Health & Fitness

Tugas Akhir Fix.docx

Description
Tugas Akhir Fix.docx
Published
of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  1 KEKERASAN SIMBOLIK “Sebuah Analisa Pemikiran Pierre Bourdieu Tentang Praktek  Kekerasan Simbolik  ” Paper ini Dibuat untuk Memenuhi Persyaratan dalam Mata Kuliah Filsafat Ilmu Sosial dalam Ilmu Teologi yang Diampuh Oleh Dosen: Prof. Bernard T. Adeney-Risakotta, Ph.D Disusun Oleh  : Darius Ade Putra (50170034) UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2017    2  A.   LATAR BELAKANG Beberapa waktu yang lalu di negara Indonesia ramai memperbincangkan tentang kasus penistaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta. Kasus ini bukan hanya menyita perhatian publik di Indonesia tetapi juga dari media mancanegara. Hal menarik bagi saya adalah bagaimana kasus ini begitu menarik  perhatian publik dan animo masyarakat luas. Di bawah pimpinan ormas Islam radikal, tercatat bahwa beberapa kali terjadi demi besar-besaran yang diberi nama aksi bela Islam. Banyak orang dari berbagai pelosok negeri ini rela datang jauh-jauh ke Jakarta. Tujuannya adalah menuntut agar Ahok dipenjara. Pada akhirnya Ahok pun memang  benar-benar dipenjara. Terlepas dari semua itu, banyak kalangan yang kemudian mempertanyakan motivasi dari aksi tersebut. Benarkah hal itu murni benar-benar dalam rangka membela agama? Atau adakah kaitannya dengan tindakan politis khususnya menyangkut kekuasaan? Diduga bahwa tindakan itu sarat dengan kepentingan politik dari berbagai  pihak yang selama ini “terganggu kenyamanannya” selama Ahok berkuasa. Tujuan mereka sebenarnya bukan untuk semata-mata menyuarakan kepentingan agama tetapi lebih pada aktivitas politik praktis. Bahkan diduga bahwa sebagian dana yang digunakan dalam aksi itu berasal dari beberapa pengusaha kaya yang tidak beragama Islam tetapi mempunyai kepentingan dalam rangka menjatuhkan posisi Ahok yang dinilai telah  banyak merugikan mereka. Mereka berhasil “memanfaatkan” masyarakat untuk memperkuat aksi mereka. Salah satu tokoh yang membahas tentang bagaimana kekuasaan berperan penting dalam masyarakat dan teorinya banyak digunakan oleh para pemikir di Indonesia adalah  3 Pierre Bourdieu. Salah satu ide dari pemikirannya adalah tentang kekerasan simbolik. Dalam tulisan ini akan mencoba mendalami bagaimana pemikiran Pierre Bourdieu untuk melihat bagaimana elit kultural (penguasa) mendominasi masyarakat Indonesia. Terutama pada peristiwa pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017. Benarkah ada kekerasan simbolik di dalamnya? B.   KRONOLOGI KASUS AHOK Perdebatan tentang kisah Ahok yang dituduh menista Agama Islam dimulai ketika sebuah video yang diunggah oleh Buni Yani ke laman facebooknya pada 6 Oktober 2016  berjudul “  Penistaan Agama Islam?”  itu viral. Dalam video itu menayangkan kunjungan Ahok ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu (Pulau Pramuka). Di sana ia memberikan  pernyataan yang menyinggung salah satu bagian dalam Al-Quran yaitu Surah Almaidah 51: “ … Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51  , macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya ..”  Hal ini sontak mengundang reaksi beragam dari khalayak ramai. Bahkan berbagai ormas Islam seperti FPI kemudian menginisiasi diadakannya demo menuntut agar Ahok dihukum. Menyadari ucapannya telah menimbulkan kegaduhan dan dianggap menyinggung, Ahok lantas meminta maaf dan melakukan klarifikasi pada 10 Oktober 2016 Keadaan ini kemudian direspon oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga yang dipercaya memberikan interpretasi atas ucapan Ahok. Pada tanggal 11 Oktober 2016 melalui pimpinannya, KH Maruf Amin, MUI menyatakan bahwa: “pernyataan Ahok dikategorikan melakukan penistaan agama dan menghina ulama yang  4 memiliki konsekuensi hukum… Aparat penegak hukum wajib menindak tegas setiap orang yang melakukan penodaan dan penistaan agama serta penghinaan terhadap ulama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Aparat penegak hukum diminta proaktif melakukan penegakan hukum secara tegas, cepat, proporsional, dan  profesional dengan memperhatikan rasa keadilan masyarakat, agar masyarakat memiliki kepercayaan terhadap penegakan hukum," tegasnya. 1  Pernyataan MUI ini kemudian menjadi legitimasi yang kuat untuk melakukan demo dalam jumlah besar di berbagai daerah, khususnya di Jakarta. Di bawah komando Front Pembela Islam dan ormas-ormas lainnya yang berafiliasi dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) tercatat tiga kali melakukan demo yang dikenal dengan aksi bela Islam: aksi bela Islam jilid pertama pada 14 Oktober 2016, aksi bela Islam jilid kedua pada 4 November 2016 dan aksi bela Islam jilid ketiga pada 2 Desember 2016. Banyak orang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia rela  berbondong-bondong datang ke Jakarta demi aksi ini. Meskipun demikian, banyak juga cendekiawan Muslim yang menilai bahwa ucapan Ahok sebenarnya tidak menista agama Islam. Jadi, perdebatan tentang makna dari Surah Almaidah itu sendiri juga menimbulkan mutitafsir yang beragam di antara para ulama Islam sendiri. Beberapa waktu kemudian Ahok ditetapkan menjadi tersangka oleh polisi. Status “tersangka penista agama” rupanya juga berdampak pada elektabilitas Ahok dalam  pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Tidak hanya sampai di situ, tindakan yang dilakukan oleh Ahok sangat berdampak luas di kalangan masyarakat Jakarta sendiri terutama yang melibatkan simpatisan atau pendukung masing-masing 1   https://metro.sindonews.com/read/1146336/170/resmi-mui-menyatakan-ahok-lakukan-penistaan-agama-1476183005  diakses pada 10 Desember 2017, 20:10.  5 calon pada saat itu. Kejadian yang cukup menjadi perhatian publik adalah ketika di  beberapa kesempatan warga menolak kedatangan Ahok dan pasangannya untuk melakukan kampanye. Berbagai spanduk yang intinya mengatakan penolakan terhadap kedatangan penista agama terpampang di beberapa tempat. Bahkan, Mesjid sebagai tempat ibadah pun tidak lepas dari itu. Selain disampaikan dalam berbagai ceramah, ada  beberapa Mesjid yang sengaja menuliskan spanduk bernada ancaman: “  Mesjid ini menolak mensholatkan jenazah pendukung penista agama” . Salah satu warga yang menjadi korban adalah seorang nenek bernama nenek Hindun yang jenazahnya ditolak di sholatkan di Masjid karena diketahui ia dan keluarganya adalah pendukung ahok. 2  Puncak dari semua rangkain kasus ini adalah selain kalah dalam pemilihan Gubernur,  pada 9 Mei 2017, Ahok divonis 2 tahun penjara. C.   PANDANGAN BOURDIEU TENTANG KEKERASAN SIMBOLIK Pierre Bourdieu 3  merupakan seorang sosiolog dan antropolog Prancis. Dalam  banyak kesempatan, Bourdieu banyak berbicara tentang hubungan antara pengalaman dan sejarahnya sebagai pribadi dan proyek intelektualnya. 4   “Sesungguhnya tiada hentinya saya selalu terheran -heran dengan apa yang disebut  paradox doxa: yaitu fakta bahwa tatanan dunia sebagaimana adanya itu secara  grosso mundi  ditaati, meskipun tatanan dunia itu hadir dengan makna-maknanya yang unik dan terlarang, dalam pengertian denotasi maupun kiasan, dengan kewajiban-   2   http://news.liputan6.com/read/2882270/jenazah-nenek-hindun-ditelantarkan-warga-setelah-pilih-ahok   diakses pada 10 Desember 2017, 20:30 3  Pierre Felix Bourdieu dilahirkan Denguin, sebuah daerah kecil di wilayah Bearn di Pyrenees-Atlantiques (Barat Daya) Prancis pada 1 Agustus 1930. Ayahnya seorang karyawan di Kantor Pos Prancis, di samping juga bekerja sebagai seorang petani. Bourdieu tamat dari sebuah SMA bernama Lycée Louis Le Grand . Setelah itu mengambil  jurusan filsafat di Ecole Normale Supérieure , sebuah universitas prestisus bagi calon intelektual di Perancis. Setelah tamat, ia menjadi pengajar, asisten Raymond Aron serta menyunting serial " Le Sens Commun".  Ia juga pernah berkarir di Aljazair ketika menerima mandat militer. Ada dugaan bahwa di sanalah ia tertarik dengan ilmu sosiologi terlebih ketika ia melakukan studi etnografi pada petani di Kabylia. Atas berbagai karya yang dia hasilkan, banyak kalangan menobatkannya sebagai salah satu sosiolog penting di paruh abad ke-20. Bourdieu meninggal akibat kanker paru-paru pada 23 Januari 2002 di Paris. Selengkapnya lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Pierre_Bourdieu   4  Richard Jenkins (terj. Nurhadi), Membaca Pikiran Pierre Bourdieu, (Yogyakarta: Kreasi Wacana Offset, 2010), h.7
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x