Homework

PENGARUH MODEL MIND MAPPING TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV

Description
PENGARUH MODEL MIND MAPPING TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV
Categories
Published
of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)   PENGARUH MODEL MIND MAPPING  TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV DI DESA SINABUN KECAMATAN SAWAN, KABUPATEN BULELENG Ni Pt Sumaraning 1 , Nym. Kusmariyatni 2 , I Gst Ngurahjapa 3 1 2 Jurusan PGSD, 3 Jurusan TP, FIP Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia Email: geck_sumar@yahoo.co.id 1 , nyomankusmariyatni@yahoo.co.id 2 , Ngrjapa_pgsd@yahoo.co.id 1   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Deskripsi hasil belajar IPS pada siswa kelompok eksperimen dengan menggunakan model M ind Mapping  . (2) Deskripsi hasil belajar IPS pada siswa kelompok kontrol dengan menggunakan model pembelajaran langsung (3) Perbedaan hasil belajar IPS yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan Model M ind Mapping   dengan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan Model Pembelajaran Langsung. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan rancangan  post-test only control group design . Sampel penelitian ini berjumlah 45 orang yang diambil dengan cara random sampling  . Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPS yang dikumpulkan dengan tes. Bentuk tes pilihan ganda yang telah divalidasi. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji-t). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Deskripsi hasil belajar IPS pada siswa kelompok eksperimen dengan menggunakan model M ind Mapping   menunjukkan skor rata-rata 21,4 berada pada kata gori sangat tinggi (2) Deskripsi hasil belajar IPS pada siswa kelompok kontrol dengan menggunakan model pembelajaran langsung menunjukkan skor rata-rata 13,44 (3) Terdapat perbedaan hasil belajar IPS yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model M ind Mapping   dengan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan Model pembelajaran Langsung siswa kelas IV sekolah dasar di Desa Sinabun. Perbedaan tersebut dilihat dari t hit  > t tab (t hit  = 5,55. > t tab  = 2,021). Berdasarkan temuan di atas, disimpulkan bahwa model M ind Mapping berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPS dibandingkan dengan model pembelajaran Langsung. Kata-kata kunci: Mind Mapping  , hasil belajar Abstract This study aims to find out:. (1) Description of IPS on Student learning outcomes with the experimental group using mind mapping model. (2) Description of IPS on student learning outcomes with a control group using a direct instruct instructional model. (3) Differences IPS significant learning outcomes between groups of students who learned with using Mind Mapping Model with a group of students who learned with using direct learning model. The study was quasi-experimental with a draft post-test only control group design. Sample size was 45 people who were taken by random sampling. The data collected in this study is the result of social studies collected by the test. Form of test used is multiple choice that has been validated. Data were analyzed using descriptive statistical analysis techniques and inferential statistics (t-test). Results of this study showed that: (1) Description of IPS on student learning outcomes with the experimental group using Mind Mapping Model showed an average score of 21.4 is at the very high gori. (2) Description of IPS on student learning outcomes with a control group using a direct instructional model showed an average score of 13,44. (3) There are differences in the results of significant social studies between groups of students who learned with using Mind Mapping model with a group of students that learned to use the Direct Model  Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)   fourth grade students teaching elementary school in the village of Sinabun. The difference in views of thit> ttab (thit = 5.55.> Ttab = 2.021). Based on the above findings, it was concluded that of Mind Mapping model effect on learning outcomes than learning model IPS Direct Keywords: Mind Mapping, learning outcomes PENDAHULUAN Dewasa ini permasalahan pendidikan semakin kompleks, namun pemerintah selalu berusaha mengatasi permasalahan tersebut. Yang menjadi permasalahan pokok atau sering disebut dengan “issue central” dalam bidang pendidikan adalah masalah pemerataan dan kesempatan memperoleh pendidikan, masalah efisiensi, masalah efektifitas dan relevansi serta masalah management dan yang paling pokok adalah masalah-masalah mutu pendidikan. Untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh optimalnya suatu proses pembelajaran. Menurut Noechi Nasution (1994:5) bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu: (1) Faktor eksternal (luar). Faktor luar terdiri dari faktor lingkungan ( enviromental  ), dan faktor instrumental, sedangkan faktor instrumental meliputi kurikulum, program, sarana dan prasarana, biaya, faktor, administrasi serta guru. (2) Faktor internal (dalam). Faktor dalam meliputi kedaan psikologi umum dan kondisi panca indra, sedangkan keadaan psikologis meliputi minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi kreativitas siswa dalam pembelajaran dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh peserta didik setelah mengalami proses belajar dalam waktu tertentu yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setelah selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan. Hasil belajar dapat dilihat dari kemampuannya melakukan suatu kegiatan yang baru yang bersifat menetap. Hasil belajar dapat diukur dengan cara proses kerja, hasil karya, penampilan, rekaman dan tes. Hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut Sudjana, (1987) Belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan lain-lain aspek yang ada pada individu. Belajar merupakan segala proses atau usaha yang dilakukan secara sadar, sengaja, aktif. Sistematis dan integrative untuk menciptakan perubahan-perubahan dalam dirinya menuju kearah sempurna yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan serta perubahan yang terjadi bersifat kontinyu dan terarah. Marhaeni, (2013) Nurkencana dan Sunartana (1992 : 12) menyatakan “bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh pebelajar setelah mengalami proses belajar dalam  jangka waktu tertentu”. Pendapat ini menyatakan bahwa hasil siswa juga hasil guru. Dengan dihasilkannya hasil belajar siswa yang baik maka hal itu menunjukkan keberhasilan seorang guru dalam mengajar dan begitu pula sebaliknya, jika hasil belajar kurang baik maka guru tersebut kurang berhasil dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, perlu menggunakan model pembelajaran yang relevan, dengan berpaduan budaya mereka sendiri, agar tercipta pembelajaran yang lebih bermakna dan kondisi belajar yang oktimal bagi siswa. Namun belum semua sekolah memperhatikan hal tersebut sehingga siswa menjadi cepat bosan dan mengantuk dalam belajar di kelas, salah satunya SD di Desa Sinabun SD di Desa Sinabun merupakan salah satu sekolah yang masih mengalami permasalahan rendahnya hasil belajar siswa dalam proses belajar Ilmu  Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)   Pengetahuan Sosial (IPS). Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan pelajaran yang diajarkan di sekolah khususnya di SD berdasarkan kurikulum tahun 2004. Salah satu aspek pelajaran IPS adalah kecenderungan untuk berpikir secara persuasive. Dalam pelajaran IPS di tingkat SD pokok pikiran manusia, lingkungan adalah merupakan pusatnya. Menurut S. Nasution (dalam Daljoeni, 1997:9) “IPS adalah pelajaran yang merupakan suatu fungsi atau paduan dari sejumlah mata pelajaran sosial dan merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peranan manusia didalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek: Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Antropologi, Pemerintahan dan Psikologi Sosial.” Berdasarkan hasil observasi dan wawan cara yang dilakukan dengan kepala sekolah dan Guru kelas SD 1 sinabun mengenai bagaimana proses pembelajaran di kelas disampaikan bahwa: Tiap-tiap sekolah, tidak semua bisa mencapai kriteria ketuntasan minimal untuk setiap mata pelajaran. Selain karena kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa berbeda, juga bisa disebabkan oleh strategi dalam menyampaikan materi pelajaran. Siswa dalam memahami materi biasanya diberikan penjelasan (ceramah) di awal pembelajaran dan dilanjutkan dengan menyelesaikan soal-soal yang ada di LKS. Hal ini terus berlangsung kemungkinan disebabkan oleh faktor guru yang terbilang sudah memasuki usia yang tidak produktif lagi dan strategi pengajarannya yang kurang bervariasi Selain itu, ada beberapa hal yang harus dicermati dalam pembelajaran di kelas seperti mengingat pembelajaran baik dalam ulangan harian, Ujian tengah semester ataupun ulangan umum, siswa biasanya menghapal materi Pembelajaran yang akan diujikan. Penyampaian materi pelajaran di kelas biasanya lebih banyak terpaku pada buku dan kurang mengaitkan dengan situasi dunia nyata dalam kehidupan keseharian siswa. Metode ceramah masih mendominasi kegiatan pembelajaran, sehingga banyak siswa yang mengantuk bahkan kadang-kadang untuk menghilangkan kantuk siswa banyak yang ijin ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Fenomena-fenomena tersebut membuat guru dituntut untuk menyiasati dan mencermati keadaan tersebut agar pembelajaran di kelas lebih efektif dan optimal. Langkah awal yang harus dilakukan guru yaitu dengan memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan menyesuaikan dengan keadaan siswa yang heterogen baik dari segi potensi dan kemampuan yang dimiliki masing-masing siswa beragam. Pada penelitian ini digunakan model mind mapping   yang berlandakan pada pandangan konstruktivisme, dimana lebih menekankan pada aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Mind mapping   merupakan satu teknik mencatat atau mengorganisasikan dan menyajikan konsep, ide, tugas atau informasi lainnya dalam bentuk diagram radial-hierarkis non-linier yang mengembangkan gaya belajar visual. Selain itu mind mapping   pada umumnya menyajikan informasi yang terhubung dengan topik sentral, dalam bentuk kata kunci, gambar (simbol), dan warna sehingga suatu informasi dapat dipelajari dan diingat secara cepat dan efisien. Mind mapping   juga mampu untuk meningkatkan potensi, kapasitas, dan kemampuan otak seseorang. Sehingga dapat meningkatkan kreativitas anak. Dengan menggunakan model Mind mapping   maka kita akan dipermudah dalam mengatur segala fakta dan hasil pemikiran. Hal ini sejalan dengan pendapat Tony Buzan (2008:4) dalam buku pintar mind mappingnya   menyatakan, “ mind mapping   adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengamb il informasi itu ketika dibutuhkan”. Cara ini adalah cara yang kreatif dan efektif dalam membuat catatan sehingga boleh dikatakan mind mapping   benar-benar memetakan pikiran anda. Mind mapping    juga merupakan peta perjalanan yang hebat bagi ingatan, dengan memberikan kemudahan kepada kita dalam mengatur segala fakta dan hasil pemikiran dengan cara sedemikian rupa, sehingga cara kerja alami otak kita dilibatkan dari awal. Ini  Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)   berarti bahwa upaya untuk mengingat (remembering)  dan menarik kembali (recalling)  informasi dikemudian hari akan lebih mudah, serta lebih dapat diandalkan daripada menggunakan pencatatan tradisional. Hal itu juga dibenarkan oleh Eric Jensen yang menyatakan, mind mapping   merupakan teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Mind mapping sangat bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang diberikan secara verbal. Peta pikiran (mind mapping)  adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual. Peta pikiran memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Dengan adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima. Peta pikiran yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi setiap harinya. Hal ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiap harinya. Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas saat proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran. Tugas guru dalam proses belajar adalah menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan mind mapping.   Mind Mapping   merupakan sebuah media bagi pembelajaran untuk mentransformasikan hasil observasi siswa kedalam bentuk dan prinsip yang kreatif tentang alam dan lingkungan mereka. Model Mind Mapping   merupakan model pembelajaran yang memadukan antara berbagai sugesti positif dan interaksinya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang. Model pembelajaran ini menekankan pada penciptaan lingkungan belajar dan perancangan pengalaman belajar yang mengintegrasikan kreativitas anak sebagai bagian dari proses pembelajaran. Model Mind Mapping   memberikan kesempatan kepada siswa belajar sesuai dengan kemampuannya, bagaimana mengunakan sebuah proses interaktif untuk menulis apa yang mereka ketahui, mengidentifikasi apa yang mereka ingin ketahui, mengevaluasi apa yang bisa dilakukan oleh siswa. Hal ini dilakukan dengan cara menggali pengetahuan awal siswa terlebih dahulu, dan memanfaatkan pengetahuan tersebut sebagai pijakan dalam pembelajaran selanjutnya sehinga peran guru hanya sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran yang memudahkan siswa dalam menangkap makna dari materi yang dibelajarkan.  Ada tujuh langkah dalam membuat mind mapping  , diantaranya: Tony Buzan (2004 : 21-23) (1) Mulai dari bagian tengah permukaan secarik kertas kosong yang diletakkan dalam posisi memanjang. Karena memulai dari tengah-tengah permukaan kertas akan memberikan keleluasaan bagi cara kerja otak untuk memancar keluar kesegala arah, dan mengekspresikan diri lebih bebas dan alami. (2) Gunakan sebuah gambar untuk gagasan sentral. Gambar yang letaknya di tengah-tengah akan tampak lebih menarik, membuat anda lebih terfokus, dapat membantu anda memusatkan pikiran dan membuat otak semakin aktif dan sibuk. (3) Menggunakan banyak warna pada seluruh mind mapping  . Bagi otak, warna-warni tidak kalah menariknya dari gambar. Warna membuat mind mapping   tampak lebih cerah dan hidup, meningkatkan kekuatan dahsyat bagi cara berpikir kreatif, dan ini juga adalah hal yang menyenangkan. (4) Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar sentral, dan hubungkan cabang-cabang tingkat kedua dan ketiga pada tingkat pertama dan kedua, dan seterusnya. Seperti yang telah kita ketahui, otak bekerja dengan menggunakan asosiasi. Dengan menghubungkan cabang-cabang kita akan  jauh lebih mudah dalam memahami dan mengingat. (5) Buat cabang-cabang  mind mapping   dengan berbentuk melengkung bukannya garis lurus. Karena, jika semuanya cabang mind mapping   dibubat garis lurus, maka ini akan cepat membuat otak anda menjadi bosan. Cabang-cabang yang melengkung dan hidup seperti cabang-cabang sebuah pohon jauh lebih menarik dan indah bagi mata. (6) Gunakan  Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)   satu kata kunci per baris. Karena kata kunci tunggal akan menjadikan mind mapping   lebih kuat dan fleksibel. Setiap kata tunggal atau gambar tunggal seperti pengganda, yang melahirkan sendiri rangkaian asosiasi dan hubungan yang khusus. Bila menggunakan kata-kata tunggal, setiap kata lebih bebas, dan oleh karena itu lebih mudah tercetus atau terpicu gagasan-gagasan dan pikiran-pikiran baru. Ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat cenderung akan mengurangi efek pemicu tersebut. Mind mapping   yang mempunyai banyak kata-kata kunci di dalamnya adalah seperti tangan yang memiliki jemari yang semuanya bebas bergerak dengan lincah. Mind mapping   yang berisi ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat adalah seperti tangan yang jemarinya yang diikat. (7) Gunakan gambar di seluruh mind mapping  . Karena setiap gambar, seperti gambar sentral juga bernilai seribu kata. Jadi apabila kita hanya memiliki 10 gambar saja pada mind mapping  , ini sudah sama dengan 10.000 kata yang terdapat dalam suatu catatan Berdasarkan uraian di atas, untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS dilaksanakan penelitian yang berjudul ”Pengaruh Model Mind Mapping   Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014” . METODE Penelitian ini merupakan penelitian exsperimen semu ( quasi eksperiment) karena   tidak semua variabel dan kondisi variabel dapat diatur dan di kontrol secara ketat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sinabun Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014. Desain penelitian ini adalah  posttest-onl design . dapat di lihat pada Tabel 01 berikut. Tabel 01. Desain Penelitian Non-equivalen    Post Test Only Control Desain Kelompok Perlakuan Post-Test E  X    O 1  K -   O 2  (Sugiyono, 2010:85) Keterangan: E : Kelompok Eksperimen K : Kelompok Kontrol X : Perlakuan, yaitu penerapan model Mind Mapping   O 1 :  post-test   kelas eksperimen O 2 :  post- test   kelas control Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV di Desa Sinabun Kecamatan Sawan Kabupaten buleleng ahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari tiga Sekolah Dasar, yaitu SDN 1 Sinabun, SDN 2 Sinabun, SDN 3 Sinabun. Sebelum dilakukan pemilihan sampel penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji kesetaraan terhadap populasi dengan menggunakan analisis uji-t separated varian . Berdasarkan hasil analisis dengan uji-t pada taraf signifikansi 5% dengan kriteria pengujian  jika t hitung  > t tabel , maka H 0  ditolak dan H 1  diterima, sehingga kelompok tidak setara. Jika t hitung   ≤ t tabel , maka H 0  diterima dan H 1  ditolak, sehingga kelompok setara. Hasil uji-t dua pihak menghasilkan nilai t hitung  yang bergerak dari 0,02 sampai dengan 0,04, menghasilkan nilai t hitung  < t tabel (1,99), sehingga semua pasang kelas dinyatakan setara Dalam penelitian ini menggunakan 2 sampel 1 sebagai kelompok exsperimen dan satu sebagai kelompok kontrol. Jadi untuk mendapatkan sampel penelitian akan dilakukan random pada semua sekolah yang dinyatakan setara. Hasil randomisasi menunjukkan bahwa kelas IV di SD 1 Sinabun dinyatakan sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan
Search
Similar documents
View more...
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks