isa bin Marya m mengatakan حا  adalah Maha Pengasih di dunia dan akhirat, dan حا  adalah Maha Penyayang di akhirat. 2.   نَ  ۡٱ   َ  ب ر   َهَ   دۡ ۡٱ   “ Alhamdu lillahi robbil `alamiin “   …….  Pujian yang indah bernuansa pengagungan dan pemuliaan yang di sertai dengan kecintaan. ا  adalah antonim dari ( hinaan ). Al khamdu lebih umum dari pada asy  –   syukur ( syukur ), sebab syukur di lakukan sebagai imbalan atas karunia pujian ( ا  ) di lakukan dengan kesadaran dan suka rela. Al yang ada pada lafal : ا  adalah lil istighroqil jinsi ( mencakup semua jenis ), ا  artinya segala puji. Adapun puji terbagi menjadi empat . 1.   Puji Qodiim alal Qodiim : puji Allah terhadap dirinya sendiri, seperti : ضْر ْاو   ِتا   ا    خ   ِِُْ ْ  2.   Puji Qodiim alal Khadits : puji Tuhan kepada hambanya,  با ُهِ   ُْ ْا   ْِ  sebaik baik hamba adalah دُوا د  karena sesungguhnya dia banyak bertaubat. 3.   Puji Khadits alal Qodiim : pujinya hamba kepada tuhan 4.   Puji Khadits alal hadits : pujinya makhluk kepada makhluk, seperti amin memuji umar. Hukum Hamdalah Hukum membaca hamdalah ada 4, 1) Wajib, seperti : hamdalah dalam khutbah jum`ah, 2) Sunah : hamdalah dalam khutbah nikah, di awal dan akhir do`a, 3) makruh : di baca di tempat  –   tempat yang kotor / menjijikkan, seperti : kandang unta, tempat sampah, toilet, mulut dalam keadaan najis, dll, 4) Haram : hamdalah ketika bersenang  –   senang menjalankan maksiyat. نَ  ۡٱ   َ  ب ر   َهَ   “ Lillahi robbil `alamiin ”   Kata ّب ر  : berasal dari kata attarbiyah ( pendidikan ). Kata ّبا  memiliki banyak arti : كا  ( yang memiliki ), دا  ( yang di sembah ), ……. ( Tuan yang di taati ), ……… ( yang memperbaiki ), ……. ( yang mengatur ). ……. ( yang membeli ) . Kata ا  adalah jamak dari ا , menurut Az Zujaj kata ا  di ambil dari kata ا  ( tanda ) dan ةا  ( petunjuk ) karena ia merupakan tanda atau petunjuk adanya Sang Pencipta, yaitu Allah SWT,dan masih menurut Az Zujaj bahwa makna Aalam ialah semua yang Allah ciptakan di dunia dan di akhirat. نَ  ۡٱ   َ  ب ر  ( Tuhan seluruh alam ), Ibnu Abbas berkata : Tuhan semua makhluk, semua langit dan semua yang ada di dalamnya, semua bumi dan semua yang ada di dalamnya, serta semua yang ada di antara itu semua, baik yang di ketahui maupun yang tidak di ketahui. 3.   ََحهلٱ   َن ۡحهلٱ  ( Arrohmanir Rohiim ) Karena penyebutan Allah SWT dengan sifat Rabbil `Alaamiin ( Tuhan seluruh alam ) mendatangkan rasa gentar dalam hati, maka Dia mengiringinya dengan menyebutkan sifatnya yang lain Ar rahman ( yang agung rahmat-Nya ) dan ar rahiim ( yang langgeng rahmatnya ). 4.   َنْيَ  دلا   َْ ي   ََ      ( Maliki yaumiddin ) ( ك    ) berkedudukan majrur sebagai badal, bukan sebagai sifat karena ia nakiroh, sebab ia adalah isim fa`il yang tidak bisa menjadi ma`rifat ketika di idhofahkan pada kalimah yang mengandung ma`na khal ( sekarang ) atau istiqbal ( masa depan ). يّا   مي  adalah dhorof zaman yang artinya hari pembalasan. Kata ك  sebagian ahli qiro`ah membacanya tanpa alif (   ِكِ   ) dan sebagian yang lain membacanya dengan alif ( ك    ), ke duanya adalah shokhih dan mutawatir di dalam qiro`ah sab`ah., yang pertama  berdasarkan hadits Nabi riwayat At  –    Tirmidzi, Ibnu Abiddunya dan Ibnul Ambari : dari Ummi Salamah” sesungguhnya Nabi membaca ( يّا   مي   ك ) tanpa alif  ”.  Yang kedua berdasarkan hadits nabi riwayat : Ahmad, Tirmidzi, dan Abi Daud dari A nas RA : “ Bahwa Nabi SAW, Abu Bakar, Umar dan Ustman membacanya ( يّا   مي   ك ) dengan alif. Kata ْكِ ْ  di ambil  dari kata ُكْُْ  yang berarti kekuasaan dan kata كا  di ambil dari kata كْِْ  : yang berarti kepemilikan. مي   كيّا  : yang menguasai hari pembalasan dan يّا   مي   ك  : yang memiliki hari pembalasan. Di khususkannya kata مي  ( hari ) sebagai Idhofah, padahal Allah SWT yang memiliki dan yang menguasai segala sesuatu di seluruh waktu dan hari, karena dengan ta`dhim ( pengagungan ). Firman Allah يّا   مي  bukan yaumul qiyamah, hal ini untuk menjaga pemisah dan merajihkan ( mengunggulkan ) yang umum, karena ma`na addiin adalah ( balasan yang setimpal ) yang mencakup seluruh kondisi hari kiamat sejak permulaan pembangkitan hingga kekekalan abadi ( selama  –   lamanya ). Alhasil : Allah SWT adalah Tuhan pemilik dan penguasa hari pembalasan dan Dia akan meminta pertanggung jawaban amal perbuatan manusia, dan manusia akan dibalas sesuai dengan amalnya “ فاش   ناو   فاخ   نا ”. 5.   كهيَ و   د ۡ    كهيَ نَ ۡس    Mendahulukan maf`ul bih ( obyek ) dan mengakhirkan fa`il ( subyek ) adalah berfaidah khasher dan ikhtishos ( meringkas dan mengkhususkan ). Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan. Penyebutan kalimah ُِ   ِ و  setelah ُ  ِ و  demikian ini mengisyaratkan bahwa seseorang tidak diperbolehkan untuk mohon pertolongan dan bertawakal kecuali kepada dzat yang patut di sembah ( Allah SWT ) karena selain Dia tidak memiliki kekuasaan sedikitpun atas segala urusan. Pada ayat ini lafal  ّا  di ulang - ulang, karena bertujuan untuk menghindarkan asumsi ( anggapan )  bahwa hanya kepada Engkau kami menyembah, dan kepada selain Engkau kami memohon pertolongan. Dua kata kerja (   ) dan (   ) ini di sebutkan dalam bentuk jamak bukan dalam bentuk tunggal (   ُُ   ِ   ُِ س   ِ و ) Demikian ini untuk mengakui keterbatasan seorang hamba sehingga ia tidak dapat berdiri sendiri di hadapan Allah, seolah  –   olah dia be rucap : “ Tidak layak bag iku berdiri sendiri dalam bermunajat kepada-Mu, aku merasa malu dengan kelalaian dan dosa  –   dosaku, karena itu aku bergabung dengan kaum mu`minin dan aku bersembunyi di antara mereka. Maka terimalah do`aku bersama mereka, sebab kami semua beribadah kepada-Mu dan memohon pertolongan-Mu. 6.   َق ۡس ۡٱ   ط َ  لٱ    َدۡٱ   .. As- shiroth artinya jalan, Al Mustaqiim : lurus. Shirotol Mustaqiim ialah “ diinul islam” ( agama islam ). Makna ayat ini adalah teguhkanlah kami di atas agama ini agar kami tidak di ombang  –   ambingkan oleh keraguan. Firman Allah QS Ali Imron ayat 8 : “ Ya Tuhn kami, jangan engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami”. Dalam sebuah hadits di sebutkan :    ُ ُ كِ   ْيِد   ى        ْ ُ   ْقِ    بْُُْ   َِ  , artinya :” Ya Allah, wahai dzat yang membolak - balikkan hati, teguhkanlah kami di atas agama- Mu”.   7.   نَ  ٓهضلٱ   و   ۡَۡ ع   َب ضۡ ۡٱ   َۡ غ   ۡَۡ ع   تۡ ۡ نيَذهٱ   ط َص   ٱ   طٰ ِصِ    ق  يِ  ( yaitu ) jalan orang  –   orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, yaitu para  Nabi, Shiddi qiin, Syuhada` dan sholikhiin. Firman Allah :” Mereka itu akan bersama –  sama dengan orang  –   orang yang di beri nikmat oleh Allah, ( yaitu ) para Nabi, para pecinta kebenaran, orang  –   orang yang mati syahid dan orang  –   orang sholih, Mereka itulah teman  –   teman yang sebaik  –   baiknya ) ( QS. An-Nisaa` : 69 ). بُۡ ٱ   ِ غ : Bukan jalan mereka yang di murkai. Mayoritas ulama` tafsir berpendapat yang di maksud ( mereka yang di murkai ) adalah orang  –   orang yahudi, karena mereka telah mengetahui kebenaran tetapi mereka mengingkarinya, atau karena melakukan perkara yang bathil dengan sengaja. ِٱ   و  : dan bukan ( pula jalan ) mereka yang sesat, yaitu orang  –   orang nasrani. Orang  –   orang bodoh yang tidak mengerti kebenaran dan mereka mengikuti langkah  –   langkahnya orang  –   orang yahudi. Setelah selesai membaca Fatihah maka di sunahkan membaca ا  ( boleh panjang dan boleh pendek alifnya ). Apabila imam mengucapkan ا  hendaknya kalianpun membaca amin, sebab barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan aminnya para malaikat, maka pasti dosanya yang lampau di ampuni. ( HR.  Ahmad dan 6 Imam Hadits ). Sehingga terdengar oleh para ma`mum yang berdiri di belakang beliau di shof  pertama. ا  adalah isim fi`il : ْَِ ْسِ   ُّا  ( kabulkanlah ).
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x