Presentations

WUJUD SATUAN LINGUAL PADA PAPAN PETUNJUK OBJEK WISATA DI YOGYAKARTA (Lingual Unit Form on Signboard of Tourism Object in Yogyakarta)

Description
ABSTRAK Bahasa pada papan petunjuk di kawasan objek wisata di Yogyakarta dapat dibahas dari satuan lingualnya. Masalah yang diteliti ialah wujud satuan lingualnya. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan linguistik deskriptif (struktural) dengan
Categories
Published
of 14
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  37 WUJUD SATUAN LINGUAL PADA PAPAN PETUNJUK OBJEK WISATA DI YOGYAKARTA (Lingual Unit Form on Signboard of Tourism Object in Yogyakarta) Oleh/ by Wening Handri Purnami Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta Jalan I Dewa Nyoman Oka Nomor 34, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta Pos-el: weninghp@gmail.com *) Diterima: 9 September 2018, Disetujui: 11 November 2018 ABSTRAK Bahasa pada papan petunjuk di kawasan objek wisata di Yogyakarta dapat dibahas dari satuan lingualnya. Masalah yang diteliti ialah wujud satuan lingualnya. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan linguistik deskriptif (struktural) dengan jenis penelitian kualitatif. Berdasarkan satuan lingualnya ada petunjuk yang berupa kata, frasa, kalimat, dan wacana. Petunjuk yang berupa kata mengandung informasi yang lebih jelas. Satuan lingual kata itu sering dilengkapi dengan kata lain sebagai penjelas. Papan petunjuk yang berupa frasa ada yang berkonstruksi endosentris atributif. Papan petunjuk yang berupa kalimat pada umumnya merupakan kalimat perintah larangan. Papan petunjuk yang berupa wacana  berisi ajakan, pengumuman, dan imbauan. Kata kunci : papan, petunjuk, satuan, lingual, kata  ABSTRACT The language on the signboard in the tourist area in Yogyakarta can be discussed from the lingual unit. The problem researched is the lingual unit form. This study uses a qualitative descriptive approach, with structural theory. Based on the lingual unit, there are instructions in the form of words, phrases, sentences, and discourses. The instructions in the form of words contain clearer information. The word lingual unit is often equipped with other words as explanatory. A signboard in the form of phrase has an attributive endocentric construction. The signboard in the form of sentences is generally a sentence of  prohibited orders. A signboard in the form of discourse contains invitations, announcements, and appeals. Keywords: board, instructions, unit, lingual, word PENDAHULUAN Penelitian ini merupakan bagian dari  penelitian tim yang dilakukan Nardiati, dan kawan-kawan dengan judul “Penggunaan Bahasa Indonesia pada Papan Petunjuk di Objek Wisata Daerah Istimewa Yogyakarta” (2018). Penelitian ini difokuskan pada wujud satuan lingual pada papan petunjuk objek wisata. Yang dimaksud dengan istilah  petunjuk adalah (1) sesuatu (tanda, isyarat) untuk menunjukkan, memberi tahu; (2) ketentuan yang memberi arah atau bimbingan  bagaimana sesuatu harus dilakukam (KBBI, 2008: 1505). Adapun yang dimaksud luar ruang  adalah daerah,  38 tempat, dan sebagainya yang tidak merupakan bagian dari sesuatu itu sendiri; ‘ruang terbuka’ (KBBI, 2008 : 843). Dengan demikian, jelas bahwa yang dikaji dalam penelitian ini ialah  bahasa yang digunakan untuk memberi tahu tentang sesuatu harus dilakukan. Hal itu ditulis pada media komunikasi di kawasan objek wisata di Yogyakarta. Penelitian ini penting dilakukan karena bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu umum,  penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009, Pasal 38). Bahasa Indonesia yang digunakan pada papan  petunjuk objek wisata berdasarkan satuan lingualnya ada petunjuk yang  berupa kata, frasa, dan kalimat. Sebagai ilustrasi, dijumpainya papan petunjuk  bertuliskan “BUKA”, “TIKET”, “LOKET”, “KASIR”, dan sebagainya. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa kata buka, tiket, loket  , dan kasir   sebagai papan petunjuk pada tempat wisata selalu berhubungan. Kata buka  digunakan untuk memberi tahu  bahwa loket   pada objek wisata itu sudah dibuka. Selanjutnya ada kata tiket  . Kata itu memberi petunjuk bahwa untuk memasuki lokasi wisata, pengunjung harus membeli tiket di tempat yang  bertuliskan kata tiket  . Meskipun hanya digunakan satu kata tiket, orang sudah tahu bahwa tempat itu merupakan tempat untuk membeli tiket. Kata-kata yang lengkap tentu saja akan ditulis tempat pembelian tiket  . Di samping kata tiket  , ada kata loket  . Kata itu memberi petunjuk bahwa tempat yang bertuliskan kata itu merupakan tempat untuk membeli tiket yang akan digunakan untuk memasuki lokasi wisata. Jika di tempat wisata ditemukan kata kasir  , berarti tempat yang ada tulisan kata itu merupakan tempat yang digunakan untuk membayar tiket yang sudah dibeli atau membayar pembelanjaan sesuatu di lokasi wisata itu. Berdasarkan latar belakang tersebut dapat diketahui bahwa pemakaian  bahasa Indonesia berdasarkan wujud satuan lingualnya menarik untuk diteliti. Dengan demikian, yang menjadi masalah dalam kajian ini adalah satuan lingual apa yang digunakan pada papan  petunjuk objek wisata. Adapun tujuan  penelitian ini ialah mendeskripsikan wujud satuan lingual pada papan  petunjuk objek wisata di Yogyakarta. Selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembinaan  bahasa Indonesia bagi pengelola objek wisata di Yogyakarta. Ruang lingkup penelitian ini ialah mencakupi satuan lingual fonem hingga satuan lingual wacana. Satuan lingual fonem terkait dengan lingkup  pengkajian ejaan. Kajian struktur melibatkan satuan lingual secara keseluruhan yang digunakan pada papan  petunjuk, baik berupa frasa atau kelompok kata, klausa, maupun kalimat. Semua itu sangat ditentukan oleh data yang ditemukan di lapangan. Objek sasaran dalam penelitian ini ialah penggunaan bahasa pada papan  petunjuk di kawasan objek wisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Yang dikaji ialah berbagai fenomena sosial  pada bahasa tulis yang dapat dilihat  pada media luar ruang (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2018: 8). Berkenaan dengan hal itu, dalam penelitian ini digunakan  pendekatan linguistik deskriptif struktural dengan jenis penelitian kualitatif. Selanjutnya, dalam teori struktural disebutkan bahwa bahasa dibangun dari berbagai unsur internalnya, yang terdiri atas satuan-satuan lingual berupa bunyi, fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat,  39  paragraf, dan wacana (Baryadi, 2015: 2). Struktur dasar bidang fonetik dan fonologi berupa bunyi. Struktur dasar  bidang morfologi berupa kata. Struktur dasar bidang kalimat atau sintaksis  berupa kata-kata. Struktur dasar bidang semantik berupa makna atau arti (Verhaar, 2012: 9). Satuan-satuan lingual tersebut ditentukan berdasarkan  perilakunya dan dianalisis berdasarkan ciri-ciri formal yang ada dalam bahasa. Setiap unsur yang membangun satuan lingual yang lebih besar itu dapat dijelaskan berdasarkan fungsi dan maknanya (Ramlan, 1982). Hal ini sesuai dengan paradigma fungsional yang berpandangan bahwa bahasa pada dasarnya dibangun atas bentuk dan makna. Bahasa mengemban fungsi representatif dan komunikatif (Sudaryanto, 1995: 47). Terkait dengan fungsi yang pertama, bahasa digunakan untuk melambangkan dan mengungkapkan gagasan atau pokok- pokok pikiran, sedangkan fungsi yang kedua, bahasa digunakan untuk menjalin komunikasi antara penutur satu dan yang lainnya. Berkenaan dengan hal itu terlibat di dalamnya tiga  pihak, yakni penutur atau pembicara, ihwal isi tuturan atau pembicaraan, dan mitra bicara atau mitra tutur. Ketiga aspek tersebut tercakup pada aspek eksternal sebagai pilar pembentuk  bahasa. Struktur bahasa cenderung mencerminkan struktur isi (Baryadi, 2007: 55). Bahasa Indonesia yang digunakan  pada papan petunjuk berupa simbol-simbol, baik bersifat verbal maupun campuran (verbal beserta tanda atau lambang). Sebagai fungsi representatif simbol-simbol bahasa yang digunakan merepresentasikan pokok-pokok pikiran  penulis selaku pihak pertama. Sebagai fungsi komunikatif, simbol-simbol  bahasa yag digunakan bermaksud memberi pesan tentang informasi tertentu kepada penerima selaku pihak kedua. Dalam hal ini pesan yang disampaikan berisi informasi-informasi sebagai petunjuk berbagai kepentingan  bagi wisatawan. Dalam penelitian ini juga digunakan pendekatan preskriptif. Maksudnya, di dalam penelitian ini diidentifikasi secara terperinci  penggunaan satuan kebahasaan yang tidak sesuai dengan kaidah yang dianjurkan. Sehubungan dengan itu, dalam penelitian ini selain memperhatikan penggunaan bahasa yang sudah normatif juga memperhatikan bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak normatif. Tarigan (1997: 143) membedakan kesalahan berbahasa dengan kekeliruan  berbahasa. Dengan menggunakan konsep kompetensi ( competence ) dan  performansi (  performance ) yang dikemukakan oleh Chomsky (1965), kesalahan berbahasa termasuk faktor kompetensi, sedangkan kekeliruan  berbahasa tergolong faktor performansi. Kesalahan berbahasa merupakan  penyimpangan pemakaian bahasa yang sistematis yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan pemakai bahasa tentang kaidah bahasa yang dipakai. Kekeliruan berbahasa merupakan  penyimpangan pemakaian bahasa yang tidak disengaja yang disebabkan oleh faktor kelelahan, keletihan, dan kurangnya perhatian. Kesalahan  berbahasa tidak bisa dibetulkan oleh  pemakai bahasa sendiri sebelum memahami kaidah bahasanya, sedangkan kekeliruan berbahasa dapat dibetulkan oleh pemakai bahasa sendiri. Dalam bahasa Inggris, kesalahan  berbahasa disebut error  , sedangkan kekeliruan berbahasa disebut mistakes . Sebagaimana lazimnya bahwa sebuah penelitian dilaksanakan melalui tiga tahapan proses, yakni penyediaan  40 data, analisis data, dan penyusunan hasil analisis data (Sudaryanto, 2015: 6  —  8). Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode simak terhadap  penggunaan bahasa pada papan nama di kawasan objek wisata di Yogyakarta. Di dalam metode ini digunakan teknik catat. Proses pelaksanaannya ialah dilakukan pengamatan, dilanjutkan dengan pemotretan terhadap  penggunaan bahasa pada papan  petunjuk objek-objek wisata. Data yang dipilih beragam umum, seperti yang lazim digunakan sebagai sarana komunikasi oleh masyarakat penutur secara umum (Poerwadarminta, 1979). Data yang sudah diperoleh ditransfer ke laptop dan selanjutnya diamati dan dicermati. Data kesalahan  penggunaan bahasa ini diinventarisasi, diseleksi, diidentifikasi, dan diklasifikasi berdasarkan substansi  permasalahan dalam penelitian. Data  pilihan yang sudah diklasifikasi dianalisis berdasarkan metode dan teknik penelitian. Data pilihan dianalisis dengan menggunakan metode agih. Alat  penentunya ialah bahasa yang menjadi objek penelitian itu sendiri (Sudaryanto, 2015: 18). Teknik analisis data menggunakan teknik bagi unsur langsung (BUL) dengan teknik lanjutan, substitusi, repetisi, delisi, permutasi, dan parafrasa. Selain itu, dalam  penelitian ini juga digunakan metode  padan. Alat penentunya ialah kenyataan yang ditunjuk atau diacu oleh bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 2015: 15). Dalam kaitan dengan analisis hubungan makna satuan lingual digunakan teknik pilah unsur penentu (PUP) (Sudaryanto, 2015: 26). Alatnya  berupa daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki si peneliti itu sendiri. Daya pilah itu juga disebut dengan istilah daya pilah referensial. Populasi  penelitian ini ialah bahasa yang digunakan pada papan petunjuk, utamanya pada objek wisata di Yogyakarta. Pertimbangannya ialah  bahwa pada kawasan wisata perlu adanya layanan untuk memberikan  petunjuk kepada para konsumen yang menikmati objek tersebut. Objek wisata yang ditunjuk sebagai sampel, yaitu Taman Pintar, Gembiraloka, Kota Gedhe, Kaliurang, Merapi Park, Museum Merapi, Taman Kaliurang, Mangrove, Goa Cemara, Taman Bermain Kidsfun, Bukit Becici, Sri Gethuk, dan Goa Kali Suci. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemakaian bahasa Indonesia pada  papan petunjuk di tempat wisata di Yogyakarta berdasarkan satuan lingualnya ditemukan satuan lingual yang berupa kata, frasa, kalimat, dan wacana. Keempat satuan lingual itu itu akan dipaparkan pada uraian berikut ini. Petunjuk Berwujud Kata Penggunaan bahasa Indonesia pada  papan petunjuk ada yang berupa kata. Arti kata dalam ilmu linguistik  bermakna satuan bahasa yang dapat  berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misalnya batu, rumah, datang ) atau gabungan morfem (misalnya  pejuang, mahakuasa, pancasila ). Satuan lingual yang berupa kata yang digunakan sebagai papan petunjuk di tempat wisata yang ditemukan pada kajian ini, yakni informasi, keluar, masuk, toilet, mushola, kantin, parkir, licin, laguna . (1)   INFORMASI  Kata informasi  pada suatu tempat wisata akan selalu ditemukan karena  pengunjung tempat wisata yang belum  41 mengenal tempat itu tentu saja akan  bertanya atau mencari tahu tentang situasi di lokasi itu. Jadi, dengan sebuah kata informasi  saja orang akan tahu  bahwa tempat yang bertuliskan kata itu merupakan tempat untuk memberikan  penjelasan bagi pengunjung yang memerlukan informasi yang berkaitan dengan lokasi wisata itu. Meskipun yang digunakan pada tempat itu hanya sebuah kata informasi , pengunjung sudah dapat memahami bahwa untuk mencari penjelasan sesuatu yang  berkaitan dengan lokasi wisata di situ dengan cara bertanya di tempat yang ada tulisan informasi . Sebenarnya akan lebih lengkap jika papan petunjuk itu dilengkapi dengan kata tempat   sebelum kata informasi  sehingga yang tertulis tempat informasi. (2)   KELUAR, MASUK Kata keluar dan  masuk   pada tempat wisata merupakan petunjuk bahwa  pengunjung harus melalui jalan itu jika akan memasuki lokasi wisata. Demikian  juga, kalau pengunjung hendak keluar dari lokasi wisata. Kata-kata itu akan lebih tepat jika ditulis dengan frasa  pintu masuk   dan frasa  pintu keluar  . (3)   TOILET Kata toilet   di tempat wisata menunjukkan bahwa tempat yang  bertuliskan toilet   merupakan tempat untuk buang air kecil ataupun besar  bagi para pengunjung lokasi wisata itu. Kata itu bisa juga dikatakan dengan frasa kamar kecil . Namun, dengan satu kata toilet   pada saat ini sudah dapat dipahami maknanya. Sebagai sebuah  papan petunjuk di tempat wisata, kata toilet   biasanya disertai tanda panah untuk memberikan petunjuk letak toiletnya. Pada umumnya untuk membedakan toilet yang digunakan untuk pria atau wanita, sesudah kata toilet   ditambah dengan kata wanita  atau  pria  sehingga penulisannya menjadi toilet wanita  atau toilet pria . (4)   MUSHOLA  Kata mushola  pada tempat wisata merupakan tempat untuk beribadah bagi orang Islam yang hendak menjalankan sholat lima waktu. Mushola merupakan tempat ibadah yang lebih kecil daripada masjid. Orang yang tidak mau meninggalkan sholatnya tentu saja akan mencari mushola di tempat wisata. Oleh karena itu, mushola di tempat wisata sangat diperlukan keberadaannya. Kata mushola  di lokasi wisata merupakan  papan petunjuk untuk beribadah para wisatawan yang beragama Islam.  Namun, penulisan kata itu akan lebih tepat jika ditulis musala . Penulisan kata mushala  atau mushola  dianggap tidak  baku. Penulisan yang baku ialah musala . (5)   KANTIN  Selain wisatawan perlu untuk  buang air kecil dan beribadah di lokasi wisata, tentu saja mereka yang merasa lapar atau haus perlu makan atau minum. Kata kantin  merupakan tempat orang berjualan makanan dan minuman. Jadi, kata kantin  pada lokasi wisata merupakan papan petunjuk bahwa tempat itu sebagai sebuah ruang atau  bangunan tempat orang dapat membeli makanan atau minuman. Sebenarnya dalam bahasa Indonesia ada kata kafetaria . Namun, pilihan kata kantin  di tempat wisata lebih tepat daripada kata kafetaria  ataupun frasa tempat makan dan minum. (6)   PARKIR
Search
Similar documents
View more...
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x