Journals

TINDAK TUTUR DALAM IKLAN BERBAHASA JAWA DI RADIO The Acts of Speech in Javanese Advertisement on The Radio oleh/by

Description
TINDAK TUTUR DALAM IKLAN BERBAHASA JAWA DI RADIO The Acts of Speech in Javanese Advertisement on The Radio oleh/by
Categories
Published
of 20
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  TINDAK TUTUR DALAM IKLAN BERBAHASA JAWA DI RADIO The Acts of Speech in Javanese Advertisement on The Radio oleh/ by   Suryo Handono Balai Bahasa Jawa Tengah Jalan Elang Raya, Mangunharjo, Tembalang, Semarang Telepon 024-76744357 Faksimile. 024-76744358 shandono78@gmail.com ABSTRAK Iklan sebagai salah satu bentuk komunikasi memunyai peran penting untuk memperkenalkan suatu produk kepada masyarakat. Tuturan iklan merupakan fenomena menarik untuk diteliti dari  berbagai aspek pragmatik, salah satunya adalah tindak tutur. Penelitian ini mengkaji tindak tutur  pada wacana iklan berbahasa Jawa di radio. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif ini memaparkan bentuk tindak tutur dan konteks tuturan dalam wacana iklan berbahasa Jawa di radio. Strategi yang digunakan adalah analisis isi .  Berdasarkan analisis isi diperoleh hasil bahwa  bentuk tuturan dalam wacana iklan berbahasa Jawa di radio meliputi tindak tutur representatif, direktif, ekpresif, komisif, dan deklaratif. Tindak tutur representatif digunakan dalam konteks memberi tahu, menyatakan, mengakui, melaporkan, menjelaskan, menyebutkan, dan memberikan kesaksian. Tindak tutur direktif digunakan dalam konteks menyuruh, mengajak, mengimbau, menyarankan, dan mengingatkan. Tindak tutur ekspresif digunakan sebagai evaluasi dalam konteks memuji, mengkritik, dan mengeluh. Tindak tutur komisif digunakan hanya dalam konteks memastikan. Tindak tutur deklaratif digunakan dalam konteks melarang, menegaskan, dan meyakinkan. Kata kunci: tindak tutur, konteks, iklan, bahasa Jawa, radio  ABSTRACT  Advertising as one form of communication has an important role to introduce a product to the community. Advertising is an interesting phenomenon to be examined from various aspects of  pragmatic, one of which is the act of speech. This study examines the acts of speech on the discourse of Javanese advertisement on the radio. This descriptive qualitative research describes the form of speech acts and the context of speech in the discourse of Javanese ad on the radio. The strategy used is content analysis. Based on the content analysis, it is found that the form of speech in the Javanese language advertising discourse in the radio includes the act of representative speech, directive, expressive, commissive, and declarative. Representative  speech acts are used in the context of notifying, declaring, acknowledging, reporting, explaining, mentioning, and giving testimony. The directive speech acts are used in the context of commanding, referring, appealing, suggesting, and reminding. Expressive speech acts are used as evaluation in the context of praising, criticizing, and complaining. Commissive speech acts are used only in the context of making sure. Declarative speech acts are used in the context of prohibiting, asserting, and reassuring.  Keywords:    speech acts, context, advertisement, Javanese, radio  JALABAHASA, VOLUME 13, NOMOR 1 TAHUN 2017 2 PENDAHULUAN Iklan adalah pesan atau berita yang disampaikan untuk memberitahukan  produk dan atau jasa kepada masyarakat atau khalayak ramai. Sebagai salah satu  bentuk komunikasi, iklan harus hangat dan jelas karena memunyai peran  penting untuk memengaruhi masyarakat agar mau membeli, memakai, atau memiliki suatu produk berupa barang atau jasa. Untuk itu, diperlukan  perhatian khusus untuk menyajikan iklan yang terkini dan sesuai dengan konteks perhatian masyarakat sesuai dengan sasaran iklan. Beragam bentuk iklan menarik dan kreatif yang tersaji di media cetak dan media elektronik memunculkan fenomena tersendiri sehingga dapat menimbulkan gaya hidup baru bagi masyarakat. Fenomena tersebut dapat dipahami apabila dilihat dalam perspektif ideologi iklan. Hal itu dapat diartikan sebagai usaha pengiklan untuk selalu menonjolkan keunggulan  produk yang diiklankan. Iklan merupakan salah satu wujud wacana yang menarik. Selain sarat informasi, iklan juga memuat unsur  persuasif yang sangat tinggi, yaitu membujuk atau menggiring orang untuk mengambil tindakan yang menguntung-kan pihak pembuat iklan dan menarik  perhatian pembaca iklan agar memiliki atau memenuhi permintaan pemasang iklan. Karena lebih mementingkan aspek persuasif, bahasa yang digunakan  pun bersifat persuasif dengan tingkat  perlokusioner yang tinggi. Tuturan iklan merupakan feno-mena menarik untuk diteliti dari  berbagai aspek pragmatik, salah satunya adalah tindak tutur. Tindak tutur merupakan pijakan mendasar dalam kajian pragmatik (Rustono, 1999, hlm. 31). Tindak tutur menjadi dasar analisis aspek pragmatik yang lain seperti  praanggapan, perikutan, implikatur  percakapan, prinsip kerja sama, dan  prinsip kesantunan. Oleh karena itu,  penelitian ini difokuskan pada tindak tutur, yaitu tindak tutur dalam iklan  berbahasa Jawa di radio di Jawa Tengah. Penelitian pragmatik wacana iklan sebenarnya sudah dilakukan oleh para  peneliti, seperti Ulfah (2003), Harahap (2008), Indriani (2012), Elmira (2013), Alfani (2014), dan Nissa (2014). Hasil  penelitian tersebut lebih memfokuskan  pada wacana iklan tertulis dan televisi. Iklan radio, khususnya yang berbahasa Jawa, belum diteliti. Oleh karena itu,  penelitian ini relevan dilakukan untuk menjawab permasalahan bagaimanakah  bentuk tindak tutur dan konteks tuturan dalam wacana iklan berbahasa Jawa di radio. Ketika mendengar ujaran penutur, mitra tutur tidak hanya berusaha memahami makna ujaran itu, tetapi juga makna yang dikehendaki penutur. Untuk memahami makna tersebut, mitra tutur perlu memperhatikan konteks yang ada. Dengan pemahaman itu, komunikasi akan berjalan lancar. Jika konteks tuturan tidak dipahami, akan terjadi kesalahpahaman sehingga komunikasi tidak akan berjalan lancar. Pragmatik berkaitan dengan konteks, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan maupun latar belakang  pengetahuan bersama penutur dan mitra tutur yang membantu mitra tutur menafsirkan makna tuturan (Nadar, 2009, hlm. 6). Aspek-aspek lingkungan fisik dan sosial itu disebut sebagai unsur di luar bahasa yang dikaji dalam  pragmatik. Menurut Nababan (1987: 2),pragmatik memiliki dua pengertian. Pertama, kajian dari hubungan antara  bahasa dan konteks yang mendasari  JALABAHASA, VOLUME 13, NOMOR 1 TAHUN 2017 3  penjelasan pengertian bahasa. Pengertian bahasa menunjuk pada fakta  bahwa untuk mengerti suatu ungkapan atau ujaran bahasa diperlukan  pengetahuan di luar makna kata dan hubungannya dengan konteks  pemakaiannya. Kedua, kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan kalimat dengan konteks yang sesuai. Pragmatik mengkaji makna kalimat yang dituturkan oleh penutur sesuai dengan konteks dan situasi. Kridalaksana (1993:177) menyatakan  bahwa pragmatik adalah ilmu yang menyelidiki pertuturan, konteksnya, dan maknanya. Sementara itu, Leech (1993:9) menyatakan bahwa pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi ujar. Berdasarkan pendapat tersebut,  pragmatik menekankan pada makna dan situasi ujar. Pragmatik tidak dapat lepas dari bahasa dan konteks. Jadi,  pragmatik merupakan bidang yang mengkaji kemampuan penutur menyesuaikan kalimat yang dituturkan sesuai dengan konteksnya sehingga komunikasi berjalan lancar. Leech (1993:5  —  6) menyatakan  bahwa pragmatik mempelajari maksud tuturan, yaitu untuk apa tuturan itu dilakukan dan apa maksudnya serta mengaitkan dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, dan bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang  bersifat sentral di dalam pragmatik dan merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain, seperti praanggapan,  perikutan, implikatur percakapan,  prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan (Wijana, 1996:46). Ibrahim (1993:106) mengungkapkan bahwa sebagian tuturan bukanlah pernyataan tentang sesuatu, tetapi merupakan tindakan. Menuturkan sesuatu dapat disebut sebagai tindakan atau aktivitas karena sebuah tuturan selalu memiliki maksud tertentu. Maksud itulah yang menimbulkan pengaruh tertentu terhadap orang lain, seperti halnya mencubit atau memukul. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tindak tutur adalah aktivitas menuturkan sesuatu dengan maksud tertentu. Sejalan dengan itu, Rustono (1999:24) mengemukakan bahwa aktivitas menuturkan sesuatu dengan maksud tertentu merupakan tindak tutur karena  berpengaruh terhadap orang lain yang mendengarkan sehingga menimbulkan respons dan terjadilah peristiwa komunikasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tindak tutur adalah suatu tindakan bertutur yang memiliki maksud tertentu yang dapat diungkapkan secara eksplisit maupun implisit. Tindak tutur yang memiliki maksud tertentu tersebut tidak dapat dipisahkan dari konsep situasi tutur. Konsep tersebut memperjelas  pengertian tindak tutur sebagai suatu tindakan yang menghasilkan tuturan sebagai produk tindak tutur. Austin dan Searle membagi tuturan menjadi tiga jenis, yaitu tindak lokusioner, ilokusioner, dan perlokusi-oner atau biasa disebut dengan lokusi, ilokusi  dan  perlokusi . Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Dalam tindak tutur ini dihasilkan serangkaian bunyi bahasa yang berarti sesuatu (Ibrahim, 1993, hlm. 15). Tindak tutur lokusi merupakan tindak tutur yang relatif  paling mudah diidentifikasi karena dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan (Wijana, 1996:17  —  18). Dalam tindak lokusi fungsi tuturannya tidak dipermasalahkan karena maknanya terdapat dalam kalimat yang  JALABAHASA, VOLUME 13, NOMOR 1 TAHUN 2017 4 dituturkan. Tindak tutur ini merupakan tindak tutur yang paling mudah diidentifikasi karena tidak mengikutsertakan maksud. Berdasarkan kategori gramatikal,  bentuk tindak tutur lokusi dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) pernyataan (deklaratif) yang berfungsi memberitahukan sesuatu kepada orang lain agar menaruh perhatian, (2)  pertanyaan (interogatif) yang berfungsi untuk menanyakan sesuatu sehingga  pendengar memberikan jawaban atas  pertanyaan yang diajukan, dan (3)  perintah (imperatif) yang memiliki maksud agar pendengar memberikan tanggapan berupa tindakan atau  perbuatan yang diminta. Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan daya tuturan. Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi karena berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu dilakukan dan sebagainya. Tindak ilokusi ini merupakan bagian yang  penting dalam memahami tindak tutur (Wijana, 1996:). Untuk mempermudah identifikasi, ada beberapa verba yang menandai tindak tutur ilokusi, antara lain melaporkan, mengumumkan,  bertanya, menyaran-kan, berterima kasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, berjanji, dan mendesak (Rustono, 1999:38). Sejalan dengan pendapat tersebut, Cummings (2007:9) menyatakan bahwa tindak ilokusi adalah ujaran-ujaran yang memiliki daya tertentu, seperti memberi tahu, memerintah, mengingatkan, dan melaksanakan. Tindak tutur ilokusi  biasanya diidentifikasikan dengan kalimat perfomatif yang eksplisit. Tindak tutur ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, menjanjikan, dan sebagainya (Chaer dan Leonie, 2010:53).  Nababan (1987:18) menyatakan  bahwa ilokusi adalah pengucapan suatu  pernyataan, tawaran, janji, pertanyaan. Menurut Wijana (1996:18) ilokusi adalah penuturan yang digunakan untuk melakukan sesuatu. Sementara itu, Chaer dan Leonie (2010, hlm. 54)  berpendapat bahwa ilokusi adalah  pernyataan, tawaran, janji dan lain-lain dalam pengujaran. Berdasarakan  pendapat tersebut, dapat disimpulkan  bahwa ilokusi adalah tindak bahasa yang dibatasi oleh konvensi sosial, misalnya menyapa, menuduh, mengakui, dan memberi salam. Dengan demikian, tindak ilokusi tidak hanya  berfungsi untuk menginformasikan sesuatu, tetapi juga mengacu untuk melakukan sesuatu. Searle (Leech, 1993:165) mengelompokkan tindak ilokusi menjadi lima jenis, yaitu (1) asertif yang mengikat penutur pada kebenaran  proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan, menyarankan, membual, mengeluh, dan mengklaim; (2) direktif yang dimaksudkan untuk memengaruhi agar mitra tutur melakukan tindakan, seperti memesan, memerintah, memohon, menasihati, dan merekomen-dasi; (3) ekspresif yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap  psikologis penutur terhadap suatu keadaan, seperti berterima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, dan  berbelasungkawa; (4) komisif yang  berfungsi untuk menyatakan janji atau  penawaran, seperti berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu; dan (5) deklaratif yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataannya, seperti  berpasrah, memecat, membaptis,  JALABAHASA, VOLUME 13, NOMOR 1 TAHUN 2017 5 memberi nama, mengangkat, mengucilkan, dan meng-hukum. Tuturan yang diucapkan oleh  penutur sering memiliki efek atau  pengaruh bagi yang mendengarkannya. Efek atau daya pengaruh ini dapat terjadi karena disengaja ataupun tidak disengaja oleh penutur. Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah yang disebut tindak perlokusi. Rustono (1999, hlm. 38) menyatakan bahwa perlokusi adalah tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk memengaruhi mitra tutur. Sementara itu, Tarigan (1984, hlm. 35) menyatakan bahwa ujaran yang diucapkan penutur bukan hanya  peristiwa ujar yang terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan ujaran yang mengandung maksud dan tujuan tertentu yang dirancang untuk menghasilkan efek, pengaruh, atau akibat terhadap lingkungan mitra tutur. Pada sisi lain, Chaer dan Leonie (2010, hlm. 70) berpendapat bahwa perlokusi  berhubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistik . Searle (1976, hlm. 59-82) mengklasifikasi tindak tutur menjadi lima, yaitu representatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Tindak tutur representatif mengikat  penuturnya terhadap kebenaran ujaran. Yang termasuk tuturan ini adalah tuturan yang memberikan pernyataan, seperti menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, dan berspekulasi. Tindak tutur direktif memungkinkan penutur meminta mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan itu. Tuturan memaksa, memohon, menyarankan, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, menyarankan, memerintah, memberi aba-aba dan menantang termasuk ke dalam tindak tutur ini. Tindak tutur ekspresif adalah tuturan yang dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan. Tuturan memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, menyanjung termasuk dalam tindak tutur ekspresif. Kemudian, tindak tutur komisif mengikat penutur untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturan, seperti berjanji, ber-sumpah, dan menyanggupi. Tindak tutur deklaratif dimaksudkan untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Tuturan-tuturan dengan maksud mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengizinkan, mengabulkan, mengangkat, menolong, mengampuni, memaaf-kan termasuk tindak tutur deklaratif. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu teknik  penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik simpulan yang sahih (Peer dan Mary  Nesbitt, 2004). Data penelitian berupa ujaran dalam wacana iklan berbahasa Jawa di radio. Sumber data dalam  penelitian ini adalah iklan berbahasa Jawa di radio swasta niaga di Jawa Tengah yang disiarkan pada bulan April sampai dengan Juni 2016. Karena keterbatasan iklan berbahasa Jawa di radio, sumber data penelitian ini tidak dibatasi pada iklan dan radio tertentu. Penyediaan data dilakukan dengan teknik simak, rekam, dan catat (Sudaryanto, 2015:204  —  206). Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif yang bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh. Data dianalisis, dibanding-kan, dan dipadukan membentuk suatu
Search
Similar documents
View more...
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x