Education

RUBRIK PARENTING MAJALAH HIDAYATULLAH

Description
1. SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com68 Yuk, Suami dan Istri Saling Menguatkan usrah Oleh Abdul Ghofar* Sabar dan syukur menjadi kunci kebahagiaan keluarga.…
Categories
Published
of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  • 1. SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com68 Yuk, Suami dan Istri Saling Menguatkan usrah Oleh Abdul Ghofar* Sabar dan syukur menjadi kunci kebahagiaan keluarga. Dengannya keluarga bisa mengggapai pintu surga kelak. S elama ini Nani merasa sudah menjadi istri yang banyak bersabar. Ia dijodohkan oleh orangtuanya dengan suami berwajah pas-pasan dan gaji yang juga pas-pasan. Pokoknya semua serba tak ideal menurut cita-citanya semasa gadis dulu. Suatu ketika, sang suami pulang tergesa-gesa. Ia membawa uang yang lumayan banyak sebagai bonus dari kantornya. Uang tersebut masih utuh. Hanya disimpan dalam amplop dan berbungkus plastik hitam. Rupanya suami Nani harus berkemas kembali, ada urusan di luar kota yang hendak diselesaikan. Beberapa hari kemudian, suaminya pulang dan menanyakan uang yang diberikan dulu. “Dik, di mana uang yang ayah titip kemarin?” “Uang yang mana?” “Uang dalam plastik hitam yang ayah titip sebelum pergi.” Sontak Nani tersadar. Ia segera mencari ke setiap sudut rumah. Usai seharian mencari, ia malah kian bingung dan penat. Tiba- tiba ia teringat sesuatu. Ia pernah membersihkan rumah dan membuang sampah-sampah dalam plastik. “Ayah, aku minta maaf. Uang yang ayah titipkan ikut terbuang ke tempat sampah.” Suasana hening sejenak. Suami Nani memilih diam. Meski tersentak kaget tapi ternyata ia tidak marah. “Berarti uang itu belum rezeki keluarga kita,” ujarnya datar sambil tersenyum. Sejak itu, jika selama ini Nani merasa hanya bisa bersabar dengan kondisi pas-pasan suaminya, kini ia bersyukur memiliki suami yang penyayang dan tidak mudah marah. Nani sadar, ia merasa layak dimarahi atas keteledoran sikapnya menyimpan duit. Sebaliknya, suami Nani kini harus bersabar atas istri yang pelupa dan teledor. Selama ini ia hanya bersyukur karena mempunyai istri cantik dan suka merawat tubuhnya. Minta yang Sesuai, Bukan Sempurna Imam al-Ghazali berkata, sabar itu separuh keimanan dan setengahnya lagi adalah syukur. Keimanan seseorang berbanding lurus dengan ujian yang Allah Ta’ala berikan. Ujian bisa berwujud kenikmatan yang sejalan dengan kemauan, bisa pula berupa musibah atau hal yang tidak disukai. Inilah keajaiban orang beriman yang mesti mampu mengelola dua “kepang sayap”: bersyukur dan bersabar. Nabi bersabda, “Sungguh ajaib urusan orang beriman. Sesungguhnya pada setiap urusannya, baginya ada kebaikan dan perkara ini tidak berlaku melainkan kepada orang mukmin. Sekiranya dia diberi dengan sesuatu yang menggembirakan lalu dia bersyukur maka kebaikan baginya. Dan sekiranya apabila dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar maka kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim). Dalam suatu anekdot, seorang santri sedang berkonsultasi kepada sang ustadz. Ia minta dicarikan jodoh yang ideal menurut sangkaannya: cantik, kulit putih, postur tinggi, keturunan orang baik, dan hafizhah 30 juz (penghafal al-Qur’an). Ustadz itu lalu menjawab, “Alhamdulillah, ada seorang santri putri yang persis sama dengan kriteria idamanmu. Cuma satu saja kekurangannya.” “Apa satu kekurangan itu, Ustadz?” “Eh, tapi jangan tersinggung ya!” “Tidak Ustadz, insya Allah saya siap menerima satu kekurangan tersebut.” “Kekurangannya, santri putri itu belum mau menerima kamu.” “Kenapa Ustadz?” santri itu mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Karena kamu sendiri belum seideal dia, sebagai penghafal 30 juz.” Manusia cenderung mengejar sesuatu yang disenangi dan bersyukur jika hal itu sesuai dengan keinginannya. Termasuk dalam perkara mencari calon
  • 2. AGUSTUS 2015/SYAWAL 1436 69 Jendela keluarga ketika ia beruntai dengan ragam warna. Ada kalanya sang suami yang mencintai istrinya dengan sepenuh hati justru tiba-tiba jengkel dan tak suka dengan perbuatan istrinya. Ada masa ketika perbedaan bahkan konflik itu menyeruak dalam keluarga. Tiba-tiba something is error dan miss komunikasi terjadi begitu saja tanpa ada yang menginginkannya. Dibanding yang lain, manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Namun tak seorang pun yang sempurna perbuatannya, kecuali Rasulullah yang telah dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa. Kekurangan yang ada bukan untuk dikeluhkan atau sebagai alasan tak mau bersyukur kepada Allah. Ia adalah lahan untuk menyempurnakan keimanan dengan kesabaran. Sebab, terkadang kekurangan itu bersifat bawaan yang tak mudah mengubah atau menghilangkannya. Sabar dan syukur adalah sekepang sayap yang memberi energi keteguhan, optimisme dan keyakinan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Keduanya menjadi kunci kebahagiaan keluarga. Dengannya keluarga tersebut bisa menggapai pintu surga kelak. Sebaliknya, tanpa dua sayap tersebut, keluarga itu hanya mampu mengeluh dan mengeluh. Mereka merasa seolah hidup ini hanya untuk mengeluh saja. Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah Balikpapan suami atau istri. Selalu berharap yang ideal terhadap pasangan hidupnya. Bagi seorang Muslim, membangun keluarga bermula dari doa dan harapan terhadap jodoh yang diinginkan. Sebenarnya, harapan di atas terbilang wajar. Namun, itu belum tentu ada atau mungkin tersedia tapi tidak sesuai dengan kondisi kita sendiri. Untuk itu, seorang Muslim harus selalu membenahi diri, dan tidak melulu menuntut hal yang sempurna dari pasangan sedangkan dirinya luput dari usaha menjadi sosok yang sempurna. Sejatinya, pasangan yang ideal adalah pasangan yang mampu mensyukuri kelebihan pasangannya dan sanggup menyabari kekurangan pasangannya. Sebab, dua insan bisa berpasangan ketika ada simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan, kerja sama, melengkapi dan memahami. Sehingga ada harmonisasi dalam menjalin hubungan dalam rumah tangga. Sekepang Sayap Ibarat seekor burung yang terbang ke angkasa dengan nyaman dan indah, karena dua sayapnya yang saling menguatkan dan harmonis antara sayap kanan dan kiri. Meski diterpa angin kencang burung itu bisa bertahan dengan kedua sayapnya yang kokoh. Pun demikian bagi orang beriman, sepatutnya “dua sayap”; sabar dan syukur itu difungsikan secara maksimal dalam mengarungi kehidupan di dunia, khususnya di dalam sebuah keluarga. Keseimbangan sayap burung di atas menjadi pelajaran jalinan kerja sama yang harmonis antara suami dan istri. Pasangan suami atau istri bukan malaikat atau bidadari yang sempurna dan tidak memiliki cacat. Suami dan istri adalah sepasang manusia biasa yang masing-masing memiliki segudang kelebihan dan kekurangan. Setali tiga uang dengan kehidupan di dunia, ia selalu menyisakan masalah dan ujian yang tiada habisnya. Sebagaimana tak ada keinginan yang langsung terkabul semuanya. Sebab, kita semua masih di dunia yang sarat dengan mujahadah dan perjuangan. Laksana pelangi yang indah, kehidupan keluarga justru indah foto:MUHABDUSSYAKUR/suarahidayatullah Suami dan istri adalah sepasang manusia biasa yang masing- masing memiliki segudang kelebihan dan kekurangan.
  • 3. SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com70 Menjawab Gugatan Kaum Feminis Soal Nusyuz mar’ah Adanya istri yang nusyuz, karena para suami tidak mempunyai sifat qawwam (kepemimpinan). A n-Nisa, salah satu surat yang sering digugat oleh kaum feminis. Lebih spesifik lagi, mereka menggugat salah satu ayat dalam surat ini, yaitu ayat 34 (selain ayat tentang waris). Ayat ini, kata mereka, mendukung kekerasan terhadap perempuan, terutama pada ‘wadhribuu hunna’ (dan pukullah mereka) pada baris keempat.  Ibnu Katsir memaparkan dalam tafsirnya, nusyuz dalam surat an-Nisa artinya tinggi diri; wanita yang nusyuz, ialah wanita yang bersikap sombong terhadap suaminya, tidak mau melakukan perintah suaminya, berpaling darinya, dan membenci suaminya. Pada ayat 34 sebelum kata wadhribuu hunna, Allah telah menyuruh para suami untuk memperlakukan istrinya yang nusyuz dengan menasihatinya secara baik-baik terlebih dulu, “Kita harus utamakan nasihat,” jelas dosen Fahmu Nusus Qur`an dan Sunnah Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dr Abdul Kholiq Hasan El-Qudsy yang merupakan alumni Islamic Science University, Sudan, belum lama ini. Kemudian, apa indikasi dari nusyuz tersebut? Yaitu adanya ketidaktaatan atau meninggalkan kewajiban sebagai istri. Menurut Hasan, adanya istri yang nusyuz karena para suami tidak mempunyai sifat qawwam (kepemimpinan), “Jika laki-laki punya sifat qawwam,  tidak ada perempuan yang nusyuz,” terangnya lagi. Sifat qawwam di sini dalam Miitsaq al-Usroh (Piagam atau Tatanan Keluarga) yang ditulis oleh para ulama di Timur Tengah dan Afrika, salah satunya foto:MUHABDUSSYAKUR/suarahidayatullah Oleh Sarah Larasati Mantovani*
  • 4. AGUSTUS 2015/SYAWAL 1436 71 Jendela keluarga memukul istrinya bagaikan unta, yaitu dia memukulnya pada pagi hari, tetapi kemudian pada malam harinya mencampurinya.” Apabila tujuan telah tercapai, tiga tindakan tersebut harus dihentikan. Karena tujuan yang berupa ketaatan inilah yang memang diinginkan, yaitu ketaatan yang positif, bukan ketaatan karena tekanan. Karena ketaatan semacam ini tidak layak untuk membangun institusi rumah tangga yang merupakan basis jamaah masyarakat. Sayyid Quthb menafsirkan, melakukan tiga tindakan tersebut setelah terwujudnya ketaatan istri kepada suami adalah perbuatan aniaya dan melampaui batas, seperti mencari- mencari cara untuk menyusahkan istri. Harus Ada Pemimpin Mengenai otoritas pemimpin sen­diri pun ada ketentuannya, yaitu tidak merendahkan, tidak menzalimi, dan tidak menyalahgunakan. Lebih lanjut lagi dalam Miitsaq al-Usroh, “Se­orang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga, karena keluarga me­rupakan unit sosial (gambaran kecil sebuah masyarakat) yang terdiri dari beberapa orang.  Maka harus ada kepemimpinan agar keluarga tidak rusak dan hancur. Seorang laki-laki  layak untuk bertanggung jawab terhadap berbagai per­ma­sa­la­ han­nya karena fitrahnya, ta­biat tubuh dan jiwanya.  Bukan ke­pe­mim­pinan yang menaklukan atau monopoli dan pelampiasan, tapi ia adalah tanggung jawab  dan  beban dalam memelihara keluarga dan menjaganya.” Sehingga laki-laki atau suami yang saleh jika mendapati bidadari dunianya berbuat ketaatan dan dapat menyejukkan dirinya, ia akan bersyukur. Namun jika ia mendapati istrinya tidak melakukan ketaatan, ia tidak akan berbuat zalim apalagi sampai melakukan kekerasan yang sesungguhnya sangat dilarang dalam Islam. Peneliti Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia bukanlah untuk meyakiti, menyiksa apalagi memuaskan diri. Juga tidak boleh dilakukan dengan keras dan kasar. Pemukulan yang dilakukan haruslah dalam rangka mendidik, yang harus disertai dengan rasa kasih sayang seorang pendidik, sebagaimana yang dilakukan seorang ayah terhadap anak-anaknya dan yang dilakukan guru terhadap muridnya. Semua tindakan ini juga tidak boleh dilakukan jika kedua pasangan berada dalam kondisi rumah tangga yang harmonis. Begitu pun Ibnu Katsir dalam tafsirnya, para suami boleh memukul istri dengan pukulan yang tidak melukai. Sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Shahih Muslim, Nabi bersabda saat haji wada. “Bertakwalah kepada Allah dalam urusan wanita, karena sesungguhnya mereka di sisi kalian merupakan penolong, dan bagi kalian ada hak atas diri mereka, yaitu mereka tidak boleh mempersilakan seseorang yang tidak kalian sukai menginjak hamparan kalian. Dan jika mereka melakukannya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukakan, dan bagi mereka ada hak mendapat rezeki (nafkah) dan pakaiannya dengan cara yang makruf.” Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu memukul hamba-hamba wanita Allah.” Lalu datanglah Umar kepada Rasulullah seraya berkata, “Kaum wanita sudah berani menentang suaminya.” Rasulullah kemudian memberikan izin untuk memukul mereka. Setelah itu, banyak wanita yang mengelilingi keluarga Rasulullah dengan mengeluhkan tindakan suami mereka. Kemudian Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya keluarga Muhammad telah dikelilingi oleh kaum wanita yang banyak, yang mengeluhkan tindakan suami mereka.” Maka, mereka (suami- suami semacam itu) bukanlah orang- orang yang baik di antara kamu.” Rasulullah juga bersabda, “Janganlah seseorang di antara kamu Syaikh Yusuf Qaradhawi, menyebutkan empat unsur sifat kepemimpinan, yaitu syura (musyawarah), perawatan, perlindungan, dan nafkah. Ada Tiga Tahapan Memberi nasihat kepada istri, terang Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fii Zhilalil Qur`an merupakan tindakan pertama yang harus dilakukan oleh pemimpin dan kepala rumah tangga. Nasihat adalah bagian dari pendidikan, yang memang senantiasa dituntut kepada suami dalam semua hal. Tetapi dalam kondisi khusus ini, ia harus memberikan pengarahan tertentu untuk sasaran tertentu pula, yaitu mengobati gejala-gejala nusyuz sebelum menjadi genting dan berakibat fatal. Namun jika nasihat yang diberikan ti­dak mempan juga, maka dalam kon­di­si seperti ini ditangani dengan tin­da­kan kedua dengan memisahkan tem­pat tidur mereka. Menurut Sayyid Quthb, ada syarat-syarat tertentu yang ha­rus dipenuhi suami apabila ingin me­­mi­sahkan tempat tidur istrinya. Per­­ta­­ma, pemisahan tidak dilakukan se­cara terang-terangan di luar tempat pa­sa­ngan suami-istri tersebut biasa berduaan. Kedua, tidak melakukan pemisahan di depan anak-anak karena akan me­nim­bul­kan dampak negatif bagi mereka. Ketiga, tidak melakukan pe­mi­sa­han dengan pindah ke orang lain, menghinakan istri atau menjelek- jelekkan kehormatannya dan harga diri­ nya karena yang seperti itu akan me­ nambah konflik. Tujuan dari pemisahan tempat tidur ialah untuk mengobati nusyuz, bukan untuk merendahkan istri dan merusak anak-anak. Jika tindakan kedua ini tidak ber­ hasil juga, masih ada tindakan terakhir yang sering disalahpahami maksudnya. Tindakan terakhir ini, terang Sayyid Quthb, walaupun lebih keras tapi lebih kecil dampaknya dibandingkan dengan kehancuran institusi rumah tangga yang disebabkan oleh nusyuz. Pemukulan yang dilakukan
  • 5. AGUSTUS 2015/SYAWAL 1436 67 Jendela Keluarga celah kepercayaan diri anak, juga membangun keterampilan sosialnya. Apa yang perlu dilakukan jika akan kedatangan tamu? Jika tamunya sudah memberi tahu, penting mem­ beri informasi pada anak bahwa akan kedatangan tamu. Akan lebih baik lagi jika kita dapat memberi gambaran ten­tang sosok tamu yang akan datang. Jika kita mampu me­mancing rasa ingin tahu anak maka anak bukan saja lebih siap namun juga lebih bersemangat menghadapi tamu. Sampaikan pada anak jika tamu datang maka ia akan di­perkenalkan, lalu ibu atau ayah akan memerlukan wak­ tu untuk berbicara dengan tamu. Jika perlu sesuatu bisa me­nunggu atau berbicara baik-baik. Menarik apa yang diceritakan Anas yang men­dam­ pi­ngi Rasulullah sejak ia berusia sepuluh tahun. Dari Anas, “Rasulullah mengunjungi sahabat-sahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak  mereka dan mengusap-usap kepala mereka.” Rasulullah mencontohkan saat bertamu se­ha­ rusnya anak mendapatkan perhatian dan sentuhan ter­­ lebih dahulu. Dengan demikian anak merasa bahwa diri­ nya juga orang yang penting dan layak dihormati. Jika anak merasakan pengalaman berkesan saat ke­da­tangan tamu, maka perilaku mereka akan baik selama ke­ da­ ta­­ngan tamu. Penulis buku serial catatan parenting Mendidik Karakter dengan Karakter foto:MUHABDUSSYAKUR/suarahidayatullah “Bu,kenapa ya anak saya kalau sedang ada tamu suka berulah. Yang bia­sa­ nya tidak naik-naik, tiba-tiba sudah meng­gelantung di teralis jendela. Mereka bolak-balik ambil kue buat tamu. Kadang minuman buat tamu di­ mi­­numnya. Atau mereka merengek meminta uang jajan. Semakin dilarang semakin menjadi-jadi. Mengapa de­mi­ kian ya? Saya suka bingung dan rasanya malu sekali pada tamu.” Pertanyaan seperti itu seringkali muncul dari para ibu. Lebih berbahaya lagi jika orangtua berkata pada tamunya, “Aduh maaf Bu, anak saya ini kalau ada tamu memang suka berperilaku aneh, tidak seperti biasanya.” Keluhan semacam ini jika disampaikan di depan anak akan semakin membuat anak menjadi-jadi dan me­ ngang­gap bahwa apa yang dilakukannya sebagai hal yang wajar dan biasa. Ada beberapa penyebab mengapa anak melakukan aksinya saat ada tamu. Pertama, ia merasa diabaikan sehingga ia mencari-cari perhatian. Ia tidak suka melihat orangtuanya terlalu asik dengan orang lain, apalagi jika tamu menyita waktu lama. Kedua, ketika ditanyakan apakah sikap ibu pada anak di depan tamu atau di belakang tamu sama? Ternyata umumnya berbeda. Alasan orangtua kalau di depan tamu biasanya malu bersikap tegas, takut dibilang ayah atau ibu yang pemarah, tidak bersikap lembut pada anak. Perbedaan sikap orangtua itulah sumbernya. Anak adalah peneliti yang handal, ia sangat jeli. Ia memahami perbedaan sikap orangtuanya. Ia tahu setiap ada tamu maka ayah dan ibunya menjadi orangtua yang manis, dan tak berdaya. Jangan sekali-kali menyuap anak untuk berperilaku baik saat kedatangan tamu, hal ini akan jadi pola. Setiap ada tamu anak akan menuntut imbalan. Kehadiran tamu adalah hal positif bagi sebuah ke­ luarga. Anak belajar berkenalan dengan orang lain se­ lain anggota keluarganya. Iapun belajar mengenai adab menerima tamu. Kehadiran tamu merupakan ke­sem­pa­ tan emas untuk meningkatkan ikatan emosional orang­ tua dengan anak, membangun konsep diri positif, dan Ketika Ada Tamu Oleh Ida S. Widayanti*
  • 6. SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com72 Maka mereka mengingkari Rasulullah Muhammad meskipun mereka tahu betul dan sangat yakin dengan tanda-tanda kenabian yang ada pada diri Muhammad . Mereka yakin, tapi tidak beriman. Salah satu aspek penting iman adalah kesediaan untuk mengakui, menerima dan berserah diri kepada Allah Ta’ala yang dinyatakan secara lisan. Meyakini kebaikan Islam tanpa bersedia mengucapkan kalimat sya­ha­ da­tain, maka keyakinan tersebut tidak ada nilainya di hadapan Allah Ta’ala. Aspek lainnya adalah mengikatkan diri dengan Islam dan memiliki komitmen kepadanya. Ini membawa konsekuensi bahwa kita dituntut untuk memiliki komitmen (iltizam) kepada al-Qur`an dan as-Sunnah. Apakah mungkin seseorang memahami Islam tapi tidak mengimaninya? Bukan hanya mungkin, tapi bahkan telah banyak contohnya. Kita pun mengingat sabda Rasulullah dengan derajat hasan, “Kebanyakan orang munafik dari umatku adalah qurra’uha (penghafal al-Qur`an).” (Riwayat Ahmad). Siapakah yang dimaksud dengan para penghafal al-Qur`an? Yang Oleh Mohammad fauzil adhim kolom parenting dimaksud ialah orang-orang yang menghafal tanpa memiliki komitmen kepada al-Qur`an, tidak mengkaji kandungannya, tidak menjaga adabnya sebagai penghafal al-Qur`an dan lebih parah lagi jika sedari awal niatnya memang telah salah. Dari sinilah kita perlu merenungi peringatan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang tanda-tanda zaman fitnah yang salah satunya adalah “wa katsurat qurra’ukum wa qallat fuqaha’ukum. Dan banyak penghafal al-Qur`an kalian, tetapi sedikit fuqaha kalian (orang yang sangat matang ilmu agamanya).” Contoh mengenaskan di zaman kita adalah Dr Salah Rashed, seorang qurra’ (penghafal al-Qur`an) asal Kuwait dan pernah menjadi imam di sana, tetapi sekarang justru tenggelam dalam berbagai cabang New Age Movement, suatu gerakan paganisme baru yang antara lain berpusat di Esalen, California. Ia hafal al-Qur`an, tetapi rusak imannya. Ini merupakan tragedi yang memilukan sekaligus ada pelajaran besar yang patut kita renungi. Berkaitan dengan mendidik anak, pe­lajaran pentingnya adalah betapa per­lu kita menanamkan iman serta iltizam kepada al-Qur`an dan as- A da sebuah buku menarik bertajuk Nurturing Eeman in Children karya Dr Aisha Hamdan terbitan IIPH, Riyadh (2011). Terjemahan bebasnya kurang-lebih Mendidikkan Iman Pada Anak-anak. Dr Aisha Hamdan—begitu penulisannya menurut transliterasi kita—menggunakan kata iman dan bukan faith, sebab iman dalam pemahaman Islam tidak sepenuhnya terwakili oleh kata faith maupun belief (keyakinan, kepercayaan). Kita mengenal kata tsiqah yang berarti percaya, yaqin yang kita terjemahkan dengan kata yakin, tetapi keduanya tidak mencakup kedalaman dan keluasan makna iman. Orang-orang Yahudi bukan hanya percaya, mereka bahkan sangat yakin dengan apa yang Allah Ta’ala firmankan. Mereka mengenali Muhammad sebagai utusan Allah Ta’ala sebagaimana
  • We Need Your Support
    Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

    Thanks to everyone for your continued support.

    No, Thanks