Education

RUBRIK PARENTING MAJALAH HIDAYATULLAH

Description
1. SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com70 Muslimah dan Arus Perubahan Sosial mar’ah Perempuan bisa menghancurkan atau mengangkat martabat suatu kaum. Caranya?…
Categories
Published
of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Transcript
  • 1. SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com70 Muslimah dan Arus Perubahan Sosial mar’ah Perempuan bisa menghancurkan atau mengangkat martabat suatu kaum. Caranya? “Si raja joget.” Itulah gelar yang sempat disandang Caesar pada kurun tahun 2013-an lalu. Melalui acara yang dipandunya di salah satu stasiun televisi swasta, ia senantiasa mengajak masyarakat berjoget ria. Tidak hanya orang dewasa yang menyukai joget Caesar, mereka yang masih terbilang belia pun, banyak menirukan gaya goyangannya yang khas. Namun, semenjak tahun 2015, perubahan drastis ditunjukkan oleh Caesar. Dulu ia yang aktif mengajak penggemarnya untuk bergoyang ria dengan berjingkrak-jingkrak, kini sebaliknya, ia menyibukkan diri mengajak khalayak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. “Dulu saya ajak masyarakat Indonesia bergoyang, sekarang saya ingin mengajak masyarakat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ucapnya dalam satu diskusi di kota Surabaya, (www. hidayatullah.com) Lalu siapa yang berperan terhadap hijrah-nya Caesar ini? Adalah Indadari Mindrayanti, sang istri, yang menjadi sosok penting di balik perubahan mantan pemandu acara Yuk Keep Smile (YKS) ini. Sang istrilah yang kerap mendoakan untuk kebaikan sang suami. Tidak hanya itu, dengan sabar ia juga senantiasa mengingatkan suami untuk senantiasa menjaga shalat ketika sibuk shooting dan aktif menghadiri pengajian yang diadakan sepekan sekali. Dalam suatu acara di televisi, Indadari mengaku, bukan sekali dua kali ia mencoba membujuk suami untuk aktif menghadiri pengajian, hingga akhirnya bersedia. Dan ternyata melalui pengajian itu pulalah, cahaya Allah masuk ke relung hati Caesar. Kemudian ia membulatkan diri untuk menanggalkan dunia hiburan yang telah membesarkan namanya, lalu ia memilih belajar dan mendalami agama. Keistimewaan Wanita Allah ciptakan wanita dengan segala keindahannya. Karenanya, ini juga yang kerap dijadikan perangkap setan untuk menjerat kaum laki- laki. Karena begitu dahsyatnya tipu daya tersebut, Rasulullah , melalui sabdanya, mengingatkan kaum Muslim agar mewaspadai jebakan tersebut. Dari Usama bin Zaid, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku nanti, fitnah yang paling berbahaya bagi kaum laki-laki melebihi fitnah kaum wanita.” (Al-Bukhari dan Muslim) Secara tersurat Hadits tersebut menerangkan dahsyatnya fitnah wanita bagi laki-laki. Wanita digambarkan sebagai sosok yang mampu menjerumuskan laki-laki ke lembah penistaan yang akan menghancurkan masa depan mereka di dunia dan di akhirat. Di Hadits yang lain, Rasulullah tidak hanya memberi wasiat, bahkan beliau mengabarkan betapa umat terdahulu (Bani Israel) banyak yang tergelincir akibat terbuai dengan tipu rayu wanita. Sabda beliau dari Abu Sa’id al-Khudri RA, dari Rasulullah , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis dan indah dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat apa yang kalian perbuat. Karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.” (Riwayat Muslim, Ahmad Nasa’i dan lain-lain) Sudah barang tentu, Hadits di atas tidak berlaku bagi kaum Muslimah yang salihah. Buktinya, untuk mereka, Rasulullah mengumpamakan dengan sebaik-baik perhiasan di muka bumi ini (Riwayat Muslim). Layaknya perhiasan, ia memiliki daya tarik yang luar biasa, dan mampu memberikan manfaat yang luar biasa bagi si empunya. Pelajaran yang ingin diambil dari Hadits dahsyatnya fitnah wanita,
  • 2. JANUARI 2016/RABIUL AWAL 1437 71 Jendela keluarga wanita bagi seorang pria, seorang filsuf dan pengarang dari Perancis mengatakan, “Sesungguhnya kaum pria adalah produk wanita. Jika kalian inginkan generasi agung dan unggul, maka ajarilah wanita tentang keagungan moral.” Terbayang oleh kita, bagaimana kondisi masyarakat, bila kaum Muslimah di negeri ini, memiliki karakter seperti tergambar pada sosok- sosok wanita tersebut di atas. Insya Allah, negeri ini akan menuju gerbang kebaikan. Alasannya, kaum laki-laki akan terkontrol untuk tidak melakukan tindakan buruk. Para pejabat, misalnya, akan terus diingatkan untuk amanah dengan jabatannya. Para pengusaha diingatkan untuk tidak berlaku zalim dalam perniagaannya, begitu seterusnya. Perubahan dari rumah tangga ini apabila menjalar ke rumah tangga-rumah tangga yang lain, akan bermetamorfosa menjadi perubahan sosial. Kuatkan Pondasi Mengajak kebaikan, sudah tentu bukan perkara mudah. Terlebih, yang menjadi objek dakwah adalah suami sendiri. Untuk itu, tekad harus dikuatkan. Agar tidak mudah goyah, kesabaran harus menjadi pondasinya. Dengan sabar, maka kuatlah diri menghadapi segala risiko yang dihasilkan dari ajakan itu. Hilangnya kesabaran berpotensi tinggi hilangnya harapan perubahan dari objek yang diajak. Selain itu, tentu doa menjadi penyempurna segala ikhtiar. Hidayah adalah hak mutlak milik Allah . Hatta Nabi Muhammad SAW sekalipun tidak memiliki wewenang. Karena itu, doa harus senantiasa dimunajatkan kepada Allah , agar Dia mengijabah apa yang menjadi harapan. Semoga perubahan sosial yang diharapkan itu akan segera hadir. Allahumma Amiin. Wallahu a‘lamu bish shawab. Robinsah, pengasuh di Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al-Hakim (STAIL) Surabaya Allah SWT. Dan Indadari, sang istri, adalah sosok penting yang berada di belakang perubahan Caesar. Caesar kini telah memiliki prinsip hidup yang lebih jelas dan lebih mengutamakan pemburuan ridha Allah ketimbang mengejar popularitas dunia. Ia campakkan segala hal yang dulu pernah menjadikannya tersohor demi kebaikan bagi dirinya dan keluarga, di dunia dan akhirat. Dalam konteks Indonesia, selain Caesar, kita pun akrab dengan seorang figur Ustadz Jefry Buchari (alm). Dulunya, dia pecandu narkoba. Namun karena kelembutan cinta dan kasih sayang dari wanita-wanita di sekitarnya (ibu dan istrinya), dia mampu melepaskan diri dari jeratan narkoba, bahkan kemudian menjadi dai yang banyak diminati oleh khalayak. Menggambarkan urgensi kehadiran betapa kaum Muslimah memiliki potensi luar biasa dalam membangun kultur sosial yang baik (islami) di masyarakat, minimal dalam keluarga mereka sendiri. Logikanya, bila wanita-wanita yang buruk akhlaknya, mereka mampu menghancurkan martabat suatu kaum, maka mafhum mukhalafah- nya, wanita-wanita baik juga memiliki kesempatan (yang sama) untuk mengarahkan kaum laki-laki lebih baik dan taat kepada Allah dan Rasul- Nya. Setidaknya, dari kisah perjalanan Caesar di atas, kita dapati bukti nyata tersebut. Caesar yang dulunya jauh dari nilai-nilai keislaman, kini justru berubah total. Tidak hanya rajin mendalami ilmu keislaman, ia pun terjun langsung berdakwah, mengajak khalayak untuk senantiasa mendekatkan diri kepada MUHABDUSSYAKUR/SUARAHIDAYATULLAH Mengajak kebaikan, sudah tentu bukan perkara mudah. Terlebih, yang menjadi objek dakwah adalah suami sendiri. Untuk itu, tekad harus dikuatkan. Agar tidak mudah goyah, kesabaran harus menjadi pondasinya.
  • 3. SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com72 Taat dan Cinta dalam Keintiman usrah Jalani sebagai ibadah, warnai dengan cinta, dan kuatkan dengan menyayangi. S ederet kalimat muncul di layar handphone. Sebenarnya sudah beberapa kali kisah yang sama muncul dalam pembicaraan. Namun, kalimat yang baru saja muncul seakan menjadi jawaban atas konflik yang ada. “Aku tidak ingin memulai pembicaraan dengannya, Mak. Nanti ujung-ujungnya seperti biasa. Habis marahan dia meminta ‘berhubungan’, Mak. Aku jijik, Mak.” Saya yang biasa dipanggilnya de­ngan sebutan Mamak terkejut sejenak. Lantas perlahan saya me­ nge­tik pertanyaan, “Memangnya sudah berapa lama kau tak bicara dengannya?” Tak menunggu lama, jawaban itu datang, “Dua minggu, Mak.” Saya tergelak; bersyukur dia tak bertatap muka. Lalu saya menulis, “Kau tahu? Suami-istri yang sudah sama- sama berumur empat puluh tahun ke atas itulah yang melakukan ‘hubungan’ dua minggu sekali. Kau itu baru berumah tangga empat tahun. Umur kau pun belum tiga puluh tahun,” kata saya, meski mungkin bukan timpalan yang tepat baginya, karena setelah ia selesai membela diri, pembicaraan pun terputus. Perjanjian yang Kokoh Setelah usai menjalani madunya pernikahan, hadirnya anak pertama dan kedua atau seterusnya, meningkatnya kebutuhan keluarga; kadang membuat banyak pasangan harus merekonstruksi harapan- harapannya tentang perjalanan pernikahan. Kelelahan yang mewarnai, cita-cita yang ditinggalkan, kedekatan dengan orang-orang yang semula begitu akrab mulai merenggang, perhatian pasangan yang mulai menyusut karena kesibukan; mulai meredupkan hari- hari yang semula ceria. Menjauhkan kedekatan, menjarangkan keintiman. Termasuk urusan yang ‘satu itu’. Meski tidak pernah ada patokan yang baku untuk seberapa sering frekuensi hubungan intim suami-istri harus dilakukan, suami atau istri harus memahami betul pasangannya dan yang terpenting; bagaimana Islam memandang hubungan suami-istri. Dalam Islam berhubungan intim bukan hanya sekadar masalah biologis semata. Namun, di dalam Islam berhubungan intim adalah masalah yang sakral dan suci. Untuk melegalkan hubungan ini, seorang laki-laki dan perempuan yang beriman harus menanggung “perjanjian yang kokoh” dengan langit (An-Nisa [4]: 21). Perjanjian berupa pernikahan yang setara mulianya dengan perjanjian yang dipegang oleh nabi dan rasul-Nya (Al- Ahzab [33]: 7). Jadi, yang pertama kali harus ditanamkan kuat-kuat dalam hati kita sebagai orang yang beriman, bahwa pernikahan yang di dalamnya termasuk hubungan intim adalah sebuah aktivitas yang pertanggung-jawabannya langsung terhubung dengan langit. Bukan sekadar suka sama suka, atau ingin atau tidak. Ibadah yang Juga Mulia Barangsiapa yang sudah dengan kesadaran penuh mengambil tanggung jawab ini dari Allah SWT dan Rasul- Nya maka harus konsisten pula melaksanakan plus bertanggung jawab atas akibatnya.  Karena itu, dalam Islam, berhubungan intim dipandang sebagai ibadah. Agar aktivitas yang satu ini tidak dilakukan karena dasar nafsu dan emosi belaka. Dari Abu Dzar, Nabi SAW bersabda, “Dan hubungan intim di antara kalian adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa mendatangi istri dengan syahwat (disetubuhi) bisa bernilai pahala?” Ia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada yang meletakkan syahwat tersebut pada yang haram (berzina) bukankah bernilai dosa? Maka sudah sepantasnya meletakkan syahwat tersebut pada yang halal mendatangkan pahala.” (Riwayat Muslim no. 1006) Ka’ab bin Siwar Al-Asadi pernah duduk di samping Umar bin Khaththab dan datanglah seorang wanita yang mengadu padanya, “Wahai Amirul Mukminin, aku sama sekali tidak pernah melihat seorang lelaki yang
  • 4. JANUARI 2016/RABIUL AWAL 1437 73 Jendela keluarga yang zalim, dalam keadaan marah sekalipun. Karena itu, sangatlah buruk sekaligus berbahaya, bila masih ada di antara kita yang masih merasa jijik, malu, apalagi marah bila pasangan kita meminta hak­nya dalam kon­disi apapun. Ang­gap­ lah jika kita dalam keadaan lelah, maka Allah SWT akan mengangkat rasa lelah kita dengan ibadah yang satu ini. Bila salah satu manfaat hubungan intim yang diamini banyak orang (tanpa niat beribadah) adalah menghilangkan ketegangan dan tekanan fisik dan psikis, tentu akan jadi lebih bermakna bila diiringi dengan niat ibadah. Selepas melakukan hubungan intim, biasanya tersedia waktu lebih luang untuk bicara. Melepas unek-unek dengan cara yang lebih halus dan tenang. Di sinilah keakraban antara suami-istri bisa terjalin lebih erat. Pandanglah suami atau istri kita dengan rasa kasih sayang dalam masalah ini. Rasa kasih dan sayang ini untuk mengukuhkan ketaatan kita melakukan ibadah. Pandanglah suami kita yang harus berjuang menundukkan pandangan dan hasratnya manakala ia berada di luar rumah dengan rasa kasih. Maka, kita akan bisa merasakan bahwa ia sudah lelah berjuang untuk taat dan setia.  Alangkah indah bila kita bisa melepaskan rasa lelahnya tersebut dengan tindakan yang terbaik. Mulailah menanam rasa ini untuk mengukuhkan ibadah yang satu ini. Meski tujuan utama tetap untuk taat pada Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi bila semuanya diwarnai dengan kasih dan sayang, maka akan terasa lebih membahagiakan. Kartika Ummu Arina, penulis buku Jadilah Suami Istri Bijak lebih utama dari suamiku. Demi Allah ia selalu shalat semalam suntuk dan berpuasa di siang harinya, kemudian ia memohonkan ampunan kepada istrinya dan memujinya. Umar berkata, “Ya itu suamimu”. Wanita ini berkali-kali menyampaikan aduan ini dan berkali-kali pula Umar menjawab. Kemudian Ka’ab berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, wanita ini mengadu atas suaminya yang menjauhi tempat tidur istrinya.” Umar menjawab, “Sebagaimana yang kau ketahui, putuskanlah masalah kedua suami-istri ini”. Ka’ab berkata, “Sungguh aku berpendapat bahwa wanita ini yang keempat setelah wanita yang ketiga (istri keempat). Maka aku putuskan tiga hari siang dan malam untuk ibadah suamimu dan satu hari satu malam untuk berkumpul dengan istri.” Kemudian ia berpesan pada si suami, “Sesungguhnya pada istrimu ada hak. Hai suami engkau mendatangi istrimu empat hari sekali bagi yang sedang tidak berhalangan. Berikanlah hak itu dan hilangkanlah keburukanmu.” Kemudian Umar berkata pada Ka’ab, “Demi Allah pendapat (keputusanmu) yang pertama kali ini menakjubkanku dari pendapat-pendapat orang lain, maka aku perintahkan kau untuk pergi menjadi hakim di Bashrah.” Warnai dengan Cinta Dalam riwayat di atas, jelas bahwa Islam memandang hubungan intim antara suami dan istri adalah hal yang penting. Tidak boleh ditinggalkan, sebagaimana ibadah-ibadah yang dimuliakan lainnya. Berlaku “kasar” pada pasangan dengan tidak memberikan haknya adalah tindakan MUHABDUSSYAKUR/SUARAHIDAYATULLAH “Sesungguhnya pada istrimu ada hak. Hai suami engkau mendatangi istrimu empat hari sekali bagi yang sedang tidak berhalangan. Berikanlah hak itu dan hilangkanlah keburukanmu.”
  • 5. SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com74 SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com74 SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com74 Diasuh oleh : Ustadz Hamim Thohari konsultasi keluarga SUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com74 Membaca Al-Qur`an Sambil Tiduran Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sayabiasamembacasurahal-Fatihah,awalsurah al-Baqarah, ayat Kursi, al-Ikhlash, dan ta’awudatain menjelang tidur dalam posisi berbaring. Seorang te­man yang mengetahui hal tersebut menegur saya. Katanya, sebaiknya al-Qur’an dibaca dalam ke­ada­ an duduk dan menghadap kiblat. Menurut Ustadz, apakah Rasulullah me­la­ rang umatnya membaca al-Qur’an sambil tiduran? Apa­kah pahalanya berkurang jika membaca al- Qur­’an tidak menghadap kiblat? Atas perhatiannya, saya ucapkan jazakumullah. WD Solo Jawab: Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh. Anjuran membaca al-Qur’an bisa didapati da­ lam ba­nyak ayat dan Hadits Nabi . Tidak di­ra­gu­ kan lagi, membaca al-Qur’an hukumnya wajib ba­gi umat Islam. Allah Ta’ala berfirman: “Bacalahapayangtelahdiwahyukankepadamu, yaitu Al Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah sha­lat. Se­sung­guhnya shalat itu mencegah dari (per­bua­ tan-perbuatan) keji dan mungkar. dan se­sung­guh­ nya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (ke­uta­­maannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ankabut [29]: 45) Bahkan dalam beberapa Hadits yang shahih di­ka­ takan, umat Islam harus mengkhatamkan bacaan al- Qur’an minimal dalam tempo 40 hari. Lebih baik lagi jika khatam sebulan sekali. Lebih afdhal lagi jika bisa mengkhatamkan al-Qur’an tiap pekan atau tujuh hari. Rasulullah bersabda: “Bacalah (kha­tam­kan) al-Qur­’an pada tiap-tiap bulan, bacalah al-Qur’an pa­da tiap dua puluh hari, bacalah al-Qur’­an se­tiap sepuluh hari, bacalah al-Qur’an pada tiap tu­juh hari, dan janganlah kamu melebihi yang de­mi­ kian itu.” (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud) Cara membaca al-Qur’an pada dasarnya be­ bas. Bisa dilakukan dengan cara berdiri, du­duk, atau berbaring. Yang terpenting, bacaan al- Qur’an hendaknya menjadi wirid harian kaum Mus­­­li­­min. Tiada hari tanpa al-Qur’an. Dalam beberapa riwayat disebutkan, Rasu­lul­lah membaca al-Qur’an tidak selalu dalam keadaan duduk. Beliau bahkan pernah membaca al-Qur’an sambil meletakkan kepala dipangkuan istrinya. Adapun membaca beberapa ayat al-Qur’an men­­je­lang tidur sebagaimana yang disunnahkan Nabi sambil tiduran, para ulama sepakat me­nya­takan hukumnya boleh. Dalam kitab Al- Adzkar dijelaskan bahwa ‘Aisyah RA berkata, “Sung­­guh aku membaca hizib-ku (wirid yang ter­­diri atas ayat-ayat al-Qur’an) sambil aku ber­ ba­­­ring di atas ranjang.” Dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an, Imam Nawawi berkata, “Disunahkan hu­­kumnya bagi orang yang membaca al-Qur’an di luar shalat agar menghadap kiblat. Nabi per­­nah bersabda yang artinya, “Sebaik-baik tem­ pat adalah tempat yang menghadap kiblat.” Dan agar dia duduk dengan penuh khusyuk, tenang, dan sopan sambil menundukkan kepala, dan du­ duk­­nya itu sendiri benar-benar menjaga sopan san­­tun dan merendahkan diri, sebagaimana ia du­duk di hadapan gurunya, maka itulah yang lebih sempurna. Dan jika ia membaca al-Qur’an sambil berdiri, berbaring, tiduran atau da­lam keadaan bagaiamanapun selain itu, maka hu­kum­ nya boleh dan ia diberi pahala, namun pahalanya tidak sama dengan yang pertama tadi. Wallahu a’lam bish shawab.
  • We Need Your Support
    Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

    Thanks to everyone for your continued support.

    No, Thanks